Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 26. Bencana atau Rezeki?


__ADS_3

Sesaat setelah mengedarkan pandangan Zarin lantas berbalik badan untuk kembali ke kamarnya sambil mendengus kesal dan menghentak-hentak langkahnya.


Rasanya ia ingin mengamuk saat itu juga, ia merasa bahwa di mansion itu dirinya sama sekali tidak bisa bebas dan sama sekali tidak memiliki privasi, kecuali di kamarnya karena anak buah Andreas yang tersebar dimana-mana terutama di wilayah taman yang juga terdapat sebuah kolam renang, tempat yang seharusnya memiliki sedikit privasi namun karena adanya mereka tempat itu malah sudah seperti tempat umum saja.


Ah malah bukan tempat umum lagi, karena isinya hanya ada para pria yang menurut Zarin tidak jelas darimana asalnya dan sudah bisa ia pastikan pasti mereka semua memiliki sikap yang sama kurang ajarnya dengan bosnya.


"Hah, mau berenang saja tidak bisa! Mau pergi tidak boleh! Lalu aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan!" Gerutu Zarin sambil melangkah dengan kesal kembali ke kamarnya.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat berada di depan pintu kamarnya, ia lantas menoleh ke arah kamar Andreas yang ada di samping kamarnya.


Wanita itu kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan anak buah Andreas yang kebetulan tidak berjaga di lantai dua, lebih tepatnya di sekitar kawasan kamarnya.


Zarin melangkah menuju kamar Andreas.


Grek....


Benar saja, sesuai dugaan wanita itu, pintu kamar suaminya tidak di kunci. Ia lantas bergegas masuk ke dalam kamar itu dan menutup pintu itu secara perlahan.


"Rapi sekali kamar ini. Bukan kah tidak boleh ada yang masuk ke kamar ini termasuk asisten rumah tangga, kecuali si menyebalkan itu yang memberi perintah. Ah atau memang dia tadi sudah memberi perintah pada asisten rumah tangganya untuk membersihkan dan merapikan kamarnya?" Ucap Zarin pada dirinya sendiri sambil melangkah dan mengedarkan pandangannya ke sana kemari.


Sebenarnya tujuannya masuk ke dalam kamar Andreas bukan untuk mencuri atau berbuat jahat, ia hanya penasaran dan ingin tahu bagaimana isi kamar pria itu, apalagi ia sebelumnya pernah masuk meski hanya sebentar, namun ia melihat kamar itu sepertinya cukup mewah dan membuatnya penasaran.


Zarin lantas duduk di tepi ranjang milik Andreas sambil masih mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya tatapannya tertuju pada sebuah figura kecil yang diletakan di atas meja, namun dengan posisi terbalik.


Ia yang sudah penasaran dengan benda itu segera beranjak dan meraih figura kecil yang berisi sebuah foto Andreas dengan seorang wanita itu.


Tatapannya begitu lekat pada foto itu, apalagi pose mesra kedua orang itu terlihat tidak biasa, apalagi wanita dalam foto itu bukanlah Laura yang ia tahu dia adalah kekasih Andreas.


"Siapa dia? Pacar Andreas? Lalu siapa wanita semalam? Ah membuatku bingung saja!" Desis Zarin pada dirinya sendiri, sesaat setelah menatap lekat ke arah foto itu, ia kembali meletakkannya dengan posisi seperti semula.


Sebenarnya ia merasa kagum dengan kecantikan wanita yang ada di foto tersebut, menurutnya bahkan wajahnya seperti seseorang yang tidak asing baginya, namun entah siapa Zarin sendiri juga tidak bisa mengingatnya.

__ADS_1


Detik selanjutnya, Zarin duduk di depan sebuah meja rias yang cukup besar yang begitu apik, ia menatap dirinya dari pantulan cermin itu sambil membayangkan berbagai hal, termasuk kecuupan Andreas malam itu yang sempat membuatnya terkejut dan tidak bisa berkata-kata.


Namun sesaat kemudian, ia malah membayangkan Chris--kekasihnya yang sudah sepekan tidak bisa ia temui, bahkan memberi kabar saja ia tidak bisa.


Sejujurnya ia begitu merindukan kekasihnya itu, apalagi ia takut jika nantinya Chris akan salah paham dan malah pergi meninggalkannya, rasanya ia belum siap jika harus mengakhiri hubungannya dengan pria yang tidak kalah tampan dengan Andreas itu.


"Huh, maafkan aku Chris. Aku juga baru memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi atau menemui mu. Aku harap kamu tetap menjaga hati untukku." Ucap Zarin lirih pada dirinya sendiri masih di depan pantulan cermin.


Zarin sedikit tertunduk, hingga perhatiannya kini tertuju pada sebuah laci meja yang memiliki sebuah kunci yang masih menggantung ditempatnya.


Dengan penuh rasa penasaran, ia kemudian membukanya dan menemukan sebuah map yang cukup tebal.


Wanita itu menjadi teringat tentang pembicaraan Andreas dan juga Marco yang sempat ia dengar waktu itu, Zarin berharap jika di dalam map itu terdapat beberapa jawaban atas berbagai rasa penasarannya, termasuk apa penyebab dendam Andreas terhadap keluarganya sebenarnya, lebih tepatnya dengan sang ayah--Rony.


