Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Ternyata Pria Culun Itu..


__ADS_3

"Saya mau melamar kerja, Mas," jawab pria culun itu memelas dan menunduk.


"Ha? sesaat lelaki itu dan pelamar lainnya bengong tak lama kemudian meledak lah tawa mereka.


"Perusahaan terkenal begini gak salah mencari pekerja?masa orang begini bisa masuk?" ucap seorang wanita, sinis.


"Paling entar keluar lagi," timpal seorang pria berkumis tipis.


"Oh.. iya.. ya.. mana mungkin dia keterima. "


"Mas dan Mbak, yang penting saya usaha keterima atau gak nya itu soal belakangan," balas pria culun itu lagi.


"Emangnya Perusahaan ini menerima orang culun kayak kamu, Mas?gak mungkin lah ya!lagipula orang-orang di sini tuh rata-rata berwajah terpelajar gak culun kayak si Mas nya, " celutuk lelaki yang lumayan tampan meremehkan.


"Pulang aja deh, Mas. Mending kamu kerja di sawah deh," timpal yang lainnya.


"Kok kalian ngomong gitu sih? kan kalian belum tahu hasilnya," sungut sang pria culun.


"Akan kubalas kalian!lihat saja, saat kalian tahu siapa aku?" gerutu pria culun dalam hati.


"Lalu, apa yang diharapkan dari kamu!"tunjuk pria berbadan tinggi, sengit.


"Heh!kita lihat saja nanti," sahut pria culun dalam hati tersenyum miring.


"Terus, apa yang diharapkan dari kalian yang suka merendahkan orang lain?dari tadi saya dengar kalian menghinanya, apa karena penampilannya?saya rasa Perusahaan sebagus ini tidak bisa menerima pelamar yang suka merendahkan orang seperti kalian!" balas seorang pria tampan dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi ya.. sekitar seratus tujuh puluh senti lah yang tidak tahan dengan perkataan sesama pelamar lainnya yang menghina seorang pelamar.


"Duduk aja, Mas. Jangan dengarkan mereka saya yakin kamu bakalan keterima," tutur pria itu tersenyum pada pria culun.


Pria culun pun membalasnya...


"Terima kasih, Mas," ucapnya, pelan.


"Eh.. kamu siapa sih?ikut campur aja, kenal pun gak!" protes seorang wanita berbibir seksi ala Pamela Anderson, ketus.


"Tahu tuh!" timpal yang lainnya, jengkel.


"Kita memang gak saling kenal tapi alangkah baiknya kalau kita tidak saling menghina apalagi kita sama-sama pelamar," ucapnya, bijak.


"Wah ternyata ada juga yang bela in aku," batin si pria culun, bangga.


"Eh.. Mas kamu itu kok malah bela in si culun itu sih?apa untungnya?" serang lelaki berkumis tipis.


"Saya membela yang benar, Mas," jawab lelaki bijak itu.


"Alah, Mas.... Mas. Jangan sok baik deh!"


"Eh... Mbak kalau ngomong hati-hati ya!"


"Emangnya kenapa?" wanita itu mendelik.


"Mas, sudah. Biarkan saja mereka, " lerai si pria culun.


"Gak bisa, Mas. Kalau mereka dibiarkan begitu saja mereka akan terbiasa merendahkan orang lain, kebayang kalau mereka jadi orang penting di sinj pasti mereka akan menginjak-nginjak harga diri pekerja yang lebih rendah dari mereka." pria itu tetap kukuh pada pendiriannya.


"Eh.. kamu gak usah sok jadi pahlawan deh Mas!"


"Iya perasaan nih orang dari tadi ikut campur aja."


"Maaf ya, saya harus ikut campur. Habis kalian keterlaluan sih. "


"Lho emang faktanya kan begitu. "


"Iya, emang. Tapi kalau misalkan dia tidak diterima apa kalian pikir kalian bakalan diterima?belum tentu. "

__ADS_1


"Maksudmu apa sih?"


"Gak ada maksud apa-apa, Mas. "


Setelah lama berdebat mereka pun dipanggil ke ruang interview...


"Eh... ngomong-ngomong, mana si culun tadi?" tanya pria tampan pada pria bertubuh tinggi.


"Iya.. ya.. mana dia ya?" sahutnya baru menyadari akan hilangnya pria culun.


"Dia merasa tersinggung kali."


"Apa dia baru menyadari ya kalau dia tak pantas ada di sini."


"Heh! sudahlah, gak usah mikirin dia, ngapain?gak penting juga. "


"Bener juga."


Si pria tampan baik hati itu hanya diam dan menggeleng heran melihat tingkah pelamar lainnya.


