
"Firdan? sepertinya nama itu tidak asing," pikir Efron mengingat sesuatu. "Apa dia.... kalau tidak salah teman sma ku dulu?" batinnya, ragu.
"Apa namanya Firdan Rivanto?" tebak Efron.
"Iya, Pak itu nama lengkapnya," jawab Danzel.
"Jadi benar dia?"tukas batin Efron.
"Apa anda mengenalnya?" tanya Danzel ingin tahu.
"Tentu saja, dulu dia teman lamaku di sma, "jawab Efron, santai.
"Wah... kebetulan dong, Pak. Kalian dipertemukan lagi. "
"Iya."
"Oh.. iya, Pak. Maaf, apa anda tidak ganti baju dulu?masih ada waktu untuk ganti kok Pak," ucap Danzel, mengingatkan.
Sambil tersenyum Efron menggeleng..
"Tidak usah, lagipula baju ini masih layak untuk dipakai," balas Efron, santai.
Beberapa jam kemudian...
Firdan dan asistennya pun datang ke Perusahaan Derafa yang disambut ramah oleh Danzel.
"Silakan anda berdua duduk dulu, Pak. Saya akan panggilkan atasan saya," ucap Danzel, sopan.
"Hmm.. baiklah," jawab Firdan, datar.
"Kak Ifna, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Rangga sang Adik.
Ifna pun kaget dan pura-pura pasang wajah datar. "Enggak ada apa-apa, kamu kok tiba-tiba ada di sini?"tanya Ifna, balik. Sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Mau menghindar ya?" goda Rangga, tersenyum. Lalu menunjuk.
"Apaan sih?!"
"Habis ketemu siapa?hayo.. oo!" Rangga semakin menggoda sang Kakak.
"Rangga... aaaaaa! "
Ifna kesal dan marah saat Rangga sang Adik membayangkan seorang pria yang pernah dia lihat lalu dipertemukan kembali di sekitaran Jalan Ahmad Yani.
Waktu itu, Ifna sedang belanja bulanan di Mall Metropolitan untuk kebutuhan keluarga.
"Dia pria yang baik ya sudah itu sopan lagi, " gumam Ifna, bahagia.
Flashback on...
Sehabis makan siang di Restoran favorit Ifna dan rekan kerjanya, mereka pun pulang.
"Bagaimana kalau aku sekali-sekali trkatir kamu di Restoran ini?" usul Efron.
"Hmm... boleh juga, "jawab Ifna sambil tersenyum.
"Oh.. iya, siapa na.... "
"Awas!" Pria itu mau menanyakan nama pada Ifna tapi dia tunda karena Ifna hampir saja ketabrak mobil kalau dia tidak menarik tangannya.
Mereka pun dalam posisi saling memeluk dan memandang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian..
"Ups.. astaga!" Ifna segera melepaskan pelukannya.
"Maaf, "ucap pria itu merasa bersalah.
Flashback off...
"Aduh kenapa aku tadi gak nanya namanya ya?akh.. hh, bodohnya aku!"gerutunya pada dirinya sendiri lalu menggetuk jidatnya sendiri.
Perusahaan Derafa..
"Efron, kamu termasuk orang Perusahaan ini juga?" tanya Dirfan dengan mata berbinar.
Efron tersenyum..
"Iya, Dirfan. Aku pegawai di sini," jawab Efron.
"Oh... hebat ya kamu, bisa kerja di sini walau hanya pegawai tapi termasuk hebat juga sih bisa masuk sini, Perusahaan terbesar dan terkenal ini," ungkap Dirfan, memuji.
"Ya.. begitu lah, Dif. Aku bersyukur bekerja di Perusahaan ini walau aku hanya lah pegawai biasa tak sebanding dengan dirimu," sahut Efron, merendah.
"Jangan ngomong seperti itu lah, kawan! kita kan teman, gak boleh saling membandingkan dan aku... Tetap teman kamu selamanya, " balas Dirfan menepuk pundak Efron.
"Terima kasih masih menganggapku teman," lirih Efron, tersenyum kecil.
"Ngomong kosong apaan sih?ya.. iyalah kamu itu masih temanku mana mungkin dong aku lupa," kekeh Dirfan menggeleng. "Lagipula Perusahaanku lagi jalan. "
"Ya.. aku sudah tahu, sudah dapat info dari atasan ku sih. "
"Oh... sekarang atasanmu di mana?"
