
"Boss, ini laporan perkembangan misi kita, lebih tepatnya misi yang diberikan kepada saya. Rony sudah saya lumpuhkan, jazadnya sudah saya buang ke laut, dan saya jamin tidak akan ada yang tahu tentang hal ini, bahkan media sekalipun." Jelas Ricard sambil menunjukkan sebuah bukti beberapa foto dan video yang memperlihatkan bagaimana pria itu bekerja menyingkirkan target utamanya.
Andreas tentu saja langsung melihat ke arah layar ponsel anak buah kesayangannya itu sambil menarik sudut bibirnya dengan senang, akhirnya dendamnya kini satu persatu mulai terbalaskan.
Ya, kematian Ronny adalah permulaan saja setelah kebrangkutan beberapa bisnisnya. Kini target Andreas selanjutnya adalah istri dan anak tertua Ronny yang harus ia singkirkan dan setelah itu yang terakhir adalah Zarin yang merupakan istrinya sendiri.
Pria yang kini mengenakan setelan jas berwarna hitam itu lantas bersandar di dinding sofa yang ada di ruang tamunya sambil beberapa kali terlihat begitu senang akan kinerja anak buahnya.
"Bagus sekali. Kau sudah memastikan semuanya bukan? Semuanya bersih, dan tidak ada yang mengetahuinya kan? Jangan sampai Zarin tahu." Sahut Andreas lirih setengah berbisik pada Ricard.
Ricard yang hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan bosnya itu langsung dicegah oleh Andreas dengan sebuah kode yang mengisyaratkan bahwa ia meminta Ricard untuk tidak membahas hal itu secara terang-terangan lagi di tempat itu, tentu saja hal itu karena ia takut jika sampai Zarin mendengarnya.
Apalagi salah satu tujuan utamanya mengajak Zarin keluar dari mansion dan sementara tinggal di rumahnya yang lain adalah agar wanita itu tidak mendengar kabar soal kematian ayahnya yang sebenarnya disebabkan oleh dirinya, namun Andreas dan Ricard tentu saja sudah mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga jejak pembunuuhan itu tidak diketahui oleh siapapun.
Andreas juga sudah menduga, cepat atau lambat setelah menghilangnya Ronny--ayah Zarin dan bahkan kematiannya pasti sang ibu atau kakaknya akan datang ke mansion untuk mengabarkan hal itu, dan mungkin bisa saja mereka langsung menuduh Andreas sebagai pelakunya, meskipun itu memang benar adanya.
Ricard lantas mengangguk sambil sedikit berbicara lirih pada Andreas dan setelah itu ia memberikan sebuah berkas kepada bosnya sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu untuk menyelesaikan tugas yang selanjutnya.
"Aku akan mentransfer sejumlah bonus ke rekeningmu Ric. Good job!" Puji Andreas sambil meraih berkas tersebut dan langsung menyembunyikan karena takut jika sewaktu-waktu Zarin datang.
Lagi-lagi Ricard hanya bisa patuh, ia sengaja bekerja semaksimal mungkin, selain menang karena loyalitasnya pada Andreas, di sisi lain salah satu alasannya adalah agar demi bisa mengumpulkan uang bonus yang diberikan Andreas padanya untuk melamar Laura nantinya.
__ADS_1
Pria itu bahkan sengaja mengurungkan niatnya untuk menemui Laura beberapa hari yang lalu karena ia bermaksud untuk mempersiapkan segalanya demi bisa melamar wanita impiannya itu, meskipun ia sendiri tidak tahu jika Andreas telah dengan tega membuat tubuh Laura akhirnya dicicipi oleh beberapa anak buahnya yang lain dan kini menyebabkan kejiwaan Laura sedikit terganggu.
Seperti yang sudah diduga Andreas sebelumnya, Zarin tiba-tiba saja datang menghampirinya sesaat setelah kepergian Ricard. Untung saja ia telah menyembunyikan berkas itu di bawah sofanya tadi.
"And, bukan kah tadi sepertinya Ricard kemari? Ada apa?" Sahut Zarin sambil melangkah mendekat ke arah Andreas dan langsung duduk di samping pria itu, bahkan kini ia tidak segan untuk bergelayut manja di lengan kekar Andreas.
