
Entah kenapa seharian ini perasaan Zarin sungguh terasa tidak enak, ia merasa seperti telah terjadi sesuatu yang buruk yang sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu entah terjadi pada siapa. Bahkan sejak seharian, wanita itu hanya berdiam diri saja di dalam kamarnya untuk merenungi perasaannya yang terasa itu.
"Kamu kenapa? Sakit?" Sahut Andreas yang baru saja datang, ah bukan baru saja tapi tiba-tiba saja datang tanpa permisi sehingga mengagetkan Zarin, apalagi wanita itu jarang sekali mengunci pintu kamarnya.
Andreas memang sengaja masuk begitu saja ke dalam kamar Zarin tanpa permisi bersama dengan seorang asisten rumah tangga yang membawa sebuah nampan berisikan makanan, apalagi ia juga mulai hafal dengan kebiasaan Zarin yang hampir tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
"Letakan di situ saja, lalu kau bisa langsung keluar." Titah Andreas pada asisten rumah tangganya sambil menunjuk ke arah meja yang dimaksud.
Patuh, wanita itu lantas meletakan nampan yang sudah berisikan makanan dan minuman tersebut ke atas meja yang ada di dalam kamar Zarin dan kemudian langsung beranjak dari tempatnya sambil setengah membungkuk memberikan penghormatan kepada Andreas.
"Kamu! Kenapa masuk tanpa permisi dulu! Bagaimana jika tadi aku sedang telanj*ng! Dasar tidak sopan!" Cetus Zarin yang kemudian berdiri lalu melangkah menghampiri Andreas dengan penuh rasa kesal sambil melipat dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Andreas hanya terkekeh renyah sambil geleng-geleng kepala dan kemudian mengambil posisi duduk di pinggir ranjang tempat tidur Zarin, kekehan yang semakin hari semakin sering dilihat oleh Zarin, bahkan beberapa anak buahnya.
Entahlah, tapi semenjak kehadiran Zarin, sikap dan sifat keras serta dingin Andreas mulai sedikit berubah, pria itu lebih sering mengumbar senyuman sekarang dari pada dulu sebelum kehadiran wanita itu.
"Bukan kah aku juga sudah pernah melihat tubuhmu? Apa kau benar-benar lupa, huh? Jadi jika aku masuk lalu melihatmu sedang telanj*ng, lalu apa masalahnya. Hm?" Sahut pria itu dengan santai sambil sesekali melirik ke bagian tubuh Zarin yang paling ia sukai, yaitu bagian dada yang besar dan sungguh dapat membuatnya terlena.
Mendengar jawaban Andreas, kedua mata Zarin langsung membola, sebenarnya apa yang dikatakan Andreas memang benar, tapi bagaimanapun ia juga ingin memiliki privasi apalagi mengingat Andreas seperti tidak pernah menganggapnya sebagai istri saat berada di khalayak umum, jadi tentu saja ia akan membatasi dirinya dengan pria itu meskipun mereka sudah pernah melakukan permainan ranjang beberapa kali, dan satu lagi, sepertinya Zarin juga tidak akan pernah bisa menolak permainan Andreas yang begitu memabukkan itu dan bahkan seolah membuatnya candu.
Namun rasanya, Zarin sedang tidak ingin berdebat kali ini, ia lebih memilih untuk diam dan mengalah dari pada nantinya akan menimbulkan keributan yang berlarut-larut.
"Kenapa diam? Bukan kah yang aku katakan itu benar?" Imbuh pria itu sekali lagi sambil setengah menggoda Zarin.
Namun beberapa kali ia memperhatikan Zarin, wanita itu tampak terlihat murung dan tidak seperti biasanya. Bahkan wanita yang biasanya sangat cerewet dan menyebalkan itu tiba-tiba saja memilih untuk lebih banyak diam dan melamun dari pada menanggapi godaan dan perkataannya yang selalu terdengar menyebalkan itu.
__ADS_1
Andreas kemudian menjadi teringat perihal kematian Ronny yang merupakan ayah dari Zarin yang notabennya adalah ayah mertuanya. Menurutnya mungkin saja kini Zarin sedang merasakan ikatan batin antara dirinya dan keluarganya.
Tapi mau bagaimana lagi, semua ini berawal dari dendam yang sudah ada sejak lama dan yang mengawali semua permasalahan ini menurut Andreas adalah Ronny, pria itulah yang seolah mengibarkan bendera perang padanya karena telah dengan tega merenggut nyawa kedua orangtuanya dulu.
