
Andreas yang baru saja datang sambil menjatuhkan sebuah bucket bunga yang siang tadi sudah di belinya dan tertinggal di dalam mobil itupun segera memberikan beberapa hantaman dibagian wajah dan juga dibagian perut sang adik yang sedang berusaha untuk bertindak macam-macam pada sang istri.
Pukulan Andreas yang cukup keras itupun akhirnya mampu menumbangkan Marco dan membuatnya jatuh tersungkur ke atas lantai sambil terus mengerang dan mengaduh kesakitan.
Zarin yang sudah berhasil terlepas dari cengkeraman Marco itu pun segera menyingkir dan memilih berada di belakang tubuh Andreas yang ia gunakan sebagai tameng untuknya.
"Bangun kau brengs*k! Sini biar ku beri pelajaran agar kau tidak bisa mengganggu dan menyentuh istriku lagi!" Sahut Andreas, kalimat itu bahkan tanpa sadar keluar begitu saja dari bibir Andreas yang kini melangkah maju.
Andreas lantas meraih dan mencengkeram kerah baju sang adik dan kembali memberikan sebuah hantaman keras untuk yang terakhir kalinya dibagian wajah yang adik, hingga membuat wajah pria itu kini terlihat babak belur karena ulahnya.
"Angkat dia dan bawa pergi dari sini!" Titah Andreas pada anak buahnya yang masih berdiri di anak tangga sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Patuh, beberapa anak buah Andreas langsung membawa Marco yang sudah hampir hilang kesadaran itu untuk menuju ke kamar pribadinya.
Sedangkan Andreas, pria itu lantas menghampiri Zarin yang terlihat cukup ketakutan karena ulah sang adik yang bersikap kurang ajar padanya.
"Terima kasih And!" Sahut Zarin sambil berhambur memeluk tubuh tegap suaminya, apalagi mendengar kalimat Andreas yang seolah sedang berusaha membelanya tadi.
Sumpah demi apa pelukan Zarin begitu hangat dan membuat jantung pria itu hampir melompat dari tempatnya, karena ia merasa bahwa pelukan itu terasa sangat berbeda, bahkan terasa begitu nyaman dari pelukan para wanita partner ranjangnya di luar sana.
Namun beberapa saat memeluk tubuh suaminya, tiba-tiba saja Zarin mulai menyadari ada sesuatu yang terasa begitu aneh dibagian inti tubuh suaminya, apalagi saat ia semakin mempererat pelukannya dan tentu saja hal itu membuat tubuhnya semakin menempel seolah melekat bak perangko di tubuh suaminya, termasuk bagian dadanya yang memang berukuran cukup besar.
Ya apalagi jika bukan milik Andreas yang kini mulai terasa membesar, bahkan mengeras dan membuat jantung Zarin juga tiba-tiba saja berdebar hebat, apalagi saat adik kecil Andreas tiba-tiba saja berdenyut dan membuatnya cukup terkejut sehingga dengan reflek melepaskan pelukan itu sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
"I-itu... Anu, milikmu.." Ucap Zarin lirih sambil menunjuk ke bagian inti tubuh Andreas yang terlihat lebih menonjol itu, apalagi ia hanya mengenakan celana kolor rumahan yang tentu saja semakin menampilkan benda yang terlihat semakin membesar itu.
Dengan sigap Andreas yang menyadarinya pun segera menurunkan jaketnya dan menutupi adik kecilnya itu.
__ADS_1
Sungguh kini Andreas cukup merasa kikuk karena ulah adik kecilnya yang tidak bisa di kontrol malam ini, padahal ia sebelumnya melihat permainan sepasang pria tepat dihadapannya dan hal itu terasa biasa saja, bahkan tidak membuat adik kecilnya terbangun.
Kini malah hanya karena sebuah pelukan Zarin saja tiba-tiba adik kecilnya tiba-tiba seolah meronta minta jatah, meskipun memang bagian dada Zarin yang cukup besar itu menempel di tubuhnya, mungkin itulah salah satu alasan adik kecilnya meronta minta jatah itu.
"A-pa! Dasar wanita mesuum!" Sahut Andreas dengan kedua mata yang mendelik untuk menutupi rasa kikuknya.
