
"Saya pengacara almarhumah Nona Seina Armanti nama saya Galbara Permana, saya ada keperluan dengan Tuan Zachry Alfansa. Apa benar, ini rumahnya?" tanya Galbara menyelidik.
"Iya.. Pak, ini memang rumah Tuan Zachry," jawab Wintoro tanpa ragu. "Mari, silakan masuk akan saya panggilkan Tuan saya, kebetulan beliau sedang ada di rumah, " sambutnya, hangat.
"Terima kasih, saya duduk di luar saja, lebih sejuk udaranya, " tolak Galbara, halus.
"Baik, Pak. Sebentar, saya akan menyuruh Istri saya menyediakan kopi hangat untuk Bapak."
"Tidak usah, saya kesini hanya sebentar kok. "
"Oh.. iya, kalau begitu akan segera saya panggilkan, " pamit Wintoro, santun.
Beberapa menit kemudian...
"Selamat siang, Tuan Zachry," sambut Galbara, ramah menjabat erat tangan Zachry.
"Siang, apa anda Pak Galbara Permana pengacara Almarhumah Seina Armanti? " tebak Zachry.
"Iya, benar.Rupanya, penjaga rumah anda menceritakan semuanya ya?" ucap Galbara, terkekeh.
Zachry pun terkekeh sambil menggeleng.
"Pak Wintoro itu bukan penjaga rumah, Pak tapi, sopir pribadi keluarga, "ralat Zachry.
"Oh... maaf, saya tidak tahu," ucap Galbara merasa bersalah.
"Tidak mengapa, Pak.Santai saja, " sahut Zachry menghibur.
"Seharusnya saya bertanya dulu," ungkap Galbara, tersipu.
"Itu bukan persoalan kok, Pak. Oh.. iya, ngomong-ngomong ada kepentijgan apa yang membawa anda kemari? " tanya Zachry, serius.
"Maaf kalau saya menyita waktu anda, Tuan. "
"Tidak mengapa, lagipula saya sedang tidak sibuk sekarang. "
"Baiklah, saya datang ke rumah Tuan untuk memenuhi permintaan Nona Seina sebelum meninggal."
"Apa sebelum meninggal Seina memanggil anda?"
"Ya... benar."
"Bukannya dia sedang dalam keadaan dipoerasi ya? "
"Sebelum Nona Seina dioperasi, Tuan.Sebelumnya…..
Flashback on...
"Pak Galbara, hari ini saya akan operasi untuk menyelamatkan kekasih saya," ungkap Seina, serak.
"Kapan itu, Nona?" pengacara Galbara terkejut.
Seina tersenyum kecut.
"Hari ini, Pak," jawab Seina, lirih. "Seandainya, saya tidak selamat dalam operasi itu saya minta, anda memenuhi permintaan saya yang terakhir," pintanya.
"Apa itu, Nona?"
"Pertama, saya ingin mewarisi sebuah rumah mewah hasil jerih payah saya untuk keluarga saya, terserah mereka mau dipakai buat apa, kedua serahkan cafe yang sudah lama saya bangun kepada Zachry dan Siena untuk menggantikan saya sebagai pemilik, semoga mereka dapat mengolahnya dengan baik. "
Flashback off..
__ADS_1
"Jadi, Seina sebelum operasi mendatangi anda?" tunjuk Zachry.
"Iya, kalau tidak salah dua hari menjelang sebelum operasi," jawab Galbara, tenang.
Zachry mengusap wajahnya….Gusar.
"Tentang cafe itu, mengapa dia menyerahkannya padaku?lebih baik serahkan saja pada Managernya."
"Kalau itu, saya tidak tahu,Tuan.Saya hanya ingin memenuhi permintaan Nona Seina sebelum meninggal, mungkin dia tidak ingin asal cari orang untuk menggantikannya menurutnya, anda lah yang tepat menggantikannya bersama Nona Siena."
"Siena?" mendengar nama itu disebut jantung Zachry berdetak lebih cepat dari seorang pembalap sirkuit.
"Nona Seina sudah mewarisi dan menyerahkan cafenya pada anda berdua, " lanjutnya sambil tersenyum.
"Iy.. iya, sebenarnya,..... "
"Anda tidak usah ragu, Tuan," potong Galbara. "Saya tahu anda pasti bisa karena dulu anda pernah membantu kakak anda Tuan Harfan mengolah resto nya kan?"
"Pasti Seina yang menceritakan semuanya," gunam dalam hati.
"Iya, itu sebelum saya masih pengangguran dari pada gak ada kerjaan saya menawarkan diri saya membantu Mas Harfan dalam mengolah resto nya, sekarang saya sudah sukses dan resto Mas Harfan pun sukses dan cabangnya ada di mana-mana, saya juga sibuk dengan bisnis saya. "
"Saya mengertj, Tuan."
