Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 9. Sedikit Merasa Bersalah


__ADS_3

"Zarin... Aku Mohon maafkan aku! Itu semua diluar kendaliku, aku tidak bermaksud menyiksa mu. Zarin..."


"Zarin......."


Bibir Andreas terus bergeming memanggil-manggil nama Zarin, padahal kedua matanya masih terpejam.


"Hah.. Zarin...!!" Teriak Andreas secara tiba-tiba sambil beranjak terbangun dari tidurnya.


Andreas langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, perlahan pria itu mulai mengatur nafasnya yang kini terengah-engah itu. Sungguh ini adalah kali pertamanya merasakan mimpi yang begitu nyata.


"Hah mimpi sialan! Kenapa harus wanita itu!!" Pekik Andreas sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dengan cukup kasar.


Entah kenapa ia tiba-tiba bermimpi tentang wanita itu, bahkan di mimpi itu seolah-olah ia merasa bersalah dengan perlakuan kasarnya tadi padanya.


Bahkan suhu di ruangan Andreas yang semula dingin pun terasa begitu panas setelah ia memimpikan hal itu. Ah benar-benar mimpi yang bisa membuatnya gila!


sejenak Andreas terdiam, ia mulai sedikit menyadari bahwa tindakannya tadi pada Zarin mungkin cukup berlebihan, karena sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Zarin tentang kejadian memalukan tadi, karena pada kenyataannya ia juga yang teledor dan tidak menguncinya bukan?


Tapi ya mau bagaimana lagi, perasaan kesal itu tentu saja pasti muncul karena saat ia bercinta tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu, orang mana yang tidak kesal akan hal itu bukan? Bahkan hal itu sangat membuatnya malu.


Andreas lantas melirik ke arah jam dindingnya, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul satu malam dan ia baru teringat jika sama sekali belum meminta asisten rumah tangganya untuk mengantarkan makanan ke kamar Zarin. Apalagi kamar itu juga ia kunci, dan hanya ia yang membawa kuncinya.


Hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong khas pakaian rumahan, Andreas segera beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar menuruni anak tangga.


Tujuan pertamanya adalah ke dapur kali ini untuk meminta asisten rumah tangganya menyiapkan dan mengantarkan makanan ke kamar Zarin.


Tapi beberapa kali ia mengedarkan pandangannya ke sana kemari tapi ia tidak menemukan satu orangpun yang masih terjaga malam ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat segelas susu hangat dan membuat roti panggang sederhana sebisanya.


Namun semua itu bukan untuk dirinya, itu semua untuk Zarin nantinya.


Entah sedang terkena sawan setan apa, Andreas kini merasa sedikit memiliki rasa kasihan apalagi pada Zarin. Meskipun ia masih memiliki niatan balas dendam pada wanita itu dan orangtuanya.

__ADS_1


Ceklek...


Grek...


Perlahan Andreas masuk ke dalam kamar Zarin dan mendapati wanita itu sedang tertidur lelap di atas ranjangnya sambil meringkuk memegangi lengannya yang kini terlihat memar.


Andreas lantas mendekat, ia meletakan nampan yang berisikan makanan dan minuman yang ia buat sendiri tadi di atas nakas dan kemudian duduk ditepi ranjang.


"Bangun..."


Pria itu sedikit mengguncang tubuh Zarin dan berusaha untuk membangunkannya, ia juga melirik ke arah beberapa luka memar yang disebabkan olehnya tadi.


Zarin perlahan membuka kedua matanya dan tatapan pertamanya tertuju pada sosok Andreas yang kini duduk di hadapannya. Dengan reflek Zarin langsung terbangun dan bersandar di dinding ranjang sambil meringkuk ketakutan.


Ya jelas saja dia takut, ia takut jika nantinya Andreas akan bersikap kasar lagi padanya. Apalagi kini tubuhnya masih terasa begitu sakit dan perih karena sisa pukulan Andreas.


Pria itu semakin tidak tega melihat Zarin yang seperti ketakutan melihatnya, apalagi sambil berderai air mata. Sungguh ini adalah kali pertamanya merasa kasihan dengan orang lain.


