
Zarin cukup terkejut dengan ucapan Andreas yang dengan gamblang seolah mengancam Chris agar tidak mengganggunya, bahkan menyebutkannya sebagai istrinya.
Sungguh Zarin tidak menyangka jika Andreas akan begitu peduli dan seakan sedang berusaha melindunginya saat ini.
Sedangkan Chris, pria itu kini semakin tersulut amarah dengan ucapan Andreas sekaligus hinaan yang ia lemparkan pada kekasih gelapnya--Olive, meskipun ia juga sebenarnya menyadari jika milik Olive lebih kecil dari milik Zarin, hanya sayangnya Zarin tidak pernah mau untuk disentuh tubuhnya sama seperti Olive.
"Jaga bicaramu ya brengs*k! Kamu pikir dia adalah wanita baik-baik hah? Dia hanya bekas ku! Ambil saja jika kamu mau, lagi pula dia hanya besar saja dadanya, tapi tidak bisa bermain hebat diatas ranjang, lalu untuk apa? Percuma kan!" Ucap Chris yang berusaha menggertak Andreas, bahkan pria itu berdusta jika pernah melakukan apapun termasuk tidur bersama Zarin.
Tentu saja kalimat Chris membuat Andreas terkekeh renyah dan bahkan merasa geli dengan kebohongan pria yang ada di hadapannya itu.
"Bekas mu? Kau yakin sedang tidak membual? Ha...ha...ha... Bahkan malam pertama ku dengan Zarin sungguh indah, aku yang mendapatkan dar*ah perawannya! Ha...ha...ha... Jangan bergurau bung!" Balas Andreas sambil masih diiringi dengan kekehan renyahnya, bahkan tawanya semakin kencang karena ia benar-benar merasa geli dengan kebohongan Chris.
"Lagi pula kenapa harus wanita yang hebat diatas ranjang? Bagiku, akulah penguasa ranjang, dan aku yang harus memuaskan wanitaku! Jangan-jangan milikmu juga kecil seukuran cabai rawit jadi kamu takut jika tidak bisa memuaskan wanita, mu! Ha... Ha... Ha... Hei Nona, sini bersama ku saja aku akan lebih memuaskanmu, mau mencobanya?" Imbuh Andreas dengan penuh percaya diri.
Awalnya ucapan Andreas memang sangat menguntungkan untuk Zarin dan membuatnya lebih tenang karena merasa terlindungi, namun semakin lama, ucapan pria itu semakin melantur saja, bahkan Andreas tidak segan menawarkan dirinya untuk mencoba memuaskan Olive di atas ranjang jika wanita itu mau.
Tentu saja hal itu membuat Zarin kesal, entah kenapa ia tidak rela jika Andreas harus tidur dengan wanita lain, termasuk Olive yang telah mengkhianatinya sebagai seorang sahabat.
"And!!!" Desis Zarin sambil menggertakan giginya dan memberikan sebuah cubitan kecil di perut roti sobek milik Andreas hingga membuat pria itu berhenti dari kekehannya dan mengaduh.
"Auw... Kamu ini kenapa!" Desis Andreas sambil mengusap bekas cubitan istrinya yang terasa ngilu itu. "Tapi bukan kah benar, milikku besar dan memuaskan, pasti miliknya kecil, bahkan aku bisa menjamin jika wanita itu sudah bermain denganku, dia akan ketagihan dan lebih memilihku dibandingkan cabai rawit itu!" Imbuhnya sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis dan melirik ke arah kedua pria dan wanita yang berdiri sejajar dihadapannya itu.
"Brengs*k!"
Bugh!
"Ahh... Aw!"
"Zarin... Dasar brengs*k! Beraninya kamu menyentuh istriku!!"
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pukulan keras Chris yang sebenarnya ditujukan untuk Andreas malah mengenai Zarin yang semula berusaha untuk mencegah mantan kekasihnya itu melukai suaminya.
Namun tentu saja hal itu membuat Andreas yang memiliki kesabaran setipis tissue langsung turun tangan, ia tidak terima jika Chris menyakiti Zarin bahkan dihadapannya, meskipun ia sendiri pernah menyakiti wanita itu dengan tangannya beberapa saat yang lalu.
Andreas lantas menghujani Chris dengan pukulan-pukulan yang semakin membabi buta, bahkan hingga detik ini pria itu meraih sebuah senjata dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke pelipis Chris yang sudah tersungkur di atas lantai.
"And... Sudah! Jangan lakukan hal yang tidak-tidak ! Sekarang semua mata tertuju padamu, kamu akan menjadi tersangka jika nantinya terjadi sesuatu padanya!" Ucap Zarin sambil merangkul dan berusaha mencegah apa yang akan dilakukan suaminya itu.
