
"Lana? " Ifna membalikan tubuhnya.
"Sepertinya, kamu sedang santai, "ujar Lana mengambil duduk di sebelah Ifna.
Ifna tersenyum kecut.
" Ya.. begitulah, " sahutnya, datar.
"Kamu gak kerja? " tanya Lana menatap dalam Ifna.
Ifna menggeleng dan membalas menatap sang sahabat lalu, mengembuskan napasnya.... Panjang(entah berapa senti?)
"Aku, selama ini kerjaku gak pernah libur kecuali hari minggu apalagi ditambah rapat kerjasama dalam pengembangan proyek atau suntikan dana dari dan untuk Perushaan lain. Bahkan aku juga harus berkunjung ke Perusahaan cabang sekali-kali atau terkadang dapat laporan ada masalah di Perusahaan cabang, " ungkap Ifna.
"Wah... segitu sibuknya dirimu, If. Pantas saja akhir-akhir ini kau tidak bisa dihubungi," timpal Lana, menggeleng.
"Maaf, " ucap Ifna tertawa hambar. "Bahkan dengan keluargaku pun tak sempat ada waktu ya…karena kami sama-sama orang sibuk mau menyempatkan ketemu saja susah, sekarang sudah waktunya aku libur dari Pekerjaan untuk menyempatkan diri berkumpul dengan Abang-abang dan Adik-adikku, " curhatnya.
"Hmm.. bener juga sih, mengisi waktu libur kan juga menghilangkan stres karena pekerjaan kita yang menumpuk," papar Lana.
"Bravo." Ifna menjentikan jemarinya.
Lana Gunawan adalah wanita pewaris tunggal kekayaan Almarhum kakeknya yang bernama Gunawan Supradja yang tidak akan habis sampai anak cucu.
Wanita satu-satunya dalam keluarga Supradja itu kerap kali dimanja dan disayang.
Biar begitu, dia tak ingin menggantungkan kekayaan pada orang tuanya dia menguras kekayaan dengan perjuangannya sendiri.
Alhasil, sekarang dia memiliki Perusahaan di bidang Buah segar yang dinamakan Perusahaan Lane.
"Lalu, bagaimana denganmu?" balas Ifna, kemudian...
"Aku juga tidak berbeda jauh denganmu. "Lana tersenyum.
"Oya.. aku lupa kalau kamu pemilik Perusahaan ya?" papar Ifna, terkekeh.
Lana tersenyum kecil.
"Hanya hoki saja kok," jawabnya, merendah.
"Juga usaha kamu kan?jangan lupa lho."Lana tertawa dan menggeleng.
"Jangan lupa juga aku masih seperti yang dulu."
"Ya.. gak mungkin lah, aku lupa. " Ifna menepuk pelan telapak tangan Lana.
Mereka pun saling berbagi tawa dan canda akan nostalgia masa lalu di saat mereka duduk di bangku sma.
"Masih inget gak saat kita pertema kali bertemu?" tanya Lana membuka percakapan.
"Masih lah! waktu kita pertama bertemu, kamu jutek banget apalagi saat melihatku kayaknya kamu punya rasa apa.. aaa, gitu ke aku?untungnya, aku menanggapimu dengan acuh tak acuh," desah Ifna tertawa jahil.
Lana memanyunkan bibirnya..
"Apalagi, kamu, "balasnya tak mau kalah. "Tahu gak?pertama kali kita ketemu tuh…bawaan kamu selalu dingin, angkuh gitu makanya, aku gak suka sama kamu."
"Iya, bahkan kita saling tidak menegur satu sama lain," ungkap Ifna menerawang.
"Dan pada akhirnya, kita dipertemukan pada suatu forum, forum apa ya namanya? lupa."Lana mencoba mengingat.
__ADS_1
Ifna pun turut berpikir.
"Kalau aku gak salah ingat forum organisasi namanya, entah mengapa di forum itu kita dipertemukan lagi?ha.. ha.. aaaa." Mengingatnya saja, tawa Ifna meledak.
"Ha.. ha.. ha.. aaa, astaga! iya.. ya, di forum itu pun masih menyisakan perang dingin di antara kita berdua," celutuk Lana menyisakan sisa tawa.
"Satu lagi, kita saling menatap tajam dalam pertemuan yang tak menyenangkan sekaligus lucu itu," imbuh Ifna, menerawang.
"Kayak anak kecil saja ya," ungkap Lana, serius.
"Malah cenderung kekanak-kanakan," timpal Ifna menatap Lana.
