
Andreas langsung merebahkan dirinya di atas ranjangnya sambil menghela nafasnya dengan kasar. Sumpah demi apa ia tidak pernah menyangka jika kejadian memalukan seperti ini akan terjadi, meskipun Zarin memang istrinya, namun sesuai dengan tujuannya ia tidak mau menaruh hati atau perasaan pada wanita itu, bahkan ia juga tidak mau bersikap manis dihadapan wanita itu sebenarnya.
Apalagi tujuan awalnya adalah untuk balas dendam, dan ingin membuat wanita yang terpaut usia lebih muda darinya itu menderita dan merasa tersakiti, namun kini seolah tujuannya itu hampir saja membelok karena ia yang ternyata tidak bisa semudah itu bersikap tegas dan tega pada Zarin.
Sejenak ia berpikir bahwa seharusnya tadi ia membiarkan Marco melecehkan Zarin, namun entah kenapa ia seperti tidak bisa membiarkan hal itu meskipun saat ini ia memang tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu.
Bahkan dirinya yang terkenal sebagai pria yang dingin dan kejam itu pun seolah selalu bisa bersikap berbeda pada Zarin.
Andreas terus bergelut dengan pikiran dan hatinya yang terasa semakin tidak satu tujuan itu. Sedangkan Zarin, wanita itu terus mengembangkan senyum sumringahnya karena sikap Andreas yang terlihat dingin namun terasa sangat hangat padanya.
Bahkan di setiap langkahnya menuju ke kamar pribadinya diiringi dengan dendangan-dendangan ceria seolah sedang menggambarkan isi hatinya saat ini, apalagi tangannya membawa bucket tadi tentu saja menambah keceriaan dirinya malam ini.
Hingga tiba-tiba langkahnya harus terhenti, karena ia mendengar suara kegaduhan dibawah sana yang sepertinya bukan berasal dari Marco, melainkan seorang wanita.
Zarin yang hendak masuk ke dalam kamarnya pun mengurungkan niatnya dan melangkah kembali ke arah tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Lepaskan! Aku mau bertemu Andreas! Kalian tahu kan siapa aku! Jangan berani-beraninya kalian mencegahku, atau Andreas akan memecat kalian!" Pekik seorang wanita yang mengenakan dress hitam super mini dengan bagian dada yang sedikit rendah sehingga menampilkan sembulan dua buah menggantung itu.
Ya siapa lagi jika bukan Laura yang terus berusaha untuk mengejar Andreas untuk meminta maaf dan mempertahankan pria itu lagi meskipun hanya sebagai partner ranjang.
Laura terus meronta saat beberapa anak buah Andreas terus berusaha mencegahnya untuk masuk.
"Maaf Nona, tapi Tuan Andreas sudah memberitahu pada kami agar tidak membiarkan Nona masuk dan menemuinya." Sahut salah satu pria yang berbadan gembul itu.
Sebelumnya, Andreas memang telah memberitahu pada semua anak buahnya untuk tidak membiarkan Laura masuk ke dalam mansionnya dan menemui dirinya, karena sumpah demi apapun ia tidak mau lagi berurusan dengan wanita itu dan menganggap hubungannya sebagai partner ranjang dengannya telah selesai.
Mendengar jawaban anak buah Andreas, Laura mendengus kasar dan kemudian berusaha untuk terus masuk ke dalam mansion Andreas.
"Andreas! Keluar lah! Kamu harus mendengar penjelasan ku! And....!" Teriak Laura secara gamblang.
Wanita itu bahkan tidak hanya sekali dua kali memanggil-manggil nama Andreas dan meminta masuk, namun berkali-kali bahkan hingga membuat telinga beberapa anak buah Andreas terasa berdengung dan bising.
Dengan penuh rasa penasaran, Zarin hendak menuruni anak tangga untuk menghampiri seorang wanita yang wajahnya terasa tak asing baginya, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk menuju kamar Andreas setelah ia berhasil mengingat siapa wanita itu, wanita yang ternyata secara tidak sengaja ia lihat saat melakukan permainan panas itu dengan Andreas kemarin.
Tok-tok-tok-tok...
__ADS_1
"And buka pintunya!"
Tok-tok-tok-tok...
Zarin terus mengetuk dan memanggil Andreas, bahkan suaranya terdengar semakin kencang dan membuat pria yang sedang berusaha untuk memejamkan kedua matanya itu merasa benar-benar terganggu.
"Hah! Ada apa dengan wanita hama itu!" Umpat Andreas sambil melempar bantalnya ke sembarang arah dan kemudian melangkah gontai ke arah pintu kamarnya.
Ceklek...
Grek....
"Kenapa!!! Ada apa lagi!" Ucap Andreas dengan cukup ketus, bahkan mimik wajahnya terlihat sangat tidak senang melihat Zarin dihadapannya.