Perlahan Zarin membuka isi map itu dan malah mendapati beberapa foto wanita cantik dengan beberapa lembar kertas yang terjilid rapi dan berbeda di setiap foto.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya dengan seksama ke dalam berkas yang ternyata merupakan sebuah data pribadi dan lembar hasil pemeriksaan kesehatan setiap wanita yang ada di dalam foto dan biodata itu.


"Wanita itu? Jadi dia bernama Laura, datanya juga lengkap, ada hasil pemeriksaan dokter juga. Apa sebenarnya ini? Sepertinya cukup penting, tapi aneh sekali, jika Laura adalah pacar Andreas, berarti semua ini adalah mantan pria itu? Wah banyak sekali mantannya, tapi kenapa harus sedetail ini? Apakah dia itu memiliki kelainan atau bagaimana? Punya pacar saja seperti sebuah perusahaan yang harus memiliki data lengkap karyawannya." Urai Zarin panjang lebar masih pada dirinya sendiri, sungguh ia tidak mengerti kenapa Andreas cukup aneh harus mengumpulkan data semua wanita yang sepertinya adalah deretan para mantan kekasihnya itu.


Karena tidak mau hanyut dalam rasa penasaran yang bisa membuatnya gila itu, apalagi Andreas memang orang yang sangat misterius dan seperti memiliki berjuta rahasia, ia pun akhirnya menutup berkas itu dan mengembalikannya ke tempat semula.


*


Di belahan bumi lainnya, kini Andreas dan Ricard tengah berada di sebuah kawasan yang masih berada di kota mereka, kali ini untuk seharian penuh Ricard bertugas untuk menemani Andreas melakukan beberapa transaksi ilegal, termasuk transaksi senjata yang nantinya akan mereka jual kembali dan mereka kirim ke berbagai negara, tentu saja melalui jalur ilegal dan dengan bayaran yang cukup tingga, tentu saja sangat menguntungkan pihak Andreas.


Seharian penuh keduanya sibuk menjalankan beberapa bisnis mereka secara bergantian dihari itu, hingga akhirnya mereka kembali ke mansion sudah cukup larut malam.


Seperti biasa, suasana mansion nampak sepi, apalagi Marco memang jarang sekali berada di rumah. Pria itu hanya akan di rumah saat waktunya ia merasa lelah dan membutuhkan istirahat, itupun terkadang ia juga tidak pulang dan lebih memilih untuk menginap bersama para wanita yang ia sewa.


Ya, kebiasaanya sama persis dengan Andreas yang gemar bermain wanita serta menghabiskan malam di bar.

__ADS_1


"Tumben sekali baru jam sebelas malam tapi wanita itu tidak membuat ulah." Sahut Andreas lirih sebelum masuk ke dalam kamarnya, bahkan ia sempat melirik ke arah kamar Zarin yang masih tertutup rapat.


Apalagi sebelumnya ia telah mendapatkan laporan dari anak buahnya jika wanita itu seharian hanya berada di dalam kamar dan tidak membuat ulah apapun.


Masa bodoh lagi rasanya, Andreas pun segera beranjak masuk ke dalam kamarnya dan menanggalkan pakaiannya hingga hanya mengenakan sebuah celana kolor rumahan.


Tubuhnya sudah terasa cukup lelah seharian kesana kemari dengan berbagai kegiatannya, pria itu lantas menjatuhkan dan kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang miliknya.


Suasana yang cukup mendukung untuknya beristirahat apalagi ia tidak langsung menyalakan lampu utama kamar itu, sehingga keadaan di dalamnya cukup remang-remang dan menenangkan.


"Huh..."


Beberapa kali pria itu menghela nafasnya kasar sambil menatap langit-langit kamarnya yang masih sedikit terlihat oleh lampu remang-remang yang ada.


Ia pun juga kemudian berbalik kesana kesini untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku dan pegal itu, hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk segera beranjak dan menuju ke kamar mandinya untuk berendam air hangat agar dapat merelaksasi tubuhnya.


Baru saja masuk ke dalam kamar mandi miliknya yang berukuran cukup besar itu, ia lantas melihat ke arah bagian bathub yang sedikit terlihat aneh itu, tapi ia tidak mau berpikir yang tidak-tidak karena otak dan tubuhnya sudah lelah malam ini.


Pria itu lantas melangkah membuka tirai yang menjadi menyekat antara bathub dan sebuah shower lengkap dengan perlengkapan mandinya itu.


"Hahh!!!! Astaga! Apa yang dia lakukan di sini!!!"


Sumpah demi apa Andreas terkejut bukan main saat ada sosok wanita yang sedang tertidur di dalam bathubnya, bahkan sialnya lagi wanita itu tidak mengenakan apapun sama sekali untuk menutupi tubuhnya.


Hah, hal itu sungguh membuatnya hampir gila karena bahkan ia tidak tahu apakah ini bencana atau sebuah rezeki untuknya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2