
"Apaan sih?!" sentak Lana, kesal.
"Gak usah pura-pura polos gitu lah," balas pria itu, mencoba untuk menggoda.
Sayangnya, Lana sama sekali tidak tergoda dengan pria di sebelahnya sekalipun wajahnya tampan.
"Apa kamu gak memiliki rasa sedikitpun padaku?" keluh pria itu memohon.
Lana menatap datar pria di sebelahnya itu lalu mendengus.
"Ini soal perasaan, Grey," jawab Lana, gamang. Dia pun melempar pandangannya ke arah lain.
"Aduh.... kenapa sih, Lan? harus dia? aku dengar, dia gak punya kelebihan apa-apa kecuali bertarung dan bertarung. Lelaki liar gak punya etika itu masa kamu bisa menyukainya?!" protes lelaki bernama Grey itu memanas-manasi.
"Diam kamu, Grey! kamu gak berhak menghinanya!" bentak Lana dengan suara lantang.
Aura kemarahannya pun terpancar di wajah cantiknya saat kekasihnya di hina oleh orang lain apalagi sama teman satu kelasnya dulu.
Hatinya terasa sakit, benar-benar sakit bagai tergores pisau. Namun, tidak berdarah pedihnya sangat menyayat dibanding yang berdarah.
"Sadarlah, Lana. Priamu itu, tidak punya tampang terpelajar apalagi sisilah keluarganya gak jelas gak sebanding dengan kamu yang pendidikannya tinggi dan sisilah keluargamu sangat jelas," omel Grey yang membuat telinga Lana semakin panas dibuatnya.
Mendengar itu, Lana menoleh dan menatap tajam Grey.
Grey adalah teman satu sekolah tepatnya sekelas dengan Lana dan Ifna waktu sma, tapi setelah kelas dua dan tiga Ifna tidak sekelas dengan mereka.
Sudah tidak satu kelas bukan berarti persahabatan Lana dan Ifna jadi merenggang justru persahabatan mereka semakin erat.
Ifna juga tahu kalau Grey sudah menaruh hati pada Lana sayangnya, Lana tidak meresponnya sama sekali. Bukannya tidak suka melainkan ini masalah perasaan.
"Lana, mengapa kamu gak punya perasaan sedikitpun padaku?mengaoa harus dia?dia dan kamu baru saja bertemu sedangkan denganku, sudah lama kita bersama kan?" kejar Grey.
Dengan sigap Lana menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
"Ini bukan masalah tentang kita saling kenal atau tidak, Grey. Ini soal perasaan, aku dan dia memang baru saja bertemu. Entah mengapa saat pertama bertemu dengannya hati ini terasa berdesir?baru pertama kalinya aku merasakan ini setelah bertemu dengannya," ungkap Lana, bingung. Namun, wajahnya terlihat bahagia.
Lalu, bagajmana dengan perasaanku?" protes Grey tak terima.
"Maaf, Grey. Aku tak punya perasaan apapun terhadapmu aku hanya menghargaimu dan lainnya sebagai teman," jawab Lana, terus terang. Juga lirih.
"Apa sih kelebihan dia sehingga kamu bisa tergila-gila padanya?! guna-guna apa yang dia berikan sehingga kamu memiliki perasaan yang dalam padanya!" Grey masih saja tidak terima.
"Grey, hati-hati kalau berbicara!" tegur Lana, keras. Menatap horor Grey.
"Memangnya mengapa?kenyataannya seperti itu," sahut Grey, mencibir.
__ADS_1
Lana pun mulai kesal.
"Kalau kamu gak tahu apa-apa tentang dia, lebih baik kamu gak usah komentar deh. Apalagi komentar yang jelek-jelek tentang dia telingaku sakit, tahu!"
"Terus, kamu pikir hatiku gak sakit saat kamu memujanya di depanku?! sakit, Lan. Seperti tertusuk ribuan duri. "Lana terdiam.
"Kamu bisa merasa sakit hati juga?"
Sebuah suara merdu tiba-tiba datang dari arah mereka.
"Ifna," seru Lana, girang.
Lana lalu menghampiri Ifna dan memeluknya setelah itu cipika cipiki.
"Duduk, If." Ifna mengangguk dan tersenyum hangat pada Lana.
Lana membalasnya dengan senyuman lebih hangat.
"Ifna, sudah lama kita gak ketemu. Kamu masih saja ya seperti yang dulu selalu saja ikut campur urusan orang!"ucap Grey, menohok.
"Grey.... "
Ifna tersenyum samar.
"Kalau iya, memangnya kenapa?apalagi ini berhubungan dengan temanku," balas Ifna, tajam Menatap horor Grey.
