Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 22. Hentikan!


__ADS_3

Sudah hampir 15 menit Andreas melihat sebuah pertunjukan permainan yang tak asing baginya yang ada tepat di depan kedua matanya, namun selama itu juga hasratnya sama sekali tidak terpancing sedikit pun untuk hanyut ikut dalam permainan gila itu.


Suara lenguhan dan suara hentakan irama permainan itu sejak tadi menyeruai di dalam ruangan kedap suara tersebut.


Di mata Andreas, keduanya kini tidak lagi seperti manusia pada umumnya, bahkan ia melihat mereka bak binatang yang sedang antusias di musim kawiin.


Pria itu tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya sambil memasukan kembali senjata ke dalam saku jaketnya sambil mengeluarkan sebuah kepulan asap yang berasal dari sebatang lintingan tembakau yang beberapa saat lalu disesapnya.


"Nikmati saja permainan kalian! Aku sudah bosan dan tidak ingin melihatnya!" Sahut Andreas yang kini mulai melangkah pergi.


Kedua manusia yang saat ini masih berada di atas ranjang dengan peluh yang semakin bercucuran meskipun suhu AC di ruangan itu cukup rendah itu pun segera menghentikan permainan gila mereka.


"And... Tunggu!"


Laura yang saat itu sedang berada di atas tubuh Park pun juga langsung beranjak, dan hendak mengejar pria pujaan hatinya itu, namun sayangnya langkah Andreas lebih cepat dan kini sudah pergi meninggalkan ruangan itu.


Brak!!


"Hah sial" Gerutu Laura sambil menyugarkan rambut panjangnya yang basah terurai ke belakang dengan kasar seolah menunjukkan bahwa dirinya saat ini nampak sedang frustasi.


"Semua ini gara-gara kamu!!" Pekik Laura sambil menatap lekat ke arah Park yang masih berada di atas ranjang tanpa sehelai benangpun.


Kedua mata Park yang sebenarnya cukup sipit itu pun akhirnya membola saat Laura malah berusaha menyalahkan diri atas apa yang baru saja terjadi.


Padahal wanita itulah yang sebelumnya mengundangnya dan membuatnya hanyut dalam bujuk rayu wanita itu sehingga bersedia untuk melakukan permainan gila itu di apartemen yang ia ketahui sebelumnya milik Laura, dan ia baru mengetahui jika ternyata itu adalah apartemen milik Andreas yang ditinggali oleh Laura.


Bahkan kini pria itu mulai beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendekat ke arah Laura yang sedang tersulut amarah pada Park.


Plak!


"Apa! Ini salahku! Dasar wanita sialaan!" Pekik Park sesaat setelah memberikan sebuah tamparan keras di pipi sebelah kiri milik Laura, hingga membuat wanita itu cukup terkejut.


Bugh!


Tidak mau kalah, Laura dengan reflek langsung menendang bagian inti pria itu hingga membuat pria tersebut mengaduh kesakitan, bahkan sepertinya ia benar-benar merasa sakit dan ngilu yang luar biasa.


"Auw! Hah, brengs*k kau!" Pekik Park lirih diiringi dengan suara erangan kesakitan yang luar biasa, sumpah demi apa bahkan ia hampir mati rasanya saat ini.

__ADS_1


Laura tidak peduli dengan keadaan pria itu meskipun ia benar-benar sedang mengaduh kesakitan, ia malah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berniat pergi menyusul Andreas ke mansionnya.


*


Brak!


"Hah, jangan bantu aku! Menyingkir kalian!" Desis Marco yang sejak tadi sudah berjalan sempoyongan, bahkan pria beberapa kali menabrak benda-benda yang ada dihadapannya hingga jatuh berantakan.


Ya, pria muda itu saat ini sedang dalam keadaan mabuk karena terlalu banyak menenggak minuman beralkohol saat sedang melakukan pesta tadi di bar.


Beberapa anak buah Andreas berusaha untuk memapah tubuh pria itu dan membantunya untuk masuk ke dalam kamarnya, namun sejak tadi pria yang memiliki paras hampir mirip dengan sang kakak itu terus meronta merancau tidak jelas bahkan ia tidak segan memberikan pukulan keras pada anak buah sang kakak yang berusaha membantunya.


Bugh!


Bugh!!


"Awas! Aku bisa sendiri!" Sekali lagi bibir pria itu terus merancau, setelah beberapa kali memberikan beberapa pukulan pada anak buah sang kakak.


