Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Atas Nama Pak Nano Suriyat.


__ADS_3

"Atas nama Pak Nano Suriyat, sudah tersedia, Bu," jawab Anggita, mantap dan santun.


"Bagus, " sahut Nifa, puas


"Apa ada lagi, Bu?" tawar Anggita.


Sejenak Nifa berpikir.,.


Lalu beberapa menit kemudian..


"Sleeper bus yang mengantarkan para Mahasiswa ke Yogya itu apa jumlahnya pas atau berkurang?" tanya Nifa, cemas.


"Jumlah bis nya sudah pas, Bu, "jawab Anggita, jujur.


"Kamu yakin?"selidik Nifa.


"Yakin sekali, Bu," balas Anggita meyakinkan.


"Syukurlah, kalau begitu. Jadi semuanya sudah lengkap," ujar Nifa, mendongak. Menatap datar sang Asisten karena posisinya yang lagi duduk. "Tugasmu sudah selesai, kembalilah ke tempat kerjamu," titahnya.


"Baik, Bu," sahut Anggita, menurut.


Markas Polisi...


"Setelah bercerai dari Bu Lisda, apa Bapak pernah punya keinginan menikah lagi?" tanya Arzan dengan suara agak pelan.


Hadi menarik napasnya, panjang. Lalu...


"Keinginan itu pasti ada, Pak. Saya hanya manusia biasa yang menginginkan cinta tapi di samping itu saya juga mengalami trauma takut ditinggal untuk kedua kalinya, di sisi lain saya punya anak yang harus saya hidupi," ungkapnya menerawang masa lalu.


"Wah... ternyata, anda Ayah yang baik ya," puji Arzan.


Hadi pun hanya menggeleng dan tertawa hambar.


"Saya hanya menjalani tugas saya sebagai seorang Ayah sekaligus Ibu, Pak," sela Hadi, merendah.


"Silakan, diminum tehnya, Pak. Mumpung masih hangat." Arzan mempersilakan Hadi minum teh hangat yang Arzan buat sendiri.


"Iya, Pak. "


Dengan perlahan Hadi menyeruput teh hangat untuknya.


Setelah itu....


"Dari cerita anda, dulu Istri anda pernah meninggalkan anda. Benar begitu?" Hadi menelan ludah.


"Iya itu benar, Pak. Sebenarnya, yang salah bukan hanya Istri saya melainkan saya yang tidak bisa membahagiakannya sehingga dia berpaling dengan laki-laki yang lebih kaya darinya," paparnya.


"Oh.. begitu?"desis Arzan, manggut-manggut. "Bukannya kebahagiaan tidak dinilai dari hartanya?"ralatnya.

__ADS_1


"Ya, saya sendiri juga tidak tahu pemikiran mantan Istri waktu itu, Pak," sanggah Hadi, menggeleng. Dengan ekspresi wajah sedih.


"Apa Bapak sebelumnya pernah bertemu mantan Istri?"


"Pernah Pak di xxx tapi yang saya lihat waktu itu keadaannya sudah tidak waras sehingga dia tidak mengingat saya sebagai mantan Suaminya. "


"Astaga!"


"Iya, Pak. Justru dia malah sangka saya itu selingkuhannya yang sudah menipunya."


"Menipu?maksud anda menipu apa ya, Pak?" Hadi menggeleng.


"Saya juga kurang tahu, Pak. masalahnya apa. lagipula dia kan sudah bukan Istri saya lagi. "


"Benar juga ya. "


"Biar begitu dia pernah menjadi bagian hidup saya dan Ibu yang pernah melahirkan putra kami ke dunia ini." Hadi menjeda sejenak kalimatnya.


"Saya paham, Pak," tutur Arzan.


"Rasa benci saya berkurang saat melihatnya seperti itu setelah dia ditipu dan dicampakan oleh pria yang dulu menjadi selingkuhannya," lirih Hadi.


"Apa ini yang dinamakan karma?" batin Arzan bertanya-tanya. "Apa anda tidak merasa sakit hati atas perlakuannya?"herannya.


Hadi tersenyum kecut...


"Oh... ternyata anda mantan yang baik ya, Pak. Cuma saya gak tahu pikiran mantan Istri anda. "


Hadi terdiam tidak tahu harus berkata apa?dan pula, menikah dengan Lisda dulu adalah pilihannya walaupun kedua orang tuanya terutama Almarhum Ayahnya menentang dan mengatakan Lisda bukan wanita baik-baik.


Ternyata semua itu benar setelah menjadi Istrinya Lisda sudah membuka topengnya berselingkuh dengan pria lain yang bermobil.


