
Tok-tok-tok-tok
"Marco, buka pintunya. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap seorang pria bertubuh tegap yang baru saja datang.
Pria itu tentu saja Andreas yang baru saja sampai di mansion dan langsung menuju ke tujuan utamanya, yaitu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada sang adik sebelum semuanya menjadi salah paham dan membuat rencananya berantakan.
Marco yang baru merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah itu pun langsung beranjak dan membuka kunci pintu kamarnya, apalagi mengetahui jika yang ada dibalik pintu itu adalah sang kakak, ia begitu antusias karena segera ingin mendengar penjelasan pria yang wajahnya hampir mirip dengannya itu.
"Kunci pintunya, jangan sampai ada yang masuk dan mendengarkan pembicaraan kita, termasuk Zarin." Titah Andreas sambil melangkah mendekat ke bagian kaca jendela kamar Andreas yang langsung tertuju pada sebuah kolam renang besar yang ada di halaman mansion.
Patuh, Marco segera menutup pintu itu, namun dengan cerobohnya ia tidak menguncinya, bahkan ia tidak memperhatikan apakah pintu itu sudah tertutup sempurna atau belum, karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada sang kakak.
Marco lantas melangkah mendekat pada sang kakak yang mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Zarin bukan istri seperti yang kamu pikirkan, dia adalah anak dari seorang mafia bernama Ronny." Ucap Andreas ambigu.
"Maksud kakak?"
Andreas kemudian meraih sebuah foto sebuah tato yang ada didalam saku jasnya dan mengulurkannya pada sang adik, hingga akhirnya Marco dapat melihatnya dan mengingat gambar tato itu.
"Tato ini... Si brengs*k yang telah membunuh orangtua kita kak! Lalu apa hubungannya dengan pernikahan dan Zarin?" Cecar Marco yang mulai penasaran, kedua alisnya saling tertaut karena belum bisa menebak apa sebenarnya yang terjadi.
"Itu adalah tato yang ada ditubuh Ronny, dia adalah ayah dari Zarin. Sampai disini kamu akan paham." Jelas Andreas singkat.
Deg!
__ADS_1
Kedua netra Marco mendelik, ia sungguh terkejut dengan pernyataan sang kakak yang ternyata sudah menemukan siapa pemilik tato itu sekaligus pembunuh kedua orangtuanya.
"Jadi, alasan kakak menikahi Zarin untuk balas dendam, bukan? Lalu apa yang akan kita lakukan pada wanita itu, kak? Seharusnya kita segera habisi saja si brengs*k itu dan keluarganya termasuk Zarin!" Ucap Marco dengan amarah yang mulai tersulut, kini tatapannya mulai berubah menjadi penuh kebencian mengingat semua kejadian tragis yang telah menimpa keluarganya beberapa tahun silam.
Andreas menghela nafas, ia lantas menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap lekat ke arah luar jendela.
"Aku ingin bermain-main dulu dengan si brengs*k itu, terutama keluarganya. Aku ingin dia menderita, sama seperti apa yang pernah kita rasakan dulu. Dan salah satunya adalah dengan menikahi anaknya, aku ingin membuat Zarin bertekuk lutut hingga mengemis pengampunan dari ku!" Jelas Andreas dengan menggebu-gebu.
Sang adik yang kini berdiri di sampingnya, hanya bisa terdiam sejenak, ia juga setuju dengan rencana sang kakak. Namun sejujurnya ada sedikit yang mengganjal dipikirannya, ia malah menjadi takut jika nantinya sang kakak akan terjebak dalam sebuah perasaan dengan Zarin dan membuatnya mengurungkan niat untuk melakukan balas dendam.
"Kakak yakin tidak akan memiliki perasaan apapun pada wanita itu? Bagaimana jika nanti kakak akan terjebak dalam situasi yang rumit?" Sahut Marco.
Deg!
Tapi ia yakin jika ia tidak akan pernah memiliki perasaan apapun dengan Zarin selagi ia selalu berpegang teguh pada tujuan utamanya.
