
"And, kenapa diam saja! Dia itu siapa! Apa dia asisten rumah tangga mu atau siapa? Ah tapi kenapa dia memakai pakaian seperti itu? Apa jangan-jangan dia ini....?" Cecar Laura yang kemudian terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin semakin menerka-nerka tapi rasanya apa yang ia pikirkan sepertinya salah, dan tidak mungkin menurutnya.
"Ha..ha..ha.. tapi tidak, tidak mungkin dia ini... Ah sudahlah!" Imbuh Laura sambil tertawa jahat di hadapan Zarin dan kini kembali berusaha untuk bergelayut manja ditubuh Andreas.
Sejenak Andreas terdiam sambil meneguk salivanya dengan susah payah, pria itu lantas menatap ke arah Zarin yang terlihat semakin sendu.
Namun wajahnya nampak sendu bukan karena Zarin merasa cemburu melihat kemesraan Andreas yang kini telah menjadi suaminya bersama wanita lain, melainkan kini ia merasa jika ini mungkin adalah awal dari neraka duniawinya, ia bisa menjamin hidupnya pasti tidak akan tenang dan bahagia setelah ini.
"Dia hanya asisten rumah tangga di sini. Tidak lebih. Sudah jangan dipikirkan lagi, aku sedang muak dengannya!" Balas Andreas yang kemudian memilih untuk membuang tatapannya dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.
Zarin tidak mau menggubris apapun ucapan Andreas, ia memilih untuk pergi sambil menutup pintu kamar yang berukuran cukup besar itu dengan cukup kasar.
Gleng!!
"Hish! Pembantu sialan!" Desis Laura yang hendak mengejar Zarin dan ingin memberi perhitungan dengan wanita itu karena ia merasa jika sikapnya sangat kelewatan, terlebih untuk porsi seorang asisten rumah tangga.
Namun dengan cepat Andreas segera meraih tangan Laura dan mencegahnya, hingga secara tidak sengaja Laura terjatuh tepat di atas tubuh Andreas.
Tatapan keduanya kini saling bertemu, namun hal itu sama sekali tidak membuat keduanya canggung, tidak seperti saat kedua tatapan Andreas dan Zarin bertemu yang tiba-tiba saja membuat jantung pria itu berdegub kencang seakan merasakan sebuah getaran aneh.
Dengan cepat Laura yang memang tipikal wanita agresif segera mengecup bibir Andreas, dan dibalas dengan agresif pula oleh sang empu hingga akhirnya bibir keduanya kini saling bertautan.
Hanya dalam beberapa menit suasana di dalam ruangan itu nampak semakin memanas, apalagi Andreas yang memang sudah tidak bisa menahan gejolaknya lagi, karena beberapa kali adik kecilnya harus dibuat terbangun karena berdekatan dengan Zarin.
Sungguh, sumpah demi apapun rasanya Andreas ingin segera menikmati tubuh Laura saat ini.
Hingga akhirnya penyatuan kedua insan itu tidak dapat dihindari lagi, keduanya kini hanyut dalam kenikmatan surgawi dunia hingga tanpa sadar Laura terus melenguh menikmati setiap inci permainan Andreas yang semakin agresif.
Nafas keduanya semakin beradu, suara-suara yang mampu membangkitkan gelora itu juga semakin keluar dari bibir keduanya menyeruai di seisi ruangan, untung saja ruangan itu di rancang sebagai ruangan kedap suara, bayangkan saja bagaimana jika tidak, pasti siapapun yang mendengarnya akan terasa panas dingin.
"Oh baby, you are my.... Hah..." Rancau Andreas, semua yang keluar dari bibirnya semakin tidak terkendali dan tidak karuan.
Entahlah tapi untuk pertama kalinya, Andreas merasakan sedikit sensasi berbeda dari permainannya dengan Laura.
Sungguh ini adalah kenikmatan yang sejak semalam ia inginkan dan akhirnya kini dapat tersalurkan, apalagi Laura begitu mahir mengimbangi permainannya yang semakin liar. Hal itulah yang semakin membuat gelora Andreas menggebu-gebu.
Namun ditengah-tengah permainan gila keduanya, mereka tidak menyadari jika pintu kamar itu belum dikunci setelah kepergian Zarin tadi.
__ADS_1
Zarin yang tidak tahu jika keduanya kini tengah berbagi peluh itu pun tanpa sengaja dan bahkan tanpa permisi membuka pintu tersebut.
Ceklek...
Grek...
"Hah, astaga!" Ucap Zarin dengan cukup keras karena sangat terkejut harus melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat itu.
Suara Zarin tentu saja langsung membuat permainan keduanya terhenti sesaat, Andreas dengan cepat yang saat itu sedang mengungkungi tubuh Laura pun segera beranjak dan meraih sebuah selimut untuk menutupi bagian intinya.
