Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 41. Semakin Gila


__ADS_3

Zarin sedikit meronta, meskipun hasraat dan sifat alaminya menginginkan lebih dari sekedar apa yang dilakukan pria itu kini padanya, namun ia juga tidak mau bersikap bod*h karena mereka sedang berada di tempat umum sekalipun tempat itu tertutup.


Namun Andreas semakin menekan tubuh Zarin dengan bibirnya yang masih mengunci rapat bibir Zarin. Entah kenapa pria itu semakin menikmati alur permainannya sambil memejamkan kedua matanya dan bahkan kedua tangannya menekan tangan Zarin agar tidak berusaha meronta.


Beberapa saat, akhirnya Zarin yang semakin terpancing pun akhirnya semakin hanyut dengan permainan benda tak bertulang milik Andreas di dalam rongga bibirnya itu, ia seperti tidak peduli lagi sedang dimana mereka saat ini.


Bahkan kini Zarin secara reflek langsung melepaskan ikat pinggang dan kancing celana suaminya dengan begitu cepat dan tergesa-gesa, sungguh rasanya ia sudah tidak sabar lagi menginginkan milik Andreas yang sangat membuatnya mabuk itu.


Patuh, Andreas lantas meraih satu kaki Zarin dan melingkarkan kaki jenjang itu dipinggangnya sehingga dress Zarin dengan mudah terangkat dan menampilkan bagian sensitifnya yang masih tertutup benda segitiga itu.


Pria itu tentu saja lantas menurunkan benda berbentuk segitiga yang menutupi inti tubuh Zarin sambil melepaskan kecuupannya dengan diiringi nafas keduanya yang semakin memburu.


"Hah, kamu harus diberi pelajaran agar tidak bersikap centil pada pria lain wanita hama." Sahut Andreas lirih sambil menekan miliknya sehingga masuk ke dalam inti tubuh Zarin dan membuat wanita itu sedikit mengaduh.


Zarin tidak peduli dengan perkataan suaminya itu, karena yang jelas sekarang ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, hanya saja kali ini ia tidak bisa seenaknya mengeluarkan suara-suara bak lolongan serigala yang sering ia lontarkan saat melakukan hal itu dengan Andreas mengingat tempat yang mereka gunakan tidak mendukung meskipun sebenarnya ia ingin sekali berteriak mengaduh menikmati setiap hentakan permainan Andreas.


"Mmm... And..." Ucap Zarin lirih sambil memejamkan kedua matanya, tangannya senantiasa memeluk tubuh tegap itu dengan begitu erat sambil sesekali menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara-suara itu.


Begitu juga dengan Andreas pria itu juga berusaha untuk tidak mengeluarkan suara meskipun di setiap hentakan permainan yang ia ciptakan sendiri itu terasa begitu nikmat, bahkan jiwanya seakan tidak bisa berbohong lagi, rasanya ia seperti sedang berada di surga dunia bersama Zarin meskipun nyatanya mereka sedang berada di dalam toilet.


Semakin lama, sekitar kurang lebih lima belas menit lebih beberapa detik, Andreas semakin mempercepat ritme permainannya hingga akhirnya ia telah mencapai puncak penyatuan itu dan membuat inti tubuhnya memuncahkan isinya di dalam inti tubuh Zarin.


"Huh... You are my best baby." Rancau Andreas diiringi dengan nafas yang masih memburu dan peluh yang sudah membasahi tubuhnya, bahkan pria itu juga tidak segan memberikan kecuupan sekilas di bibir Zarin.


Sejenak tubuh pria ambruk menekan tubuh Zarin karena ia benar-benar merasa kelelahan dengan permainannya sendiri.


Brukk...


"Hah, And..."

__ADS_1


Sssttt....


Dengan sigap Andreas langsung membekap mulut Zarin yang dengan reflek terkejut karena mendengar sebuah suara aneh dari luar toilet itu sambil mengisyaratkan pada Zarin agar tetap diam dan tenang.


Sumpah demi apa jantung Zarin kini berdetak semakin kencang seolah hampir melompat dari tempatnya, ia benar-benar takut jika ternyata sejak tadi ada orang yang menguping atau berada di luar toilet itu dan mendengarkan apa yang sedang mereka lakukan.


Hingga tak berselang lama, suasana kembali tenang dan sunyi, Andreas langsung melepaskan tangannya dan segera membenahi pakaiannya yang sudah acak-acakan kan termasuk membersihkan bagian intinya terlebih dulu.


