Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 21. Hal Gila!


__ADS_3

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 3 pagi, namun kedua netra Andreas sama sekali belum bisa tertidur meskipun ia sudah berusaha berkali-kali memejamkan kedua matanya.


Sejak kejadian tadi, wajah, tubuh dan bahkan milik Zarin seolah terus terngiang di kepalanya dan hampir saja membuatnya terasa pusing.


Andreas tentu saja tidak henti-hentinya menggerutu kesal karena beberapa kali ia mencoba menghilangkan bayang-bayang itu namun seketika bayang-bayang itu seakan semakin terngiang dan melekat di pikirannya.


"Hah, wanita itu benar-benar hampir membuat aku benar-benar gila! Sepertinya aku harus secepatnya menghabisi wanita itu atau keluarganya agar aku tidak semakin gila!" Gerutu Andreas pada dirinya sendiri.


Pria itu lantas meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan segera mencari sebuah nomor kontak seorang wanita yang sepertinya dapat membantu kegelisahannya malam ini, ah bukan malam lagi tapi menjelang pagi.


Hampir tiga kali pria itu mencoba menghubungi Laura, ya siapa lagi jika bukan wanita itu, namun sama sekali tidak ada jawaban.


Bahkan Laura juga tidak lagi mengejar-ngejarnya dan mengajaknya untuk datang ke sebuah acara yang sebelumnya telah dijanjikan bersamanya.


Sejenak Andreas terdiam, ia berpikir jika mungkin saja wanita itu sudah bersama pria lain ke acara tersebut, dan itu malah membuatnya lebih senang.


Ia memang tidak pernah melarang Laura bersama pria manapun termasuk pergi atau menjalin hubungan asmara, karena tugasnya wanita itu bukan untuk menjadi kekasihnya melainkan hanya partner ranjangnya.


Namun perlu digaris bawahi, selama Andreas dan Laura menjadi partner ranjang, ia tidak mengizinkan wanita itu untuk berciinta dengan pria lain selain dirinya, apalagi Laura juga harus rutin memeriksakan kesehatan miliknya dengan dokter khusus yang sudah di siapkan Andreas.


Pria itu lantas beranjak dari ranjang tidurnya, dan meraih sebuah jaket berwarna hitam polos dan memasukkan ponselnya ke dalam saku untuk keluar dari kamarnya dan hendak pergi menemui wanitanya itu.


Dengan tergesa, pria itu menuruni anak tangga dan segera menuju ke parkiran mobilnya.


Kali ini, tidak seperti biasanya, ia ingin pergi sendirian tanpa seorang sopir menggunakan mobil hitam mewah kesayangannya.


Meski beberapa anak buahnya menawarkan untuk menemaninya atau mengikuti alias mengawalnya dari belakang, namun dengan tegas Andreas menolaknya, dan malah meminta semua anak buahnya untuk berjaga di mansion saja, terutama menjaga wanita yang kini menjadi istrinya itu agar tidak kabur.


Patuh, semua anak buahnya hanya bisa mengangguk menyetujui ucapan sang tuan meskipun mereka juga merasa was-was jika bosnya itu tidak dikawal saat bepergian.


Karena pengalaman yang pernah mereka alami, Andreas pernah pergi beberapa kali sendirian, terutama ke sebuah bar mewah yang ada di kota Milan, namun tanpa pria itu sadari ternyata sejak keluar dari mansionnya, ia telah diawasi oleh beberapa orang bersenjata yang ternyata merupakan rival bisnis ilegalnya.

__ADS_1


Namun insting pria itu seolah sangat kuat saat ia berada dalam bahaya, dengan sigap Andreas yang memang selalu menaruh senjatanya di bawah jok mobil miliknya itu pun segera menyerang orang-orang itu dengan kedua tangannya sendiri sebelum mereka berhasil menghabisinya.


Menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, karena jalanan kota yang cukup lenggang, kini Andreas telah sampai di sebuah kawasan apartemen miliknya yang dihuni oleh Laura.


Dengan mudahnya pria itu masuk ke dalam gedung itu dan segera menuju apartemen miliknya karena ia memang memiliki kartu akses tempat itu.


Kini, pria yang hanya mengenakan celana pendek rumahan dan jaket hitam polos itu sudah berada di depan pintu, baru saja hendak membuka pintu itu dengan kartu akses miliknya, namun perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, seolah seperti ada sesuatu hal yang tidak ia sukai sedang terjadi.


"Brengs*k!" Pekik Andreas dengan amarah yang tiba-tiba saja memuncak, bahkan rahangnya mulai mengeras, dan kedua matanya kini membola.