"Sial! Dasar pembantu tidak tahu diri!!" Umpat Laura kesal, ia juga meraih selimut yang sama dengan Andreas dan kemudian menutupi bagian inti tubuhnya.
"Oh sshhh! Heh, apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu! Dasar wanita sialan!" Sarkas Andreas
"Ma-maaf, aku hanya ingin meminta pakaian saja. Aku sudah mencari pakaian di lemari kamarku, tapi semuanya sangat kecil untukku, tidak muat. Maaf aku mengganggu kalian, aku akan keluar." Sahut Zarin sambil memejamkan kedua matanya.
Tanpa ba bi bu, Zarin lantas menutup kembali pintu itu dan mengetuk-ngetuk dahinya seolah sedang membodoh-bodohi dirinya sendiri yang tanpa permisi membuka pintu kamar Andreas.
"Bodoh sekali kamu ini Zarin, kenapa tidak ketuk pintu dulu. Hih, dasar bodoh!" Gerutu Zarin pada dirinya sendiri.
Pria itu lantas beranjak meraih pakaiannya dan kemudian ia kenakan dengan cepat. Hasratnya yang semula menggebu-gebu belum sempat mencapai puncak permainan kini seolah hilang begitu saja karena rasa kesalnya pada Zarin.
Ia tidak menjawab apapun ucapan Laura, dan malah meraih sebuah ikat pinggang dan bergegas melangkah keluar dengan kesal.
Laura yang melihatnya pun semakin merasa aneh, dan akhirnya ia juga mulai beranjak kemudian mengenakan pakaiannya kembali.
"Wanita sialan! Sini kau harus kuberi pelajaran agar tidak mengganggu kesenangan orang lain!" Ucap Andreas.
Pria itu dengan kasar meraih tangan Zarin dan menariknya untuk mengikuti langkah kakinya.
"Auw... Sakit. Aku minta maaf, aku tidak sengaja. A-aku kan sudah jelaskan, aku hanya butuh pakaian ganti." Ujar Zarin sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Andreas.
Namun sekuat apapun cengkeraman itu tidak terlepas dan malau semakin kuat, hingga akhirnya langkah keduanya sampai di dalam kamar Zarin.
Sekali lagi dengan sikapnya yang kasar, Andreas menghempas tubuh Zarin hingga jatuh tersungkur ke atas lantai. Ia kemudian mencengkeram rahang wanita dihadapannya dan mendekatkannya ke wajahnya.
"Dengarkan aku baik-baik! Jangan pernah masuk ke dalam kamar ku lagi dan jangan pernah mengusik kesenanganku!" Ucap Andreas dengan tegas, bahkan dengan nada yang semakin meninggi seakan sedang mengancam Zarin.
__ADS_1
Zarin hanya terdiam sambil menahan buliran cair di pelupuk matanya dengan sikap kasar pria yang bahkan kini telah menjadi suaminya itu.
Tidak hanya sampai disitu, sesaat setelah Andreas melepaskan cengkeramannya, tanpa diduga pria itu malah merentangkan ikat pinggangnya dan mengayunkannya ke arah tubuh Zarin dengan keras.
"Auw!!!" Pekik Zarin yang kini merasakan kesakitan.
Cambukan itu membuat lengan dan punggung Zarin yang terkena cambukan itu pun langsung memerah
Sikap kasar Andreas kali ini sungguh benar-benar diluar dugaannya, ia tidak menyangka jika pria itu akan sekejam itu padanya.
"Ampun.. Tolong jangan... Maafkan aku...." Rintih Zarin sambil berderai air mata.
Merasa puas dengan apa yang telah ia lakukan, Andreas menghentikan siksaannya dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Zarin yang masih tersungkur, merintih sambil terus memengangi lengannya yang terasa sangat sakit.
Ia sama sekali tidak mempedulikan bagaimana sakitnya Zarin di dalam sana dan malah kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Pulang lah Ra, aku sudah tidak ingin melanjutkan permainan itu. Aku akan menyusul mu ke apartemen nanti malam." Titah Andreas sambil duduk ditepi ranjang.
Entah kenapa perasaan pria itu yang semula kesal setengah mati kini berubah menjadi aneh, rasanya hatinya seperti bergejolak. Apalagi membayangkan saat dirinya menyiksa Zarin tadi, seperti ada rasa menyesal dihatinya.
Namun tak berselang lama, Andreas mengusap wajahnya dengan kasar seakan ingin membuyarkan pikiran dan hatinya yang mulai tidak senada itu.
"Tapi sayang, aku ingin..."
"Aku bilang pergi!!!" Bentak Andreas.
Akhirnya mau tidak mau Laura hanya bisa patuh karena ia takut jika Andreas akan bersikap kasar padanya, dengan terpaksa ia segera meraih tas kecil miliknya dan melangkah pergi.
***
"Zarin, maafkan sikapku. Maaf aku telah bersikap kasar padamu. Aku terpaksa melakukan ini padamu."
*
*
*
__ADS_1