Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 25. Sial!


__ADS_3

Kedua mata Zarin tentu saja langsung membola seketika, sumpah demi apapun dia sangat terkejut dengan Andreas yang secara tiba-tiba melakukan hal itu bahkan di hadapan wanita yang menurutnya adalah kekasihnya itu.


Berbeda dengan Laura, kini tatapan wanita itu semakin tidak suka dengan wanita yang menurutnya telah merebut Andreas darinya itu, ia terus meronta dengan sekuat tenaga bahkan kini penuh dengan amarah dan dendam yang menggebu-gebu pada Zarin.


Ia bersumpah jika akan membuat wanita yang kini berada dalam rangkul hangat dan mesra Andreas itu akan menderita, cepat atau lambat. Bahkan ia berharap jika wanita itu nantinya akan memiliki nasib yang sama sepertinya.


"Lepaskan aku, dasar kalian ini bod*h!" Umpat Laura kesal sambil meronta, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh beberapa anak buah Andreas yang hendak membawanya ke gudang belakang untuk di eksekusi sesuka mereka.


Sedangkan di dalam mansion selepas kepergian Laura yang merupakan salah satu pembuat rusuh malam ini itu, Andreas segera melepaskan rangkulan hangatnya dan mendorong tubuh Zarin dengan kasar.


"Awas! Dasar wanita hama!" Desis Andreas sambil melangkah meninggalkan Zarin pergi untuk naik ke atas lagi.


Wanita itu hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan, namun dengan cepat ia segera menyeimbangkan bobot tubuhnya dan kemudian berlari untuk mengejar Andreas dengan suasana hati yang semakin senang itu.


"And, tunggu. Bukannya tadi itu pacarmu? Jadi sekarang kamu sudah putus dengannya dan memilih aku?" Sahut Zarin dengan penuh percaya diri.


Namun ucapan Zarin sama sekali tidak di gubris oleh Andreas yang memilih semakin mempercepat langkahnya untuk menuju kamarnya.


"And!!" Teriak Zarin yang kini malah merasa sedikit kesal karena Andreas sama sekali tidak menggubrisnya dan malah memilih masuk ke dalam kamarnya.


Namun wanita itu akhirnya mendengus dan kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


***


"Boss, saya sudah membuat beberapa bisnis Rony collapse. Bisa saya pastikan secepatnya semua bisnisnya juga akan ikut runtuh." Ucap Ricard yang kini duduk di hadapan Andreas, tepat di perusahaan milik pria dingin itu.


Andreas hanya manggut-manggut, sambil memainkan ponselnya melihat beberapa berita terbaru, hingga setelah beberapa menit ia meletakan ponsel itu dan merasa puas dengan kinerja Ricard yang telah berhasil menjalankan salah satu misinya.


Buktinya, berita runtuhnya beberapa usaha Rony sudah masuk dalam berita utama hari ini. Apalagi bisnis gelap yang di jalankannya kini malah diekspose media dan sudah dipastikan akan segera di selidiki oleh pihak kepolisian bahkan Interpol.


"Bagus! Kerja yang sangat bagus! Setelah ini aku akan mengirimkan sejumlah bonus untukmu, tapi ingat, tetap jalan kan rencana kita sampai semuanya beres." Ucap Andreas sambil bersandar santai di kursi kebesarannya.


Ricard lantas mengembangkan senyumnya, ia berniat akan menggunakan uang bonus itu untuk membelikan Laura sebuah kalung mutiara yang elegan di salah satu toko perhiasan milik Jennifer.


"Ah iya bos, lalu bagaimana dengan Nona Zarin? Apa yang akan bos lakukan padanya?" Cecar Ricard penasaran.


Andreas sejenak terdiam, sampai detik ini ia memang belum melakukan apapun pada wanita itu, bahkan saat Ricard sudah berhasil dengan salah satu misinya, ia sendiri belum bisa berbuat apapun untuk memberikan pelajaran pada Zarin.


Ia juga mulai berpikir cara apa yang tepat untuk menghadapi Zarin, karena ia juga menyadari bahwa sepertinya ia tidak bisa bersikap terlalu kejam pada wanita itu, bahkan ia semalam sama sekali tidak membiarkan oranglain menyentuh istrinya itu.

__ADS_1


"Aku sedang memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk memberi pelajaran pada wanita itu. Apa aku juaal saja dia? Sepertinya itu akan memberikan keuntungan besar untukku." Sahut Andreas.


"Menjuaalnya? Apa anda yakin Bos? Bagaimana jika ada yang mengetahui jika wanita itu adalah istri Anda. Bukan kah itu akan merusak nama baik Anda di kalangan kita." Tutur Ricard.


Apa yang di ucapkan Ricard memang benar, setelah dipikir-pikir lagi, Andreas memang tidak mungkin melakukan hal itu, hal yang dapat merusak nama dan citranya.


Brak!!


"Apa yang kau lakukan padaku semalam hah!! Lihat kau hampir membunuuhku!" Pekik seorang pria dengan keadaan wajah yang babak belur tidak karuan itu.


Ya siapa lagi jika bukan Marco yang baru saja sadar dari sisa mabuknya semalam, dan langsung membersihkan dirinya kemudian mendatangi sang kakak ke perusahaannya.


