Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 19. Apa Kau Mau Menggodaku!


__ADS_3

Sumpah demi apa ucapan Zarin seketika membuat kedua pria yang sejak tadi lahap menikmati santap makan malam mereka itu tersedak secara bersamaan.


Dengan sigap, demi mendapatkan perhatian suaminya, Zarin langsung mengulurkan segelas air putih pada Andreas dan pria itu dengan cepat juga langsung meraih dan meneguk minuman itu.


"Hah..."


Merasa bahwa dirinya sudah membaik, begitu juga dengan sang adik--Marco, keduanya malah langsung membalikan sendok yang ada diatas piring dan mendorong piring itu sedikit ke depan, seolah menandakan bahwa kegiatan santap malam mereka telah selesai, padahal makanan yang ada di atas piring mereka masih cukup banyak.


Zarin tentu saja langsung menatap lekat ke arah keduanya secara bergantian dengan tatapan yang sedikit kecewa, karena ia merasa bahwa keduanya sangat tidak bisa menghargai orang lain, termasuk masakannya.


"Kenapa bisa secara bersamaan tersedak dan sekarang juga secara bersamaan selesai, padahal makanannya masih 'kan? Lagi pula sepertinya sebelumnya tadi kalian sangat menikmati masakan itu. Apa karna itu masakan ku, hm?" Ucap Zarin setengah kecewa.


Marco hanya terdiam, ia tidak menjawab apapun perkataan Zarin karena ia takut jika nantinya akan salah bicara, sedangkan Andreas, pria itu kini mulai mengusap bibirnya dengan tissue makan dan hendak beranjak dari tempatnya tanpa menjawab ucapan Zarin sedikitpun.


Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh atau melirik ke arah Zarin, sungguh pria yang sangat dingin menurut Zarin.


"Apa kalian tidak bisa menghargai aku sedikit saja di sini? Lagi pula aku tidak akan mungkin meracuni kalian melalui masakan ku." Sahut Zarin yang seketika membuat kedua pria yang baru saja beranjak dari tempat duduknya itu terhenti.


Akal Zarin bahkan tidak sampai disitu saja, ia lantas mengeluarkan jurus andalannya yaitu air mata buaya.


Wanita itu lantas menangis sesenggukan seolah benar-benar merasa tersakiti oleh sikap kedua pria itu sambil bibirnya terus merancau jika dirinya sama sekali tidak dihargai padahal sudah berusaha semaksimal mungkin bersikap baik pada keduanya.


Benar saja, caranya begitu ampuh meluluh kedua hati pria itu. Andreas lantas kembali duduk sambil mendengus kasar.


"Sudah jangan berlebihan! Lagi pula siapa yang menyuruh mu untuk memasak semua ini! Di sini banyak asisten rumah tangga, bahkan untuk bagian memasak pun ada chef khusus. Kenapa harus menyusahkan diri sendiri, ha!" Sahut Andreas bukannya dengan sikap dan tutur kata yang lembut dan halus, melainkan malah dengan bahasa yang cukup terdengar ketus.


"Tapi aku hanya ingin menjadi istri dan juga kakak ipar yang baik, apalagi aku dan Marco belum saling mengenal, aku berniat untuk memberikan sambutan atas kepulangannya hari ini." Balas Zarin sambil terisak dalam tangis buayanya.


Sekali lagi, Andreas tampak mendengus. Sebenarnya ia tidak mau terlalu hanyut dalam drama rumah tangga ini, namun ya bagaimana lagi, ia juga tidak mau jika nantinya Zarin akan curiga dan mencari tahu sendiri tujuannya menikahi wanita itu.


Andreas dengan terpaksa lantas mengusap bahu istrinya meskipun dengan sikap yang cukup dingin dan kaku.


Usapan itu begitu membuat Zarin tersentak, ia tidak menyangka jika ternyata akan semudah itu mulai meruntuhkan dingin dan kerasnya sikap Andreas.


"Aku bilang sudah jangan berlebihan seperti itu! Usap air mata mu!" Sahut Andreas yang masih bersikap dingin.

__ADS_1


"Ehem..."


Marco yang masih berada di tempatnya pun sejak beberapa menit hanya bisa menyaksikan drama rumah tangga bak di sinetron-sinetron itu, dan kini ia mulai berusaha memperingatkan sang kakak dengan cara berdehem.


Ia tidak mau jika sang kakak nantinya akan lupa dengan tujuan utamanya, karena ia melihat jika sang kakak mulai tertarik pada wanita itu.


Andreas hanya menoleh sambil mengangguk sekilas pada sang adik saat Zarin mulai menyeka dan mengusap air matanya.


Paham dengan apa yang dimaksud sang kakak, Marco lantas beranjak pergi dan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil dompet serta ponselnya, karena malam ini berniat untuk berpesta dengan teman-temannya di bar mewah yang ada di pusat kota Milan.