Entahlah, tapi Zarin semakin hari semakin merasa nyaman dengan Andreas meskipun sikap pria itu jarang sekali baik padanya, bahkan lebih sering bersikap dingin dan berkata ketus padanya, namun semua itu tidak masalah baginya yang jelas ia kini merasa sangat nyaman.
Sama halnya dengan Zarin, sebenarnya Andreas juga merasakan hal yang sama. Namun bagaimanapun tujuan utamanya bukanlah untuk menjadi pria bucin melainkan untuk melakukan balas dendam, beberapa kali ia hampir hanyut dalam perasaan itu namun dengan cepat pria itu langsung menyadarkan dirinya agar kembali ke tujuannya.
Andreas sedikit menggeliat, ia mencoba melepaskan rangkulan Zarin meskipun rasanya ia merasa nyaman sekali oleh sikap wanita itu.
"Heh wanita hama! Menyingkirlah! Jangan seperti ini, aku tidak suka! Membuatku risih saja!" Titah Andreas dengan ketus dan beberapa kali mengibaskan lengannya dengan kasar.
Sikap Zarin semakin agresif hingga membuat jantungnya berdegup semakin kencang seolah hampir melompat dari tempatnya, namun seperti biasa ia selalu mencoba untuk bersikap biasa saja dan jika perlu semakin bersikap dingin pada wanita itu.
"Lepaskan atau aku akan semakin bersikap kasar padamu!" Ancam Andreas sambil melirik tajam bak elang yang hampir menerkam mangsanya ke arah Zarin.
Mendengar ancaman itu tentu saja dengan terpaksa Zarin langsung melepaskan rangkulannya sambil mengurai wajah masam.
"Hanya memeluk saja apa tidak boleh? Bukan kah kau suamiku? Dan bukan kah kita sudah..."
__ADS_1
"Ah sudah lupakan! Jangan berharap lebih! Kau itu sama seperti wanita lainnya, hanya teman ranjang saja!" Sahut Andreas menyela kalimat Zarin dengan ketus dan membuat mood wanita itu seketika berubah menjadi jelek.
Zarin lantas beranjak pergi dengan penuh rasa kesal karena ucapan Andreas yang begitu membuatnya tersinggung, apalagi pria itu seolah menyamakan dirinya dengan seorang wanita malam bayaran saja, tentu saja Zarin marah dan tidak terima.
Wanita itu akhirnya memilih untuk pergi kembali ke kamarnya, sedangkan Andreas, ada sedikit rasa lega yang ia rasakan karena akhirnya wanita itu pergi dan membuatnya lebih leluasa, apalagi untuk mengambil berkasnya untuk dibawa ke kamarnya.
*
"Pah, kenapa ini semua bisa terjadi! Siapa yang tega menghabisimu seperti ini, Pa!" Ucap seorang wanita yang berada di atas tanah pemakaman yang masih basah.
Karin, ya wanita itu adalan Karin--istri Ronny sekaligus ibu Zarin yang sejak semalam menangis terisak-isak karena kematian suaminya secara tragis itu.
Bahkan yang membuat hatinya semakin pedih adalah ia tidak bisa menghubungi Zarin atas kematian ayahnya sendiri, karena menurut informasi yang ia dapat Zarin sedang pergi untuk honeymoon di suatu tempat, padahal nyatanya anaknya sedang diasingkan secara sengaja oleh Andreas agar tidak mengetahui kabar tersebut.
"Mom, biarkan Daddy pergi dengan tenang. Sabar, masih ada aku di sini. Aku berjanji akan mencari tahu bagaimana semua ini bisa terjadi dan siapa dalang dibalik semua ini." Ucap seorang pria yang merupakan kakak Zarin, pria itu menatap lekat ke arah foto yang ada di batu nisan sang ayah dengan tatapan tajam dan penuh dendam.
Ia bahkan bersumpah demi apapun akan mencari orang itu dan membalas semuanya, tidak peduli siapa orang itu.
*
*
__ADS_1
*