
"Andreas! Apa kabar, long time no see!" Sahut serta sapa seorang pria bernama Jimmy sambil beranjak berdiri menyambut kedatangan teman lamanya--Andreas.
Ya, Jimmy merupakan teman lama Andreas yang ditemuinya malam ini di sebuah bar. Jimmy juga merupakan seorang pengusaha ternama di kota itu, bahkan ia juga terkenal di negaranya sebagai seorang milyuner muda dan penuh dengan pesona, apalagi hingga sampai detik ini pria itu masih saja betah melajang, tentu saja dia menjadi incaran para wanita di luar sana.
Kali ini bersama Jimmy, Andreas sedang ingin merambah ke dunia bisnis makanan yang sedang cukup booming di kotanya, bisnis yang dijalankan secara legal dan tidak menentang aturan negaranya. Entah kenapa itu merupakan keinginan Andreas sejak beberapa bulan terakhir, karena ia tahu ia tidak bisa terus menerus mengelola bisnis ilegal yang semakin hari semakin ada saja permasalahan itu.
Andreas lantas menjabat tangan teman lamanya itu dan kemudian mengulas senyum sekilasnya yang sudah tidak asing bagi Jimmy.
"Kabar baik, bagaimana denganmu?" Balas Andreas singkat.
"Aku juga baik. Oh iya, wanita ini..."
"Ah dia, mmm... Dia ini temanku." Sahut Andreas yang langsung menyela pembicaraan Jimmy, ia juga langsung berusaha melepaskan pelukan Zarin di lengannya seolah seperti sedang berusaha menghindari wanita itu.
Zarin hanya terdiam sambil meneguk salivanya dan kemudian ia mengulum senyum serta menjabat tangan Jimmy sebagai tanda perkenalan. Ia tahu jika bagaimanapun, sebaik apapun sikap Andreas padanya di dalam rumah saat mereka sedang berdua, tapi pria itu sudah pasti tidak akan mau mengakuinya di khalayak umum, entah kenapa ia sendiri juga tidak mengerti alasannya, yang jelas Zarin juga tidak mau terlalu banyak bertanya karena tidak mau membuat mood pria itu memburuk.
"Hai, Zarin." Ucap Zarin singkat sambil mengulas senyuman dan meraih jabatan tangan Jimmy.
"Jimmy, senang berkenalan denganmu nona cantik." Balas Jimmy sambil diiringi dengan senyum sumringah.
Rasanya, Jimmy terasa begitu dibuat terpesona dengan kharisma Zarin malam ini. Bahkan kedua mata pria itu seolah tidak dapat berkedip melihat keindahan di hadapannya, apalagi bagian dada Zarin yang sedikit menyembul keluar membuatnya menjadi sedikit salah fokus, apalagi saat ini ia sedang menjabat tangan lembut wanita itu, rasanya ia tidak ingin melepaskannya lagi, bahkan kini ia mulai sedikit membungkuk untuk mengecuup punggung tangan Zarin layaknya seorang pangeran yang begitu mengistimewakan sang putri.
Namun dengan cepat Andreas melihat serta menyadari sikap Jimmy yang tidak biasa itu langsung menepis tangan keduanya seolah ingin memisahkan tangan mereka dan mencegah Jimmy bersikap melebihi batas pada wanita yang sebenarnya adalah istrinya itu.
"Cepat duduk, aku tidak punya banyak waktu!" Sahut Andreas beralibi dan langsung menarik tangan Zarin untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Dengan penuh rasa kecewa, Jimmy lantas mendengus karena aksinya untuk hanya sekedar mencium punggung tangan Zarin dihentikan begitu saja oleh teman lamanya itu.
Namun tentu saja pandangan Jimmy tidak teralihkan, ia selalu memandang ke arah Zarin sambil diiringi dengan senyum sumringahnya, apalagi saat wanita itu duduk dan menyilangkan kedua kakinya sehingga saling bertumpu satu sama lain, membuat kaki jenjangnya semakin terekspos dan membuatnya semakin antusias untuk mengenal Zarin lebih dekat.
"Langsung saja!" Sahut Andreas sekali lagi, pria itu kini sudah mulai kesal dengan tatapan Jimmy yang semakin tidak berpaling dari istrinya, sungguh rasanya ia ingin segera membawa Zarin pergi dari tempat itu sekarang juga, apalagi ia juga tahu jika Jimmy adalah tipikal pria yang hampir sama dengannya suka bermain dengan para wanita dan merupakan seorang pria casanova.