Tapi karena sudah tersulut amarah, Andreas tidak peduli, bahkan ia juga tidak peduli dengan semua tatapan orang-orang yang kini melihat ke arahnya, bahkan petugas keamanan pun mulai datang, namun tidak berani untuk mendekat.
Dengan penuh percaya diri, Chris yakin jika Andreas tidak akan mungkin berani menembaknya apalagi dibagian kepala langsung yang sudah jelas akan langsung membuat nyawanya melayang itu.
Hal itu karena Chris tidak tahu siapa Andreas yang sebenarnya, seorang mafia kejam berdarah dingin yang bisa menghabisi siapapun tanpa rasa kasihan.
Gertakan Chris dan bahkan kedatangan sepuluh anak buah Chris sama sekali tidak membuat nyali Andreas menciut, meskipun beberapa kali Zarin juga sudah mencoba meluluhkan hati Andreas agar tidak melakukan tindakan bodoh, apalagi Zarin juga sempat mendengar jika pihak keamanan pusat perbelanjaan itu telah memanggil pihak kepolisian.
Andreas hanya melirik sekilas ke sekitarnya dan kemudian mengarahkan lagi perhatiannya pada Chris sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis, bahkan Olive kini tidak berani mendekat dan tidak berani untuk menolong kekasih gelapnya itu karena takut jika ia yang akan menjadi sasaran empuk Andreas beserta senjatanya.
Dorr!!
Dorr!!!
Dua tembakan akhirnya melesat dari senjata yang di pegang oleh Andreas, namun sayangnya ia memang sengaja tidak mengarahkannya ke kepala Chris dan hanya mengarahkannya ke bagian kaki dan juga lengan pria itu hingga membuat Chris mengerang serta mengaduh kesakitan, bahkan apa yang dilakukan Andreas cukup membuat semua orang terkejut dan ketakutan setengah mati, termasuk Olive dan juga Zarin yang dengan reflek mengatupkan telapak tangan ke wajah mereka masing-masing.
__ADS_1
Andreas tahu jika apa yang dilakukannya baru saja itu pasti akan semakin membuat suasana memanas, namun ia tidak peduli dengan sekitarnya, bahkan jika perlu ia bisa saja menembak bagian kepala Chris saat itu juga, tapi ia takut jika nantinya apa yang ia lakukan akan membuat orang lain shock berat.
"And sudah cukup! Hentikan! Kita sekarang ada dalam masalah besar!" Desis Zarin yang sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa memberitahu pria egois dan keras kepala itu.
Namun sekali lagi, Andreas malah mengarahkan senjatanya ke arah bagian kepala Chris lagi meskipun sasaran empuknya itu sudah mengerang kesakitan.
"Baru kaki dan lengan, setelah ini aku ingin kepala mu atau kepala wanita itu!" Ucap Andreas sambil sesekali mengarahkan senjatanya pada Olive dan berusaha mengancamnya. "Itu akibat jika berani menyentuh istriku dan sudah berani menggertakku! Apa kau ini benar-benar tidak tahu siapa aku, ha!" Imbuhnya.
"And... Ayolah sudah! Jangan semakin gila! Kita harus segera pergi sebelum pihak kepolisian datang dan masalah akan semakin panjang!" Sahut Zarin sambil menarik tubuh suaminya agar menghentikan aksi gilanya itu.
Zarin tidak hanya sekali dua kali meminta dan memohon pada Andreas agar berhenti melakukan tindakan gila itu, dan akhirnya untuk kesekian kalinya, permintaannya di dengar oleh Andreas. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya dengan sinis ke arah dua orang yang kini sudah ia tandai sebagai target kekejamannya nanti.
Beberapa anak buah Chris yang semula hampir menyergap Andreas pun kini hanya memilih untuk terdiam, termasuk dengan beberapa petugas keamanan yang hanya bisa diam dan tidak berani berbuat apa-apa pada Andreas dan Zarin yang kini mulai melangkah pergi.
Hal itu tentu saja bukan tanpa alasan, sebab segerombolan anak buah Andreas kini telah datang dan mengepung tempat itu dengan senjata mereka masing-masing dan membuat semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam sambil menahan rasa takutnya.
Kedatangan beberapa anak buah Andreas itu berkat Ricard yang meminta salah satu anak buahnya untuk mengikuti kemana pun Andreas pergi meskipun bosnya itu sedang tidak ingin di kawal siapapun saat bepergian.
Dari situlah, salah satu anak buah Ricard langsung menghubungi pasukannya dan dengan gerak cepat datang untuk membantu Andreas.
"Kenapa kalian hanya diam saja! Dasar bod*h! Aw...! Habisi orang itu cepat!!!" Titah Chris sambil mengerang kesakitan.
"Tapi bos.. Kami tidak berani..."
*
*
*
__ADS_1