
Kini kepala Ricard mulai berdenyut memikirkan ucapan sang bos yang seolah sedang berusaha memamerkan apa yang baru saja ia lakukan dengan wanita yang kini menjadi tawanannya itu.
Sejujurnya ada sedikit rasa tidak percaya di hati Ricard, karena bagaimanapun ia tahu betul bagaimana bosnya yang tidak mungkin begitu saja mau melakukan hal itu dengan wanita sembarangan, apalagi Zarin yang baru saja mereka bawa.
"Boss, sepertinya kita harus bertindak tegas pada..."
Ssstt!
"Aku sedang sibuk malam ini, kamu bisa mengurusnya sendiri kan? Lagi pula sekarang aku harus pergi, kau urus dan bereskan semuanya dulu, besok semua masalah itu harus sudah selesai, aku tidak mau tahu!" Potong Andreas setelah melirik ke arah jam tangannya, dan kemudian ia bergegas pergi tanpa permisi lagi pada Ricard.
Patuh, ya itulah yang hanya bisa dilakukan Ricard pada Andreas apapun tugas dan pekerjaannya, meskipun tubuhnya juga sudah merasa lelah dan membutuhkan istirahat.
Apalagi Ricard juga tahu jika kepergian Andreas adalah untuk mendatangi Laura yang sempat datang dan memohon agar bosnya itu mau menemaninya malam ini.
"Huh, pasti pergi menemui Laura." Gerutu Ricard lirih, ia memang sedikit tidak suka dengan sikap Laura yang selalu berusaha mengejar-ngejar Andreas.
Ya tentu saja, karena Laura adalah teman dekat Ricard, bahkan sebenarnya Ricard telah memendam rasa pada wanita itu sejak lama.
Hanya saja, hal yang paling menyakitkan untuknya adalah ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya itu pada Laura, apalagi wanita itu kini menjadi partner ranjang bosnya sendiri yang sudah tidak mungkin lagi ia rebut meskipun Andreas hanya menganggapnya sebagai wanita penghibur.
Meskipun merasa sakit hati, namun Ricard sadar bahwa dirinya juga yang salah karena tidak memiliki keberanian untuk berterus terang pada Laura sejak dulu.
Tidak mau berangsur-angsur larut dalam pusaran hatinya yang selalu saja memikirkan Laura, selepas kepergian Andreas, ia juga mulai pergi meninggalkan ruangan itu dan segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk pergi bersamanya menyelesaikan permasalah yang terjadi, karena besok semua permasalahan itu harus sudah selesai.
***
"Akhirnya kamu datang juga, Andreas. Aku sudah menunggumu sejak tadi." Ucap Laura sambil membantu Andreas melepaskan jasnya dan meletakkannya pada sebuah gantungan baju.
Andreas hanya terdiam, bahkan tidak ada senyum yang terukir di sana, dan hal itu sangat berbanding terbalik dengan Laura yang sejak tadi terlihat sumringah menyambut kedatangan pria yang ditunggu-tunggunya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam spesial untuk mu, lihatlah di balkon." Ucap Laura sambil meraih lengan Andreas dan mulai mengajaknya melangkah menuju tempat yang dimaksud.
Hingga hanya berselang beberapa detik keduanya kini telah berada di meja makan kecil, dengan dua piring baked salmon yang disajikan dengan sedikit sayur dan saus serta baked potato, persis dengan makanan kesukaan Andreas yang begitu menggugah selera.
Tanpa ba bi bu lagi, Andreas segera menyantapnya karena ia tidak mau terlalu membuang-buang waktu, apalagi setelah ini ia harus membicarakan soal rencana pernikahannya dengan Zarin pada Rony, meskipun hanya melalui sambungan telepon saja.
Karena ia memang bukan orang yang suka basa-basi, ia juga tidak mau membuang-buang waktu untuk segera memiliki Zarin sepenuhnya.
Memiliki sepenuhnya? Ah tentu saja tidak, bahkan lebih tepatnya adalah untuk melakukan balas dendam secepatnya.
Perlahan menyiksa dan menghabisi kedua orangtuanya dan kemudian membuat gadis itu terpuruk sama seperti apa yang pernah ia alami dulu setelah kedua orangtuanya meninggal, atau bisa juga kebalikannya, ia menyiksa Zarin dulu agar wanita itu terpuruk dan baru menghabisi kedua orangtuanya.
"Apa kau menyukainya? Aku yang membuatnya sendiri spesial untukmu, Andreas." Ujar Laura yang kini sedang menikmati makanannya sambil sesekali melihat ke arah pria tampan pujaan hatinya yang duduk dihadapannya.
Andreas hanya mengangguk, sekali lagi ia memang tidak banyak bicara, apalagi saat sedang berada di depan meja makan.
__ADS_1
Sikap Andreas pun tentunya membuat Laura cukup bahagia, senyum sumringah pun sejak tadi tidak lepas dari bibirnya yang tampak merona malam ini dengan polesan lipstik berwarna merah nyala, sama seperti gaun seksi yang ia kenakan dengan bagian dada cukup terbuka itu.
Sesekali Andreas melirik ke arah Laura karena ia semakin menyadari sikap Laura akhir-akhir ini yang terlalu berlebihan, apalagi makan malam ini.
Sungguh demi apapun, ia tidak ingin jika Laura hanyut dalam perasaan cinta padanya, karena mereka sudah memiliki sebuah perjanjian bersama hanyalah untuk sekedar bercinta saja tidak lebih.
Namun tatapannya kali ini ke arah Laura membuat wanita itu tersadar, hingga tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain.
Entah kenapa tiba-tiba tatapan Andreas tampak menjadi aneh, ia seperti melihat sosok Zarin pada wajah Laura yang sedang tersenyum padanya.