"Oh oke, baiklah And. Jadi aku sudah mendapatkan tempatnya, dia dekat pusat kota. Kita akan membuka restoran mewah di sana, karena target kita adalah para petinggi-petinggi dan juga para para kalangan kelas menengah atas. Lalu untuk konsep restoran itu seperti ini. Bagaimana?" Jelas Jimmy sambil menunjukkan sebuah tablet yang berisikan gambar design bangunan serta interior yang akan ia pilih untuk restoran yang akan mereka dirikan itu.
Andreas lantas mendekat dan hanya manggut-manggut melihat selera Jimmy yang sejak dulu sama sekali tidak berubah, sama dengannya dalam berbagai hal, dan mungkin sekarang juga selera dengan wanita.
"Ya, bagus aku menyukainya. Jalankan saja, dan kamu bisa langsung mengurusnya dengan Ricard nanti. Aku setuju, yang penting semua cepat terlaksana, aku ingin bulan depan restoran kita sudah siap untuk melakukan peresmian, lebih cepat lebih baik." Balas Andreas sambil bersandar di dinding sofa dan merentangkan satu tangannya di belakang kepala Zarin, dan satu tangannya lagi memegang sebuah rokok yang baru saja ia nyalakan.
Zarin hanya terdiam melihat pembahasan keduanya, karena ia juga memang tidak memiliki kapasitas apapun untuk ikut bergabung dalam pembicaraan itu, hingga akhirnya kedua matanya tertuju pada seorang wanita dengan pakaian super mini yang kini melangkah mendekat ke arah mereka.
"Hai And! Uh, aku merindukan mu honey!" Ucap wanita itu sambil berhampur memeluk dan bahkan menciuumi wajah Andreas dengan begitu mesra, wanita itu juga tidak segan untuk segera duduk di sebelah Andreas, tepatnya di samping Zarin dan tentu saja membuat wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Hei Silvana?" Sahut Andreas sambil sedikit menegakkan posisi duduknya dan merangkul wanita bernama Silvana itu dengan cukup mesra bahkan sesekali pria itu mengusap bahu Silvana dengan lembut dan membuat Zarin tampak semakin malas.
Silvana terus bergelayut manja ditubuh Andreas sambil sesekali mengusap dada pria itu seolah sedang berusaha menggodanya. "Mau main malam ini? Aku sudah merindukan mu sejak lama honey, give me your body please!" Pinta Silvana dengan suara yang terdengar begitu manja.
Andreas bahkan tersenyum nakal sambil mengusap wajah Silvana seolah ia saat ini benar-benar seperti melupakan Zarin yang ada di sebelahnya.
Sedangkan Jimmy, pria itu menarik dua sudut bibirnya dengan senang karena ia saat ini benar-benar serang melihat peluang untuk mendekati Zarin, apalagi terlihat jelas Andreas nampak begitu senang akan kedatangan Silvana.
Kini dengan terang-terangan, Silvana bahkan beralih duduk diatas pangkuan Andreas dan semakin bergelayut mesra di tubuh pria itu, sumpah demi apa pemandangan itu cukup membuat Zarin merasa kesal dan bahkan membuat kedua matanya semakin sakit.
__ADS_1
Zarin lantas mengalihkan pandangannya, dan kemudian beranjak dari tempatnya namun dengan cepat dicegah oleh Andreas.
"Mau kemana?" Sahut Andreas sambil meraih tangan Zarin namun langsung ditepis oleh wanita itu.
"Mau ke sana sebentar, di sini terasa semakin panas!" Sahut Zarin dengan ketus, dan langsung beranjak pergi dengan kesal.
Andreas hanya mendengus dan mau tidak mau membiarkan wanita itu pergi, namun ia tetap meminta salah satu anak buahnya untuk mengikutinya.
"Ayolah honey, kita lakukan sekarang! Aku sudah sangat menginginkan dan merindukannya." Rengek Silvana dengan manja.
"Baiklah baby." Balas Andreas sambil mengulas senyum nakalnya, pria itu benar-benar seperti tidak memiliki beban dan segera beranjak pergi bersama Silvana, bahkan ia juga seperti tidak menggubris Jimmy lagi yang malah terlihat senang saat Andreas dan Silvana pergi.
Andreas memang tidak berpikir negatif lagi pada Jimmy, apalagi ia sudah mempercayakan Zarin untuk dijaga anak buahnya, sudah pasti wanita itu aman dan tidak akan ada pria yang menggoda atau bahkan berbuat macam-macam dengannya.
"Hai Nona cantik, mau minum?" Sahut Jimmy yang kini duduk di sebelah Zarin.
Zarin lantas menoleh dan langsung mengiyakan tawaran Jimmy.
Great! Aku akan membungkusmu pulang Nona Cantik.
*
*
*
__ADS_1