Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Kejahatan di Balik Samaran 2


__ADS_3

"Hmm... gak apa-apa sih, cuma.... "Efron sejenak berhenti bicara dan menatap datar wajah pria itu yang memandangnya sinis.


"Cuma apa?" ejek pria itu tersenyum miring.


Efron tak terpengaruh oleh tatapan mengejek pria penuh drama itu sebaliknya dia malah menanggapinya dengan dingin.


"Cuma kau dan komplotanmu itu adalah orang-orang tidak berguna penuh drama!" tunjuk Efron, tajam.


"Maksudmu?!" Lelaki itu mulai naik darah.


"Ups.. aku kelepasan," ucapnya dalam batin.


"Eits... maaf, Bro. Saya memang suka asal kalau bicara," ralat Efron. "Duh... Efron, kenapa sih mesti lupa? kali ini kan kamu sedang bermain drama juga dengannya," makinya pada diri sendiri.


"Oh.. baiklah tapi, setidaknya kau berikan dulu aku jaminan," ujar pria itu meminta syarat.


"Jaminan?" ulang Efron. "Jaminan apa maksud, Mas?" Efron pura-pura bodoh.


"Ya... seharusnya kau tahu apa itu?" geram lelaki itu, jengkel.


Efron menggeleng dengan wajah dibuat sepolos mungkin. "Bagaimana dengan aktingku? aktingku lebih bagus dari pada kamu kan?" ledeknya dalam batin.


"Hmm.. sepertinya dia sangat polos bisa nih aku gunain kepolosannya," gumamnya dalam hati terkekeh.


"Jaminan mutu maksud, Mas. Gitu ya?"tebak Efron pura-pura tidak tahu.


"Aduh nih anak!" gerutu pria itu kesal.


"Kenapa? kesal ya? dapet lawan main yang seimbang," sinis Efron dalam batin. "Mau malak aku ya? jangan harap aku memberikannya padamu!kerja dong yang bener bukan minta dikasihani tapi malah merampok," gerutunya dalam hati, kesal.


Sang oria yang entah siapa namanya, menarik napas kesal.


"Maksudku jaminan uangmu lah!masa jaminan mutu?emang saya lagi jualan jamu, apa!" bentak lelaki itu.


"Ya.. kali aja selain nipu Mas nya juga jualan jamu," sahut Efron menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari pura-pura nyengir kuda.


"Enak aja!" semprot pria itu tidak terima.


"Biasa aja kali, Mas. Gak usah nge gas gitu, tar cepet keriput lho," sahut Efron, santai. Wajahnya masih dibuat sepolos mungkin.


"Kamu yang bikin saya marah!"protes si pria penipu itu berang.


"Salah sendiri siapa suruh nipu?" umpat Efron dalam hati, jengkel.


"Serahkan uangmu, sekarang juga!"pria itu tidak sabar.


"Tenang aja, Mas. Saya punya." Efron merogohkan kantong celananya. "Aku kerjai kau!" gumamnya dalam hati, terkikik.


Beberapa menit kemudian...


"Nah.. …ini dia, ini Mas uangnya. Efron menyerahkan lima ratus perak.


"Ha! kau menyerahkan ku uang lima ratus perak?kau pikir saya mau minta jajan apa?"


"Oh.. kurang ya, Mas?"


"Ya... iyalah!"


"Baik, ini. "


Efron sengaja mengerjai pria picik itu dengan menyerahkan uang dua ribu.


"Apa lagi uang segini?"pria itu semakin kesal.


"Buat jajan cilok lumayan itu, Mas," jawab Efron menatap datar wajah amarah pria penuh drama itu. "Emang enak dikerjain?" batinnya, bersorak.

__ADS_1


"Ugrh……hhhhh!"


Emosi pria penuh drama itu sudah berada di puncaknya.


"Kenapa, Mas? kesurupan?"


"Urgh.... hhhhh!baru kali ini ada korban yang membuatku emosi!" jeritnya dalam hati, jengkel.


"Berisik!" bentak pria itu lantang. "Kau pikir saya memintamu uang jajan apa!"


"Ya.. kali aja!"


"Apa?!"


"Jadi berapa dong?" Efron pura-pura. menyerah pria itu pun tersenyum penuh kemenangan.


"Rpxx.xxx juta!" sebutnya tanpa perasaaan.


"Hah? sebanyak itu?" Efron pura-pura kaget.


"Ya... iya lah," sahutnya sambil memutar bola matanya... Malas.


"Aduh……Mas, uang sebanyak itu mana saya cukup. Gaji saya dalam sebulan aja belum cukup mengumpulkan uang sebanyak itu," keluh Efron dalam kepura-puraannya.


"Saya gak peduli ya!serahkan uang itu sekarang juga!" paksanya.


