Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Seorang Wanita yang Mati Tergantung.


__ADS_3

Dia menutup mulutnya dengan mata yang terbelalak, ya dia melihat seorang wanita tergantung lehernya pada seutas tali di pohon beringin.


Rupanya, wanita itu baru saja menemukan ajalnya.


"Eh...Bu Ratna ada apa, Bu?kok saya dengar Ibu berteriak kayak melihat sesuatu, gitu," ucap sang tetangga sekaligus bestie dalam bergosip.


"Itu Bu Hani, " tunjuk Bu Ratna, ketakutan. Telunjuknya menunjuk ke atas.


Beberapa menit kemudian….


"Hah!" pekiknya, kaget. "It... itu, si... siapa, Bu?"


"Saya juga gak tahu siapa dia, Bu. Pastinya, saya menemukannya dalam keadaan tergantung," jawab Bu Ratna, apa adanya.


"Aduh bagaimana ini, Bu?" tukas Bu Hani, cemas.


"Kita harus melapor semua kejadian ini pada Pak er te, secepatnya!" usul Bu Ratna.


Ide yang bagus, Bu. Ayo segera kita ke rumahnya sekaligus menceritakan kejadian yang baru saja kita lihat," sahut Bu Hani, antusias.


"Ayo."


Di tempat yang berbeda...


Tepatnya, di Cafe Djuri...


Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati kopi Vietnam yang hangat sekaligus mendengar lagu-lagu balada barat di Cafe itu, tiba-tiba...


"Maaf, apa anda Kiran Iskandar?" tanya seorang wanita, ragu.


Kehadiran wanita itu yang tiba-tiba membuat Kiran agak kaget.


"Iya, saya sendiri," jawab Kiran, tegas. Mendongak karena dia sedang duduk lalu dia pun tersenyum manis ke arah wanita itu.


"Oh.. kebetulan, saya ini sudah lama nge fans berat Mbak. Saya sering banget pantengin kegiatan Mbak di instagram," seloroh wanita itu jujur lalu dia pun duduk menghadap Kiran.


"Terima kasih," ucap Kiran, datar. Namun, tidak mengurangi senyuman.


"He.. ee, iya," desis wanita itu tersenyum malu. "Mbak Kiran, boleh gak saya minta foto bareng Mbak?" pintanya, ragu.


"Tentu saja boleh," jawab Kiran tak menolak.


"Wah..terima kasih ya, Mbak," pekik wanita itu girang.


Dengan antusias wanita itu mengeluarkan android S nya, setelah itu..


Ceklek...


Dengan antusias wanita itu mengambil foto dengan Kiran dengan gaya yang dibuat segenit mungkin.


Setelah foto bareng Kiran, wanita itu minta tanda tangan sang selegram tentu saja Kiran menyanggupinya.

__ADS_1


"Seorang wanita meninggal dengan leher tergantung?" ulang Pak er te dengan wajah terkejutnya.


Perlu diketahui ya Pak er te yang bernama Zurman Uwarya ini adalah seorang sarjana teknologi di universitas paling bergengsi di Jakarta.


Selain tampan dia juga masih muda dengan umur tiga puluh lima tahun satu lagi bonus, dia masih single lho.


"Iya, Pak. Kami melihatnya," jawab Bu Ratna lalu memandang Pak Zurman sekaligus bestie nya dengan wajah angker.


Karena bestie nya itu menatap Zurman dengan pandangan terpesona.


"Ehem!" Bu Ratna memberi kode dengan deheman untuk menyadarkan bestie nya.


"Akh.. Bu Ratna, gak seneng banget ya lihat bestie nya bahagia?" timpal Bu Hani sambil terus memandang Zurman dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.


"Bahagia?endasmu!" ketus Bu Ratna, kesal.


Zurman pun hanya tersenyum geli menanggapinya.


"Apa Ibu-ibu bisa menunjukan lokasi te ka pe nya?" tanya Zurman, penasaran.


"Bisa, Pak. Mari, ikut kami," pandu Bu Ratna.


"Sebentar ya, Bu. Saya mau ganti baju dulu dengan yang rapi. Gak enak dilihat orang pakai kaos oblong."


"Iya, Pak. Silakan."


Surabaya....


Salamannya pun adalah salaman perkenalan tatapan mereka juga tatapan antara klien kerjasama.


"Oh... beneran dia ya?" batin Kifaya, terbengong-bengong.


