Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 18. Semua Adalah Masakanku


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Zarin bergelut dengan beberapa bahan masakan di dalam dapur mewah yang ada di mansion itu, bahkan ia tidak membiarkan para asisten rumah tangga untuk membantunya memasak untuk makan malam hari ini.


Ya, ini adalah salah satu rencana wanita itu untuk menaklukkan hati Andreas yaitu dengan mencari perhatian pria itu secara perlahan.


"Nona, biar kami saja yang memasak. Kami takut jika Tuan Andreas sampai tahu nanti kami bisa dipecat." Ucap seorang wanita yang bernama Mona, dia merupakan salah satu kepala asisten rumah tangga yang ada dibagian dapur.


Cita rasa masakannya bahkan sudah tidak diragukan lagi, karena ia juga merupakan mantan chef yang ada cukup terkenal 15 tahun lalu di Milan, dan kini sudah hampir 14 tahun ia mengabdikan dirinya menjadi asisten rumah tangga di mansion Andreas dengan bayaran yang bahkan bisa melampaui para chef terkenal lainnya saat ini.


"Tidak, biar aku saja. Aku adalah istri Andreas, aku ingin sekali menjadi istri yang baik untuknya, jadi aku ingin dia selalu menyantap masakan ku. Kalian tidak perlu khawatir, aku akan tetap menyelamatkan kalian jika nantinya suamiku berani memarahi atau memecat kalian." Ujar Zarin sambil membalik tiga potong daging panggang dihadapannya.


Untuk kesekian kalinya, deretan asisten rumah tangga itu termasuk dengan Mona hanya bisa terdiam dan patuh pada perintah Zarin yang saat ini juga memegang kasta tertinggi di rumah itu.


Hingga setelah beberapa saat, akhirnya semua hidangan yang sudah dimasak sendiri oleh Zarin telah matang dan siap disajikan di atas meja makan.


Dia memang tidak pandai memasak, tapi jika hanya memasak hal sederhana seperti apa yang ia masak hari ini itu cukup mudah baginya.


Apalagi itu semua adalah makanan sehari-hari dan favorit keluarganya, jadi ia bisa mengetahui resep dan bagaimana cara memasaknya dari kebiasaannya membantu sang ibu--Karin di dapur.


Namun kali ini untuk bagian menghidangkan ke atas meja makan, tentu saja Zarin membutuhkan bantuan beberapa asisten rumah tangganya, karena ia tentu tidak bisa melakukannya seorang diri, apalagi dengan beberapa menu masakan yang ada.


"Bolehkah aku minta tolong? Antar dan tata semua hidangan ini di atas meja makan, aku akan membersihkan diri dan berganti pakaian dulu. Terima kasih." Pintanya dengan begitu sopan.


"Baik Nona." Balas beberapa orang dengan serentak, padahal mereka sudah sejak tadi hanya berdiri saja di dekat Zarin dan hanya menyaksikannya memasak, namun kali ini akhirnya mereka bisa membantunya juga dengan menyajikan beberapa menu makanan itu ke atas meja.


Mereka lantas meraih beberapa hidangan itu dan menyajikannya sesuai dengan perintah Zarin, sedangkan wanita cantik itu kini sudah beranjak melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Wanita berparas cantik dengan tinggi semampai itu segera membersihkan dirinya dengan cepat, karena ia tidak mau ketinggalan moment makan malam bersama dengan sang suami dan adik iparnya malam ini.


Hanya dalam waktu 5 menit, rekor waktu yang cukup cepat baginya untuk membersihkan diri dan kini ia sudah berada di depan pantulan cermin kaca rias untuk memoles dirinya meski masih dalam balutan handuk kimono.

__ADS_1


Untung saja saat ia berada di butik Jennifer ia juga membeli beberapa perlengkapan kosmetik dan skincare untuknya tadi.


Dengan cekatan, Zarin lantas memoles wajahnya hingga kini ia terlihat semakin cantik dan menawan, bahkan ia bisa menjamin jika Andreas akan kagum melihat riasan wajahnya malam ini.


