Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Kejahatan di Balik Samaran 1


__ADS_3

"saya mendapat info dari luar bahwa ada segerombolan mafia yang meresahkan masyarakat terutama warga Bintara, " jawab Hendra.


"Kurang ajar! itu kan termasuk wilayah kekuasaan kita, terus……kejahatan apa yang mereka lakukan?" selidik Efron, geram.


"Mereka melakukan pemalakan pada masyarakat dengan cara menyamar berbagai profesi," tukas Hendra.


'Bra... aaaak!'


"Apa?! ini semua tidak boleh dibiarkan!"ucap Efron dengan suara lantang.


"Jadi, apa yang akan anda lakukan, Tuan?"


"Pertama, kamu cari info di mana mereka beraksi?"komando Efron.


"Siap, Tuan," sahut Hendra, membungkuk.


Beberapa menit kemudian..


"Tuan, saya sudah menemukannya, "info Hendra.


"Baik, mereka ada di mana sekarang?"tanya Efron, tegas.


"Mereka saat ini berada di jalanan dengan menjadi pedagang, pengemis, bahkan berpura-pura menjadi orang buta dan lumpuh."


"Ck.. benar-benar tidak tahu malu orang-orang itu," desis Efron, menggeleng.


"Iya, Tuan. Intinya, cara kerja mereka adalah menjadi orang yang pantas dikasihani setelah sang penolong memberi bantuan tiba-tiba mereka menodongkan senjata dan memaksa sang korban untuk memberi mereka uang yang jumlahnya bisa membuat dompet mereka bengkak." Hendra menjelaskan dengan detail.


"Bagaimana kalau sang korban tidak memberikannya?"


"Mereka akan dibunuh, Tuan. Sudah banyak korban yang terbunuh atau masuk Rumah Sakit."


"Astaga! sekejam itukah mereka?" pikir Efron, geram.


"Ini benar-benar kejam dan tidak masuk akal," tukasnya menatap sang ajudan.


"Jadi apa yang anda lakukan,Tuan?"


Efron berpikir sejenak dan senyum misteri tersungging di bibirnya.


"Baiklah, antarkan aku ke sana. Aku akan menyamar sebagai sang penolong," usul Efron, tersenyum miring.


"Siap, Tuan. "


"Jangan lupa bawa anak-anak ikut serta bersama kita."


"Baik, laksanakan. "


Di Bintara.. .


Setelah seorang wanita menyeberangkan jalan lelaki buta, tiba-tiba…


"Hah!jadi kamu, hanya berpura-pura buta?!" pekik wanita itu kaget.

__ADS_1


"Berisik!"sahut lelaki itu dengan suara lantang."Kalau iya memangnya kenapa, wanita tua?" cibirnya.


"Kau... "


"Ya, ada apa denganku?masalah kah bagimu!" wanita itu menggeleng.


"Tidak, saya tidak bisa menerima semua ini akan saya laporkan kamu pada polisi," tukas wanita itu gugup.


Dengan tangan gemetar dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Silakan, laporkan saja, kau... tidak punya bukti yang kuat untuk melaporkanku!tunjuk lelaki itu mengejek. "Apa kau ingin mencari mati?" bisik lelaki itu lembut tapi tajam.


Wanita itu terjengkit, kaget.


"Astaga!"


Sang pemalak mencebik kan bibirnya memandang angkuh wanita itu dari atas hingga ke bawah.


"Jadi apa yang kau mau?" lirih wanita itu menyerah.


"Kalau kau ingin selamat, serahkan uang Rp xxx. xxx juta padaku!"


"Apa?Rpxxx.xxx juta?" ulang wanita itu, kaget.


"Iya, mengapa?gak mau?"


"Bu.. bukannya saya gak mau, uang dengan jumlah segitu saya justru tidak punya."


"Jadi, kau ingin mencari mati?!hah!" ucap lelaki itu lantang menodongkan pisau kecil ke leher wanita itu.


"Aku tidak mau tahu bagaimana kau mendapatkannya!yang aku ingin uang itu ada di depan mataku, sekarang!"


Masalahnya saat ini saya belum punya, Mas. Bagaiamana dong?"


"Arghhh!" teriak lelaki itu, frustasi. "Apa kau punya ATM?"


"Apaan tuh.. Mas?"


"Hah! kamu gak tahu apa itu ATM?"sang pemalak kaget diseertai gelengan lemah sang wanita.


"Saya benar-benar gak tahu, Mas. Apa itu ATM?sejenis struk belanja kah!" tanyanya, polos.


