Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 12. Apa Kau Cemburu?


__ADS_3

"Dia hanya sekretaris baru ku. Kebetulan kemarin dia terkena musibah dan semua pakaiannya hilang, jadi ya apa boleh buat sementara dia mengenakan pakaian ku dulu." Jelas Andreas dengan sedikit ragu-ragu.


Jennifer yang mendengarnya pun hanya manggut-manggut dan percaya begitu saja ucapan Andreas barusan. Ada sedikit rasa lega dihatinya karena ternyata wanita itu hanya sekedar sekretarisnya saja tidak lebih.


Sedangkan Zarin dan Ricard yang berada di sisi belakang Andreas hanya saling terdiam dan melempar tatapan satu sama lain, meskipun sebenarnya Ricard merasa kasihan dengan Zarin yang seolah tidak dianggap sebagai seorang istri, padahal jika dibilang memalukan pun tidak, karena wajah Zarin yang cantik dan tubuh yang aduhai, sudah pasti menjadi wanita impian banyak pria.


Tapi sekali lagi, ia juga tidak bisa berbuat banyak karena tidak mau mempertaruhkan karirnya demi membela Zarin--wanita yang juga sebenarnya tidak ia kenali.


Sambil bergelayut manja di lengan dan tubuh Andreas, Jennifer segera mengajak ketiganya masuk dan memilih-milih pakaian yang mereka hendak beli tersebut.


Sesekali Zarin melirik ke arah Jennifer dengan tatapan sedikit tidak suka, entahlah kenapa, tapi yang jelas ia kurang suka dengan sikap Jennifer yang terlampau agresif, sama seperti wanita yang kemarin datang dan secara tidak sengaja ia pergoki ketika sedang berciinta dengan suaminya.


"Pilihlah pakaian mana yang kamu mau, ambil sebanyak yang kamu mau dan berikan pada Ricard." Ucap Andreas sambil mengambil posisi duduk dan masih bersama berdampingan dengan Jennifer.


Zarin hanya mengangguk sambil memutar bola matanya jengah, sumpah ia sangat kurang suka dengan sikap Jennifer yang semakin bergelayut manja ditubuh Andreas, hal itu bahkan seolah membuat matanya menjadi sakit.


"Silahkan Nona." Ucap Ricard.


Tanpa ba bi bu lagi, dari pada harus melihat kemesraan mereka berdua, apalagi Andreas tampak biasa saja dengan sikap Jennifer yang tampak kecentilan itu dengannya, lebih baik Zarin memilih-milih pakaian untuknya sendiri, jika perlu ia ingin semua pakaian yang ada di butik itu dan biar saja uang Andreas habis, pikirnya.


Setelah beberapa saat memilih-milih pakaian, Zarin telah mendapatkan banyak pakaian yang telah dibawakan oleh Ricard, beberapa ada yang dicoba olehnya dan beberapa juga ada yang sama sekali tidak dicoba, hingga akhirnya kedua netranya tertuju pada sebuah dress pendek berwarna merah nyala dengan bagian dada dan punggung yang cukup terbuka.


Ia langsung saja mendekat ke arah dress yang dipajang ditubuh manekin itu dan meminta seorang karyawan untuk mengambilnya karena ia ingin sekali mencobanya.


Tanpa berlama-lama kini dress itu sudah berada ditangan Zarin, ia kemudian segera bergegas ke kamar ganti untuk mencobanya dengan antusias.


"Aku coba ini sebentar ya Ricard." Ucap Zarin.


Ricard mengangguk dan kemudian memberikan semua pakaian yang dibawanya untuk dibawa dan di total oleh karyawan butik tersebut.


Pria itu memang tidak ikut dengan Zarin, karena jujur saja mengikuti langkah Zarin selama hampir satu jam memilih-milih pakaian ia merasa lelah, apalagi wanita satu itu adalah tipikal wanita cerewet yang sedikit-sedikit meminta pendapat.

__ADS_1


Baru saja hendak duduk, namun sialnya nama Ricard disebut oleh seorang wanita yang berada di kamar ganti. Ya siapa lagi jika bukan Zarin yang pastinya ingin meminta pendapat.


"Ric, kemarilah! Aku membutuhkan bantuanmu." Teriak Zarin dengan lantang, bahkan suara itu juga di dengar oleh Andreas yang terlihat asyik mengobrol sejak tadi dengan Jennifer.


"Baik Nona.."


Sesekali Andreas melirik ke arah anak buah kepercayaannya itu yang melangkah semakin mendekat ke arah kamar ganti.


Sial! Mau apa dia itu! Apa jangan-jangan dia mau membantu istriku ganti pakaian!


Pria matang satu ini lantas bergegas beranjak dari tempat duduknya hingga secara tidak sengaja menepis tangan Jennifer yang sejak tadi bertengger di lengannya dengan terburu-buru.


