
"Apa?!"pekik Enita. "Baik, akan aku kirim orang ke sana, tetap lah di sana memantau bagaimana perkembangannya, " titahnya, tegas.
"Baik, Mbak tapi jangan terlalu lama ya.. Mbak, " sahut Zen, cemas sambil terus mengawasi.
"kamu, karyawati baru gak punya sopan santun ya! kamu tahu gak, siapa Pak Deri itu?!" ucap seorang satpam dengan nada tinggi.
"Heh! Satpam gila! aku gak tahu dan gak mau tahu!" sahut Ifna, dingin.
"Apa?! kamu pikir, kamu itu siapa berani-beraninya sama Pak Manager!"
"Manager?Manager yang berani menggelapkan uang perusahaan, begitu kan? dan kalian siapa?berani sekali masuk Perusahaan ini tanpa seizin atasan kalian, bagaimana kalau beliau tahu semua itu?hah! "Deri dan lainnya tertawa keras.
"Nona, anda lucu sekali selain Pak Deri dan Pak Rahman selaku Direktur, tidak ada lagi jabatan yang lebih tinggi lagi di sini! apa kau lagi mabuk?" tunjuk seorang pria, meledek.
"Gak usah menunjuk-nunjuk sepertj itu!"balas Ifna, emosi.
"Mengapa? merasa gak senang?!" tanya Deri, mencibir.
"Kalau iya, memang kenapa!" ucap Ifna dengan nada timggi.
"Kurang aj.... "Deri mau menampar tapi, dicegah oleh seorang pria dan memandang Ifna, mesum.
"Hei, sudah,!" cegah Rahman tersenyum nakal ke arah Ifna. "Untuk apa kamu emosi pada wanita? apalagi wanita ini cantik juga. " Rahman mau menyentuh dagu Ifna tapi ditepis oleh Ifna.
"Kurang ajar! berani sekali kau menyentuhku!" hardik Ifna, tak terima.
"Wow.. ternyata, dia punya sikap juga? aku suka itu.Deri dan lainnya tertawa.
"Terus terang saja ya,Nona uang-uang para pegawai rendahan itu kami gunakan untuk bersenana-senang dengan para wanita, " ungkap satpam satu nya dengan tidak punya perasaan.
"Oh.. iya?" celutuk seorang pria dengan beberapa orang menyertainya.
"Mas Dimas? ada apa gerangan tiba-tiba Mas datang, sambut Rahman, ramah.
Sayangnya, Dimas malah mengacuhkannya lalu, membungkuk di hadapan Ifna tentu saja membuat Deri dan lainnya terkejut.
"Maaf, Bu Ifna kami datang terlambat," ucap Dimas dan anak buahnya membungkuk.
"Tidak terlalu telat," sahut Ifna memandang tajam ke arah Rahman dan lainnya. "Dimas, kamu mengenal orang-orang ini?!" tunjuk Ifna, geram.
"Hei.. tidak sembarangan nama Mas Dimas kau sebut! dasar, karyawti baru tak tau diri!" Dimas yang di ambang kemarahan lalu, menampar Rahman dengan keras.
"Mas! apa karena pegawai baru yang tak berguna ini, Mas Dimas tega menampar saya!" protes Rahman, gak terima.
"Diam kamu!" sentak Dimas dengan suara menggelegar.
Lalu menghadap Ifna..
"Maaf, Bu Ifna Rahman ini Adik sepupu saya kalau yang lain, saya gak kenal sama sekali, " jawab Dimas, sopan.
"Oh.. begitu. "
"Heh! Ibu? Pak Dimas, apa anda gak salah? dia itu kan cuma karyawati?" ucap Deri, heran.
__ADS_1
"Jangan sok tahu, kamu! kamu pikir kamu itu siapa? berani-beraninya tidak sopan pada Direktur utama pusat!" hardik seorang pria anak buah Dimas.
"Ha? Direktur utama?!" satpam dan lainnya kaget bukan main.
"Kenapa? gak terima? " sahut Ifna, tajam.
Orang-orang yang berani meleceehkan Ifna itu sekarang menunduk tidak berani manatap Ifna lagi.
"Manager Deri, apa yang ingin kau katakan padaku?" bisik Ifna dengan senyum penuh kemenangan.
Deri hanya terdiam dan menunduk.
"Mengapa, Manager Deri? tadi sepertinya kalian dengan sombongnya menghancurkan harga diriku, sekarang kok malah... "
"Apa, Bu? Deri? Manager?" tanya Dimas, heran.
"setahu kita, Deri itu hanya seorang sopir di Perusahaan ini, Bu, " timpal Rayn, terus terang.
"Oh.. begitu? kalian tahu, dia ini djhadapan para pegawai mengaku kalau dia ini Manager dan berani-beraninya dia mengurangi gaji para pegawai termasuk tukang bersih-bersih dan tukang bangunan!" tunjuk Ifna ke arah Deri.
"Apa?! kurang ajar! sini kamu! " Dimas manarik kerah baju Deri. "Bikin malu saja, kamu itu sejak kapan aku mengajari kamu untuk tidak sopan pada Bu Ifna? dan sejak kapan kamu mempromosikan dirmu sendiri jadi Manager?hah?!"
"Maaf, Pak Dimas kami kira dia itu hanya pegawai biasa, " ucap Deri, memelas.
