
""Iya, itu lho yang ada di belakangmu, " tunjuk pria ke empat ke arah seseorang.
Dengan wajah tanya Reno menggerak kan kepalanya mengikuti arah telunjuk.
Setelah itu...
"Pak Efron!" pekik Reno, terjengkit. Kaget.
"Pak Efron?!" ulang para pria arogan itu bersamaan sambil mendelik, kaget.
Reno menghampiri Efron lalu menyalaminya dengan hormat sambil menatap tajam para pria arogan yang memang tetangganya itu.
"Maksud kalian, tukang bersih-bersih itu. Beliau?!" tanya Reno, lantang.
"Bajunya saja seperti tukang bbersih-bersih, Mas. Jadi gak salah dong kalau kita sebut dia tukang ber...
... "
"Jangan asal bicara kalian!" potong Reno, membentak. Tentu saja para pria itu tersentak kaget.
"Reno, kamu kenal mereka?" selidik Efron, kemudian.
"Iya, Pak. Kebetulan mereka tetangga saya dan ingin melamar kerja di sini," papar Reno, menerangkan.
"Hah?melamar kerja?" ulang Efron tak percaya.
"Iya, Pak. Mereka," jawab Reno.
Setelah itu Reno memutar tubuhnya ke arah para tetangganya.
"Oh.. iya, aku ingin memperkenalkan pada kalian. Pemilik Perusahaan ini yang... . "
"Tidak usah perkenalan lagi, mereka sudah mengenalku sebagai tukang bersih-bersih!" potong Efron, emosi.
"Apa?!kalian itu gimana sih!bisa menilai orang seenaknya!" omel Reno.
"Mereka bilang kalau Perusahaan ini milik mereka, mengaku Direktur pula, "timpal Efron, mencibir.
"Astaga! kalian ini, bisa-bisanya buat ulah!" tatapan Reno yang membunuh membuat para pria arogan itu ciut.
Lalu, Reno memutar tubuhnya ke arah Efron.
"Maaf, Pak Efron. Kalau kejadiannya seperti ini," ucap Reno, tak enak. Setelah itu menatap kembali para pria arogan yang sekarang tertunduk itu dengan tatapan ingin menerkam.
"Aku memang sedang merekrut pekerja tapi bukan orang seperti mereka!" tunjuk Efron, sengit.
"Sekali lagi maaf, Pak. Atas insiden ini, "ucap Reno, lirih. Berulangkali.
Setelah itu...
"Kalian itu gimana sih?!bukannya, kalian memintaku pekerjaan di sini. Aku kabulkan tapi kok kalian bikin gara-gara pada pemilik Perusahaan! "omel Reno, geram.
"Maaf, Mas Saya kira dia tukang bersih-bersih, "cicit salah satu di antara mereka, menunduk.
"Iya, Mas, "timpal lainnya, lirih.
__ADS_1
"Eh... mengapa kalian jadi ciut begitu?bukannya tadi bicaranya sombong banget ya?!" sindir Efron.
"Maafkan kita, Pak. Kita gak bermaksud menyinggung anda," ucap pria ketiga, lirih. Tertunduk malu.
"Heh!setelah tahu siap aku, baru kalian minta maaf?you're so classic! terlambat sudah!"
"Pak saya mohon. Kami butuh pekerjaan ini. "Pria keempat lalu mengemis.
"Untuk apa kalian mengemis pekerjaan pada seorang tukang bersih-bersih?kalian kan pemilik Perusahaan di sini, Direktur lagi," sindir Efron.
"Mas.... "
"Ya, gak bisa lah. Itu kan keputusan dari Pak Efron, aku gak bisa apa-apa. "
"Reno, lain kali kalau merekrut pekerja. Cari yang pendidikan dan attitude yang baik. Bukan seperti mereka!" tekan Efron mulai kesal.
"Maaf, Pak," cicit Reno.
"Urus tuh tetangga kamu!"lanjutnya, mendelik tajam ke arah gerombolan pria sombong.
"Kalian semua, jangan kan kalian jadi o be. Jadi Manager pun aku tidak sudi menerima kalian bekerja di Perusahaanku!" salah satu gerombolan pria itu terkulai lemas.
Setelah kepergian Efron...
"Puas kalian!"
"Mas, kami kan gak tahu. Kami kira beliau tukang bersih-bersih. "
"Terus, seandainya Pak Efron beneran tukang bersih-bersih bisa kalian hina seenaknya!" omel Reno, jengkel.
"Kalian itu baru mau jadi pekerja tapi sombongnya selangit!" lanjutnya, lantang.
