Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 13. Hanya Sekretaris Ku.


__ADS_3

Andreas hanya terdiam, bibirnya seolah terkunci rapat tidak bisa lagi berkata-kata karena Zarin terus menyudutkan dirinya.


"Kenapa diam, hm? Tidak bisa menjawabnya kan!" Ucap Zarin yang kini nampak mulai berani pada Andreas, bahkan wanita itu seolah lupa dengan kejadian kemarin yang hampir saja membuat sekujur tubuhnya babak belur.


Pria itu lantas menghela nafas sambil menyerap setiap kata yang terucap dari bibir Zarin yang memang semuanya benar.


"Sudah diamlah! Ganti pakaian mu! Memangnya kamu ini mau pergi ke mana! Pakai baju yang sewajarnya saja, apa kamu mau tubuh mu dinikmati pria lain secara cuma-cuma termasuk Ricard, ha!" Cecar Andreas yang kini nampak mulai balik menyudutkan Zarin dan benar saja hal itu membuat wanita itu hanya bisa terdiam sesaat.


"Sudah sana keluar! Aku mau ganti baju! Apa kamu mau melihat aku ganti baju juga, ha!" Balas Zarin dengan ketus.


Bukannya segera keluar, Andreas malah masih terdiam ditempatnya.


"Iya aku mau melihatnya, aku mau melihatmu ganti pakaian, memangnya kenapa? Tidak boleh? Aku ini suami mu!" Sahut Andreas dengan penuh percaya diri.


Kedua netra Zarin langsung mendelik mendengar pernyataan Andreas yang menurutnya mulai terdengar semakin aneh itu.


Meskipun Andreas memang suaminya, namun ia tidak akan mau jika pria yang menurutnya brengs*k dan suka tebar pesona sana sini itu melihat tubuhnya saat ini.


Dengan sekuat tenaga, Zarin lantas mendorong paksa Andreas agar keluar dari kamar ganti itu hingga akhirnya pria itu kini dapat keluar, bahkan hampir tersungkur dan menjadi pusat perhatian Ricard, Jennifer dan beberapa karyawan lainnya di sana.


Zarin langsung mengunci pintu ruangan itu dengan rapat, agar pria menyebalkan itu tidak bisa masuk lagi ke dalam ruangannya.


Sedangkan disisi lain, pusat perhatian masih tertuju pada Andreas yang terlihat sedikit canggung karena beberapa pasang mata itu terus melihat ke arahnya seolah sedang mengintimidasinya.


"And, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" Cecar Jennifer yang kini mulai mendekat dan hendak membantu pria pujaannya itu untuk berdiri tegap.


"Boss baik-baik saja kan?" Imbuh Ricard dengan sedikit ragu-ragu.


Andreas lantas berdiri tegap sambil mengibaskan jasnya dan berusaha untuk tenang, meskipun kini sebenarnya ia cukup merasa malu karena ulah Zarin.


Ia bersumpah pada dirinya sendiri akan memberi pelajaran pada wanita itu nanti di dalam mobil atau jika sudah berada di mansion.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Jen. Sudah jangan berlebihan seperti ini." Ucap Andreas yang mulai sedikit menghindar dan merasa risih dengan sikap Jennifer yang malah mulai bergelayut manja lagi di lengannya, bahkan menurutnya seperti monyet yang sedang bergelayut di ranting potong saja.


Namun Jennifer sama sekali tidak peduli seberapa usaha Andreas untuk mengibaskan dirinya agar terlepas dari tubuh pria pujaannya itu, ia malah semakin mengeratkan pelukannya di lengan Andreas dan menaruh kepalanya untuk disandarkan pada bahu pria itu.


"And, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan. Tapi sebelumnya aku mau kamu menjawab pertanyaan ku ini dengan jujur terlebih dulu." Ujar Jennifer yang perlahan mulai melepaskan pelukannya dan menatap lekat ke arah manik biru itu.


Andreas membalas tatapan Jennifer dengan penuh rasa penasaran.


"Siapa sebenarnya wanita itu? Jika dia sekretaris mu, kenapa kamu harus masuk ke dalam ruang ganti itu, hm? Kamu tidak sedang berbuat mesuum kan di butikku And!" Imbuh Jennifer dengan wajah yang mulai ditekuk kesal.


Benar saja dugaan Andreas jika Jennifer pasti akan menanyakan dan mempermasalahkan hal itu, untung saja ia sudah memikirkan jawabannya sebelumnya.


