
Brak!!
"Brengs*k!" Pekik seorang pria dengan tatapan tajam menyeringai ke arah Jimmy.
Pria itu kemudian masuk tanpa permisi dengan mendobrak pintu kamar Jimmy dengan paksa meskipun para anak buah Jimmy sudah beberapa kali berusaha untuk mencegah dan menghalanginya, namun dengan kekuatannya ia berhasil masuk dan menerobos pertahanan mereka.
Bugh!
Bugh!
"Sialaan! Berani-beraninya kamu mengambil kesempatan seperti ini, dasar brengs*k!" Sekali lagi, pria itu berteriak dengan intonasi yang semakin meninggi karena amarahnya semakin memuncak bahkan hampir meledak rasanya.
"Hei, tunggu-tunggu! Apa-apaan ini, And!" Sahut Jimmy yang berusaha untuk menghindari amukan Andreas.
Ya, pria itu adalah Andreas yang baru saja datang dengan amarah yang memuncak dan sudah tidak bisa tertahankan lagi.
"Ma-maafkan kami bos, kami sudah mencegahnya masuk. Tapi dia bersikeras dan berusaha mengancam kami dengan senjata." Sahut seorang pria yang merupakan anak buah Jimmy, ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada bosnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Jimmy hanya mengangguk dan kemudian memberikan sebuah isyarat meminta anak buahnya untuk pergi. Tentu saja pria itu patuh dan langsung beranjak pergi setelah memberikan sebuah penghormatan kecil pada sang tuan.
"Hah! Brengs*k! Jangan banyak bicara lagi!" Cetus Andreas yang langsung memberikan sebuah bogem mentah ke arah wajah Jimmy untuk ketiga kalinya.
Bugh!
"And, hentikan! Jangan seperti ini. Aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Jimmy sambil membentengi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Dengan nafas yang semakin memburu, Andreas lantas melepaskan cengkeramannya dari rambut Jimmy dengan kasar meskipun kedua matanya masih memicing tajam.
Namun sepertinya Andreas tidak ingin mendengarkan apapun, ia lantas melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Zarin yang sudah setengah telanjaang itu. Tanpa ba bi bu lagi Andreas langsung mengangkat dan membopong tubuh wanita itu untuk dibawa pergi.
__ADS_1
Sungguh Andreas tidak habis pikir dengan teman lamanya akan bertindak senekat itu dengan menjebak Zarin dan membawanya pulang untuk menikmati tubuh wanita itu, bahkan ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia datang terlambat walau hanya satu menit saja saat itu, pasti Jimmy sudah berhasil menikmati tubuh Zarin, dan tentu saja ia tidak akan segan-segan untuk menghabisinya, tidak peduli siapa orang itu.
Andreas bahkan juga bersumpah tidak akan pernah memaafkan atau membiarkan siapapun menyentuh Zarin atau bertindak kurang ajar padanya, jika ditanya apa alasannya, ia sendiri sebenarnya juga tidak tahu, tapi yang jelas ia tidak akan pernah ikhlas jika tubuh wanitanya di jamah oleh pria lain.
"And, tunggu-tunggu. Aku bisa jelaskan ini semua, tadi aku dan Zarin, kami hanya..."
"Diam! Tutup mulutmu brengs*k! Kita batalkan semua proyek bersama kita!" Ucap Andreas yang berusaha menyela kalimat Jimmy, ia benar-benar tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari mantan temannya itu, alias musuhnya sambil memberikan sebuah dorongan dengan tangannya agar Jimmy menjauh darinya yang sedang membopong tubuh Zarin.
Ya benar, Andreas tidak akan sudi menganggap Jimmy sebagai teman lagi kini, ia bahkan saat ini menganggap Jimmy tidak lebih dari sekedar sampah.
Namun Jimmy tidak tinggal diam, ia tidak ingin kehilangan temannya itu, ah tidak tidak, lebih tepatnya kehilangan Zarin sebenarnya. Ya tentu saja, sifat liciknya memang dari dulu tidak pernah berubah, apalagi jika ia sudah memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu, semua itu seolah harus ia dapatkan entah bagaimana pun caranya, termasuk mendapatkan Zarin seutuhnya, atau jika bisa menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
Sambil membetulkan celananya, Jimmy berusaha untuk terus mengejar dan beberapa kali memberikan penjelasan pada Andreas bahwa apa yang akan ia lakukan itu atas dasar kesepakatan bersama, itulah akal muslihat Jimmy yang begitu licik dengan membohongi Andreas.