"Hei kamu ini kenapa? Aku tidak akan memukulmu lagi! Aku hanya mengantarkan makanan untukmu, makanlah! Aku tahu kamu belum makan dari tadi, dan tunggu sebentar..."


Sedangkan Zarin yang memang sudah merasa sangat lapar, akhirnya setelah kepergian Andreas ia segera meraih makanannya dan menyantapnya hingga tandas termasuk segelas susu hangat itu.


Cukup lama, Andreas baru kembali ke kamar itu sambil membawa sebuah kaos dan celana miliknya dan sebuah bak kecil berisi air hangat serta handuk kecil.


"Pakailah! Besok akan ku belikan pakaian untukmu, sekarang pakai milikku dulu. Cepat bersihkan badanmu dan ganti pakaian mu setelah itu aku akan mengompres luka mu!" Titah Andreas sambil sedikit melemparkan pakaian itu ke arah Zarin.


Zarin hanya bisa patuh, ia bergegas untuk ke kamar mandi membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.


Selesai membersihkan tubuhnya dan telah mengenakan pakaian yang telah diberikan Andreas, wanita itu kini berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi sambil menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin dengan tatapan sendu.


Pakaian yang terlalu longgar, wajah yang sedikit pucat dan tubuh yang terasa sakit semua. Hal itu tampak cukup menyedihkan baginya.

__ADS_1


"Apakah ini akhir dari hidupku? Atau ini adalah awal dari kesengsaraan ku? Aku bahkan yakin pria itu memiliki rencana lain untuk menyakitiku... Mommy, Daddy, Kakak, Zarin takut..." Ucap Zarin dengan lirih pada dirinya sendiri di depan pantulan cermin.


Namun semakin ia meratapi nasibnya kini, pancaran gambaran dirinya yang menyedihkan itu tampak semakin terlihat.


Zarin lantas menyeka dan mengusap air matanya, ia kemudian menatap sekali lagi dirinya di pantulan cermin seakan sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia tidak melakukan kesalahan.


"Lama sekali! Cepat kemari! Akan ku kompres lukanya!" Cetus Andreas yang sudah hampir 15 menit menunggu Zarin keluar dari kamar mandi.


Zarin lantas melangkah mendekat, sejak tadi ia belum mengucapkan sepatah katapun pada Andreas meskipun rasanya ia ingin sekali memohon untuk dibebaskan.


Perlahan dengan telaten, Andreas mengompres lengan Zarin.


"Aku tidak bermaksud..."


"Iya tidak apa-apa. Aku yang salah, aku yang tidak sopan masuk ke dalam kamar mu. Maafkan aku. Lain kali aku akan mengetuk pintu dulu." Belum sempat Andreas menyelesaikan kalimatnya, namun sudah dipotong begitu saja oleh Zarin yang mengakui kesalahannya.


Entah kenapa suaranya terdengar begitu lembut dan menyejukkan baginya. Suara yang seolah membuatnya begitu tenang sekali.


"Sudah tidak perlu dibahas lagi. Besok kita pergi untuk membelikan mu pakaian. Pilih yang mana sesukamu." Ucap Andreas.


Zarin tidak banyak bicara, ia hanya manggut-manggut mengiyakan ajakan Andreas yang meskipun terlihat cuek namun sikapnya semakin terasa hangat apalagi kini ia semakin telaten mengompres lukanya.


"Biar aku saja yang melakukannya, aku tidak mau merepotkan mu." Ucap Zarin sambil meraih handuk kecil yang hendak dicelupkan Andreas ke dalam air hangat.


"Sudahlah biar aku saja! Jangan protes! Sekarang buka bajumu!" Ucap Andreas.


"Hah... Apa kamu gila! Tidak, tidak! Aku tidak mau!" Sahut Zarin, kedua matanya bahkan sampai mendelik ke arah Andreas yang memaksanya untuk membuka baju.


"Memangnya kenapa! Aku ini suamimu! Cepat buka bajumu! Atau aku yang akan membukanya!!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2