Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Buat Ulah.


__ADS_3

sang Asisten pun mengungkapkan bahwa ada yang buat ulah di Perusahaan cabang.


"Bukan hanya berani mengganti peraturan dia juga berani memberikan posisi pada keluarganya, Pak," ungkap sang Asisten.


"Apa?! " pekik Zachry, lantang.


Bra.... aaaaak!


Sang Asisten pun terlonjak, kaget. Baru pertama kali dia melihat bos nya semarah itu padahal selama ini bos nya jarang marah.


Untungnya mereka berada di ruang pribadi Zachry yang kedap suara.


"Kurang ajar! berani-beraninya dia bermimpi jadi Dewa! apa hak nya mengganti peraturan yang sudah ditetapkan di sana!"pekik Zachry, lantang sekaligus kesal.


"Lantas apa yang harus kita lakukan, Pak?" Zachry menatap datar sang Asisten.


"Aku akan menyelidikinya," putusnya, kemudian.


"Apa perlu saya antar Pak?" tawar sang Asisten.


"Tidak perlu!" jawab Zachry, tegas.


Efron dengan tenang menghadapi segerombolan pria yang katanya adalah Direktur yang Efron tertawa adalah mengaku sebagai pemilik Perusahaan Derafa.


"Hai... ngapain ketawa!gak ada yang lucu, tahu!" bentak seorang lelaki, keras.


"Pemilik Perusahaan Derafa ya?" ulang Efron menyisakan tawa.


"Ya.. iyalah, siapa yang tjdak kenal Perusahaan terkernal di seluruh Nusantara dan aku lah pemiliiknya, "jawab pria itu dengan congkaknya.


"Pemilik? pemilik dari mana? apa mereka gak tahu berhadapan dengan siapa?heh! awas ya, akan kukerjai kalian!" rutuk Efron dalam hati.


"Dan aku lah Direkturnya," sambung pria kedua diiringi tawa keras berjama'ah.


"Oh... hebat dong!" puji Efron mengacungkan jempol. "Ndasmu!" rutuknya, jengkel.


Semakin sombong lah mereka, mereka pun semakin membusungkan dada.


"Jelas dong. "


"Akan aku tunggu sampai mana batas kesombongan kalian?" batin Efron tersenyum misteri.


"Lalu, kamu. Apa kamu tahu Perusahaan tersebut?pasti gak tahu kan?ha.. ha... ha.. aaa. "Tawa mereka meledak bagai bom yang meledak di J. W. Marriot dan Jimbaran.


"Aku tahu," tanggap Efron, cepat. Mereka pun menghentikan tawanya, melongo menatap Efron.


"Penampilan sepertimu bisa tahu Perusahaan terkenal seperti itu?" tanya pria ketiga, tidak percaya.


"Ya, karena aku bekerja di sana," jawab Efron, tenang.


"Alah... palingan dia tukang bersih-bersih," sanggah pria keempat, mencibir.


"Kalau gak tuh satpam," sambung pria kelima yang diiringi tawa teman-temannya.


"Kalau jadi tukang bersih-bersih mengapa?lagipula pekerjaanku lebih mulia daripada kalian yang mulutnya tidak pernah dibersihkan!" tunjuk Efron, sengit.


Mereka tidak sadar kalau mereka berhadapan dengan sang pemilik Perusahaan.


Sebenarnya, mereka adalah pelamar kerja yang akan melamar di Perusahaan miliknya karena berbagai nasib.


Ada yang orang tuanya berada di Rumah Sakit hingga dia harus membayar operasi kalau tidak, operasinya ditunda dan ada yang berhutang dengan seseorang yang berjumlah jutaan rupiah.


Perlu diketahui mereka itu rekomendasi Reno yang kebetulan teman di saat bermain dulu.


"Maksudmu apa?!hah!" sentak pria keenam dengan suara bagai petir di siang bolong.

__ADS_1


"Kenapa?tersinggung?" cibir Efron melipat kedua tangannya dan meletakannya ke dalam dada.


"Kau... "


"Asalkan kalian tahu, aku sangat mengenal Direktur dan pemilik Perusahaan tersebut. "


"Siapa memangnya?" ejek pria ketujuh.


Efron tetap tenang dan berusaha tidak emosi.


"Apa mungkin kamu?" sindir pria kedelapan.


"Ya... gak mungkin lah! secara, lihat saja penampilannya siapa sih yang percaya kalau dia itu pemilik Perusahaan. "


"Terserah deh kalian bicara apa?pastinya pemilik dan Direktur Perusahaan itu bukan lah kalian, apa kalian hanya mengaku saja?"


"Kurang ajar! siapa kau berani mengajari kami, hah!" Salah di antara mereka pun naik pitam.


"Aku?kamu tanya, siapa aku?"tunjuk Efron pada dirinya sendiri. "Aku hanya lah seorang bersih-hersih yang mau membersih sekumpulan orang seperti kalian!" ketusnya.


"Kau berani ya!" ketus pria kedelapan sengaja menyenggol lengan Efron.


"Kalian pikir aku tidak berani?!" balas Efron, sengit.


"Oh.. kau ingin mencari mati rupanya?teman-teman!hajar tukang kebersihan yang mulutnya kurang ajar ini!"


"Perusahaan ini, aku lah peraturannya!" tunjuk seorang lelaki muda pada dirinya sendiri, dengan sombongnya.