"Tidak! Semua itu tidak akan terjadi! Aku nanti akan membunuuhnya secara perlahan. Jika perlu aku bahkan akan membuatnya bunuh diri karena frustasi tidak kuat dengan hidupnya! Hal itu juga sudah pasti perlahan akan membuat Ronny terpuruk dan saat semua keluarganya sudah mati, kita akan habisi dia dan menjarah semua hartanya!" Jelas Andreas sekali lagi dengan tatapan yang cukup serius pada sang adik, hingga membuat Marco hanya bisa menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa dirinya paham dengan maksud tujuan sang kakak yang sejalan dengannya.
Namun tanpa mereka sadari, di balik pintu yang sejak tadi sedikit terbuka itu terdapat seseorang yang secara tidak sengaja mendengarkan percakapan keduanya.
Orang itu sangat terkejut dengan apa yang mereka bicarakan, apalagi ternyata itu mengenai dirinya dan keluarganya hingga ia hampir saja membuka mulutnya dan bersuara, namun dengan cepat ia langsung mengatupkan kedua tangannya untuk menutupi mulutnya agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Ya siapa lagi jika bukan Zarin, ia sebelumnya berniat untuk mengajak bicara Marco agar lebih membuat dirinya dan pria yang menjadi adik iparnya itu kini mulai saling mengenal.
Apalagi Zarin juga ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang ia lihat tadi di atas saat ia bersikeras untuk masuk ke dalam ruangan pribadi sang kakak, ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan, dan ia juga ingin Marco merahasiakan hal itu dari Andreas agar tidak menimbulkan masalah berkepanjangan nantinya.
__ADS_1
Tapi sayangnya, ia malah harus mendengar hal yang cukup menyakitkan untuknya, bahkan fakta itu sangat cukup membuat kedua kakinya lemas seolah hampir tidak bisa lagi menopang bobot tubuhnya.
Namun ia tentu saja tidak bisa ambruk disitu, karena beberapa anak buah dan penjaga yang saat itu sedang lengah belum mengetahui keberadaan Zarin di depan kamar Marco.
Zarin lantas bergegas pergi untuk kembali naik ke atas, tepatnya ke kamarnya sebelum beberapa anak buah Andreas mengetahui bahwa dirinya ada di sana.
Perasaan wanita itu kini semakin berkecamuk dan bahkan ia mengalami shock luar biasa karena ternyata dirinya di tempat itu sangat terancam, bahkan nyawa keluarganya, bahkan buliran bening itu mulai kembali lagi meleleh dari pelupuk matanya.
Wanita itu lantas masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya, kini ia malah takut untuk membukanya dan menemui Andreas karena ternyata dugaan awalnya memang benar dia adalah pria brengs*k, dan juga seorang pria berdaraah dingin yang perlahan akan mengakhiri hidupnya dan keluarganya.
"Dad, mom, kakak... Kalian harus mengetahui hal ini secepatnya, kalian harus selamat! Biar aku yang disini menjadi tawanan dan korbannya, aku tidak ingin hal buruk menimpa kalian..." Ucap Zarin lirih pada dirinya sendiri sambil berurai air mata.
Namun detik selanjutnya, ia semakin menyadari bahwa ia juga tidak bisa berbuat banyak karena ia tidak bisa berbuat apapun. Bahkan untuk menghubungi kekasih dan keluarganya saja dia tidak bisa, lalu harus dengan cara apa dia menyampaikan kabar buruk itu pada keluarganya?
Sejenak Zarin terdiam, otaknya yang mulai penuh dengan berbagai kemungkinan itu terus dipaksa untuk berpikir mencari cara.
Hingga akhirnya, sebuah pikiran yang jauh dari kata hati Zarin itu terlintas dan membuat dirinya yakin hanya itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan keluarganya.
"Ya, aku harus melakukan itu! Pria itu harus bertekuk lutut padaku! Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku!"
*
*
*
__ADS_1