"Fuih!setelah beberapa hari kita saling bertegur sapa, tahu gak?waktu pertama menyapa kamu tuh rasanya canggung sekali, kamu terlalu dingin sih," ucap Lana dengan nada kesal."Ternyata aku salah, kamu gak sedingin yang aku duga."
"Kamu juga gak sejutek yang aku kira," balas Ifna.
"Jadi permusuhan kita hanyalah salah paham saja?astaga.. aaa!" Lana tergelak.
"Untung hanya miss komunikasi, Lan.Coba seandainya kita bermusuhan karena cowok, bayangin coba."
"Duh.. jangan sampai deh itu terjadi, bayanginnya saja aku gak berani." Lana bergidik.
"Gak ada gunanya juga."
"Bener tuh. "
"Oh.. iya, katanya kamu pernah suka sama Elard pemain basket yang ganteng itu kan?" goda Ifna, genit.
"Idih.. kamu, masih inget aia deh," sahut Lana, tersipu.
"Cie.. eee. "
"Masa sih?" Ifna tak percaya.
"Heh! Elard memang punya fisik yang sempurna, aku akui itu semua cewek di sekolah kita pun mengakuinya bukan?bahkan banyak yang berkhayal jadi milik Elard, ya.. gak salah sih. Aku juga berharap demikian dan lucunya, aku terjebak sama fisiknya yang sempurna, " kekeh Lana.
"Apa dia.. aa.... "
"Tahu gak?di balik wajah malaikatnya ternyata dia berhati iblis," ungkap Lana tak suka.
"Astaga! yang bener?" Ifna terkejut.
"Dia itu seorang player, If. Dia pernah suka kan ke kamu?"
"Iya, dia pernah bilang untungnya aku gak pernah menanggapinya."
"Untungnya, kamu gak terjebak ke dalam rayuannya, If."
"Ya.. aku berusaha gak tergoda sih."
"Punya hati yang dingin ternyata ada sisi positifnya juga ya."
Ifna tersenyum samar.
"Di depanku dia memuji di belakang entah apa yang dia bicarakan dengan teman-temannya. "
"Apa kamu gak merasa tersinggung?"
"Tersinggung?gak juga dong, lagipula aku bukan pacarnya dan aku, pernah ketemu cowok semacam itu ya.. jadi amggap saja dia nyamuk, gak perlu emosi menghadapinya apapun yang dia lakukan adalah hak dia," jawab Ifna,bijak.
__ADS_1
"Wah.. kamu hebat, If."
"Biasa saja tuh. "
"Ada apa, Rilan?" tanya Arvo sang sahabat.
Rilan tersenyum kecut.
"Gak ada, Vo," jawabnya tidak yakin.
"Bagaimana mungkin, jawabanmu saja gak meyakinkan," sahut Arvo tak percaya.
"Aku benar-benar gak ada masalah kok," balas Rilan berusaha tenang.
"Heh! Rilan, kamu pikir kamu bisa bohongi aku?"
"Aku….. "
"Apa kamu lupa, kalau aku ini seorang psikologi?" potong Arvo.
"Iya... aku masih ingat," sanggah Rilan memalingkan wajahnya, gusar.
"Lalu?" kejar Arvo.
"Aku gak mau membuatmu susah, Vo. Aku bisa mengatasinya sendiri," putus Rilan, tegas.
"Sejak kapan sahabatku sendiri gak percaya padaku?"
"Bukan, bukan itu maksudku."
"Lantas?apa?" desak Arvo tak sabar.
"Maaf, Arvo aku gak bisa cerita sekarang," jawab Rilan yang membuat arvo sedikit kecewa tapi, pasrah menerima keadaan.
"Ya.. sudah, aku gak bisa memaksamu untuk cerita sekarang, kalau mau cerita hubungi aku via whatsapp, kita sambil nongkrong di mana," putus Arvo, akhirnya.
"Baik."
"Masih tersimpan kan nomornya?"
"Masih lah. "
"Pak Firham, anda jangan khawatir saya akan menemukan aset Perusahaan ini agar bisa terjatuh ke tangan anda."
"Bagus, jangan sampai penyamaranmu sebagai pekerja baru terbongkar."
"Tentu saja, Pak. Anda tenang saja tapi, saya butuh waktu untuk mengambilnya karena keadaan yang tidak mengizinkan. "
"Aku mengerti, jangan lupa berikan kabar baik untukku."
'Klik! " Beberapa menit kemudian percakapan pun diputus.
"Mas, ada yang bisa saya bantu?" pergok Mahmud tersenyum misteri.
"Hah?! "
Bersambung..
Nesya
__ADS_1