
"Iya, Hendra. Ini aku, " jawab Efron, datar sambil menyeret kopernya ke dalam rumah.
"Hmmm.... aku rindu suasana rumah ini," batinnya menghirup aroma rumah yang tidak berubah sejak mereka pertama kali menjajaki kaki mereka di rumah ini.
"Tuan, mengapa anda pulang tidak kasih kabar? kan saya bisa jemput," ujar Hendra, cemas.
"Tidak usah, kau kan punya kesibukan sendiri lagipula aku sengaja karena ingin membuat suprise buat Papa." Efron menerangkan.
"Oh... "
"Oh.... iya, Papa di mana?" tanya Efron celingak celinguk.
"Tuan Hadi ada di ruangan pribadinya, Tuan, " jawab Hendra, santun."Apa perlu saya panggilkan?"
"Gak perlu, biar aku menemui Papa sendiri, kau sjbuk lah dulu. "
"Baik, Tuan. "
"Mas, " panggil Zachry.
"Hmmm... "sahut Harfan, datar. Sambil terus fokus ke laptopnya wajahnya pun terlihat serius.
"Mas!" ulang Zachry agak keras karena panggilannya di abaikan oleh sang Abang.
Harfan menoleh, menatap sang Adik.
"Ada apa?" tanyanya, santai. Lalu menutup laptopnya.
Zachry pun duduk di dekat Harfan sambil menggeser tubuhnya mendekati sang Abang.
Harfan menatap sang Adik dengan tatapan seperti melihat alien.
"Mas, apa Mas pernah ja... tuh cin... ta?" Harfan kaget.
"Heh! ada gak pertanyaan yang lebih spesifik lagi?" sela Harfan, menggeleng. Sambil kembali sibuk pada dokumen proyeknya di laptopnya.
Dengan cekatan jari-jari Harfan menekan tuts laptop wajah tampannya terlihat serius.
"Ini lebih spesifik dari segalanya, Mas!" tekan Zachry.
"Hah?" Harfan menghentikan kegiatannya.
Dia menatap heran sang Adik, ingin rasanya dia tertawa tapi dia tahan karena takut ketahuan(kok.. malah isi dari lagu ya?lagu siapa... aaa, gitu?☺).
"Aku serius, Mas!" tekan Zachry.
"Heh! bukannya dulu kau pernah bilang begitu padaku?nyatanya, tidak kamu jalani dengan serius, begitu selanjutnya," balas Harfan memutar bola matanya... Malas.
"Sekarang aku serius, Mas. Gak kayak dulu lagi."
"Masa sih?" ledek Harfan.
"Mas!"
"Oke... oke. Aku percaya padamu. Harfan mengalah.
Zachry pun tersenyum lega..
"Tapi ada syaratnya?" lanjut Harfan, serius.
"Apa sih, Mas!" protes Zachry, jengkel
"Harus serius," tegas Harfan.
__ADS_1
"Apa aku selama ini gak serius?" keluh Zachry menggaruk leher bagian belakang.
"Iya, serius sana sini. Emangnya aku gak tahu! "
"He... eee. " Zachry nyengir.
"Heiz! kamu itu bukan abg lagi, Zachry!"ucap Harfan menekan. "Lagipula cinta itu bukan permainan," tambahnya.
Zachry remaja memang dikenal suka tebar pesona mentang-mentang dia tampan.
Semua wanita satu sekolah maupun sekolah lain dipacarinya seakan-akan wanita tidak berharga baginya.
Sayangnya, dari semua wanita itu tidak ada satupun yang singgah di hatinya dan pada akhirnya bertemu Siena kembaran dari Seina, Seina yang juga pernah ditaksirnya tapi Seina malah menolaknya hanya karena seorang Rilan di hatinya.
Kini pelabuhan cinta itu kembali pada Siena, seseorang yang dikenalkan oleh saudara kembarnya sendiri.
Saat pertama bertemu Siena, entah mengapa jantungnya seakan berdetak begitu cepat.
"Kali ini aku serius, Mas," sahut Zachry menatap dalam Harfan.
Harfan pun menemukan keseriusan di mata sang Adik.
"Baik, siapa namanya?" tanyanya
"Siena, Mas, " jawab Zachry, mantap. "Aku jatuh cinta padanya tapi aku bingung bagaimana caranya?"
"Ha?" Harfan melongo lalu seketika meledak lah tawanya.
"Kok malah ketawa sih? apanya yang lucu?" gerutu Zachry, kesal.
"Kamu itu ya…... " Harfan melanjutkan tawanya. "Kamu kan dulu ahli perayu sehingga banyak cewek yang nempel masa menyatakan perasaan pada seorang wanita aja malah bingung?" sindir Harfan masih menyisakan tawa.
