
"Suatu saat, kamu akan tahu siapa dia, "imbuh Dokter Justin, tersenyum misteri.
"Saya masih penasaran, Dok,"ungkap Rilan.
"Sudah, gak usah terlalu dipikirin yang penting kamu sudah sembuh kan? " sahut Dokter Justin, tenang.
"Bagaimana gak terpikirkan, Dok?"jerit batin Rilan.
Rilan megempaskan napasnya, agak panjang kira-kira dua senti.
"Ya.. sudahlah, Dok siapapun dia, saya mau ngucapin terima kasih dan kirim doa agar dia dapat ketenangan di alam sana, maaf saya gak bisa kasih bantuan apa-apa hanya bisa kasih bantuan doa suatu saat saya akan berkunjung ke makamnya," ucap Rilan.
"Gak apa-apa, Rilan." Dokter Justin tersenyum, miris. "Oh.. iya, maaf saya sibuk dulu,"pamit Dokter Justin, kemudian.
"Iya, Dok saya juga mau pulang nih, maaf ya mengganggu privasinya, "balas Rilan.
"Gak kok kebetulan tadi aku memang lagi gak ada pekerjaan."
Setelah saling berjabat tangan, Dokter Justin mengantar Rilan sampai keluar ruangannya.
Beberapa jam kemudian...
"Siapa ya?menyayangiku?Wulan?gak mungkin. "Rilan menggeleng kencang. "Aku tahu, dia yang membawa dan menungguku saat aku di operasi, apa mungkin Seina?hmmm.. kayaknya, gak mungkin deh dia kan benci aku!wajar sih kalau dia masih menyimpan benci padaku karena, aku lah yang memulai peperangan itu ya.. sudah lah, suatu saat aku akan minta maaf padanya sekaligus melamarnya, atau memang benar Wulan yang melakukannya? sebab dari tadi pagi aku tidak melihatnya sama sekali, aduh.. jadi bingung deh, "gumam Rilan, frustasi.
"Sayang, aku tahu kamu terpukul akan kepergian Adikmu, aku pun turut berduka cita," ucap Nifa, lembut.
"Sampai sekarang aku masih terpukul, sayang dan masih belum percaya Adik yang aku sayangi begitu cepat dipanggil Tuhan," sahut Neoland, terisak diiringi usapan lembut sang Istri.
Melihat keadaan Suaminya, Nifa seperti melihat masa lalunya di mana orang yang menjadi cinta pertamanya yaitu sang Ayah meninggal karena stroke meninggalkan sang Ibu, Abang, dan dirinya lalu, beberapa tahun kemudian Ibunya pun menyusul sang Ayah karena penyakit gula darah yang dideritanya.
Abangnya, Elard sekarang ini sedang berada di Pekanbaru bersama dengan keluarga kecilnya, Anaknya pun sudah mau tiga.
Nifa membiarkan suaminya mengeluarkan segala emosinya dan segala kesedihannya, dia pun menarik kepala sang Suami ke dalam dadanya, Neoland membalasnya lalu dia pun menangis di dada sang Istri.
Dejavu, kejadian yang sama terulang lagi yakni di saat sang Ayah meninggal dia menangis di dada sang Ibu dan Ibunya membelai rambut hitam dan agak panjang milik Nifa, lembut begitu sang Ihu meninggal Elard mendekap Nifa dengan hangatnya dan Nifa pun menangis keras di dada sang Abang.
Walau begitu mereka tidak sendiri masih ada Adik sang Ibu namanya Om Nursan dan Istrinya Tante Gilsa memiliki Anak bernama Zerhan yang baru saja lulus kuliah dan dapat nilai tertinggi di kampusnya.
Adik Sepupunya kini kabarnya sudah diterima kerja di Perusahaan yang bergerak di bidang Asuransi jiwa sebagai Manager.
Flashback on..
"Entah, aku juga gak tahu mengapa aku dijadikan Manager oleh atasanku, Mbak," ungkap Zerhan sekaligus curhat.
"Mungkin dia melihat prestasimu sangat bagus juga semangatmu begitu tinggi itulah alasan mengapa atasanmu langsung menerimamu jadi Manager, tidak semua pekerja seberuntung kamu, Han dapat posisi yang tinggi, Manager lagi," puji Nifa, bijak.
"Iya sih, padahal keinginanku adalah diterima kerja di sana jadi Ob, dari bawah dulu karena biar aku merasakan rasanya jadi OB eh... malah keterima jadi Manager," kekeh Zerhan.
__ADS_1
"Syukuri saja lah, pekerjaan apapun yang kamu dapatkan asalkan kamu sungguh-sungguh dalam bekerja dan tidak boleh lupa daratan," pesan Nifa mencolek hidung Zerhan... Gemas.