Ia benar-benar tidak menyangka jika Laura sedang bermain dengan seorang pria lain di dalam apartemen miliknya.


"Hah, An-Andreas... Ini .."


"Tutup mulutmu! Dasar wanita tidak tahu diuntung! Jadi ini yang kamu lakukan dibelakang ku dan melanggar perjanjian!" Sahut Andreas yang sama sekali tidak membiarkan wanita itu untuk memberikan alasan apapun.


"Bu-bukan begitu, tapi aku dan dia hanya..."


"Hanya berbagi peluh kan! Ayo lanjutkan cepat! Aku ingin melihat bagaimana permainan kalian!" Sahut Andreas sekali lagi yang memotong kalimat Laura.


Brak!!


Dengan sekuat tenaga, Andreas yang tidak suka dengan situasi itu pun segera membanting pintu untuk menutupnya. Ia memang tidak merasa cemburu, tapi ia tidak suka jika ada orang lain yang melanggar perjanjian dengannya termasuk dalam hal ini.


Bukannya pergi, pria itu malah masuk dan mengunci kembali pintu tersebut kemudian mengambil posisi duduknya di atas sofa.


"Lakukan sekarang! Aku ingin melihat kalian brengs*k!" Pekik Andreas dengan wajah yang semakin terlihat garang.


"And, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya...."


Bruk!

__ADS_1


Laura yang sedang berusaha mendekati Andreas untuk menjelaskan hal itu pun di dorong dengan kasar oleh Andreas, dan membuatnya tersungkur dengan keras ke atas lantai.


Namun Laura tidak menyerah, ia berusaha untuk bangkit dan hendak menuju ke arah Andreas lagi demi untuk menjelaskan apa yang terjadi, yang lebih tepatnya untuk berdusta.


"Diam ditempatmu dan lakukan semua perintahku atau kamu dan juga pria itu akan habis malam ini!" Pekik Andreas untuk kesekian kalinya.


Bahkan kini pria itu sambil menodongkan sebuah senjata ke arah Laura, dan sesekali mengarahkannya ke arah pria itu seolah sedang berusaha mengancam keduanya.


Tentu saja kedua orang itu hanya bisa patuh karena takut jika nantinya Andreas yang memang terkenal sebagai pria kejam itu akan bersikap sedemikian rupa dan menarik pelatuknya sehingga mencelakai keduanya.


Laura lantas memilih untuk mundur dan kembali ke atas ranjang mendekati pria itu, meskipun sumpah demi apapun keduanya tidak mau lagi melakukan hal itu apalagi sebagai tontonan seseorang, namun Andreas tetap menodongkan senjatanya ke arah mereka.


"Cepat lakukan! Aku ingin melihat bagaimana permainan mu dengan pria lain Ra!" Pekik Andreas.


"Tolong turunkan senjatamu, dan kami bukan budak mu atau bahkan binatangmu yang bisa seenaknya saja kamu suruh untuk melakukan hal itu!" Desis pria yang masih berada di bawah selimut itu.


Sungguh pria yang bernama Park itu yang merupakan seorang keturunan Korea, tidak mau melakukan hal sehina itu dihadapan Andreas, bagaimana pun ia juga memiliki harga diri dan tidak bisa diinjak begitu saja.


"Ha..ha..ha..ha... Kamu pikir kamu ini siapa, ha! Dia adalah budakku, dan tentu saja kamu juga bagian dari budakku! Bukankah seharusnya aku memperlakukan kalian selayaknya binataang!" Sahut Andreas sambil diiringi tawa jahatnya.


"Sialaan!"


Baru saja Park hendak beranjak dari tempatnya, namun dengan cepat dicegah oleh Laura yang tidak mau masalah ini semakin melebar kemana-mana, apalagi jika sampai Andreas nekat menarik pelatuk dan mencelakai mereka berdua.


"Park, jangan.. Sebaiknya kita turuti saja kemauannya, meski ini terlihat menjijikan, tapi kita tidak ada pilihan lain." Bisik Laura lirih sambil meraih lengan Park yang hampir saja beranjak untuk melawan.


Park mendengus kasar, mau tidak mau akhirnya keduanya melakukan hal gila itu tepat dihadapan Andreas yang sejak tadi sudah duduk manis di atas sofa sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis.


Kalian pikir aku akan memaafkan kalian begitu saja? Apalagi kau Laura yang telah melanggar perjanjian, akan ku pastikan setelah ini kamu akan menderita dan mengemis ampun padaku!


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2