"Sudahlah tidak perlu seperti ini lagi! Biar asisten rumah tangga yang memasak dan menyiapkan makanan!" Ucap Andreas.


Namun sejak tadi diberikan perlakuan Andreas tidak manis, Zarin malah tersenyum ke arahnya. Ia harus berusaha bagaimana pun caranya agar tidak mudah tersulut amarah oleh sikap menyebalkan suaminya itu dan harus bersikap semanis mungkin, meskipun sebenarnya ia merasa ingin sekali mencakar atau menghajar pria disampingnya itu.


Senyum Zarin malam ini terlihat begitu berbeda di mata Andreas, apalagi polesan make-up dan busana yang dikenakan wanita itu, sungguh membuat Andreas merasa berbeda.


"Iya, tapi sesekali tidak apa-apa kan jika aku memasak dan menyiapkannya makanan untukmu, suamiku." Tutur Zarin dengan lemah lembut, bahkan suara itu terdengar begitu asing ditelinga Andreas.


Apalagi kini Zarin semakin mengembangkan senyumnya sambil mengusap dada bidang milik suaminya yang hanya mengenakan setelan baju rumahan itu.


"Hah terserah kamu saja! Aku mau ke atas!" Sahut Andreas dengan ketus sekali lagi sambil menyingkirkan tangan Zarin dengan cukup kasar.


Pria itu lantas beranjak pergi sambil meneguk salivanya yang hampir saja terasa tercekat di tenggorokan.


Sumpah demi apa, jantungnya mulai berdebar begitu aneh saat Zarin bersikap manis padanya baru saja.


Selepas kepergian pria itu, tentu saja Zarin langsung menarik dua sudut bibirnya dengan puas.


Kita lihat apa yang bisa aku lakukan setelah ini, Tuan Andreas...


*


Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, suasana di mansion berangsur-angsur mulai sepi karena sebagian asisten rumah tangga sudah berada di kamar masing-masing untuk berisitirahat, dan hanya ada beberapa anak buah Andreas yang masih terjaga yang memang malam ini bertugas untuk berjaga-jaga di kawasan mansion, termasuk dua orang yang ada di dalam mansion, tepatnya di ruang tamu.


Sejak tadi, Zarin menunggu waktu ini, waktu yang menurutnya tepat untuk menjalankan misi selanjutnya.

__ADS_1


Tok-tok-tok-tok...


"And, boleh kah aku minta bantuanmu?" Ucap Zarin lirih setelah tangannya mengetuk pintu kamar suaminya.


Tak membutuhkan waktu lama, Andreas yang memang sejak tadi hanya duduk bersantai sambil memainkan ponselnya untuk mengecek beberapa laporan anak buahnya terkait penjualan senjata hari ini segera membuka pintu tersebut.


"Ada apa lagi!" Sahut Andreas dengan ketus, karena ia sungguh malas harus terus berhadapan dengan Zarin hari ini.


"Boleh kah aku masuk? Aku ingin meminta bantuan, tapi ini sedikit privasi, jadi aku harus masuk." Pinta Zarin dengan suara yang terdengar manja.


Andreas hanya mendengus kasar sambil melirik seolah mengizinkan Zarin masuk meskipun wajahnya terlihat sangat malas.


"Yeay, jangan lupa tutup pintunya ya!" Cetus wanita itu sambil beranjak masuk membawa sebuah lotion ditangan kanannya.


Andreas hanya patuh saja, ia tidak menaruh curiga apapun pada wanita itu, ia segera menutup pintu kamarnya dan mulai beranjak melangkah menyusul Zarin yang sudah lebih dulu dan dengan lancangnya duduk di ranjang milik Andreas.


Diluar dugaan Andreas, wanita yang sudah duduk ditepi ranjang itu tiba-tiba saja melepaskan pakaian bagian atasnya dan hanya menutupi bagian dadanya saja, sehingga tubuh putih mulusnya itu terpampang nyata.


"Tolong oleskan lotion itu di punggungku, aku tidak bisa melakukannya sendiri." Pinta Zarin dengan manja, bahkan entah kenapa suara itu terdengar begitu aneh di telinga Andreas.


Apalagi kini pose duduk Zarin sungguh menantang dan seolah sedang berusaha menggoda pria yang satu ruangan dengannya itu.


Kedua mata Andreas tentu saja langsung membola, sambil meneguk salivanya dengan susah payah, pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Zarin yang sudah mengulurkan lotion padanya.


"Apa-apaan kamu ini! Apa kamu ini mau berusaha menggodaku, hah!" Sahut Andreas sambil meraih lotion tersebut dengan kasar.


"Menggoda? Memangnya kamu tergoda denganku? Ah tolonglah, sebentar saja, dan tolong berikan sedikit pijitan di tubuhku, sayang."


Hah!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2