Beberapa jam kemudian, Pengacara Galbara pun pamit dan ucapan terima kasih terucap dari bibir Galbara.
"Sama-sama, Pak.Maaf, tidak ada jamuan."
"Oh.. tak apa-apa, saya ke sini kan cuma sebantar lagipula saya sudah minum kok yang tersedia dari mobil saya," sahut Galbara sambil tersenyum. "Baiklah, saya pamit dulu ya."Zachry mengangguk.
Zachry mengantar Galbara sampai depan pagar.
"Mas, tolong ampuni aku, mas.Aku sudah menyesal meninggalkanmu dan putra kita," rengek seorang wanita yang sudah separuh baya tapi masih memiliki paras yang cantik sambil berlutut.
Lalu, beberapa menit kemudian...
Wanita itu tersenyum.
"Benarkah, Mas?terima kasih, Mas, " ucapnya, bahagia sambil memeluk tiang listrik.
Orang yang lalu lalang pun melihatnya dengan tatapan heran.
"Apa dia sudah gila?" tanya seorang pria pada temannya.
"Mungkin," jawab sang teman, terkikik.
"Eh... ngomong apaan kalian!" ketus wanita itu sambil mengejar dua lelaki itu dengan sebatang ranting di tangannya.
Kedua pria itu pun lari.
Begitu juga orang-orang yang lewat dan berbisik-bisik mengomentari tentang dirinya.
Beberapa jam kemudian...
"Lisda?" sapa seorang pria.
Wanita itu kaget dan mundur ketakutan wajahnya begitu panik.
"Ka.. kamu si.. siapa?" tanya Lisda, gugup sambil memundurkan tubuhnya
"Apa? kau tak mengenalku?aku Hadi, mantan suamimu, mengapa kamu jadi seperti, Lis?" Hadi cemas lalu mencoba menyentuh bahu Lisda tapi ditepis kasar oleh wanita itu.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!aku gak butuh kasihanmu!" hardik Lisda, keras.
"Bukannya begitu, Lis tapi..
"Pergi! kau penipu! aku sudah menemukan suamiku sekarang!" Lisda menunjukan tiang listrik pada Hadi.
"Dia?" tunjuk Hadi tak percaya.
"Iya, dia mantan suamiku, Mas Hadi yang dulu pernah aku tinggalkan itu semua gara-gara kamu! pakai nama suamiku lagi, mau nipu ya?" tebak Lisda menunjuk sambil tertawa.
"Astaga, Lisda!mengapa kamu menjadi seperti ini?" Hadi panik menatap dalam mata Lisda sedang Lisda menatapnya dengan tatapan sendu.
Beberapa menit kemudian dia menangis sambil memilitirkan bajunya lalu, tertawa lagi, menangis lagi tertawa kembali.
"Ayo.. pulang Lisda," ajak Hadi, lembut.
"Gak mau!" tolak Lisda.
Segala bujuk rayu Hadi tak membuat Lisda bergeming dia tetap mengannggap Hadi orang yang sudah menipunya dan tiang listrik itu dia anggap Hadi.
Hadi menggeleng prihatin melihat keadaan sang mantan istri.
"Pergi kamu!" usir Lisda sambil mengayun-ayunkan ranting yang ada di tangannya dengan tatapan tajam.
"Baik, aku pergi…aku pergi." Hadi pun mengalah.
Saat pergi, Hadi sayup-sayup mendengar mantan istrinya berbicara pada tiang listrik yang menganggap itu dirinya dengan lembut dan mesra.
Setelah itu..
Hadi mengeluarkan androidnya, lalu...
"Tolong, beri aku info tentang mantan istriku, Lisda dan pria itu, pria yang pernah jadi kekasih mantan istriku," titah Hadi, tegas pada seseorang.
Hadi pun meneruskan jalan santainya udara yang lembab membuat Hadi ingin sekali bergerak eh.. tiba-tiba saat dia berjalan bertemu sang mantan yang sudah jadi stres.
Flashback on...
"Sudahlah, Mas lebih baik aku pergi dengannya dari pada ikut denganmu, tidak ada hasilnya sama sekali, " papar Lisda, kesal.
"Tapi, Lis. Bagaimana dengan putra kita, putra kita membutuhkan kamu, ibunya," lirih Hadi.
"Itu salahmu, Mas!mengapa dari dulu kau tetap saja miskin! " sentak Lisda, keras.
Sedang Efron yang masih balita itu menangis mencari ibunya sedang ibunya tak pedulikannya.
Flashback off...
Saat menikmati masa santai, tiba-tiba...
"Ifna?"
Bersambung.
Andika Saputra
Dokter Justin Harsono
__ADS_1