Wanita itu juga mulai beranjak untuk memilih deretan pakaian yang tadi dibelinya di butik Jennifer dan akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dress sederhana namun tetap terlihat elegan berwarna merah nyala, senada dengan lipstik merona yang dikenakannya malam ini.


"Perfect.." ucap Zarin pada dirinya sendiri yang sejak beberapa menit sudah berlenggak lenggok di depan pantulan cermin besar yang ada di kamarnya.


Ia bahkan seolah mengagumi kecantikannya sendiri malam ini yang memang sangat terlihat memukau itu.


"Tuan Andreas, ku pastikan kamu akan bertekuk lutut padaku nanti, bahkan mulai malam ini bayangan wajahku akan selalu terngiang dipikiranmu." Ucap Zarin sekali lagi pada dirinya sendiri di depan pantulan cermin sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis.


Wanita itu tidak mau berlama-lama lagi, ia lantas mengganti sendal rumahannya dengan sebuah high heels yang berwarna senada dengan dress yang dikenakannya.


Perlahan wanita yang kini tampil sangat cantik dan elegan itu melangkah menuruni anak tangga dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya langkahnya telah sampai tempat di dekat meja makan besar yang sudah menyajikan beberapa masakannya.


Benar saja dugaannya, Andreas dan Marco sudah berada di tempat itu dan mereka berdua baru saja mengambil posisi duduk masing-masing.


Begitu juga dengan Marco yang sejak tadi terus melihat ke arah kedatangan Zarin. Sebagai seorang pria, nalurinya juga mulai tergugah dan tertarik pada kecantikan Zarin malam ini yang begitu mempesona.


"Hai selamat malam, maaf aku terlambat." Ucap Zarin yang berusaha memecah keheningan diantara mereka bertiga.


Dengan senyum mempesonanya, ia lantas mengambil posisi duduk tepat di sebelah Andreas yang masih tertegun melihat ke arah Zarin.


Apalagi dress yang dikenakan wanita itu sedikit terbuka dibagian dada, tentu saja hal itu cukup membuat adrenalinnya terpancing. Namun sayangnya detik selanjutnya, pria itu berusaha menyadarkan dirinya dan membuyarkan lamunannya, sungguh ia tidak mau hanyut dalam buai kecantikan Zarin malam ini.


Pria itu segera meraih sebuah garpu dan pisau makan untuk menyantap daging panggang yang sudah tersaji dihadapannya, tanpa melirik pagi ke arah Zarin.


"Apa kau ini mau pergi ke festival? Atau kemana, ha!" Desis Andreas sambil memotong daging dihadapannya.

__ADS_1


Zarin yang juga baru saja memegang peralatan makannya dan hendak mulai menyantap makanannya pun dibuat terhenti karena ucapan Andreas yang menurutnya cukup ketus itu.


Namun Zarin malah menoleh ke arah Andreas sambil mengumbar senyum manisnya, hingga membuat wajahnya semakin terlihat cantik.


"Tidak, aku hanya ingin terlihat cantik saja dihadapan suami ku, apalagi untuk menyambut kepulangan adik iparku." Tutur Zarin dengan lembut.


Sumpah demi apa suara Zarin kali ini terdengar begitu halus ditelinga pria itu, ia seperti melihat sosok lain pada diri istrinya itu yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.


Namun sekali lagi, Andreas tidak mau terbuai. Ia memilih acuh dan segera menyantap hidangan makan malamnya.


Kenapa rasanya nampak berbeda? Tapi ini enak sekali.


"Wah apa kakak memiliki chef baru di mansion? Masakan ini enak sekali, rasanya tidak seperti biasanya. Unik dan enak sekali." Cetus Marco yang memberikan pujian dengan jujur untuk hidangan yang telah ia santap itu.


Kedua kakak beradik itu bahkan bisa merasakan hal yang sama terkait selera cita rasa masakan.


Andreas hanya terdiam karena ia sedang begitu menikmati santap malamnya kali ini, hidangan yang benar-benar membangkitkan selera makannya.


Melihat kedua pria itu, Zarin semakin menarik sudut bibirnya dengan tersenyum.


"Lezat bukan? Semua adalah masakan ku." Sahut wanita itu dengan penuh antusias.


Uhuk-uhuk-uhuk....


"A-a-apah!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2