Sayangnya, semuanya hanya bisa tunduk pada Marco dan harus berlapang dada menjadi sasaran empuk pria yang saat ini sedang mabuk berat itu.


Suara mereka bahkan terdengar semakin gaduh dan akhirnya membuat seisi mansion terbangun dan mendekat untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi di lantai bawah itu, termasuk dengan Zarin yang saat ini hanya melihat apa yang terjadi dari tangga.


Zarin memilih untuk acuh dan beranjak hendak kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba saja Marco yang mengetahui kedatangan Zarin segera melangkah dengan cepat menyusul langkah wanita itu dan tiba-tiba saja meraih pergelangan tangannya secara kasar.


"Hah! Apa yang kamu lakukan Marco! Lepas!" Bentak Zarin sambil meronta berusaha melepaskan cengkeraman tangan Marco yang cukup kuat dipergelangan tangannya itu.


Bukannya melepaskannya, Marco malah mulai bersikap kurang ajar pada sang kaka ipar dengan memeluk tubuh wanita itu secara paksa.


"Ayolah sayang, kita nikmati malam ini bersama-sama dengan tubuh aduhai mu dan wajah cantikmu itu. Lagi pula kamu di sini juga hanya sebagai alat, ya alat pemuaas ku tentu saja dan kakak ku!" Ucap pria itu yang mulai bergelayut manja ditubuh Zarin, bahkan pria itu secara kurang ajar berusaha mengusap-usapkan wajahnya ke ceruk leher jenjang Zarin.


"Marco tutup mulutmu! Lepaskan aku! Aku ini kakak iparmu! Jangan gila!"


Zarin terus meronta, tapi apalah daya, kekuatannya tidak seberapa dibandingkan pria itu yang masih mencengkeramnya dengan kuat. Sedangkan semua anak buah Andreas, mereka hanya terdiam karena tidak bisa berbuat apapun saat ini.


Bahkan posisi mereka serba salah, jika mereka menolong Zarin sudah dipastikan mereka akan mendapatkan ganjaran setimpal dari Marco, namun jika mereka tidak menyelamatkan Zarin dari cengkeraman pria yang sudah melebihi batas itu mereka pasti akan mendapatkan imbalan setimpal dari Andreas.


"Hah tubuhmu membuatku semakin semangat cantik." Ucap Marco sambil beberapa kali semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Zarin dan membuat wanita itu semakin risih.

__ADS_1


Bahkan kini dress tidur Zarin yang hanya sebatas lutut dengan bagian atas yang sedikit terbuka, dan bahan yang sedikit menerawang itu pun hampir terangkat terbuka oleh kejahilan tangan Marco yang sudah semakin melebihi batas wajar.


Zarin terus berusaha sekuat tenaganya agar Marco tidak bersikap macam-macam dengannya termasuk menodai dirinya.


Bugh!


"Auw!"


Setelah beberapa saat meronta, akhirnya Zarin mampu mencari celah kelemahan Marco dan menghantam bagian perut pria itu dengan cukup keras sehingga pelukan Marco terlepas begitu saja.


Tentu saja Zarin langsung berusaha melarikan diri dan hendak kembali ke kamarnya, namun dengan cepat Marco langsung meraih tubuh aduhai itu dan kembali memeluknya dengan cengkeraman begitu kuat.


"Sayang mau kemana, kita kan belum main. Ayolah malam ini saja, puaskan aku! Kamu ini hanya budak di sini!" Ujar Marco sambil terkekeh renyah dan dengan lantang seolah menghina serta menginjak harga diri Zarin.


Sumpah demi apa rasanya kini Zarin ingin memukul pria itu sampai pingsan, jika perlu sampai mati pun tidak apa-apa karena tindakan Marco yang semakin di luar batas, dan membuat kesabarannya habis.


Namun Marco malah sekuat tenaga menyeretnya untuk masuk ke dalam kamar Zarin, dan hendak melakukan tindakan yang tidak terpuji pada kakak iparnya itu secara paksa.


"Hentikan Marco! Atau kamu akan menyesal menyentuhku! Kamu sudah gila!" Pekik Zarin sambil tak kuasa menahan buliran cair yang kini mulai meleleh begitu saja dari pelupuk matanya.


Bugh!


Bugh!!


Bugh!!!


"Dasar brengs*k! Mati saja sana kau!"


Bugh!


Bugh!


"Apa minuman itu dapat membuatmu tidak punya otak, ha! Dasar bod*h!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2