"Astaga!" rutuk si lelaki perampok itu, kesal. Sembari menepuk jidatnya.


Karena di antara para korbannya yang lain baru pertama kali bertemu korban yang entah berasal dari planet mana?kalau dikatakan orang kampung saja mungkin wanita ini lebih dari orang kampung sedangkan sebagian orang kampung saja dapat mengenal apa itu ATM walau mereka belum tahu cara penggunaannya.


"Ya.. sudah, kalau kamu tidak punya. Kalau gitu serahkan cincin d jarimu itu!"


"Maaf, Mas. Saya tidak bisa karena cincin ini menyatukan saya dan suami saya dalam ikatan pernikahan."


"Apa kau ingin melawanku?" teriak lelaki, histeris menodongkan mata pisau itu ke leher sang wanita yang tentu saja wanita itu samakin ketakutan.


"Eng……enggak kok, Mas, saya mana berani."

__ADS_1


Saat ini lelaki sang pemalak dan wanita itu berada di tempat yang sepi pun juga sengaja dipilih oleh lelaki picik yang pura-pura buta itu.


Sayangnya, sang wanita alias si penolong tak menaruh curiga sedikit pun pada lelaki curang itu bahkan dia tidak curiga saat lelaki itu memanggilnya dengan sebutan"Mbak."


Padahal wanita itu tidak bersuara sama sekali dan jarak mereka juga berjauhan.


"Apa kau ingin Suamimu melihatmu sudah menjadi mayat!" sentaknya dengan ancaman.


"Ba.. baik kalau itu maumu tapi, tolong jangan sakiti saya." wanita itu memohon dengan suara memelas sembari mencabut cincinnya dengan rasa berat hati di jari manisnya.


Di tempat yang sama...


"Baik, aku akan menerima tantangan kalian untuk bermain dalam sebuah adegan drama," desis Efron, memiringkan bibirnya lalu, melipat kedua tangannya di dada.


Aswan dengan sigap membuka pintu mobil bagian belakang untuk majikannya.


Setelah itu....


"Kalian di sini saja dulu kalau belum aku perintahkan jangan menyerang terlebih dahulu, mengerti?"


"Baik, Tuan. Kami mengerti."


"Bagus."


Setelah. mendapatkan yang dia mau kembali pria itu pada dramanya yang berpura-pura buta tak lupa kacamata hitam dipasang agar terlihat buta sungguhan.


"Mau cari korban lagi, akh!" serunya penuh kemenangan.


Beberapa menit kemudian...


Pria yang pura-pura buta itu sedang berada di trotoar berpura-pura ingin menyeberang sedang Efron yang berada agak jauh darinya sengaja tidak bersuara.


"Mas," panggil pria itu.


"Hah?dari mana dia tahu kalau aku ini laki-laki?bukannya tadi aku gak bersuara?wah.. semakin curiga nih," desis Efron dalam batin.


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"sahut Efron pura-pura polos. "Iya.. bantuin kamu bermain drama," batinnya terkekeh.


"Saya mau nyeberang nih, bisa gak bantuin saya menyeberang?kedengarannya kendaraan yang lalu lalang rame banget saya pun tidak bisa melihat, jawab lelaki itu pura-pura menghentakan tongkatnya ke segala arah.


"Oh.…baiklah," sahut Efron, cepat sambil pura-pura memegang tangan pria yang penuh dengan drama itu.


"Wah.. terima kasih ya,Mas," ucapnya, antusias. "Wah beruntungnya aku bertemu kembali korban yang ke dua puluh kalinya atau ke….akh, tau lah!aku sudah lupa," batinnya, girang.


"Buta apaan?buta hati kali ya!orang buta kok bisa tahu ada orang di sekitarnya dan tahu dia laki-laki atau perempuan padahal dia tidak bersuara?lihat saja bagaimana aku menjebakmu wahai lelaki penuh drama dijamin kau dan komplotanmu yang penuh drama juga itu tidak berkutik, enak aja kalian menginjak-injak wilayah kekuasaanku!"batin Efron, geram.


Setelah sampai tujuan...


Lelaki yang pura-pura buta itu tiba-tiba melempar tongkat dan kacamatanya dengan senyum misteri menatap Efron yang pura-pura kaget.


"Jadi kamu hanya berpura-pura?"tanya Efron pura-pura tidak tahu kalau dirinya ketipu. "Aku tahu kau bakal menipuku, baik akan kulayani kau berperan dalam drama," cercanya dalam batin.


"Iya, kenapa?" sahut lelaki itu dengan wajah penuh kemenangan karena sudah dapat korban untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2