Baru saja Ricard sampai di depan pintu kamar ganti yang masih tertutup itu namun dengan cepat di tarik oleh Andreas ke belakang.


"Mau apa kau, hm! Jangan berani-berani mengambil kesempatan dalam kesempitan! Awas menyingkir!" Desis Andreas dengan lirih pada Ricard, bahkan suara itu terdengar seolah seperti mengancamnya.


Ricard hanya bisa patuh sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu.


"Alah sana sana. Dia istriku! Biar aku yang membantunya!"


Belum sempat Ricard menyelesaikan kalimatnya. Namun Andreas seenaknya saja menyela dan memotong ucapannya.


Menyadari bahwa sepertinya orang yang dipanggilnya sudah datang, akhirnya Zarin membuka sedikit pintu kamar ganti itu tanpa mengintip siapa yang kini berada di depan pintu.


"Masuklah Ric, tolong aku, aku tidak bisa mengenakannya ini susah sekali." Ucap Zarin sambil beberapa kali mencoba menarik resleting dressnya pada bagian belakang, namun memang sedikit susah jika ia harus melakukannya sendiri.


Saat Andreas masuk, kebetulan saat itu Zarin sedang menunduk. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Andreas segera membantu menaikan resleting dress itu hingga ke setengah bagian punggungnya saja, karena dress itu memang memiliki model yang cukup seksi.


Ah gila tubuhnya membuatku ... Hah, tidak tidak And!!


Andreas lantas meneguk salivanya yang hampir tercekat di tenggorokan karena takjub akan keindahan tubuh Zarin.

__ADS_1


"Aaaaaaa!!! Sedang apa kamu di sini dasar pria brengs*k!" Cetus Zarin yang tiba-tiba saja mengagetkan Andreas yang hampir hanyut dalam pesona tubuh mulus dan aduhai milik istri rahasianya itu.


Suara itu bahkan seolah hampir membuat gendang telinga Andreas pecah karena cukup melengking memekik telinga.


Wanita itu memang belum menoleh sama sekali, dan hanya melihat sosok Andreas dalam pantulan cermin besar yang ada dihadapannya. Tatapannya sungguh seperti orang yang baru saja melihat hantu di siang bolong.


"Heh wanita liar bisa tidak kecilkan suara mu! Aku di sini tentu saja membantumu! Apa kamu ini gila, aku ini suamimu! Kenapa tidak minta bantuanku, kenapa minta bantuan Ricard!! Bagaimana jika dia melihat tubuh mu dan bernapsuu padamu! Dasar bod*h!" Desis Andreas yang kini menatap tajam ke arah pantulan cermin itu.


Namun kini bukan wajah Zarin yang yang membuat perhatiannya tersita, melainkan pahatan lekuk tubuh Zarin yang semakin terpampang jelas dan terlihat begitu aduhai mengenakan dress seksi itu.


Apalagi di bagian dada yang cukup terbuka membuat milik wanita itu dengan ukuran yang cukup besar menjadi hampir menyembul keluar.


Ah benar-benar gila! Pemandangan apa lagi ini! Kuatkan iman mu Andreas! Jangan sampai kamu terbuai dengan tubuh wanita liar itu!


Kini kedua pipi Zarin nampak berubah memerah bak cherry matang yang siap disantap, sumpah demi apapun ia malu mengenakan pakaian seperti ini dihadapan Andreas.


Apalagi benar yang dikatakan oleh suami rahasianya itu, kenapa ia begitu bodoh dan malah meminta bantuan pada Ricard untuk mengenakan dress itu, bagaimanapun Ricard hanya anak buahnya bukan suaminya.


"Ah tunggu-tunggu! Apa pedulimu jika tubuhku dilihat oleh Ricard! Lagi pula aku ini kan sekretaris mu dan asisten rumah tanggamu di hadapan orang-orang, apalagi sejak tadi kamu malah asyik bermesraan dengan wanita itu! Cih!" Sahut Zarin yang kini bukannya malu malah merasa kesal dengan sikap Andreas yang malah terkesan protective padanya.


"Apa kamu tidak ingat dengan kejadian kemarin, hm! Kamu malah berciinta dengan wanita lain di hadapanku, dan aku, aku tidak masalah dengan hal itu. Kenapa sekarang kamu jadi mempermasalahkan jika tubuhku dilihat Ricard! Apa kamu cemburu ha!" Imbuhnya.


Sumpah demi apapun kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Zarin seakan membuat Andreas mati kutu dan tidak bisa lagi berkutik.


Apalagi ia saat ini mulai menyadari kenapa dirinya malah begitu protective pada wanita itu, sedangkan ia tidak mau mengakui jika wanita itu adalah istrinya di muka umum.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2