"Iya dia sekretaris ku Jen. Aku tidak berbuat aneh-aneh di dalam tadi, kamu ini kenapa jadi menuduhku yang tidak-tidak? Apa tampang ku ini adalah tampang pria mesuum atau sejenis pria brengs*k?" Ucap Andreas yang malah balik bertanya pada Jennifer.


"Memang pria mesuum dan brengs*k!" Cetus Zarin yang tiba-tiba saja keluar dari ruang ganti dengan pakaian barunya berupa sebuah dress selutut bermotifkan bunga-bunga.


Wanita itu bahkan nampak terlihat begitu cantik dan anggun mengenakan dress sederhana itu dan hampir membuat Ricard tidak bisa berkedip karena kagum.


"Akan apa And? Sebenarnya dia ini siapa! Aku curiga dengan kalian! Apa jangan-jangan wanita ini kekasih atau bahkan istrimu, And!" Sahut Jennifer yang semakin merasa penasaran dan merasa tidak beres dengan kedua orang itu.


Sial, ucapan Zarin sungguh membuat semua alur rencananya untuk memberikan alasan pada Jennifer hampir saja gagal.


Sungguh ia tidak mau jika semua orang mengetahui jika Zarin adalah istrinya saat ini, karena itu artinya semua rencana balas dendamnya akan berantakan nantinya.


"Bukan Jen. Aku kan sudah bilang dia itu hanya sekretaris ku! Sudahlah lupakan saja! Sekarang total semua belanjaan itu dan berikan tagihannya pada Ricard. Biar dia yang mengurusnya." Ucap Andreas.


"Ayo kita pergi dari sini!" Imbuh pria itu sambil menarik tangan Zarin dengan kasar, bahkan ia juga tidak memberikan celah untuk Jennifer menjawab atau berkomentar tentang semua kalimatnya dan langsung melenggang pergi begitu saja.


"Auw! Lepas! Ini sakit sekali!" Desis Zarin yang berusaha melepaskan cengkeraman tangan Andreas yang memang membuat pergelangan tangannya terasa sangat sakit, bahkan mungkin bisa saja hampir patah.


Jennifer tentu saja tidak tinggal diam, wanita yang sama agresifnya dengan Laura itu lantas berusaha menyusul langkah Andreas dan berniat untuk menanyakan lagi lebih lanjut tentang siapa sebenarnya wanita itu sekali lagi.

__ADS_1


Namun Ricard yang mengetahui situasi rumit itu pun segera mencegah Jennifer bagaimanapun caranya.


"Nona Jen, bisakah kita membicarakan tentang Tuan Andreas sambil melakukan transaksi saja? Aku akan memberikan semua informasi yang anda butuhkan." Ucap Ricard.


Tentu saja hal itu langsung diiyakan oleh sang empu yang sudah kepalang penasaran itu, dan benar saja Ricard memang orang yang bisa diandalkan dalam segala hal, dan diberbagai situasi.


Tanpa pikir panjang, Jennifer langsung meminta seorang karyawannya membuat sebuah tagihan sambil ia terus berusaha menggali informasi pada Ricard.


Tapi mengingat Ricard adalah anak buah dan tangan kanan Andreas, mana mungkin ia membocorkan hal yang sebenarnya terjadi tentang siapa Zarin sebenarnya.


Ricard hanya memainkan kalimatnya dan menyusunnya sebaik mungkin dengan mengatakan hal yang sangat berbeda tentang fakta siapa Zarin sebenarnya.


"Benarkah? Jadi dia hanyalah karyawan Andreas saja? Kamu tidak bergurau dan tidak sedang mempermainkan ku kan Ric?" Cecar Jennifer.


"Benar Nona Jen, saya tidak berbohong. Tenang saja." Balas Ricard dengan santai dan membuat wanita itu semakin percaya padanya.


Satu permasalahan selesai di dalam butik itu, dan kini pasti mulai akan muncul permasalahan lagi nantinya entah itu di dalam mobil atau di mansion nantinya.


"Heh wanita sialaan! Jangan pernah bermimpi jika aku akan mengakui mu sebagai istriku di khalayak umum!" Desis Andreas dengan tatapan yang mulai tidak biasa pada Zarin yang kini sudah duduk di sampingnya di dalam mobil.


"Aku juga tidak berharap seperti itu! Bukannya sekarang malah kamu yang semakin bersikap aneh padaku dan seolah ingin menunjukkan pada semua orang jika aku ini istrimu! Jadi apa itu salahku, hah!"


Deg!


Sial!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2