
Zarin semakin mendekatkan wajahnya ke arah Andreas hingga jarak keduanya kini sangat tipis, bahkan maju sedikit lagi saja wajah keduanya sudah saling bersentuhan, apalagi tinggi keduanya juga hampir sama.
Wanita itu terus mendelik seolah benar-benar menunggu jawaban pria itu dan seperti sedang mengancamnya.
Sungguh kini Andreas semakin dibuat kikuk oleh wanita dihadapannya, apalagi membayangkan pahatan indah lekuk tubuh Zarin tadi. Ah, benar-benar kacau, rasanya membuatnya hampir gila.
Bahkan kini aroma tubuh Zarin mukai tercium dan seolah sedang menggoda indra penciumannya.
Tanpa basa-basi lagi, pria itu sejak tadi hanya terdiam dan tiba-tiba langsung meraih tubuh Zarin dan menjatuhkannya tepat ke atas ranjang empuk miliknya, bahkan pria itu langsung berada di atas tubuh Zarin dan mengungkunginya.
Kini tatapan keduanya yang semula nampak biasa saja berubah menjadi hal yang terasa berbeda, apalagi Andreas cukup menatap mata Zarin dengan lekat hingga membuat wanita itu sedikit kikuk, ditambah nafas Andreas yang semakin memburu dan menyapu wajahnya, hal itu semakin membuat jantung Zarin berdegub kencang seolah hampir melompat dari tempatnya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya, Andreas dengan cepat langsung mendaratkan sebuah kecuupan di bibir menggoda wanita yang ada dibawah kungkungannya itu dan membuat kedua mata Zarin semakin membola karena terkejut dengan aksi Andreas yang untuk kedua kalinya mendaratkan sebuah ciuuman di bibirnya.
Namun kali ini terasa begitu berbeda, karena Andreas seperti benar-benar melakukannya dengan penuh antusias, dan bahkan tanpa sadar perlahan pria itu menjatuhkan tubuhnya hingga menindih tubuh wanita itu.
Kini rasanya Zarin cukup terhipnotis dengan apa yang dilakukan pria itu padanya, ia hanya terdiam sesaat dan kemudian memilih untuk membalasnya dan mulai mengimbangi ciuuman Andreas sehingga bibir keduanya kini saling bertautan.
Tidak sampai disitu, Andreas dengan cepat bahkan dengan cukup kasar segera melepas paksa dan melemparkan handuk kimono yang dikenakan Zarin ke sembarang arah hingga kini pahatan lekuk indah tubuh Zarin yang semula ia lihat di dalam bathub itu kini terpampang lagi dihadapannya.
Sumpah demi apa, Andreas sudah tidak bisa lagi menahannya, apalagi sudah sejak beberapa hari Zarin seperti terus menggodanya dan dirinya juga selama itu tidak mendapatkan apa yang biasanya ia dapatkan dari seorang wanita.
Zarin hanya terdiam, ia seperti pasrah dengan apa yang dilakukan Andreas padanya meskipun setiap sentuhan Andreas terasa begitu kasar.
Pria itu lantas melepaskan handuk kimono miliknya juga dan melemparkannya ke sembarang arah hingga kini keduanya sama-sama tanpa mengenakan sehelai benangpun.
Tidak mau terlalu banyak intro, pria itu lantas menakupkan kedua tangannya untuk menyentuh dua buah benda yang menggantung yang sejak kemarin benar-benar hampir membuatnya gila itu, benda yang selalu terngiang di pikirannya dan seolah membuatnya penasaran.
__ADS_1
Ia mulai memainkannya bahkan dengan begitu kasar, sama seperti apa yang ia lakukan dengan para wanita partner ranjangnya.
Apa yang dilakukan Andreas cukup membuat kedua mata Zarin terpejam menikmati setiap sentuhan pria itu. Bahkan bibirnya secara tidak sengaja melenguh seperti sedang menikmatinya.
"Oh.. And....."
Setelah beberapa menit, Andreas cukup merasa puas dengan hal itu dan segera menuju dari inti permainannya. Ia lantas mengarahkan adik kecilnya yang sempat membuat kedua mata Zarin membola karena ia benar-benar seperti takjub dan untuk pertama kalinya melihat benda itu, dan sebesar itu ternyata menurutnya.
Andreas lantas mengarahkannya ke arah inti tubuh Zarin dan mencoba menerobos dinding pertahanan wanita itu dengan cukup kasar karena begitu menggebu-gebu dan antusias.