"Ya... itu kan lain, Mas. Lagipula itu sudah masa lalu," elak Zachry
"Apa kamu lupa bagaimana cara merayu wanita?" goda Harfan melirik.
"Aih.... jutek amat Adikku. "Harfan semakin menggoda disertai tatapan angker Zachry.
"Gak lucu!" ketus Zachry. "Ayolah, Mas. Aku serius ini sama Siena. "
"Benarkah?"
"Beneran lah!"
Harfan mulai berpikir, pikirannya ke arah masa lalu saat pertama kali bertemu Kiran melalui aplikasi Tantan.
Sewaktu pertemuan pertama dengan Kiran Dafaru di sebuah cafe Harfan mengendarai motor butut bukan mobil mewah yang selama ini dia pakai.
Flashback on...
"Harfan ya?" tebak seorang wanita berwajah manis dengan tinggi sekitar seratus enam puluh lima senti.
"Iya, salam kenal, " jawab Harfan, ramah. Lalu mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Kiran.
Harfan berdiri lalu menarik kursi dan dengan gentle mempersilakan Kiran duduk.
"Terima kasih, "ucap Kiran, manis. "Oh.. iya maaf aku terlambat," sesalnya.
"Gak juga kok, santai saja," sahut Harfan berusaha maklum.
Sebelum pesanan mereka datang...
"Ngomong-ngomong, kamu ke sini naik apa?" tanya Kiran, hati-hati.
__ADS_1
"Itu, " tunjuk Harfan pada sebuah kendaraan roda dua butut.
"Yang itu?" ulang Kiran, melongo.
"Kenapa?gak suka ya?" Harfan merasa bersalah.
"Aku sudah pernah menemui cowok dengan kendaraan mewah baik itu motor ataupun mobil tapi kalau mengendarai motor klasik kayak kamu... Aku belum pernah menemui. Hmm.. kelihatannya asyik juga seandainya aku bisa boncengan sama kamu pakai motor itu," aku Kiran dengan wajah berseri.
"Kamu serius?"
"Ada apa sih?"
"Bukannya apa-apa, motor itu kan sudah lama jadi sering banget mogok, "ungkap Harfan tak enak.
"Ya... kan bisa di dorong bareng-bareng,"balas Kiran, santai.
Flashback off...
Begitulah pertemuan pertamanya dengan Kiran, ya.. seorang wanita yang tidak memandang uang dalam percintaan itu lah yang membuat Harfan jatuh hati padanya dan dia, berusaha untuk memperlakukan wanita idamannya itu bagai Ratu.
"Apa dia juga serius?" Harfan ragu.
"Jelas dong!"
"Begini saja, sini.... "Harfan menarik paksa tubuh Zachry lalu berbisik.
"Emang gak ada cara lain,Mas?"
"Coba aja dulu kan sekaligus mengetes calon Adik ipar dia beneran mencintai kamu karena hati apa karena uang?dalam percintaan perempuan juga mesti di uji kan?"
Setelah lama berpikir...
"Ya.. sudah, aku coba deh. "
"Tenang saja kalau dia memang cinta sama kamu dia pasti akan menerimamu apa adanya jika tidak, ternyata dia bukan wanita seperti anganmu alias cewek matre setidaknya kamu cari wanita yang lebih baik darinya," hibur Harfan menepuk pelan bahu Zachry.
"Semoga saja dia gak matre," harap Zachry.
Kembali pada kediaman Hadi Kusuma..
Efron sudah di berada di ruang pribadi sang Ayah, dia kini bersama sang Ayah.
"Kenapa gak kabar-kabar dulu sih kalau mau pulang kan Papa bisa menyuruh Hendra jemput kamu di Bandara, " protes Hadi.
"Ya... emang Efron sengaja, Pa. Kasih kejutan ke Papa, " jawab Efron tersenyum jahil.
'Tok. ' Hadi menjitak kepala Efron.
"Kamu ini, Orang tua kok dipermainkan?durhaka tuh namanya!"
"Ya.. maaf, Pa. Lagipula kasihan juga kan Hendra sudah antar jemput Papa ke Perusaan dua Perusahaan lagi masih disuruh jemput aku ke Bandara."
"Bener juga ya,-" pikir Hadi.
"Biarkan dia istirahat dulu," lanjut Efron, kemudian..
"Ya.. seenggaknya kabari lah! biar Papa menyuruh Bi Sum untuk masakin kesukaan lkamu."
"Gak usah, Pa. Toh aku bisa sendiri kalau laper."
"Dasar keras kepala! ya.. sudah deh terserah kamu. "
Efron tersenyum smrk.
__ADS_1
"Siena, ada yang harus aku bicarakan serius denganmu. Kamu ada waktu gak?" tanya Zachry, berharap.
Bersambung...