"Kalau aku tidak menyamar, aku tidak tahu apa yang terjadi dalam Perusahaan milik saya ini?" timpal Ifna.
"Maaf, Bu, " ucap Dimas tak enak lalu, menatap tajam Deri.
"Kalau seandainya Bu Ifna ini benar karyawati biasa, apa pantas kalian memperlakukanya dengan tidak sopan!apalagi tadi kalian malah sempat melecehkannya, jawab!" Deri dan lainnya terlonjak.
"Jangan minta maaf padaku tapi, pada Bu Ifna! "
"Maaf, Bu Ifna. "
"Pantas saja, ya dari tadi aku mencium bau kecurigaan di dalam Perusahaan ini dan kecurigaanku benar ada Manager di Perusahaan ini padahal aku belum mengumumkan posisi Manager di Perusahaaan ini, " ujar Ifna, geram.
"Berani amat ya, kamu membuat posisi kamu sendiri sebagai Manager padahal kamu itu seorang sopir, dapat ide dari mana kamu?hah?!" ucap Dimas, ketus.
"Maaf, Pak ini semua ide dia, " cicit Deri menunjuk ke arah Rahman.
"Oh.. begitu?" seloroh Ifna.
"Rahman, sini kamu!" dengan jalan perlahan Rahman mendekati Kakak sepupunya.
Dengan cepat Dimas menaris tangan Rahman.
"Oh... jadi biang kerok dari semua permasalahan ini adalah kamu sendiri ya? " cetus Dimas menatap tajam.
"Mas, saya bisa jelaskan... "
"Mau menjelaskan apa?hah!" potong Dimas tak sabar.
"Kalian jelaskan saja nanti di kantor Polisi," imbuh Ifna.
__ADS_1
"Apa? Bu Ifna, bisa gak kalau jangan lewat jalur hukum? " cicit Rahman, ketakutan.
"Iya, Bu Ifna kami mohon, maafkan kami. "Satpam dan orang-orang yang entah darimana mulai ketakutan.
"Mengapa? ketakutan ya?tadinya bukannya pegang-pegang tanganku? ayo.. pegang lagi. "Ifna sengaja menyodorkan tangannya.
Satpam dan pria-pria yang membuat Ifna merasa terlecehkan itu menggeleng tak berani lagi menatap Ifna, apalagi menatap mesum ke arahnya.
"Ampun, Bu.. uuu, kami mohon, "rengek Rahman.
"Oh... maaf, gak bisa. " Ifna melipat kedua tangannya di dada, acuh. "Perbuatan kalian sudah tidak bisa ditoleransi lagi. "
"Mas?" Rahman memandang Dimas dengan wajah memelas.
"Apaan?! yang dikatakan Bu Ifna itu benar, perbuatan kalian itu sudah tidak bisa ditoleransi, kamu pantas dapat hukuman karena sudah menipu para pegawai perusahaan ini apalagi sampai menggelapkan gaji mereka. "
"Buktinya sudah aku rekam tinggal kirim ke kantor polisi, " imbuh Ifna, tegas.
"Iya, Bu. "
"Dan kalian semua, lewat jalur apa kalian sembarangan masuk Perusahaan cabangku ini?! jawab!" sentak Ifna keras.
Satpam itu dan lainnya sama seperti Deri menunjuk ke arah Rahman.
"Ini semua ide Pak Rahman, Bu. "
"Terus, bagaimana cara kalian membayar hutang kalian pada mereka?!hah!" tanya Idris, keras.
"Uang-uang itu.... "
"Aku gak mau tahu ya, pokoknya bayar hutang-hutang kalian pada mereka!kalau tidak, aku seret kalian pada jalur hukum termasuk kamu!" tunjuk Ifna ke arah Rahman, tajam.
Rahman pun terduduk lemas.
"Dimas, besok kamu pecat dia!" Rahman kaget.
"Gak usah nunggu besok, Bu sekarang juga bisa, " sahut Dimas.
"Bagus, jadi besok sudah gak ada lagi kuman di Perusahaan ini. "
"Oh.. iya, sopir itu kamu pecat sekalian!" Ifna menunjuk ke arah Deri, Deri pun terhuyung.
"Makanya, Mas kalau sudah punya pekerjaan itu disyukuri kalian malah menggunakannya dengan cara licik dan kotor, " celutuk Jared berdecak.
"Buat kalian semua! siapa kalian! keluar kalian dari Perusahaanku atau kalian... "
"Ba... baik, Bu kami akan keluar. " Satpam gadungan dan lainnya langsung ngacir lari ke segala arah.
Saking buru-burunya ada yang terjatuh, Rayn dan lainnya hampir saja menertawakan kelucuan itu tapi, Ifna mencegahnya.
"Sudah, tidak usah ditertawakan!"cegah Ifna masih ada perasaan tidak tega.
"Pa, hari ini Efron akan mengadakan perjalanan bisnis ke London, gak lama kok cuma dua hari saja, "ungkap Efron sambil memasuk kan baju-bajunya ke dalam koper besar dan mewah warna hitam. sambil menatap sang Ayah.
__ADS_1
"Kalau kamu pergi ke London, siapa yang menjaga Perusaan Papa?" tanya Hadi, cemas.
Bersambung..