Tapi tentu saja Andreas tidak bodooh, apalagi ia adalah orang pertama yang berhasil mendapatkan mahkota Zarin, jadi ia tahu betul jika Zarin tidak akan begitu saja melalaikan hal itu dengan pria lain jika bukan karena sebuah ancaman atau dijebak.
"And, please tunggu. Ini semua hanya salah paham And. Tapi lagi pula, bukan kah Zarin hanya temanmu, jadi apa salahnya jika kami.."
"Diam! Aku sudah mengatakan padamu untuk diam! Siapapun Zarin itu tidak penting, yang terpenting adalah jangan berani menyentuhnya atau kamu akan menyesal seumur hidup brengs*k!"
Brak!
Masa bodooh dengan Jimmy yang sejak tadi terus cerewet dengan alasan-alasan omong kosongnya, Andreas lantas bergegas menutup pintu mobilnya, ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera menginjak pedal gas untuk meninggalkan tempat itu dengan penuh amarah.
Jimmy hanya mendengus melihat kepergian dua orang itu sambil mengusap wajahnya dengan kasar dan mengumpat kesal karena rencanannya semua gagal total gara-gara kedatangan Andreas.
Ia mulai menyadari bahwa sejak dulu Andreas memang tidak pernah berubah, ia selalu menjadi pria misterius dengan banyak kejutan. Salah satunya adalah yang baru saja ia alami, ia pikir saat itu Andreas sedang bersenang-senang dengan wanita malamnya yang bernama Silvana itu di sebuah hotel, tapi nyatanya pria itu malah mendatanginya dan membawa Zarin pergi.
Namun yang Jimmy menyangka adalah kenapa Andreas begitu melindungi Zarin jika memang benar wanita itu hanyalah sebatas temannya saja, dari situlah Jimmy lantas memiliki keinginan untuk menyelidiki asal usul dan siapa sebenarnya Zarin itu.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Andreas yang memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi itu sesekali melirik ke arah Zarin yang masih berada di bawah alam sadarnya, beberapa kali Andreas rasanya ingin bersyukur karena ia datang tepat waktu untuk menyelamatkan istrinya itu dari sikap kurang ajar Jimmy.
Sejak tadi perasaan Andreas memang sudah tidak enak, apalagi saat melihat wajah Zarin yang sepertinya kesal ketika Silvana datang dan kemudian bermesraan dengannya, ia seperti merasa jika mungkin ia terlalu berlebihan bersikap seperti itu dihadapan Zarin, bagaimanapun Zarin tidak pernah membuat masalah besar padanya atau bahkan membuatnya marah akhir-akhir ini.
Tidak hanya itu, alasan Andreas tiba-tiba mendatangi kediaman Jimmy juga karena laporan dari anak buahnya yang secara tiba-tiba memberitahukannya tentang apa yang terjadi di bar tadi, perasaannya semakin tidka karuan dan membuatnya akhirnya meninggalkan Silvana di hotel sendiri saat sedang melakukan pemanasan sebelum permainan ranjang itu dimulai, bahkan ia tidak peduli jika Silvana akan kecewa padanya, yang jelas ia tidak mau jika keselamatan Zarin terancam saat itu.
Hingga setelah beberapa saat menempuh perjalanan, kini keduanya telah sampai di rumah Andreas. Pria itu langsung turun dari mobil dan membuka pintu satunya untuk meraih tubuh Zarin.
"Apa perlu kami bantu bos?" Sahut seorang pria yang merupakan anak buah Andreas.
Andreas menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
Pria dibelakang Andreas lantas mengangguk dan memundurkan langkahnya untuk sedikit menjauh memberikan ruang pada Andreas agar pria itu dapat melewatinya.
Andreas lantas membopong tubuh Zarin yang masih dibalut jaketnya untuk masuk ke dalam rumahnya secara perlahan karena ia tidak mau membangunkan wanita itu sebelum ia benar-benar meletakkannya di atas ranjang kamarnya sendiri.
Namun tanpa di duga, tiba-tiba saja prediksinya itu salah. Kedua mata Zarin mulai mengerjap menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam pengelihatannya.
"And, kau kah itu?"
Deg!
Sial!
*
*
*
__ADS_1