"Lana itu temanku, bagaimana mungkin aku diem saat kamu memojokannya dan pilihannya. Apa hakmu!" balas Ifna, menusuk.
"Kamu!" tunjuk Grey, sengit.
"Grey, apa kamu inget?tentang Selvi, Nayla, dan Lely?" Ifna mulai membuka lembaran masa lalu.
Grey menjadi beku dan kehilangan kata-kata.
"Kamu, gak lupa kan tentang mereka?" imbuhnya membuat Grey semakin terpojok.
"Kalau aku gak salah ingat Selvi itu pernah jadi teman sekelas kita waktu kelas satu sma terus, si Nayla satu tim dengan kita termasuk Grey dalam kegiatan ekstrakurikuler kegiatan pramuka dan Lely?kalau gak salah dia itu juga teman satu jurusan dengan kamu kan saat kelas tiga sma?" tebak Lana sambil mengingatkan.
"Benar sekali, ingatanmu tajam juga ya, Lan," puji Ifna, bangga.
"Bagaimana kabar mereka sekarang ya?" Lana menerawang.
"Entahlah, aku sudah lama hilang kontak dengan mereka," sesal Ifna.
"Mereka?"
__ADS_1
"Bagaimana, Grey?apa kamu masih mengingat mereka?jangan bilang kamu gak inget ya setelah kamu mendapatkan cinta mereka lalu kamu campakan begitu saja, kamu pikir kamu lebih baik daripada pilihan Lana?"
"Ifna, tutup mulutmu ya!"
"Mengapa, Grey?gak terima ya?oh.. iya, perlu korfirmasi, kamu dan Elard itu sama saja... . Sama berengseknya!"
"Kamu... "
"Hei.. sudah.... sudah, kalian gak perlu perdebat lagi," cegah Lana. "Dan kamu, Grey. Terima kasih sudah menyatakan cintamu padaku sayangnya, aku sudah terlanjur memilihnya. Semoga kau mengerti ya," ucapnya sekarang dengan intonasi suara rendah.
"Sial!aku gagal mendapatkan cinta Lana, dia malah memilih pria lain. Kali ini misiku gagal, sialan!" umpat Grey dalam hati, kesal.
"Mengapa, Lan?" tanya Grey dengan wajah dibuat melow.
"Cuih!orang gak mau kok dipaksa!" cibir Ifna.
"Kamu mending diem aja deh, If. Aku ini nanya ke Lana bukan ke kamu!" tunjuk Grey dengan wajah jutek.
"Idih, jutek amat sih!" balas Ifna, terkekeh.
"Kita inj sudah dewasa, Grey. Bukan anak sma lagi yang apa-apa memilih pasangan nomor satu adalah tampang yang cantik atau tampan bisa dikatakan sempurna bentuk fisiknya, tapi sekarang kta harus selektif dalam memilih pasangan bukan hanya mencari fisiknya doang melainkan sifat yang dia miliki," papar Lana.
"Setidaknya, cari yang levelnya sama dengan kita lah! kalau bisa, melebihi aku. Kamu malah miliihnya laki-laki yang kasar kalau bicara, hidupnya gak tentu arah, suka bertarung, sekolahnya?aku yakin dia bukan orang berpendidikan, " omel Grey penuh rasa cemburu sekaligus memanas-manasi.
"Andaikan dia bahagia dengan laki-laki itu gimana, Grey?kamu gak berhak mengatur kebahagiaannya." Ifna mencoba menyadarkan.
"Diam kamu, Ifna!kamu juga gak berhak ikut campur masalahku dan dia!" balas Grey, sengit.
'Bra... aaak!'
Sebuah gebrakan meja yang sangat keras terasa begitu mengagetkan Grey dan Ifna.
"Cukup, kalian berdua!" ucap Lana, lantang."Dan kamu, Grey. Kamu juga gak bicara kasar pada Ifna dia itu temanku. Kamu juga gak berhak menilai jelek tentang dia kalau kamu gak tahu tentang dia lebih baik enggak usah komentar deh, sudah cukup sabar ya aku menghadapimu!" umpatnya, jengkel.
"Maksudku bukan sep... "
"Ayo.. If, kita tinggalkan saja dia di sini sendiri," ajak Lana menatap marah Grey.
Ifna pun mengangguk.
Mereka berdua saling bergandengan meninggalkan Grey sendiri yang terbengong-bengong.
Surabaya.
Ruang pribadi Argathan.
__ADS_1
"Maaf, meganggu waktunya, Bu Kifaya. Saya hanya sekadar bertanya, apa naskahnya sudah selesai Ibu tulis?" tanya Arga dengan suara pelan mencari kepastian.
Bersambung...