Rasa sesal itu pasti ada tapi bagaimana lagi?nasi sudah menjadi bubur, Hadi muda hanya menggigit jari saat sang Istri lari bersama selingkuhannya dengan menggendong Efron kecil yang menangis kencang melihat kepergian Ibunya.


"Saya mencoba ingin menjadi Ayah yang baik, Pak. Buat Anak saya dan masa depannya jangan pernah dia salah pilih yang berakhir dengan penyesalan. "


Di tempat lain...


"Kanker?" ulang Meta, kaget.


"Iya, Met. Aku yakin kamu gak percaya ini semua bahwa aku pernah terkena penyakit tersebut," ungkap Rilan mengenang masa lalu.


"Bagaimana aku bisa percaya, Lan. Penyakit itu kan penyakit mematikan, kemungkinan kecil si pasien bisa sembuh malah yang ada mendatangkan kematian," tukas Meta dengan ekpresi wajah heran.


"Itu lah, aku pun tak percaya," sanggah Rilan, cepat. Menatap dalam Meta.


"Fuih... "


Meta mengempaskan napasnya, balas menatap Rilan lalu beralih ke arah lain dengan rambut panjang bergelombang warna merah menyala menari-nari seiring angin yang berembus.

__ADS_1


"Percaya atau tidak, peristiwa yang kau alami itu adalah mukzizat, Lan. Bersyukur pada Tuhan kamu sudah terbebas dari penyakit itu," imbuh Meta, bijak.


"Ya, walau penyakitku malah masuk ke tubuh Seina," sesal Rilan, kemudian..


"Seina terlalu mencintaimu, Rilan. Sehingga dia tidak ingin kamu menderita dengan penyakitmu itu," sanggah Meta.


Rilan tersenyum kecut..


"Aku tak pernah memintanya, Met. Kalau pun aku harus kalah dengan penyakitku dan takdirku harus sampai di sini, biarkanlah!yang aku cemaskan adalah dia mengetahuinya entah dari mana dan bodohnya, aku tidak berdaya untuk mencegahnya," rutuk Rilan pada dirinya sendiri.


"Jangan salahkan dirimu sendiri, Rilan. Ini adalah takdir semua terjadi atas kehendakNya di luar nalar manusia itu sendiri," suport Meta. "Doakan saja dia agar tenang di alam sana," tuturnya, menenangkan.


Rilan pun membenarkan penuturan Meta sang kekasih, dia tidak boleh terpuruk dan terjatuh.


Dia harus bangkit berdiri tegak menyongsong masa depan dan masa depannya adalah Meta Aurila Prayidna yang akan dipinangnya beberapa bulan kemudian.


Meta Aurila Prayidna adalah artis tik tok terkenal juga pemilik Vila mewah Aurila dan lapangan golf yang bernama Utoyo yang diambil dari nama sang Ayah Utoyo Prayidna adalah seorang presidir Perusahaan Prayidna yang bergerak di bidang mesin pengering baju.


Tidak tanggung-tanggung Meta adalah keturunan bangsawan dari Buyutnya dan sang Kakek pernah ikut berjuang dalam perang melawan penjajah.


"Amin, terima kasih, sayang. Atas dukungannya kamu benar kalau aku gak boleh terpuruk terus dalam duka," ucap Rilan, mesra.


"Sama-sama, sayang. Aku akan terus mencintai dan mendukungmu," sahut Meta dengan suara lembut.


"Saling mencintai dan saling mendukung, sayang," ralat Rilan. "Bukankah dalam setiap hubungan harus ada timbal balik?"paparnya.


"Iya, sayang. Menurutku juga begitu," balas Meta lalu kepalanya bersender di bahu Rilan dan Rilan pun membiarkannya sembari sesekali mengusapnya.


Sedetik kemudian mereka pun saling terdiam menikmati keindahan panorama taman buah aromatic lengkap dengan cafenya di tengah kota Bekasi.


Semua buah ada di sini mulai dari apel sampai durian, lengkap semuanya baik lokal maupun ekspor semuanya ada.


Tinggal petik semau kita lalu timbang dan harga pun terpasang, bayar dengan apa saja... Boleh. Mau debit, cash ataupun bar code semuanya bebas.


Bisa pesan yang utuh ataupun minta di jus.


Saat ini Rilan dan Meta menikmati pemandangan taman yang cozy dan insta itu dari roof top.


Perusahaan Argan...


"Permisi, Pak, " sapa sang Asisten, sopan.


"Masuk," titah Zachry.


Beberapa menit kemudian...


"Ada apa?" tanya Zachry tanpa basa basi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2