
"Aku juga tidak tahu, Paman, "jawab pria tampan itu mengembuskan napasnya.
"Bukankah Raden sudah menemukan cinta sejati?" timpal sang ajudan yang telah berumur enam puluh tahun ke atas itu.
"Iya, aku tahu. Selain cantik dia juga sangat mencintaiku apa adanya, itu terlihat dari pancaran matanya saat menatapku. "Dia tersenyum membayangkan sang pujaan hati sembari menerawang beberapa saat yang lalu.
"Anda sangat beruntung, Raden. Mendapatkan wanita seperti Nona Lana, "ungkap sang ajudan,jujur.
"Aku hanya ingin mencari cinta sejati, Paman. Bosan rasanya berpenampilan rapi dan modis yang selalu dikejar-kejar para wanita yang nyatanya hanya melirik hartaku saja. "
"Benar juga sih, Raden. "
Sang ajudan manggut-manggut.
Setelah terdiam beberapa detik..
"Oh... iya, Raden. Kalau dia tahu anda siapa, bagaimana, Raden?"
Pria yang dipanggil Raden itu tertawa kecil.
"Suatu saat dia pasti akan tahu dan aku akan menghormati apapun keputusannya. "
"Walau keputusannya membuat Anda sakit?"
"Ya, mau gimana lagi. "
"Ya, mau gimana lagi, If. Aku sudah telanjur mencintainya," papar Lana saat ditanya tentang bagaimana masa depannya ketika dia mencintai pria brutal yang tidak punya pendidikan bahkan etika pun sepertinya kurang.
"Maaf ya, Lan. Bukannya apa-apa, aku hanya cemas. Bagaimana kalau keluargamu tahu kalau kamu pacaran sama lelaki petaruh?gak punya pendidikan lagi, kalau aku sih apapun pilihanmu tetap setuju-setuju aja, asal kamu bahagia," ucap Ifna, jujur.
"Terima kasih ya, If. Kau mengatakan ini saja hatiku terasa tenang dan damai, untuk masalah keluargaku kamu gak usah cemas, biar aku saja yang menangani," balas Lana, tulus.
"Terus, bagaimana dengan Grey?" Ifna bertanya sambil senyum-senyum melirik jahil ke arah Lana.
"Dia?aku cuma anggap dia teman ya kayak kamu ini, tapi dia salah artikan antara pertemanan dan percintaan. pada lainnya aku juga anggap teman kan?" jawab Lana, malas.
"Ya, sudahlah. Seiring berjalannya waktu suatu saat dia pasti akan melupakanmu," papar Ifna kali ini serius.
"Mudah-mudahan iya. "
"Terus, bagaimana dengan Lana?" tanya seorang wanita yang bersender di bahu seorang lelaki.
"Sama wanita itu?ya, aku gak pernah serius lah sama dia, aku kan mencintai dia karena dia seorang ahli waris, "jawab Grey, terkekeh.
Wanita itu kaget...
"Lalu, bagaimana denganku?nanti aku dibohongi lagi kayak Lana," rajuk wanita itu dengan manja.
"Ya, gak mungkin lah Lely, Sayang. Dibanding dia kamu tuh lebih segalanya," sahut Grey, gombal
"Idih, gombal ya kamu. "
Lely tersipu.
Perusahaan Derafa...
__ADS_1
"Pada jam lima lebih sepuluh menit anda akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin perusahaan sepatu kets yang bernama Bapak Kean Asmoyo Dunoro hingga jam delapan lima belas menit di Resto rumahan Nuswara, begitu saja jadwal aktivitas yang harus anda ikuti, Pak," ucap Nathan mengakhiri pembacaan jadwal Efron.
"Baiklah, Terima kasih. Kau boleh keluar," sahut Efron, datar.
"Baik, Pak. "
Nathan membungkuk lalu bergegas keluar.
Beberapa detik setelah kepergian Nathan.
"Resto Nuswara?bukannya, itu restoran makanan Indonesia yang terkenal dan terbaik se Jabotabek?" batin Efron bertanya-tanya. "Banyak yang bilang sih begitu," monolognya, bingung.
Lampung...
Resepsi pernikahan Wulan dan Hawirzen pun dilangsungkan di hotel Marcopolo.
Wajah-wajah mereka tampak cerah dan bahagia begitu juga orangtua para mempelai.
Begitu juga Hawirzen dan Wulan yang saling menatap mesra.
Wulan tampak cantik dengan balutan kebaya sabrina warna tosca berpadu dengan bawahan kain tapis warna hitam bercampur tosca.