Zachry tersenyum miring..


"Oh.. iya?" cibirnya. "Maksudmu, peraturan nenek moyangmu?sejak kapan ada aturan di sini yang diharuskan membayar denda untuk hal yang tidak penting. "


"Tidak penting, katamu?helo, kamu orang baru?perlu kamu ketahui ya, pemegang kekuasaan di sini adalah Abangku. Dia adalah Direktur utama di Perusahaan ini. "


"Aku? Manager lah ya!"


"Oh... jadi, kalian sekeluarga jadi penguasa Perusahaan ini? "


"Iya, dong, "jawab pria itu seenaknya.


"Berarti kalian bisa seenaknya merubah peraturan yang sudah ada di Perusahaan ini, dapat keberanian dari mana kalian?!" ketus Zachry.


"Anak baru sepertimu, tidak berhak ikut campur dalam urusan Perusahaan!tugasmu cuma mengerjakan apapun yang kami suruh, mengerti!" sentak pria itu, kesal.


"Apa?yang kalian suruh?oh... berarti kalian suruh semua pegawai yang ada di sini lembur untuk mengerjakan dokumen sebanyak ini?"


"Termasuk dirimu!"


"Begitu ya?terus, kalian sebagai atasan apa yang kalian lakukan?main game?"


"Aku bilang kau tidak usah ikut campur!"Pria arogan itu mengangkat kerah baju Zachry.


"Hei.. biasa saja, dong. Gak usah tersulut emosi begitu," papar Zachry, tenang. Tersenyum penuh kemenangan.


Pria itu mendengus kesal, lalu pergi begitu saja.


"Huh!gak jelas!" sungut Zachry sambil mengerjakan dokumen yang segunung.


"Sini biar aku bantu," tawar seorang pria tampan yang duduk di sebelah Zachry.


"Tidak usah, aku bisa mengerjakannya sendiri," jawab Zachry penuh percaya diri.


"Oh... begitu?" Zachry mengangguk yakin.


"Ya... sudah. Kalau butuh bantuanku, jangan sungkan bilang ya. Anggap saja aku dan semua yang ada di sini adalah saudara," terang pria itu.

__ADS_1


"Iya, terima kasih,"sahut Zachry, tersenyum.


Zachry memang sengaja menyamar menjadi pegawai baru, untungnya mereka tidak tahu siapa Zachry?jadi Zachry bisa leluasa menyelidiki racun dalam Perusahaan cabang ini.


Seperti hal nya para pegawai lainnya, Zachry ditugaskan mengerjakan dokumen yang setumpuk itu bukan hanya satu atau dua tumpuk tapi banyak tumpukan.


Lalu, ada yang lebih gila dengan peraturan mereka, para pegawai dilarang bawa cemilan, makan di kantor, ngobrol sampai ke tahap pakaian pun jadi peraturan.


Kalau ketahuan dikenakan denda yang tidak masuk akal nominalnya kalau tidak mampu membayar denda, disuruh push up(ini Perusahaan apa akademi militer?).


Terus satu lagi para oengantar makanan online dan tukang galon tidak boleh menggunakan lift harus gunakan tangga, kebayang bagaimana capeknya mereka harus berlarian yang paling kasihan ya tukang galon.


Zachry mengetahuinya karena dapat informasi dari pegawai yang sudah lama bekerja di sana.


"Kalian gak punya keinginan untuk resign?" selidik Zachry.


"Dulu, entah kapan?ada sih," jawab pegawai wanita.


"Beberapa bulan lah, dia bilang pada Pak Aruf Direktur utama. Kalau mau resign karena sudah tidak tahan bekerja di sini," timpal teman sebelahnya.


"Lalu?"


"Oh.. jadi Direkturnya bernama Aruf ya?"batin Zachry, manggut-manggut.


"Katanya boleh resign tapi kehidupan keluarganya tidak akan terjamin. "


"Hah?apa maksudnya?!"


"Entahlah, apa maksudnya. Kita semua yang ada di sini juga tidak tahu dengan maunya para penguasa di sini yang nota bene nya adalah keluarga. "


Mereka, luar biasa gila," bisik seorang lelaki di belakang Zachry.


"Iya gila duit," timpal temannya.


"Kalau kamu tahu, aku pernah pergoki mendengar percakapan mereka, untung gak ketahuan. "


Percakapan apa?"Zachry ingin tahu lebih detail.


Bugh...


Bugh.. h


Bugh... hh


Mereka pun habis terkena serangan Efron, mereka terpental dan babak belur.


"Bagaimana?masih mau mengeroyok seorang pembersih seperti aku?" sindir Efron.


Kembali ke Perusahaan cabang..


Tanpa menjawab pertanyaan Zachry, pria itu mengeluarkan sesuatu.


"Ini," tunjuknya.


Zachry oun dengan seksama mendengar percakapan Kakak beradik itu lewat rekaman dari android seorang pegawai.


Setelah itu...


"Kurang ajar!bisabisanya mereka berbuat seperti itu!"dengus batin Zachry, emosi. "Pantas saja pendapatan di Perusahaan ini semakin berkurang, jadi mereka biang keroknya?" batinnya lagi.


"Mas Reno, tolong pecat tukang kebersihan kurang ajar itu!" adu salah satu lelaki yang megeroyok Efron, menunjuk dirinya.


"Tukang kebersihan?" ulang Reno menatap heran Efron.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2