"Mas, jadi kami harus bekerja di mana dong?"
"Ya, itu terserah kalian. Aku gak bisa bantu, dibantu malah buat ulah. "
"Black list mereka dari semua Perusahaan kalau ada Perusahaan yang mau menerima, langsung segel saja Perusahaannya!" perintah Zachry, dingin.
"Baik, Pak, " sahut sang ajudan.
"Jangan lupa, laporkan mereka ke pihak berwajib dengan buktinya," imbuhnya menatap tajam Aruf dan saudaranya.
"Siap."
Aruf dan saudaranya yang arogan itu tertunduk lemas, mereka tidak tahu yang mereka buily adalah sang pemilik Perusahaan.
Mereka ingin menghajar habis Zachry sayangnya, Tuhan berpihak pada Zachry, anak buahnya datang tepat pada waktunya.
Flashback on....
"Kalian semua, hajar mereka!" tunjuknya, sengit. Pada kedua saudara yang masih sombong itu.
"Apa hak mu!"maki salah satunya, lantang.
"Diam kalian!kalian harus mendapatkan balasan karena sudah berani ingin menghajar atasan kami yang pemilik Perusahaan!"umpat kepala ajudan, kesal.
__ADS_1
"Dia, pemilik Perusahaan?kalau dia pemilik, aku Kakeknya pemilik, "tunjuk Aruf pada dirinya sendiri penuh kesombongan.
Lalu mereka pun tertawa keras.
"Oya?kalian masih sempat tertawa ya?gak merasa bersalah kah?"
"Dalam kamus kami tidak ada yang namanya penyesalan, dasar pegawai magang!"
"Baiklah, aku mau tahu sampai batas mana kesombongan kalian?!"balas Zachry, tenang. "Kalian, seret mereka dan eksekusi sekarang juga!"
"Baik, Pak. "
Mereka pun menyeret kasar kedua orang arigan dan tidak tahu malu itu bahkan mulutnya masih saja mengumpat kasar pada Zachry.
Setelah itu....
Bugh.,.
Bugh.. h
Bugh.. hh
Flashback off....
Setelah ziarah ke kuburan Seina untuk menyapa dan mendoakannya yang tentu saja memperkenalkan seorang wanita pengganti Seina yang bernama Meta Aurila Prayidna sekaligus ingin segera melamarnya(kenapa, Lan?takut diambil orang ya?😂).
Mereka menuju rumah Meta yang tentu saja menjadi petunjuk jalannya karena Rilan baru pertama kali ke rumah Meta.
Rasa gugup pun menyelinap di hati Rilan, dia bingung bagaimana cara yang baik berbicara pada sang calon Mertua? tapi di hadapan Meta dia pura-pura santai seolah tak terjadi apapun.
"Tidak usah cemas, Papa orangnya baik kok," hibur Meta, menenangkan. Sambil mengusap lembut bahu kekar Rilan.
Meta seakan tahu apa yang Rilan rasakan saat ini walaupun dia tidak menunjukannya.
Rilan hanya mengangguk dan tersenyum kecut.
Flashback on...
"Apakabar, Seina?maafkan aku baru mengunjungimu, bukannya aku lupa padamu, tapi kesibukan lah yang menyita waktuku untuk ziarah ke makammu," tutur Rilan, mengusap batu Nisan bertuliskan" Seina Armanti".
Rilan lalu menoleh ke arah Meta yang duduk di sampingnya.
"Oh.. iya, aku ingin mempekenalkan kekasih baruku pengganti dirimu, Meta namanya. "Rilan menatap mesra Meta yang tersenyum lembut padanya.
"Aku ingin izin darimu untuk melamarnya," timpalnya.
Dari surga..
"Akh... Rilan. Bagaimana mungkin aku tidak mengizinkanmu bahagia dengan yang lain? aku sadar, kalau kita sekarang sudah beda alam," balas Seina, tersenyum bahagia.
Flashback off...
"Sudahlah, Efron. Terima saja perjodohan ini, Papa gak tega menolak permintaan sahabat Papa sendiri," sahut Hadi saat Efron menentang perjodohan dengan wanita yang tidak dia kenal namanya Ifna, nama itu saja begitu asing di telinganya. "Papa yakin setelah bertemu, kau pasti akan menyukainya." Efron hanya melengos, pasrah.
"Sudahlah, Lana. Untuk apa kau menolakku?lagipula aku punya segalanya," tutur seorang lelaki sambil mencolek lengan Lana, nakal.
__ADS_1
Bersambung..