"Itu And... Pacarmu datang dan berteriak-teriak dari tadi!" Sahut Zarin sambil melirik ke arah anak tangga.
Mendengar hal itu tentu saja kedua alis Andreas saling bertautan, apalagi saat Zarin menyebutkan jika pacarnya datang.
"Pacar siapa! Aku tidak punya pacar! Jangan mengada-ada! Sudah sana pergi!" Desis Andreas.
Baru saja hendak menutup pintu kamarnya dan tidak percaya dengan ucapan Zarin, namun tiba-tiba saja Andreas mendengar suara yang sangat tidak asing lagi baginya, pria itu tentu saja lantas mengurungkan niatnya dan mendengus kasar sambil melangkah pergi untuk menemui wanita yang kini sangat ia benci itu.
Bahkan ia secara tidak sengaja menabrak bahu Zarin dengan cukup keras karena terlalu kesal dengan kedatangan Laura yang begitu mengganggunya.
Sepanjang langkahnya menuruni anak tangga, bibir Andreas tidak henti-hentinya menggerutu dan mengumpat kesal pada Laura yang sudah seperti orang gila yang sejak tadi berteriak-teriak di dalam mansionnya, apalagi ini sudah dini hari.
"And... Dengarkan aku, kamu harus mendengarkan penjelasanku! Bilang pada anak buahmu untuk melepaskan ku!" Ucap Laura dengan cukup keras setelah melihat pria yang dicarinya kini akhirnya melangkah mendekat ke arahnya, namun yang membuat kedua matanya kini membola adalah sosok wanita yang berjalan mengekor di belakang Andreas.
Tatapan Laura seolah menandakan bahwa ia sangat tidak suka dengan Zarin yang sepertinya bukan merupakan asisten rumah tangga menurutnya.
"Lepaskan dia!" Titah Andras.
"Tapi bos..."
"Sudah, lepaskan saja!" Desis Andreas dengan tegas.
__ADS_1
"And...."
Lepas dari cengkeraman itu, Laura langsung berlari dan kemudian berhampur memeluk tubuh Andreas, namun dengan cepat langsung dicegah bahkan langsung didorong dengan kasar oleh Andreas, sehingga membuat wanita seksi itu langsung jatuh tersungkur ke atas lantai.
"And... Kamu... Kasar sekali..." Ucap Laura sambil menatap lekat ke arah Andreas, ia sungguh tidak percaya untuk kedua kalinya pria itu bersikap kasar padanya, dan membuatnya jatuh tersungkur ke atas lantai setelah kejadian di apartemen tadi.
Zarin cukup tersentak dengan kejadian yang ada di depan matanya itu, ia tidak menyangka jika sikap Andreas pada wanita yang ia pikir itu merupakan kekasihnya sangat kasar sekali.
"Mau apa kamu kesini! Mau memberikan dirimu untuk para anak buahku, hah!" Desis Andreas sambil menarik satu sudut bibirnya dengan sinis.
Laura hanya terdiam sambil geleng-geleng kepala, karena ucapan Andreas terdengar begitu ambigu di telinganya.
"Aku ingin kamu mendengar penjelasanku, aku tidak ingin hubungan kita berakhir, And. Please!" Tutur Laura sambil berusaha beranjak berdiri.
"Ha...ha...ha...ha... Aku sudah tidak butuh wanita sepertimu! Dasar murahan!" Balas Andreas sambil terkekeh jahat.
"Tapi And..."
"Bawa dia masuk ke gudang belakang dan eksekusi dia sesuka kalian! Aku sudah tidak peduli dengannya!" Titan Andreas pada anak buahnya, sungguh ia tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Laura.
Perintah Andreas cukup membuat semua orang yang mendengarnya sangat terkejut, apalagi anak buah Andreas yang tahu jika Laura adalah partner ranjangnya, dan kini seolah malah membiarkan mereka untuk bertindak apapun pada wanita itu. Apalagi pakaian yang dikenakan Laura begitu menggoda mereka, sebagai pria normal tentu saja mereka begitu tergiur untuk melakukan apapun padanya nanti.
Sedangkan Zarin, ia terlihat sangat tidak mengerti kenapa Andreas bersikap begitu kasar pada wanita yang menurutnya adalah kekasihnya sendiri.
"Jangan And... Tolong jangan lakukan ini! Kamu harus mendengar penjelasan ku!" Sahut Laura yang kini mulai dicengkeram oleh beberapa anak buah Andreas.
Pria itu lantas menarik Zarin yang berdiri mematung dan kemudian tanpa diduga segera mendaratkan sebuah kecuupan di bibir wanita itu sekilas dihadapan Laura.
"Kau lihat? Aku sudah mendapatkan pengganti mu! Sekarang kamu hanya sampah yang akan dinikmati oleh banyak orang, termasuk anak buahku!"
*
*
*
__ADS_1