"Terima kasih, sudah menyempatkan waktunya berkunjung ke sini. Silakan duduk. "


"Terima kasih juga atas undangannya kemari, Pak Arghatan. Sungguh, saya terhormat di undang ke kantor seorang Sutradara terkenal seperti anda," balas Kifaya sekaligus memuji.


"Bisa saja Ibu Kifaya ini," desis Argathan menggeleng dan tertawa kecil. "Justru saya merasa terhormat dengan seorang penulis naskah terkenal seperti anda mau mampir ke kantor saya yang tidak layak ini. "Kifaya pun terkekeh.


"Anda terlalu merendah, Pak Argathan,"selorohnya menyisakan tawa.


Lalu dia pun menghentikan tawanya...


"Saya menulis naskah itu memang saya pada dasarnya suka menulis, Pak. Termasuk menulis naskah juga,"


gumam Kifaya, serius.


"Saya mengerti, Bu. Bahkan saya pernah membacanya di suatu platform aplikasi penulisan dan saya dengar, banyak kru film termasuk saya yang tertarik ingin meminang naskah anda," sahut Argatha, serius. "Menurut saya tulisan anda sangat bagus dan karakter tokohnya benar-benar hidup," imbuhnya memuji.


"Semua itu hanya hoki bagi saya kok, Pak. " Kifaya merendah. "Sekaligus membantu suami kerja cuma bedanya saya online sedang suami saya offline," tuturnya.


"Oh.. begitu?" gumam Argathan, manggut-manggut.

__ADS_1


"Ya, lumayanlah untuk menambah uang saku diri saya sendiri dan kebutuhan anak-anak kami."


"Wah... Bu Kifaya, saya begitu bangga dan terhormat. Bertemu dengan seorang wanita yang hebat dan independent seperti anda."


"Saya juga merasa terhormat bertemu langsung dengan seorang sutradara hebat dan terkenal seperti anda, saya bahkan pernah melihat film nya yang berjudul Kota Ilusi itu. Bagi saya, film anda sangat menarik dan seperti nyata. Para aktor dan aktrisnya yang menjadi tokohnya pun sangat mendalami perannya sehinga saya yang melihatnya seperti terhanyut akan akting para tokoh tersebut yang sangat mengagumkan."


"Terima kasih, Bu. Atas pujiannya terhadap karya saya, sungguh saya tidak menyangka ada yang menyukai karya saya," kekeh Argathan, hambar.


"Bukan saya saja yang menyukai karya anda tapi, semua orang yang menonton bioskop bersama saya sangat menyukai film anda yang begitu menarik dan berakhir dengan kepuasan para penontonnya," tukas Kifaya, sungguh-sungguh.


Kembali ke Bekasi...


"Itu, Pak. Di sana!" tunjuk Bu Ratna ke arah seorang wanita yang mati tergantung.


"Oh... itu ya, Ibu-ibu?" selidik Zirwan.


"Iya, Pak," jawab Bu Ratna dengan keyakinannya.


Sedang Bu Hani sang bestie terus saja menatap Zirwan dengan pandangan yang penuh dengan bunga.


Bu Ratna yang melihatnya menggelengkan kepala. "Benar-benar mencari kesempatan Bu Hani ini," umpatnya dalam hati.


"Ehe.. eem. "Bu Hani terkejut. "Apaan sih, Bu?" protesnya karena mimpinya indahnya terganggu oleh sang bestie.


Ingat sama suami dan anak-anak, Bu," tegur Bu Ratna, tenang.


"Iya.. iya. "Bu Hani cemberut.


"Astaga!mengapa dengan wanita ini?" tutur seorang netizen.


"Iya, kenapa ya?" timpal netizen di sebelahnya.


"Apa wanita ini mengalami hidup yang susah?"


"Kasihan ya. "


"Iya, kasihan wanita ini harus berakhir sampai di sini. "


"Iya, benar. "


Rupanya, sebelum Pak er te dan kedua Ibu rumah tangga itu menuju te ka pe. Ternyata, para netizen itu sudah lama berada di lokasi.


"Kita harus melapor ini pada pihak yang berwajib," putus Zirwan, kemudian..


Surabaya..


"Sudah lama saya ingin meminang naskah anda sebenarnya tapi, belum ada waktu untuk meminangnya," aku Argathan.


Kifaya hanya tersenyum mendengarnya.


"Kebetulan anda di sini, bagaimana kalau saya meminang naskah anda untuk skuel film saya yang baru berjudul "Keluarga Raden"?apa anda bersedia?" tawarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2