
"Kenapa masih berdiri di sana! Cepat sarapan dan setelah itu kita akan mencari pakaian untukmu!" Desis Andreas dengan tatapan sinis ke arah Zarin.
Wanita itu hanya bisa patuh meskipun wajahnya terlihat masam namun ia segera duduk dan menikmati sarapannya dengan lahap.
"Apa kau tidak bisa pelan-pelan! Seperi seharian tidak makan saja!" Cetus Andreas dengan sinis.
"Memang tidak makan seharian! Kamu pikir bagaimana! Kamu mengurungku di dalam kamar sejak kemarin tanpa memberikan ku makanan, aku bahkan hampir mati kelaparan!" Sahut Zarin melirik dengan tatapan tak kalah sinis ke arah pria itu sambil tetap menikmati sarapannya.
Andreas hanya diam, tidak menjawab lagi ucapan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu karena ia memang tidak mau ada perdebatan saat di meja makan.
Hingga setelah beberapa saat, sarapan yang ada di atas piring Zarin tandas tak tersisa, bahkan jika boleh menambah ia ingin sekali menambah porsi makanannya karena jujur saja perutnya masih terasa lapar apalagi semalam Andreas hanya memberinya 2 roti panggang saja dan segelas susu.
Kedua pria yang sejak tadi satu meja makan dengannya pun hanya bisa tertegun melihat Zarin yang menikmati makanannya bak orang kesetanan itu.
Apalagi Andreas yang baru kali ini melihat wanita dengan cara makan yang sangat berbeda itu, cepat dan terlihat rakus.
"Milik ku masih utuh, jika masih lapar makan saja." Sahut Andreas berbasa-basi menawarkan miliknya.
Tanpa malu-malu lagi, karena memang sudah lapar betul, Zarin lantas meraih piring yang ada dihadapan Andreas dan menumpuknya diatas piringnya yang sudah kosong, ia segera melahapnya dengan cepat seperti apa yang ia lakukan sebelumnya.
Kali ini Andreas sangat menyesal telah menawarkan miliknya. "Sial! Apa kau benar-benar kelaparan, hm! Memalukan sekali! Kau bahkan mengambil milikku!" Desis Andreas sambil meneguk salivanya melihat Zarin makan begitu lahap.
Begitu juga Andreas, Ricard yang sejak tadi perlahan menikmati sarapannya pun juga ikut meneguk salivanya melihat Zarin makan begitu lahap hingga akhirnya porsi makanan di piring keduanya itu habis tak tersisa.
Tanpa sengaja, Zarin yang sudah merasa sangat kekenyangan bersendawa dan membuat Andreas merasa geli sekaligus risih.
"Kau ini.....!" Ucap Andreas kesal karena sikap Zarin sungguh tidak sopan.
Entah ia tak habis pikir, wajahnya saja yang cantik, tubuh aduhai dan berasal dari keluarga kaya tapi sikap dan kelakuannya sangat berbeda jauh dari wanita-wanita yang sebelumnya ia kenal.
"Maklum saja, aku kekenyangan!" Balas Zarin sambil mengusap bibirnya dengan menggunakan tissue.
__ADS_1
"Dasar rakus! Kau ini benar-benar memalukan sekali! Untung saja ini masih di rumah sendiri, bagaimana jika di restoran atau di acara-acara penting! Bukan kah sangat sangat sangat memalukan!" Ucap Andreas dengan nada bicara yang semakin tidak mengenakan, apalagi tatapannya seakan semakin tidak suka dengan Zarin.
Padahal semalam wanita itu sempat terngiang-ngiang dipikirannya, tapi entah kenapa sekarang ia malah menjadi kesal setengah mati dengan sikap dan perilaku wanita itu.
"Rakus? Kau yang tidak memberiku makan seharian, jadi wajar saja jika aku seperti ini! Lagu pula kau yang menawarkan milikmu! Aku juga tidak memintanya tadi!"
Hah, kali ini telinga Ricard sungguh terasa cukup panas mendengar perdebatan sengit kedua manusia yang baru saja menyandang status suami istri itu.
Sungguh ia tidak menyangka jika ternyata benar apa yang dikatakan Andreas, sepertinya bosnya itu tidak mungkin tertarik apalagi soal berciinta dengan wanita semacam itu.
