
Zarin meneguk beberapa kali minuman yang ada di dalam gelas tepat dihadapannya bak orang kehausan.
"Apa kau menyukainya?" Sahut Jimmy sambil bertopang dagu terus menatap lekat ke arah wajah ayu Zarin, bahkan ia seolah tidak bisa lagi berpaling dari wajah yang begitu mempesona itu.
Pertanyaan Jimmy seketika cukup membuat Zarin tersentak, ia cukup terkejut dengan kalimat yang cukup ambigu itu, apalagi suaranya terdengar tidak begitu jelas karena dentuman suara musik dj yang begitu membuat telinga berdengung.
"Hah? Menyukainya?" Balas Zarin dengan kedua alis yang saling bertautan.
Jimmy mengangguk sambil menegakkan posisi duduknya dan semakin mendekat ke arah Zarin.
"Ya, aku melihat dari tatapan matamu sepertinya kamu menyukai Andreas. Apalagi saat wanita tadi datang, kamu seperti tidak menyukainya." Ujar Jimmy.
Wanita itu lantas menahan tawanya sambil menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangannya.
"Ha..ha..ha.. tentu saja tidak. A-aku hanya berteman saja dengannya, tidak lebih, bahkan perasaan suka pun tidak ada." Tutur Zarin.
Sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, sejujurnya ia juga tidak suka melihat Andreas didatangi dan malah memilih pergi dengan wanita lain yang sudah pasti pria itu saat ini sedang bermain di atas ranjang bersama wanita yang bernama Silvana itu.
Ada rasa kesal sebenarnya, namun apa daya, tentu saja ia tidak bisa berbuat banyak dengan statusnya yang semakin tidak jelas saat ini. Apalagi jika ia mengatakan secara terang-terangan jika ia cemburu dengan Andreas yang dekat dengan wanita lain, hal itu pasti akan membuat pria itu besar kepala dan tentu saja hal itu akan menjatuhkan harga dirinya.
Jimmy tentu saja tersenyum lebar, ia benar-benar senang jika memang benar kedua orang itu sama sekali tidak menjalin hubungan apapun dan tidak saling memiliki perasaan, karena itu artinya, ia dapat dengan leluasa untuk mendekati Zarin dan bahkan mendapatkan wanita itu seutuhnya.
Apalagi pahatan lekuk tubuh Zarin dan wajah cantiknya itu, semakin membuat Jimmy sangat menginginkan wanita satu itu.
"Bagus lah! Ah, maksud lu, bagus jika kamu tidak cemburu berarti kalian tidak ada hubungan apapun kan, hanya teman." Sahut Jimmy.
Zarin hanya mengangguk, dan detik selanjutnya entah kenapa tiba-tiba kepala wanita itu terasa cukup pusing, bahkan pandangannya pun kini mulai berangsur-angsur memudar.
Wanita itu lantas menyentuh kepalanya sambil beberapa kali memejamkan dan membuka matanya.
__ADS_1
"Hei, apa kamu baik-baik saja Nona?" Imbuh Jimmy sambil meraih bahu Zarin seolah ingin menangkapnya karena hampir saja terjatuh dari kursi yang ia duduki akibat kehilangan keseimbangan.
Zarin berusaha untuk tetap kuat, ia beberapa kali berusaha untuk menyeimbangkan bobot tubuhnya yang sudah hampir jatuh itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat, sepertinya aku harus pergi Jim, permisi, aku duluan." Tutur Zarin sambil beranjak dari tempat duduknya namun ia hampir saja terjatuh dan dengan cepat Jimmy langsung menangkap meraih tubuh Zarin untuk menahannya.
Dengan sigap, tidak hanya Jimmy yang bergegas mendekat ke arah Zarin untuk membantunya, melainkan juga anak buah Andreas yang sudah diberi mandat untuk menjaga Zarin.
"Ada apa Nona? Apa yang terjadi denganmu?" Cecar seorang pria dengan pakaian serba hitam itu sambil mendekat membantu Zarin untuk bangkit, sama seperti apa yang dilakukan Jimmy.
Zarin menggelengkan kepalanya perlahan dan kembali berusaha menyeimbangkan bobot tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya butuh istirahat saja. Antarkan aku pulang." Balas Zarin sambil meraih tangan anak buah Andreas.
"Ah tunggu-tunggu! Barusan aku sudah menghubungi Andreas, dia memintaku untuk mengantarkan Nona Zarin pulang. Jadi biar aku saja yang membawanya." Sahut Jimmy sambil meraih tubuh Zarin seolah ingin merebut tubuh wanita itu dari rangkulan anak buah Andreas.
"Sudah, aku saja! Apa perlu aku menghubungi Andreas, hm?" Potong Jimmy sambil meninggikan nada bicaranya.