Sial! Wanita itu lagi!
"Aku harus pergi!" Ucap Andreas yang tiba-tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan segera beranjak dan memutuskan untuk pergi.
"A-apa! Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kamu mau kemana? Bukannya kamu sudah berjanji mau menemaniku malam ini dan menginap?" Sahut Laura yang berusaha mengejar Andreas.
Namun pria itu sangat keras kepala, ia tidak terlalu menggubrisnya, ia kemudian meraih jasnya lalu mengenakannya dengan terburu-buru.
"Andreas! Bisakah kamu melihatku sebentar saja! Jawab ucapanku!" Sekali lagi Laura berucap, sungguh ia ingin sekali saja Andreas bersikap manis padanya diluar adegan ranjang.
Andreas kini akhirnya menoleh dan menatap wajah Laura dengan tatapan dingin. "Aku sudah beberapa kali mengatakannya padamu, aku tidak pernah tidur di ranjang yang sama dengan wanita. Aku hanya mau bercinta, jadi tidak ada menginap! Apa kamu benar-benar lupa?"
Sejenak Laura terdiam, ia memang ingat dan tahu aturan itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ia juga merasa bahwa Andreas seperti semakin dekat dengannya, bahkan permainan mereka diatas ranjang pun terasa berbeda semakin hari karena sikap Andreas yang semakin manis saat permainan itu berlangsung.
Dari situlah Laura merasa jika kini mungkin perlahan Andreas mulai membuka hati untuknya sama seperti apa yang ia lakukan pada pria itu.
"Aku harap kamu mengerti ucapanku tadi pagi tentang batasan-batasan kita!" Imbuh Andreas seraya melangkah pergi meninggalkan Laura.
"Tapi And, aku kan hanya..."
Andreas lantas mengangkat salah satu tangannya tanpa berbalik badan sambil terus melangkah pergi seolah mengisyaratkan pada Laura untuk diam dan tidak melanjutkan kalimatnya lagi.
Laura hanya bisa patuh, dia pun hanya diam dan tidak bisa berkutik lagi meski hatinya kesal setengah mati.
Brak!!
"Sial! Aku bersumpah Andreas! Kamu harus bertekuk lutut padaku!" Umpat Laura sesaat setelah membanting pintu dengan cukup keras.
Sejenak wanita itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, dan benar saja hanya dalam hitungan menit ia bisa mendapatkan sebuah ide untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Atau mungkin aku harus hamil agar kamu mau menjadi milikku seutuhnya Andreas? Ya, benar aku harus hamil anakmu!" Imbuh Laura sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis.
***
Rony : Hallo Tuan Andreas, selamat malam.
__ADS_1
Andreas : Aku ingin segera melangsungkan pernikahan dengannya, atur semua dan pastikan hanya ada kau dan istrimu. Tidak ada tamu undangan dan bahkan tidak boleh ada yang tahu pernikahan ini.
Rony : A-apa Tuan? Ah ba-baiklah, akan ku bicarakan nanti dengan istriku.
Andreas : Aku ingin acara itu berlangsung di rumahku. Besok!
Tut....
Sambungan telepon itu diputus begitu saja secara sepihak oleh Andreas, karena ia tidak mau tahu alasan dan jawaban apalagi dari bibir pria yang kini akan ia masukan dalam perangkapnya, yang jelas besok ia ingin pesta pernikahan itu terlaksana secepatnya.
Bahkan kini tanpa ba bi bu lagi, Andreas segera menuju ke sebuah butik terkenal yang juga merupakan langganannya untuk mengambil sebuah gaun pernikahan bernuansa putih sederhana namun masih terkesan elegan dan mewah yang sudah dipesannya tadi sebelum datang ke apartemen Laura.
***
Ceklek...
Grek...
Perlahan Andreas masuk sambil membawa gaun yang semula telah dipesannya itu.
Awalnya ia pikir kedatangannya akan membuat kegaduhan lagi sama seperti apa yang sudah terjadi tadi, namun ternyata ia salah. Wanita yang ingin ia temui malah sudah tidur pulas diatas ranjang dengan pakaian yang sama persis dengan yang dikenakan tadi.
Andreas lantas meletakkan gaun itu disebuah gantungan baju sambil sesekali melirik ke arah Zarin yang sangat terlihat pulas.
Entah kenapa sejak tadi wajah ayu itu selalu terngiang-ngiang dikepalanya, hal itu tiba-tiba saja membuatnya dengan reflek mendekat ke arah Zarin dan kemudian duduk di tepi ranjang secara perlahan.
Dasar wanita aneh! Apa dia memang sudah nyaman di tempat ini, baru beberapa jam tinggal di sini sudah bisa tidur pulas seperti itu.
Namun karena tidak mau terlalu kalut dalam lamunan dan godaan wajah rupawan itu, Andreas lantas membuyarkan lamunannya dan kemudian segera beranjak pergi secara perlahan agar tidak membangunkan Zarin dan membuat kegaduhan di malam ini.
***
"Tuan tuan, gawat! Mempelai wanita mencoba untuk kabur." Ucap seorang wanita sambil tergopoh-gopoh dan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Wanita itu merupakan salah satu asisten rumah tangga Andreas yang sejak tadi membantunya mengurus acara pernikahan sederhana yang akan dilaksanakan di mansion miliknya.
Reflek, Andreas yang baru saja mengenakan setelan jas berwarna putih itu lantas beranjak berdiri. "Dimana dia sekarang!"
"Di luar sana, Tuan."
Dengan cepat Andreas segera beranjak dari tempatnya berdiri dan kemudian berlari ke tempat yang dimaksud.
"Lepas! Hih, lepaskan!" Rengek Zarin yang sudah mengenakan gaun putih panjang yang membalut tubuhnya.
*
__ADS_1
*
*