Satu lagi, lagi pula tidak akan ada orang yang tahu tentang siapa dalang yang ada di balik kematian Ronny yang sebenarnya adalah dirinya, termasuk Zarin sekalipun karena Andreas dan Ricard telah sepakat untuk menutupi semua itu dengan rapih.
"Makanlah dulu, aku dengar kamu seharian tidak mau makan. Kenapa? Bosan dengan masakan asisten rumah tangga di sini atau mau makan di luar?" Imbuh Andreas sekali lagi yang benar-benar menantikan kalimat kalimat cerewet yang biasanya terlontar dari mulut wanita itu, bahkan kini ia benar-benar terlihat begitu perhatian pada istri rahasianya itu.
Zarin menggelengkan kepalanya sambil melirik ke arah Andreas dan kemudian mengambil posisi duduk tepat di samping Andreas sambil menghela nafas panjang.
"Tidak, aku hanya sedang...mmm... Perasaanku rasanya sedang tidak enak, ada apa ya? Apakah aku bisa menghubungi keluarga ku sebentar saja And? Aku takut jika terjadi sesuatu pada mereka."
Deg!
Sejenak Zarin terdiam sambil menatap lekat ke arah manik mata pria yang kini ada didekatnya. Zarin sedang ingin melihat apakah Andreas berbohong atau tidak padanya, karena tiba-tiba saja ia teringat dengan dendam pria itu pada keluarganya, ia takut jika Andreas benar-benar akan mewujudkan keinginannya untuk melakukan balas dendam dan menghabisi keluarganya, termasuk dirinya setelah itu.
"Benarkah? Kamu yakin mereka baik-baik saja? Tapi kenapa aku tidak boleh menghubungi mereka? Apa kamu takut aku akan membocorkan tentang perlakuan mu padaku? Aku tidak akan pernah mengatakannya, tenang saja." Ucap Zarin sambil masih menatap lekat ke arah manik mata pria itu.
Sontak saja sikap dan kalimat Zarin begitu membuatnya sedikit gugup, tapi Andreas tetap berusaha agar terlihat biasa saja.
Pria itu berdehem sambil membenarkan posisi duduknya sehingga menghadap ke arah Zarin dan kemudian meraih kedua bahu wanita itu sambil menatap lekat ke arah mata Zarin.
"Apa kamu tidak percaya padaku? Untuk apa aku berbohong hm?"
Andreas lantas mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zarin, namun dengan cepat entah kenapa wanita itu tiba-tiba melihat untuk menoleh seolah ingin menghindari apa yang akan dilakukan Andreas padanya. .
__ADS_1
"Maaf And, aku sedang tidak ingin..."
Cup!
Tanpa permisi Andreas langsung merenggut bibir ranum Zarin dengan bibirnya dan tentu saja membuat wanita itu terkejut karena Andreas benar-benar pria pemaksa.
"Mmmh...."
Perlahan keduanya mulai hanyut dalam sebuah kecuupan hangat itu sambil memejamkan kedua mata mereka seolah sedang benar-benar menikmati setiap inci pergerakan benda tak bertulang itu di kedua rongga mulut mereka, bahkan Zarin yang awalnya hendak menolak pun seolah juga ikut hanyut seperti terhipnotis dan langsung membalas apa yang dilakukan Andreas sehingga bibir keduanya saling bertautan.
Tangan Andreas tak ingin tinggal diam dan langsung meraih dua buah benda menggantung itu dengan begitu kasar sehingga membuat Zarin sedikit reflek menggigit bibir bawah Andreas.
Namun bukannya merasa sakit, pria itu malah semakin terpancing dan antusias memainkan benda tak bertulangnya di dalam rongga mulut Zarin sambil kedua tangannya mulai bergerak di bagian dada istri rahasianya itu.
Sesekali Zarin mengeraang karena ulah Andreas dan akhirnya dengan cepat pria itu langsung meraih kaos polos yang dikenakan istrinya lalu melepaskannya dan melemparkan ke sembarang arah. Sungguh ia tidak sabar lagi ingin segera memasuki inti permainan itu, bahkan tidak peduli dengan apa yang sedang dirasakan Zarin saat ini.
"And, aku sedang tidak..."
"Hah, aku sudah tidak tahan!"
*
*
*
__ADS_1