"Uang dari mana, Mas?saya gak punya sama sekali."


"Apa ada ATM?"


"Boro-boro uang ATM aja saya gak punya, Mas. Bagaimana dong?"


Pria itu mencibir dia melangkah mendekati Efron dengan wajah ingin menyerang terbukti di tangannya ada pisau lipat bersiap ingin membunuh Efron.


"Jadi kau ingin melawanku?" ucapnya, pelan. Namun, tajam.


Efron pura-pura mundur dengan wajah dibuat pucat pasi.


Beberapa detik kemudian...


"Arghhh……!" Sebuah jeritan keras menghujam bumi Bintara.


Ya... pria itu ingin menusuk Efron dengan pisau yang dipegangnya, Efron pun tak tinggal diam yaitu menangkis serangan pria itu dengan memilintir tangannya hingga pisau nya terjatuh.


"Kurang ajar!jadi kau.... "Pria itu kaget dapat korban yang dapat mematahkan serangannya sekaligus dongkol.


"Aku? ada apa denganku?" Efron menatap tajam balik pria berwajah seram itu.


"Kurang ajar, kau!" pria itu marah karena merasa ditipu oleh Efron. "Kalian semua!balaskan dendamku" pekiknya, kesal.


Lalu datang lah pria-pria menyeramkan yang berjumlah kira-kira enam atau tujuh orang menatap Efron tajam dan ingin menyerang.


"Oh.. cuma segini jumlah orang-orangmu?" ejek Efron.


"Kau berani melawan kami?!"


"Aku tidak berani tapi mereka berani, kalian semua maju lah!"


Para pria yang pura-pura nongkrong itu berdiri menghampiri sang Bos para pria yang tak terhitung jumlahnya.


"Bagaimana, Mas? apa kalian ingin menyerang kami dengan jumlah lebih banyak dari kalian?"


"Kalau iya, bararti kalian ingin mencari mati," imbuh Aswan.


Efron tersenyum miring lalu menghampiri laki-laki yang berpura-pura buta itu dan mendekati telinganya.

__ADS_1


"Kau pikir, aku gak bisa main drama seperti kalian?" bisiknya, tajam. Lalu mendorong keras pria itu yang menatapnya kaget.


"Kalian semua, kepung mereka jangan sampai ada yang lolos!" perintah Efron dengan suara lantang.


"Baik, Tuan."


Para pria berwajah sangar itu menjadi ciut dan ketakutan.


"Jika mereka nekat ingin menyerang, bunuh saja!" imbuhnya, keras.


"Siap, Tuan. "


Efron pun dengan santai berjalan seiring datangnya gerombolan para polisi datang.


"Angkat tangan!"


"Anda tidak kenapa-napa kan, Tuan?" tanya Hendra, cemas.


"Seperti yang kalian lihat," jawab Efron, santai.


"Syukurlah, anda tidak apa-apa, Tuan. "


Selain komplotan pria pura-pura buta itu komplotan lainnya yang penuh drama itu juga berhasil ditangkap oleh para pihak berwajib.


"Setelah ini kita kemana, Tuan?"


"Langsung ke Perusahaan aku ingin memantau nya setelah sekian lama aku meninggalkannya."


"Apa keduanya, Tuan?"


"Iya, kedua nya. "


"Baik, Tuan. Silakan anda masuk. "


Di tempat lain...


"Zachry, sepertinya motor kamu terlalu klasik deh," kekeh Siena sambil membantu Zachry mendorong motornya yang mogok.


"Terlalu klasik apa jelek?" balas Zachry, meledek.


Siena pun tersenyum malu.


"Akh... hhh, wajah malu-malu itu sangat menggemaskan," gumam Zachry dalam hati antara gemas dan senang.


"Bagiku motormu sangat unik."


"Bagimu iya, bagi mereka motorku ini jelek dan rongsokan lebih baik di kilo in gitu sarannya," sahut Zachry tertawa samar.


"Akh.. hhh, gak usah dengar kata mereka, mereka kan hanya iri sama kamu karena gak punya motor," hibur Siena sekaligus menenangkan.


"Iya, sih. Maaf ya aku sudah menyusahakanmu," ucap Zachry tak enak.


"Menyusahkan apanya?jangan bilang gitu lah!anggap saja ini adalah olah raga. "


Zachry tersenyum puas...


Beberapa jam kemudian...


Sebuah mobil mewah berhenti mendekati mereka apalagi kalau bukan mobil Porche yaitu mobil mewah keluarga Zachry.


Seorang pria tampan dengan gaya modis turun dari mobil mewah itu dengan melepaskan kaca mata hitamnya bak model iklan dan tersenyum ke arah Zachry.


"Bagaimana?apa sukses?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2