"Mesuum bagaimana! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya terjadi. Apalagi tadi milikmu juga terasa seperti berdenyut, aku merasakannya, huh! Hmm... Memangnya kenapa bisa seperti itu?" Cecar Zarin yang benar-benar polos, ia sungguh tidak tahu kenapa milik Andreas tiba-tiba bisa seperti itu padahal ia hanya memeluknya saja, tidak lebih.
Apalagi ia juga dulu sudah beberapa kali berpelukan dengan sang kekasih--Chris tapi dia tidak pernah merasakan hal itu terjadi pada kekasihnya itu.
Ucapan Zarin tentu saja semakin membuat lidah Andreas terasa hampir kelu dan tidak bisa berkata apa-apa, karena bahkan ia sendiri juga tidak tahu kenapa adik kecilnya bisa begitu saat tubuhnya bersentuhan dengan dada Zarin.
"Ah sudah jangan dibahas! Lagi pula kamu ini seperti wanita murahaan saja pakai pakaian seperti ini! Pantas saja jika dia hampir memperk*sa mu, dasar bod*h!" Desis Andreas yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu lantas melirik ke pakaian yang ia kenakannya secara sekilas, ia merasa bahwa semua terlihat biasa saja, apalagi pakaian itu masih tergolong pakaian yang tidak melebihi batas, itu adalah menurutnya yang merupakan tipikal orang yang memang suka berpakaian terbuka.
Namun saat membuang pandangannya, tiba-tiba saja wanita itu melihat ke sebuah bucket bunga yang terjatuh di atas lantai, dan dengan cepat ia segera mengambilnya sambil tersenyum penuh arti.
"Tenyata dibalik sikapmu yang menyebalkan, kamu sangat romantis, And. Kamu membelikan ku ini? Ini untukku kan, dari mu?" Imbuh Zarin sambil membawa bucket itu dan mendekat ke arah suaminya dengan diiringi sebuah senyuman menggoda itu.
Tentu saja Andreas tidak mau mengakui hal itu begitu saja, apalagi hal yang dapat membuat wanita itu besar kepala.
"Tidak! Bukan aku yang membelinya, itu milik Ricard yang ketinggalan di dalam mobil dan mau ku bawa masuk ke dalam. Tapi kamu malah menemukannya." Balas Andreas yang berusaha beralibi.
Pria itu tidak mau lagi hanyut dalam topik pembicaraan yang sudah bisa ia pastikan akan menyudutkannya dan bahkan pasti akan membuat dirinya merasa begitu peduli dengan wanita itu.
Andreas lantas melangkah meninggalkan Zarin yang terus berusaha mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Tunggu And!"
Cup!
Ah gila, sikap Zarin semakin lama benar-benar semakin membuat Andreas hampir kehilangan kewarasannya, apalagi kini wanita itu bahkan berani mengecuup pipinya dengan lembut.
Namun pria itu tentu saja berusaha bersikap dingin dan seolah acuh pada Zarin meskipun perasaannya terasa tidak karuan saat ini.
"Aku tahu ini darimu, tidak mungkin Ricard membelinya dan meninggalkannya begitu saja di dalam mobilmu, jika memang iya, untuk apa juga kamu peduli dan membawanya masuk. Aku tahu kamu membelinya untukku. Terima kasih ya And." Ucap Zarin dengan senyum yang terlihat semakin mengembang.
Sebenarnya ada rasa tidak percaya jika pria yang ia ketahui akan melakukan balas dendam padanya dan keluarganya itu bersikap begitu manis, bahkan dua kali yaitu saat menolongnya dan sekarang membelikannya sebuah bucket, namun baginya sekarang terasa masa bodoh yang penting Andreas tidak menyakitinya dengan bersikap kasar padanya lagi.
"Menyingkir dariku, dasar hama!" Ucap Andreas ketus.
Zarin yang berusaha bergelayut manja di lengan Andreas pun dengan cepat dikibaskan oleh pria itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya, sehingga meninggalkan wanita itu sendirian di luar sana.
Brak!!
"Huh, hampir saja..." Ucap Andreas lirih sambil menyandarkan tubuhnya tepat dibalik pintu itu, akhirnya ia bisa merasa lega karena tidak dekat-dekat dengan wanita itu dan membuat adik kecilnya hampir saja kembali meronta lagi.
"Kau ini juga kenapa tiba-tiba saja bangun di saat yang tidak tepat, hah!"
*
*
*
__ADS_1