Apalagi ditambah dengan tubuhnya yang langsing dan tinggi menambah kesan keindahan juga mahkota di kepalanya menambah pesona di wajahnya.
Sedangkan Hawirzen, tampak gagah dengan jas warna hitam dengan daleman warna senada dengan kebaya yang dikenakan Wulan.
Wulan dan Hawirzen pertama kali bertemu saat sama-sama mendaftar di suatu universitas yang sama, tapi beda jurusan.
Awalnya mereka hanya teman biasa seperti lainnya, mereka juga tidak terlalu akrab satu sama lain(bukan berarti musuhan ya!).
Lalu, tanpa disangka. Mereka dipertemukan dalam suatu perjodohan karena orangtua mereka memiliki hubungan dekat terutama ayah mereka.
Kembali ke Bekasi...
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak Kean. Semoga kita menjadi mitra yang baik," ucap Efron sambil menjabat tangan Kean sang pemilik perusahaan Asmoyo dengan tulus.
"Sama-sama, Pak Efron. Senang rasanya bisa bekerjasama dengan anda," balas Kean, santun.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang yang membawa pesanan bukan manusia melainkan robot.
Ucapan terima kasih pun terucap dari bibir kedua pria tampan itu.
"Persentasimu sangat bagus, Zerhan. Aku benar-benar puas mendengarnya," ucap Maxel, tersenyum puas.
"Terima kasih, Pak. Syukurlah kalau anda puas dengan persentasi saya," sahut Zerhan, bahagia.
"Tentu saja aku puas dan aku juga berterima kasih atas kerja keras kalian selama ini," ujar Maxel, kemudian.
"Itu memang tugas kami, Pak," celutuk seorang karyawan.
Para netizen ruang rapat pun ikut menyelutuk.
"Sudah... Sudah!" lerai Maxel, tenang.
Para netizen pun terdiam...
__ADS_1
Di antara mereka ada yang Salling berbisik satu sama lain.
"Ada tambahan bonus untuk kalian yang selama ini lembur. "
Wajah-wajah cerah pun mulai bersemi dan senyum berseri menghiasi.
Maxel pun menatap Zerhan.
"Untukmu, Zerhan," tekan Maxel. "Aku akan mengangkatmu menjadi Direktur pada perusahaan cabang di Jatibening," paparnya menepuk pelan pundak Zerhan.
"Saya, Pak?" ulang Zerhan masih belum percaya.
"Iya, kamu. Karena prestasimu dan kamu selalu berperan dalam perusahaan ini dan idemu dalam memajukan perusahaan kita patut diacungi jempol. "
Begitu alasan Maxel.
Tepuk sorak bahagia bergema dari netizen di ruang rapat raut wajah bahagia pun berbaur di wajah tampan Zerhan, ucapan syukur pun dipanjatkannya.
"Terima kasih, Pak. Saya berjanji akan melaksanakan amanah ini dengan sebaik mungkin. "
"Selamat ya, Zerhan... "
"Selamat, Zerhan.. . "
Satu per satu para netizen rekan kerja Zerhan mengucapkan selamat padanya.
Zerhan hanya mengucapkan Terima kasih dan tersenyum.
"Kurang ajar!mengapa ini terjadi ya?padahal aku sudah menghapus file nya di laptop agar aku yang dapat jabatan tinggi, umpat seorang pria dalam hati, kesal. "Argh.... Hhhhh, sial benar aku hari ini!" jeritnya masih dalam hari, dongkol.
"Paman, tolong jaga rahasia ini pada Mama dan Papa," pintanya sekaligus memohon.
"Lho, mengapa, Raden?bukannya dalam keluarga itu tidak ada yang boleh ditutup-tutupi?"
"Ikuti saja perintahku, Paman. Tidak usah membantah!"
"Ba.. baik, Raden. Saya tidak akan membantah lagi."
"Nah, gitu dong. "
Pria muda itu tersenyum puas.
"Baik, Raden. Saya permisi dulu mau merebus air untuk mandi anda. "
"Iya, segera ya, Paman. Badanku sudah mulai lengket nih," keluhnya.
"Siap."
Setelah kepergian sang ajudan ke dapur..
"Ah... hhhh, rapat tadi lumayan membuat tubuhku penat. "
Pria itu merentangkan tangannya dengan kemeja yang masih saja dikenakan.
Keesokan harinya...
__ADS_1
"Apa?! hari ini, Pa?" tanya Ifna, syok. Membelalakan matanya selebar mungkin.
Bersambung....