Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 32. Memacu Adrenalin!


__ADS_3

Chris dengan kesal langsung meninju udara dihadapannya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa karena tembakan Andreas di bagian lengan dan kakinya.


Pria itu terus menggerutu kesal dan tidak terima dengan perlakuan Andreas yang benar-benar mempermalukannya di depan umum. Apalagi Chris adalah sosok pria yang cukup terkenal di kota itu dan hal itu tentu saja menurunkan reputasinya.


Bahkan Chris juga bersumpah akan membalas semua yang telah dilakukan Andreas padanya dengan setimpal, jika perlu ia juga akan memberi perhitungan pada mantan kekasihnya itu--Zarin.


"Sudahlah, kita urusi mereka nanti, yang jelas sekarang kita harus ke rumah sakit untuk mengobati luka mu, Chris!" Sahut Olive mengelus bahu kekasih gelapnya itu, wanita itu cukup setiap di samping Chris dan selalu berusaha mengambil hati pria itu agar tidak meninggalkannya setelah semua yang telah ia berikan padanya.


*


Sedangkan di sisi lain, sepasang suami istri itu kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam pusat perbelanjaan, kini keduanya sedang melangkah dengan penuh percaya diri untuk keluar dan segera meninggalkan tempat yang sudah tidak kondusif itu.


Ah sebenarnya bukan keduanya, tapi Andreas, pria itu bahkan seperti sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat keributan dan kehebohan di pusat perbelanjaan itu. Sedangkan Zarin, wanita itu tentu saja merasa cukup was-was dan khawatir dengan nasib mereka berdua nantinya akan bagaimana.


Dengan santainya tanpa Andreas sadari, pria itu sejak tadi terus menggenggam dan menggandeng tangan Zarin, bahkan ia semakin mempercepat langkahnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sebenarnya niat Andreas untuk segera pergi bukan karena ia takut dengan pihak kepolisian yang sudah pasti akan datang untuk menangkapnya, namun ia hanya tidak ingin terlalu lama di tempat itu dan membuat moodnya semakin memburuk saja dan tentu saja akan membuat amarah serta sifat tempramentalnya itu sulit untuk dikendalikan, apalagi di depan Zarin, ia tidak mau jika nantinya wanita itu malah akan menjadi bulan-bulanannya.


Sedangkan untuk masalah menghadapi pihak kepolisian, sumpah demi apapun ia tidak pernah takut dengan mereka. Bahkan jika mereka tahu siapa yang membuat keributan di tempat itu, mereka pasti akan segan untuk menangkapnya, karena ia memang memiliki sebuah bisnis tersembunyi dengan beberapa petinggi kepolisian yang sudah jelas mereka akan selalu membantunya, dan membebaskannya dari berbagai macam hukum serta masalah yang menjeratnya.


Zarin hanya bisa mengikuti langkah suaminya yang berjalan semakin cepat dan terburu-buru itu, hingga akhirnya kini keduanya telah berada di dalam mobil mewah yang semula mereka kendarai.


"And... Polisi pasti sudah berada di perjalanan kemari. Bagaimana jika nantinya kita tertangkap dan ditetapkan menjadi tersangka? Semuanya pasti akan semakin rumit!" Ucap Zarin sambil duduk, tangannya terlihat gemetaran di dalam mobil yang belum mulai berjalan itu, bahkan raut cemas itu semakin terpancar dari wajah ayu Zarin.


Andreas lantas menoleh ke arah istrinya yang cukup terlihat ketakutan itu, pria itu kini malah terlihat semakin mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Zarin dan terlihat seperti hampir memeluknya, atau mungkin bisa saja bertindak lebih seperti semalam.


"A-apa yang mau kamu lakukan, And... Jangan gila! Kita ada di dalam mobil, dan ini tempat umum!" Sahut Zarin dengan kedua mata yang semakin mendelik, apalagi saat melihat mimik wajah Andreas kini yang hampir sama seperti semalam sebelum pria itu membalikkan tubuhnya dan mengungkunginya.

__ADS_1


Namun Andreas hanya menarik sudut bibirnya dan tidak banyak bicara, tanpa di duga pria itu ternyata hanya ingin memasangkan sabuk pengaman di tubuh istrinya.