Setelah masuk...


"Kau!"


Mereka terkejut saat melihat si pria culun duduk di singgasana sang pemilik Perusahaan.


"Hai... apa yang kau la.... "Seorang pria pelamar yang sok terhenti teriaknya saat ada seoranng pria masuk.


"Pak Danzel, saya sudah kumpulkan semuanya, ini dia para pelamarnya, " info Fazal sang asisten.


Para pelamar yang sombong itu melongo tak percaya bahwa pria culun itu adalah atasan suatu Perusahaan.


"Ya... aku mengerti kembali lah lagi pada pekerjaanmu," titahnya.


Semakin keluar lah bola mata mereka saat melihat apa yang terjadi?saat pria culun membuka kacamatanya dan membuka kancing kemeja yang paling atas sungguh, yang terlihat bukan wajah culun nan polos tapi wajah tampan nan dingin.


"Ha?ternyata pria culun itu...Atasan Perusahaan ini?" batin pria tinggi yang juga ikut menghina tertunduk malu.


"To the point saja."Danzel membuka percakapan menatap satu per satu calon pekerjanya. "Aku tak perlu lagi membaca ijazah kalian, kalian tidak dapat diterima di Perusahaan ini," putusnya, tegas.


"Kenapa,Pak?"


"Iya, Pak. Kami kan dari lulusan terbaik."


"Aku tidak peduli kalian ingat apa yang tadi kalian lakukan padaku?kelakuan kalian lah penentu semua ini untuk apa kalian punya predikat terbaik di kampus tapi kelakuan kalian minus!"ucap Danzel, lantang dan menusuk.


"Maaf, Pak, " cicit wanita berbibir seksi yang juga ikut menghina itu menyesal.


"Setelah kalian tahu aku, baru kalian minta maaf!" sentaknya.


"Pak tolong kasih kami kesempatan. "


"Iya, Pak. "


"Kami akan berubah kok Pak gak menghina orang lagi. "


Danzel tersenyum samar, lalu...


"Get ou... uuuuuuuuut!" lantangnya.


Mereka pun keluar dengan wajah penuh sesal.


"Dan kamu," tunjuk Danzel pada pria tampan berperawakan sedang itu.

__ADS_1


"Saya Pak?" tanya pria itu ragu.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?kamu, saya terima di Perusahaan ini."


"Beneran,Pak?" mata pria itu berbinar.


"Iya, kamu aku terima menjadi Manager keuangan karena dari ijazah kamu yang lulusan akuntasi, selamat ya," ucapnya, tulus.


"Terima kasih, Pak," balas sang pria calon pekerja dengan wajah bahagia. "Kapan saya akan mulai kerja?"


"Mulai besok jam setengah delapan, jangan telat ya."


"Baik, Pak. Saya siap. "


"Atas nama Arzel Birowo kan?"


"Iya, Pak. Itu nama saya. "


"Baik aku tunggu kedatangannya besok jam setengah delapan. "


"Baik, Pak. "


Dengan wajah yang cerah pria bernama Arzel itu keluar, dia tak sabar menanti hari itu datang.


Setelah Arzel berlalu...


"Fazal, bisa keruanganku sekarang?"komando Danzel.


Beberapa menit kemudian..


"Masuk."


Fazal pun masuk...


"Ada gerangan apa, Pak?anda memanggil saya?" tanya Fazal, sopan.


Sejenak Danzel menatap sang asisten, datar.


"Besok kita kedatangan Manager keuangan yang baru menggantikan Mita yang berhenti bekerja karena titah suaminya yang tidak membolehkannya bekerja. "Fazal mengangguk mengerti.


"Jadi besok kamu tunjuk kan saja tempat duduk Mita. "


"Baik, Pak. "


"Satu lagi.. "


"Apa itu Pak?"


"Tolong kamu cairkan bonus untuk satpam yang bernama Pak Uke dan angkat dia menjadi kepala satpam."


"Siap Pak. "


Danzel memang bukan pemilik Perusahaan Derafa, dia diberi amanah oleh Efron untuk menjaganya selama dia berada di Inggris.


Karena diberi amanah Danzel tidak mau menerima sembarangan orang yang masuk ke Perusahaan milik bos nya itu apalagi para pelamar kerja.


Maka dengan ide gilanya dia menguji para calon karyawannya itu contohnya tadi pagi dia menyamar jadi pria culun yang melamar kerja.


Alhasil dia melihat sendiri sifat asli para calon pegawainya itu.


"Tuan.Hendra mendatangi ruang pribadi Efron.


"Ada apa,Hendra?" tanya Efron, dingin.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2