Tentu saja hal itu seketika membuat anak buah Andreas tidak bisa berkutik lagi, ia lantas melepaskan Zarin dan membiarkan wanita itu dibawa oleh Jimmy meskipun ia sendiri merasa sedikit tidak percaya dengan ucapan pria dihadapannya, apalagi Andreas juga tidak memberikannya kabar apapun.
Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau mengambil resiko, apalagi ia tahu bosnya saat ini pasti sedang asyik melakukan permainan ranjang dengan wanita tadi, ia tidak mau mengganggu kesenangan bosnya itu yang bisa berakibat fatal untuknya.
"Baiklah Tuan, saya titip Nona Zarin. Kalau begitu saja yang akan mengawal dari belakang." Ucap anak buah Andreas.
"Oh tidak perlu, Andreas menitipkan pesan padaku jika kamu harus menyusulnya ke hotel untuk menunggunya sekaligus mengawalnya." Sahut Jimmy dengan semakin mempererat pelukannya ditubuh Zarin.
Kalimat itu sebenarnya terdengar cukup janggal di telinga anak buah Andreas, namun ya sudahlah ia tidak mau semakin berdebat dengan Jimmy, ia juga memilih untuk patuh pada pria itu dan segera beranjak pergi menyusul Andreas di sebuah hotel yang ia sendiri sudah jelas tahu dimana tempatnya, karena pria itu tidak akan pernah berpindah hotel jika berada di daerah ini.
Pandangan Zarin semakin kabur, kesadarannya juga mulai berangsur-angsur menghilang dan akhirnya tubuhnya ambruk dipelukan Jimmy yang dengan cepat langsung mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Oh my Zarin. Kita akan menikmati malam ini berdua sayang." Ucap Jimmy lirih sambil membopong tubuh wanita itu untuk keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa ba bi bu lagi, Zarin sudah berada di dalam mobil mewah berwarna merah milik Jimmy dan pria itu tentu saja langsung mengenakan sabuk pengaman ditubuh Zarin sambil sesekali mencuri kesempatan untuk mengusap dengan lembut tubuh yang sudah tidak sabar ingin ia nikmati itu.
Perlahan Jimmy mengelus lengan Zarin dan kemudian beralih ke wajah ayu yang kini terpejam itu dengan hasraat yang semakin menggebu, bahkan pria itu tidak segan memberikan sebuah kecuupan di bibir Zarin sekilas sebelum akhirnya ia fokus dengan kemudinya.
Sungguh hati Jimmy kini sedang merasa sangat senang bisa membawa Zarin bersamanya, meskipun caranya salah, namun ia yakin jika wanita itu pasti tidak akan marah padanya, apalagi mengingat siapa dirinya yang cukup menjadi incaran bagi kaum hawa dan memiliki beberapa kekuasaan di kota bahkan negara itu.
Pria itu lantas menuju ke sebuah rumah yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari bar mewah semula, bahkan karena tidak sabaran Jimmy memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga dalam waktu kurang dari 15 menit akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan.
"Selamat datang Tuan." Sambut seorang pria yang merupakan anak buah Jimmy, ia baru saja membuka pintu mobil Jimmy dan mempersilahkan bosnya itu.
Namun ia cukup dibuat terkejut karena kali ini Jimmy membawa pulang seorang wanita ke rumahnya, karena biasanya pria itu hanya akan membawa wanitanya ke hotel saja, tidak pernah ke rumah kecuali dia benar-benar menginginkan wanita itu.
"Biar aku saja yang membawanya. Dia adalah tamuku." Sahut Jimmy sambil membuka pintu mobilnya dan meraih tubuh Zarin untuk membopongnya masuk ke dalam rumah.
Mimik wajah pria itu begitu sumringah membopong tubuh Zarin hingga akhirnya mereka berdua telah sampai di sebuah kamar mewah dengan nuansa serba putih dan segera merebahkan tubuh Zarin diatas ranjangnya.
Jimmy tentu saja tidak lupa mengunci pintu kamarnya, ia pun segera menanggalkan pakaian atasnya dan kemudian mendekat ke arah Zarin yang sudah terlentang di atas ranjang dengan bagian bawah dressnya yang terbuka ke atas hingga menampilkan kaki jenjangnya dan begitu membuat Jimmy tergiur.
Pria itu langsung mendaratkan beberapa kecuupan di wajah hingga leher jenjang Zarin dengan penuh antusias.
"Huh, aku benar-benar mendapatkanmu dan kini aku juga benar-benar menginginkanmu sayang." Ucap Jimmy lirih sambil beranjak dan kini membuka ikat pinggang serta celananya.
*
*
*
__ADS_1