"Aaaaa.... Sakit...." Rintih Zarin cukup kencang, sungguh ia benar-benar merasakan sakit luar biasa saat pertama kali Andreas mencoba menerobos dinding pertahannya.
Apalagi saat cairan merah itu seolah pecah saat Andreas berusaha mendorong miliknya semakin dalam, karena ini adalah momen pertama kalinya bagi Zarin melakukan permainan ini dan Andreas lah pria yang berhasil merenggut semuanya darinya.
Andreas terdiam sejenak, kedua matanya yang semula terpejam pun kini mulai terbuka dan menatap lekat ke arah wanita yang ada di bawahnya.
Sebenarnya dalam hati Andreas ia cukup terkejut karena ternyata wanita itu masih memiliki selaput dara, artinya Zarin memang benar-benar bukan wanita nakal seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Keduanya hanyut dalam permainan yang cukup menguras tenaga itu selama beberapa saat, hingga akhirnya Andreas kini telah mencapai puncak penyatuan itu dan terkuai lemah di samping tubuh Zarin. Bahkan karena cukup lelah, keduanya sempat tertidur pulas hingga akhirnya setelah beberapa jam Zarin terbangun dan duduk di tepi ranjang sambil sesekali menatap tubuh Andreas yang masih belum terbalut apapun.
Ia tidak pernah menyangka jika ia akan melakukan hal itu dengan Andreas, namun bayangan permainan pria itu seolah akan selalu terngiang dikepalanya, apalagi itu adalah momen pertamanya.
Zarin lantas menarik selimut itu untuk menutupi tubuh Andreas, dan kemudian beranjak perlahan berjalan meskipun inti tubuhnya masih terasa nyeri dan ngilu, ia meraih handuk kimononya dan bergegas membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi.
Di bawah guyuran shower, Zarin memejamkan matanya sambil menikmati setiap pancuran air yang membasahi tubuhnya sambil membayangkan apa yang dilakukan Andreas beberapa jam yang lalu itu. Sungguh hal itu sungguh memabukkan bagi Zarin.
Namun wanita itu tidak mau terlalu lama di sana, ia kemudian meraih handuknya dan mengenakannya kembali.
__ADS_1
Zarin yang kini sudah kembali ke dalam kamar Andreas pun mengarahkan pandangannya ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 3 pagi.
"Terima kasih And... Kamu memberikan momen yang aku sendiri tidak tahu itu indah atau tidak nantinya untukku." Ucap Zarin lirih sambil menatap ke arah wajah tampan yang kini masih tertidur pulas itu.
Wajahnya Andreas kini terasa begitu menggoda bagi Zarin apalagi jika membayangkan permainan itu dan milik pria itu yang cukup besar, ah jujur saja hal itu bisa membuatnya hampir gila dan bergidik merinding.
Zarin pun lantas mengendap-endap pergi sesaat setelah menatap pria itu sekilas, ia memilih untuk kembali ke kamarnya meski inti tubuhnya masih terasa nyeri, karena ia tahu sepertinya ia tidak bisa tidur malam ini dengan Andreas meskipun keduanya telah melakukan hal itu dan sekarang keduanya seolah benar-benar seperti suami istri seutuhnya.
*
"Hah, apa yang aku lakukan semalam! Bod*h sekali aku!! Sial sial sial! Kenapa aku harus menyentuhnya!! Huh, tapi tidak bisa aku pungkiri aroma tubuh Zarin, bahkan lekuk tubuh dan rasa inti tubuhnya kini melekat di pikiranku! Sial!" Gerutu Andreas sambil bersandar di dinding ranjang dan beberapa kali menyugarkan rambutnya ke belakang.
Ada sedikit rasa penyesalan kini yang hinggap di hati Andreas apalagi kini hatinya tidak bisa dibohongi lagi jika ia benar-benar tergiur dengan kemolekan tubuh istri tawanannya itu sendiri.
tok-tok-tok-tok...
"And, aku masuk..."
Belum sempat Andreas mengeluarkan sepatah kata pun, seorang wanita tiba-tiba saja masuk setelah mengetuk pintu kamar Andreas, padahal pria itu sama sekali belum mengizinkannya masuk.
Andreas menarik selimutnya ke atas untuk menutupi tubuhnya yang masih belum terbalut apapun, ia menatap lekat ke arah wanita yang baru saja masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisikan makanan dan minuman.
"Apa yang kau lakukan di sini!"
*
*
__ADS_1
*