"Apa kamu benar-benar menginginkannya lagi, huh? Bahkan aku hanya berniat memasangkan sabuk ini, bukan mau melakukannya lagi." Balas Andreas yang lagi-lagi menarik sudut bibirnya, bahkan kini seperti sedang mengejek Zarin yang terlihat kikuk karena pikiran dan ucapannya sendiri.


Wanita itu hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Sungguh, sebenarnya ia bukan bermaksud seperti itu, tapi karena milik Andreas dan apa yang dilakukan pria itu padanya semalam begitu membekas di ingatannya dan bahkan terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya saat ini menjadi berpikiran sedemikan rupa, dan menganggap pria itu akan melakukan hal yang sama seperti semalam.


"Mak-sud ku, a-aku hanya takut jika polisi mengejar kita dan..."


"Ssst! Tidak akan ada polisi yang mengejar kita! Apa kamu lupa siapa aku ini, hm?" Sahut Andreas yang tiba-tiba menyela dan memotong kalimat Zarin.


"Lebih baik kamu menyiapkan dirimu dan berpeganganlah karena aku akan memacu kuda besi ini dengan cukup kencang sekarang!" Imbuh Andreas dengan mimik wajah datar.


Zarin hanya terdiam sambil meneguk salivanya dan berusaha mencari pegangan. Sedangkan Andreas, pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera menginjak pedal gas untuk pergi meninggalkan tempat itu.


*


"Kita akan ke suatu tempat, untuk sementara waktu kita tidak akan pulang ke mansion sebelum anak buahku menghabisi pacarmu itu!" Ucap Andreas yang masih fokus menyetir, bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Zarin, namun seolah ia tahu apa yang sedang di pikirkan wanita itu, apalagi sejak beberapa menit yang lalu Zarin terus menarik ulur dressnya dengan jemarinya yang seolah menunjukkan jika wanita itu sedang merasa gelisah.


Sontak ucapan Andreas langsung membuat Zarin menoleh ke arah suaminya sambil mengerutkan dahinya, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana pria itu tahu isi pikirannya saat ini, padahal ia belum mengucapkan sepatah kata pun.


"Si brengs*k itu bukan pacarku lagi sekarang!" Balas Zarin sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena saat Andreas membahas tentang Chris, hal itu terdengar seperti sedang mengejeknya.


Mendengar jawaban singkat Zarin apalagi sambil melirik ke arah wanita itu, Andreas lantas menarik sudut bibirnya sambil geleng-geleng kepala.


Namun anehnya, Andreas kini malah merasa gemas sendiri melihat mimik wajah Zarin yang terlihat kesal itu, bahkan tanpa ia sadari jemarinya yang berada di atas kemudi itu sesekali menggenggam sambil menekan benda bundar yang ada di depannya.

__ADS_1


"Bukan kah waktu itu kamu pernah mengatakan jika kamu bangga dengan pacarmu itu, hm? Kamu juga mengatakannya jika kamu akan menikah dengan pria itu!"


Bukannya diam, Andreas malah semakin mengejek Zarin dan membuat wanita itu semakin kesal saja meskipun apa yang dikatakan Andreas memang benar.


Zarin semakin mengerucutkan bibirnya, bahkan kini diiringi dengan kedua tangannya yang di lipat di depan dada dan membuang pandangannya. Sumpah demi apa ia benar-benar tidak suka jika Andreas membahas hal itu, apalagi mengungkit tentang Chris yang kini adalah pria yang sangat dibencinya di muka bumi ini.


Lagi-lagi Andreas melirik ke arah istrinya. Gila memang, entah kenapa melihat Zarin benar-benar semakin menggemaskan saja menurutnya.


"Sudahlah aku hanya bercanda jadi biarkan bibirmu biasa saja, jika seperti itu malah terlihat seperti bebek nanti!" Sahut Andreas sambil menahan tawanya.


Deg!


Zarin lantas menguluum bibirnya dan kemudian menggigit bibir bawahnya karena merasa semakin kikuk dengan sikap Andreas yang terasa berbeda itu.


Untuk kesekian kalinya Andreas melirik ke arah istrinya, dan sialnya kini Zarin seperti sedang menggodanya dengan menggigit bibir bagian bawahnya dan menahan senyumannya.


Hal itu cukup memacu adrenalin Andreas bahkan membuat tubuhnya semakin memanas, rasanya ia ingin segera menyergap bibir ranum itu dan mengecuupnya seperti semalam.


"And... Awas! Ada mobil di depan!"


Brak!!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2