"Terserah kau saja liar! Cepat kita pergi sekarang! Aku tidak punya waktu banyak untukmu!" Ucap Andreas sambil memutar bola matanya jengah.
Pria itu lantas beranjak dari tempat duduknya sambil mengibaskan jas hitamnya dengan begitu elegan.
"Tapi bos, ini bukannya masih pagi. Mana ada mall yang sudah buka?" Sahut Ricard yang kini juga mulai beranjak dan berdiri tepat di sisi bosnya itu.
Duar!
Benar juga apa yang dikatakan Ricard. Ah sial! Kenapa juga aku terlalu menggebu-gebu ingin mencarikan wanita liar itu pakaian! Sial sial!
Namun tidak hanya itu yang membuatnya terlihat begitu senang kali ini, hal itu karena ia juga telah berhasil membuat Andreas merasa ilfeel dengannya karena sikapnya yang kelewat batas kesopanan.
Sejak tadi ia memang sengaja membuat dirinya terlihat begitu liar dan seolah-olah menjijikan agar pria itu tidak tertarik padanya, bahkan tidak bernapsuu padanya.
"Hubungi Jennifer, aku mau butiknya buka sekarang juga. Booking butik itu untuk dua jam kedepan!" Cetus Andreas, untung saja ia memiliki ide lain dan akhirnya hal itu tidak membuatnya begitu malu.
Ricard yang selalu patuh pada perintah bosnya itu segera menghubungi Jennifer yang merupakan pemilik butik langganan Andreas, sekaligus teman mereka berdua sejak dulu.
Setelah beberapa saat, berhasil bernegosiasi dengan Jennifer. Akhirnya kini keduanya memutuskan untuk segera menuju butik tersebut.
Seperti biasanya, Ricard selalu berada di belakang kemudi sekaligus mengawal bosnya kemanapun ia pergi. Namun yang berbeda kali ini adalah, bosnya tidak duduk sendirian, melainkan bersama dengan Zarin yang masih mengenakan pakaian seadanya yang sebenarnya adalah milik Andreas.
__ADS_1
Hingga setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, ketiganya kini telah sampai di tempat yang dituju. Butik itu masih terlihat sangat sepi, apalagi di deretan ruko-ruko mewah itu hanya butik itu sendiri yang sudah buka.
Ya wajar saja, karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, sedangkan biasanya ruko-ruko itu buka sekitar pukul sepuluh pagi.
Meski tergolong mendadak memintanya untuk segera buka, namun tepat di pintu masuk butik itu sudah terdapat seorang karyawan yang dengan sigap segera membukakan pintu untuk ketiga orang yang baru saja datang itu.
"Selamat datang Tuan Andreas. Silahkan." Ucap wanita cantik dengan mengenakan seragam khas karyawan butik tersebut.
"Andreas..."
Tiba-tiba saja seorang wanita datang dan segera berhambur memeluk dan mengecum kedua pipi Andreas secara bergantian dengan begitu hangat.
Ya siapa lagi jika bukan Jennifer, yang selalu memiliki kebiasaan menempel pada Andreas dimana pun tempatnya.
Bagaimana tidak, wanita itu memang sudah lama memendam rasa kagum pada Andreas, hanya saja pria itu tidak pernah peka dengan berbagai kode yang telah ia berikan selama ini.
"Hai Jen, apa kabar. Long time no see, ya?" Sahut Andreas sambil melingkarkan tangannya memeluk Jennifer sekilas.
"Baik, kamu sendiri bagaimana And? Kita sudah hampir dua bulan tidak bertemu. Ah tapi itu sendiri karena kamu ini super sibuk. Iya kan Ric?" Balas Jennifer sambil sesekali melirik ke arah Ricard.
Ricard hanya mengangguk mengiyakan ucapan wanita yang selalu tampil modis dan cantik itu.
"Tunggu, dia... Siapa?"
Kedua netra Jennifer langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri tepat di belakang Andreas.
Tatapan Jennifer begitu menelisik, bahkan ia melihat Zarin dengan tatapan aneh dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Apalagi pakaian yang dikenakan Zarin begitu membuatnya tak habis pikir dan penasaran dengan siapa sebenarnya wanita itu.
"Ah dia, dia ini..."
*
__ADS_1
*
*