Sama halnya dengan Andreas, Zarin pun juga melakukan hal yang sama meskipun makeupnya termasuk lipstik yang ia gunakan sudah mulai luntur karena ulah pria itu.


Perlahan, Andreas membuka kunci pintu kamar mandi dan sedikit membuka pintu itu sambil mengintip serta mengedarkan pandangannya mencari apakah ada seseorang di luar sana. Saat ia merasa bahwa mereka aman, Andreas lantas keluar dari ruangan kecil itu sambil mengibaskan jasnya dan meraih beberapa lembar tisu wajah yang disediakan di depan wastafel lengkap dengan cermin itu.


Pria itu langsung mengusapkan tisu itu ke wajahnya sambil memandangi wajahnya dari pantulan cermin dihadapannya, hingga tiba-tiba Zarin datang memberikan pelukan dan kecuupan sekilas dari arah belakang.


"You are my best too honey... Aku suka milikmu." Bisik wanita itu lirih tepat ditelinga Andreas.


Hati Andreas terasa semakin bergetar, namun tentu saja pria itu tidak ingin terlihat senang dihadapan Zarin meskipun hatinya jujur saja merasa sedikit senang mendengarkan kalimat itu, entah kenapa.


Wanita itu hanya tersenyum, ia tahu jika Andreas kini semakin nyaman berada di dekatnya, sama persis dengan apa yang ia rasakan meskipun sikap pria itu selalu saja dingin padanya.


Brak!!


"Brengs*k kau And! Ternyata kau menikungku dari belakang! Jadi ini alasanmu menghalangiku untuk mendekati wanita itu! Dasar brengs*k!" Desis Jimmy lirih pada dirinya sendiri setelah beberapa kali memukul kemudi mobilnya.


Sungguh ia tidak bisa menerima apa yang ia lihat tadi, ah tunggu-tunggu, bukan yang ia lihat, lebih tepatnya yang ia dengar, suara desahaan lirih dari balik pintu toilet tadi.


"Tapi kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan Zarin! Semua keinginan ku harus terwujud termasuk memiliki wanitamu, tidak peduli lagi siapa kau!" Imbuh Jimmy lirih dengan amarah yang semakin memuncak.


Tidak peduli lagi dengan siapa Andreas yang merupakan seorang mafia kejam, Jimmy bersumpah akan tetap berusaha mendapatkan Zarin agar bisa menjadi miliknya entah bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Pria itu lantas menginjak pedal gas dan segera beranjak pergi dari tempat itu untuk menyusun rencana barunya demi mendapatkan Zarin, tidak peduli jika wanita itu sudah melakukannya dengan Andreas sekalipun.


*


"And, apa kau mulai menyukai ku?" Tanya Zarin lirih sambil duduk di hadapan Andreas, tepat di depan meja makan.


Ya, mereka berdua kini sedang menyantap makan malam mereka di rumah sementara itu.


Andreas tentu saja langsung terkejut mendengar pertanyaan Zarin yang cukup terang-terangan itu.


Pria itu bahkan sampai menghentikan kegiatan makan malamnya dan meneguk air yang ada di dalam gelasnya karena hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.


Zarin hanya terdiam sambil masih menatap lekat ke arah Andreas seolah menunggu jawaban yang terlontar dari bibir pria itu, namun menunggu selama beberapa menit pria itu masih saja tidak mau menjawab dan malah melanjutkan kegiatan makan malamnya hingga membuat Zarin merasa geram.


Brak!


"And! Kenapa tidak menjawabnya! Aku hanya butuh jawabanmu! Apakah kau sudah mulai menyukai ku, hah!" Pekik Zarin sesaat setelah menggebrak meja karena kesal dengan pria dihadapannya.


Aksi Zarin lagi-lagi cukup membuat Andreas kaget dan bahkan kini pria itu seolah kehilangan nafsu makannya. Pria itu langsung menyudahi kegiatan makan malamnya dan langsung mengusap bibirnya dengan menggunakan tissu makan sebelum ia benar-benar menatap lekat ke arah wanita dihadapannya itu.


"Ehem... Kau ini kenapa, hah! Memangnya kenapa jika aku suka atau tidak padamu! Lagi pula aku tidak akan mungkin suka pada wanita semacam kau ini, jadi jangan bermimpi!" Sahut Andreas dengan nada yang sedikit ketus.


"Jangan munafik And! Buktinya tadi ditoilet kau..."


"Sudah! Aku mau ke atas!"


Sial! Kenapa wanita itu semakin gila saja! Kenapa dia ini, kenapa tiba-tiba membahas soal suka atau tidak suka, huh!


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2