"Iya, Mbak sudah pasti itu dan semoga gak lah ya. "Zerhan bergidik.
Nifa pun tertawa kecil.
Flashback off..
Terbukti benar, ternyata walau sekarang sudah menjadi sekretaris Maxel Aryaguna sang atasan tidak melupakan kedua orang tuanya bahkan seringkali dia mengirimkan semua gajinya kepada Orang tuanya.
Menurut lelaki tampan berusia dua puluh dua tahun itu kedua orang tuanya adalah semangat hidupnya mereka selalu memberi perhatian kepadanya sesibuk apapun mereka tak pernah sedikit pun dia mendengar kedua orang tuanya bertengkar hebat.
Baginya, kedua orang tuanya adalah contoh tauladan.
Dan bagi Nifa, Nursan dan Gilsa adalah Orang tuanya yang kedua sekaligus pengganti kedua orang tua mereka yang telah tiada.
Karena Paman dan Bibi nya lah mereka menjadi orang-orang yang sukses.
Sekarang ini Elard sudah menjadi pemilik Perusahaan Binowo bergerak di bidang interior ruangan suatu rumah ataupun bangunan lainnya di Rumbai.
Binowo diambil dari nama belakangnya yaitu Elard Binowo, Binowo juga adalah nama depan dari Almarhum sang Kakek.
Sedangkan sang Istri hanya lah Ibu rumah tangga yang baik dan cerdas juga intelektual.
Sebenarnya, sebelum menikah dia bekerja di suatu Perusahaan, entah apa namanya?setelah menikah, dia memutuskan untuk berhenti karena baktinya kepada sang Suami.
Diam-diam Nifa melihat keadaan sang Suami yang sudah tidak lagi menangis, posisi Neoland masih dalam pelukan Nifa.
Setelah di telusuri keadaannya....
"Astaga! dia tertidur!ngorok pula!" batinnya, kaget lalu menggeleng.
Perusahaan Zaxin.
"Ambilkan aku air! aku haus!"perintah seorang lelaki partner kerjasama Mahmud, seenaknya.
" Baik, Pak, "sahut Hanif, sopan sambil membungkuk.
Sebelum berlalu...
"Gak pakai lama ya!" imbuhnya, tajam.
"Iya, Pak. "
Beberapa menit kemudian...
"Ini Pak, minuman yang Anda pesan," tawar Hanif, pelan sambil menyerahkan air mineral kepada sang tamu.
__ADS_1
Tiba-tiba kejadian yang seharusnya tak ada menimpa, air minum yang akan diberikan oleh Hanif tertumpah di kemeja Firham nama dari partner kerja sama Mahmud yang ternyata tersenggol oleh tangannya sendiri.
"Aduh.. maaf, Pak saya tidak sengaja," sesal Hanif sambil mencoba mengeringkan baju Firham dengan tisyu.
"Maaf... maaf, apa kau sengaja mencari masalah denganku?hah!" sentak Firham,tajam lalu menyiram air mineral itu ke wajah tampan Hanif.
Hanif pun mengusap wajahnya yang sudah terkena siraman air dengan hati yang perih.
"Mengapa?kamu gak terima?" cibir Firham.
Beberapa menit kemudian..
"Ada keributan apa ini?!" teriak Mahmud, lantang.
"Pak Mahmud, kebetulan Anda sudah datang. "
"Ada apa sebenarnya, Pak Firham?karena, saya mendengar ribut-ribut di ruangan ini. "
"Anda tanyakan saja langsung pada sekretaris Anda, apa yang dia lakukan pada saya?" Mahmud mendelik ke arah Hanif.
"Jelaskan apa yang kau lakukan pada partner kerjaku?!" tanya Mahmud dengan intonasi rendah tapi, tajam.
"Maaf, Pak saya tidak sengaja menumpahkan air di baju Pak Firham," ucap Hanif, penuh penyesalan.
"Bagaimana kamu bisa seceroboh ini?!minta maaf sana, sama Pak Firham!" perintah Mahmud.
"Pak Firham, saya minta maaf ya, saya tidak sengaja," ucapnya sungguh-sungguh.
"Maaf saja tidak cukup!" ujar Firham.
Mahmud yang mengerti maksud Firham pun menyerahkan segepok uang jutaan rupiah.
"Cukup untuk mengganti baju yang basah?" tanya Mahmud.
"Tentu saja, ini lebih dari cukup, Pak Mahmud," ucapnya, bahagia.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Mahmud, lega. "Sudah puas kan?" Firham mengangguk kencang.
"Uang untuk membeli baju Anda yang baru sudah saya serahkan, sekarang giliran Anda meminta maaf pada anak buah saya," pinta Mahmud, tegas.
"Apa?!"
Bersambung...
Rilan
__ADS_1