Ricard cukup terkejut dengan kedatangan Marco yang ia pikir masih berada di Jepang, apalagi keadaannya yang cukup memprihatinkan itu, babak belur hingga menutupi wajah tampannya.


"Memangnya apa yang aku lakukan padamu!" Desis Andreas yang masih bersikap santai menghadapi sang adik.


Pria yang memiliki wajah hampir mirip dengan dirinya itu lantas melangkah mendekat ke arah Andreas dengan tatapan kesal.


"Orang-orang di mansion mengatakan bahwa kakak yang telah membuatku seperti ini, karena katanya aku.... Mmm... Aku...."


"Kenapa! Kau kenapa, hah!" Sahut Andreas.


Mendengar hal itu Ricard cukup tertegun, ia sedikit mulai paham dengan arah pembicaraan mereka dan salah satu alasan Andreas sampai saat ini belum bertindak apapun pada wanita itu.


Ternyata apa yang ia takutnya sejak kemarin sepertinya benar, menurutnya Andreas kini sudah mulai merasa simpati pada wanita itu, bahkan bisa jadi jika terus dibiarkan pria itu akan mulai menaruh hati pada Zarin.


Sebenarnya Ricard juga tidak masalah, apalagi jika benar Andreas sudah menemukan tambatan hatinya, itu artinya ia pasti akan melepaskan Laura dan tentu saja itu adalah kesempatan emas Ricard untuk kembali dekat dan merebut hati Laura, meskipun ia tahu jika Laura adalah bekas wanita partner ranjang bosnya sendiri, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena ia benar-benar tulus menaruh perasaannya pada Laura.


Andreas sesekali melirik ke arah Ricard yang masih dalam keadaan kaget mendengar pembicaraan keduanya, ia pun lantas berdiri dan mendekat ke arah sang adik sambil menatapnya dengan cukup lekat.


"Apa kau sudah miskin sekarang? Apa kau tidak bisa menyewa wanita diluar sana untuk kau pakai, hah!! Jika kau menyentuh Zarin itu sungguh memalukan! Dia itu sama saja tawanan kita!" Sahut Andreas sambil beberapa kali memberikan pukulan ke lengan sang adik dan membuat pria dihadapannya itu mengaduh kesakitan.


"Tapi kak, aku hanya...."


"Hah sudah! Pergi sana! Aku sedang sibuk!" Potong Andreas sambil mendorong tubuh sang adik agar segera pergi dari hadapannya.


Marco tentu saja hanya bisa patuh, dari pada nantinya ia akan semakin babak belur lagi, lebih baik ia pergi.


"Bos, jadi semalam Nona Zarin hampir..."

__ADS_1


"Hish diam! Kenapa sekarang kamu jadi suka ikut campur urusan pribadiku! Apa kau mau ku pecat!" Potong Andreas.


Deg!


Sungguh, mendengar kata-kata pecat membuat jantung Ricard hampir melompat dari tempatnya, padahal ia tidak bermaksud untuk ikut campur masalah pribadi Andreas dengan Zarin maupun Marco.


"Tapi bukan kah kita memang mempunyai banyak rencana untuk Nona Zarin, apalagi pada keluarganya bos, jadi bukan kah itu juga urusan saya dan itu juga bukan urusan pribadi anda bos." Balas Ricard memberanikan diri.


Brak!


"Diam!" Bentak Andreas cukup keras, sungguh sebenarnya ia sendiri juga kini mulai bingung dengan pikiran dan hatinya yang semakin lama semakin tidak sinkron ini, apalagi ucapan Ricard memang benar, tapi mana mungkin ia begitu saja membenarkan ucapan Ricard, yang ada nantinya ia akan malu sendiri dihadapan anak buahnya itu meskipun sudah dianggap sahabat dekat dan keluarga sendiri.


*


Sedangkan di belahan bumi lainnya, Zarin sejak tadi yang hanya terdiam diri di rumah kini sudah mulai merasa bosan, apalagi berbagai kegiatan yang ingin ia lakukan cukup dibatasi oleh anak buah Andreas, hal itu semakin membuatnya kesal saja.


Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kolam renang yang ada di luar mansion itu. Kolam renang yang cukup besar dengan berbagai fasilitas pendukungnya yang lengkap.


Ia lantas membuka lemari pakaiannya dan mencari sebuah pakaian renang yang seingatnya ia juga sempat mengambilnya di toko Jennifer.


"Nah, ini dia... Lebih baik aku berenang saja!" Ucap wanita itu pada dirinya sendiri sambil meraih sebuah pakaian renang dengan bagian punggung yang cukup rendah hingga di atas pinggang.


Wanita itu lantas menuju tempat tujuannya sambil mengenakan pakaian renangnya dengan ditutup oleh sebuah handuk kimono.


"Nona, apa yang akan kau lakukan?" Ucap seorang pria yang ditugaskan untuk selalu berjaga dan membuntuti kemana saja Zarin pergi selama berada di mansion.


"Tentu saja berenang!" Sahut Zarin dengan ketus yang hendak melepaskan handuk kimononya di tepi kolam.


"Tapi lihatlah disekitar Nona..."


Zarin lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.


"Hah sial!"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2