"Dia datangnya mungkin agak lama, Dir. Kamu yang sabar ya... maklum namanya juga atasan. "
"Untuk menghilangkan rasa bosan, bagaimana kalau aku menemani kalian jalan-jalan keliling Perusahaan ini?" usul Efron.
"Ide bagus tuh. "
Arah lain...
Pada akhirnya, mereka sudah sampai tujuan Andika pun memakirkan mobil Brio warna kuningnya ke arah utara biar gampang keluarnya.
"Ayo.. turun," titahnya pada Rilan.
Rilan mengangguk pelan dengan hati yang dipenuhi debaran karena dipertemukan sang kekasih yang sudah tertidur untuk selamanya.
Beberapa menit kemudian..
Dengan tangis yang menyayat, Rllan bersimpuh dan memeluk batu Nisan yang bertuliskan Seina.
"Maafkan aku tidak sempat mencegahmu waktu itu," ucap Rilan, lirih. Merasa bersallah dengan tangis yang masih tersisa.
"Sudah tidak usah menyalahkan dirimu sendiri mungkin inj takdir hidupnya harus sampai di sini," bisik Andika.
Selang beberapa menit..
Rilan meletak kan bunga tulip kesukaan sang kekasih ke pusaranya lalu mengirimkan doa untuk kekasih tersayang agar tenang di sisi Nya.
"Efron jadi kamu.... "
Efron tertawa kecil. "Ayo.. kita ke ruang rapat," ajaknya menyisakan senyum misteri saat sang teman masih saja melongo.
__ADS_1
Sampai di ruang rapat...
"Silakan duduk, sudah gak usah tegang begitu mukanya, biasa saja."
"Efron, jadi kamu... Pemilik Perusahaan ini?"
"Iya, Dirfan. "
"Wah.. kamu hebat ya!" puji Dirfan tersenyum bangga.
"Aku juga bangga sama kamu," balas Efron, tulus.
"Apa yang dibanggakan dariku? Perusahaan aja baru didirikan. "
"Gak masalah bagiku yang membuatku bangga padamu adalah kamu tetap menganggapku teman walau aku hanya pegawai biasa. "
"Ya.. iyalah, Fron. Pekerjaan tinggi atau rendah itu harus dihargai, gak boleh dibanding-bandingkan. "
"Itulah yang dari dulu aku sukai darimu, Dir. "
"Bisa saja kau ini. "
Beberapa jam kemudian rapat kerja sama pun dimulai, rapat pun berlangsung dengan tertib dan lancar.
Surabaya
Tepatnya Perusahaan Wirya..
"Pak Awirya, jadwal kita hari ini adalah rapat produk Perusahaan kita jam dua tepat lalu jam tiga sore istirahat sejenak kemudian jam tiga dua puluh lima makan-makan di Pondok Coffee Sheran di Jalan xxx bersama dengan para client, terakhir mengadakan konferensi pers mengenai produk baru Perusahaan kita di Hotel berbintang Laytee pada jam lima tepat. Begitulah jadwal kita hari ini, Pak," tutur Yoga sang asisten menutup bacaan jadwal acara sang bos.
"Hmm.. baiklah, atur saja semua nya, "titah Awirya.
"Baik, Pak," sahut Yoga, menurut.
Di rumah..
"Selamat siang, apa benar ini rumah Ibu Kifaya yang seorang penulis naskah?" tanya seorang wanita menyelidiki.
"Iya, Mbak. Ini rumahnya dan saya, asisten keluarga ini. Ada perlu apa ya, Mbak?biar saya sampaikan pada beliau karena beliau sedang meniduri putranya yang masih bayi," jawab Hanum, santun. Sang asisten rumah tangga keluarga Awirya.
"Oh.. begitu?kalau begitu, bisa tolong panggilkan beliau sebentar, tidak?karena ada sesuatu yang penting harus saya bicarakan padanya sampaikan padanya ada seseorang bernama Zifara ingin bertemu," pinta wanita cantik bernama Zifara itu.
"Baiklah, akan saya sampaikan. Silakan masuk dulu, Mbak." Zifara mengangguk.
Setelah di dalam...
"Silakan duduk dulu, akan saya panggilkan beliau. "
Beberapa jam kemudian...
"Eelamat siang, Ibu Kifaya. Maaf, mengganggu waktu anda. Perkenalkan saya Zifara Areni saya dari agent perfilman," sapa Zifara, ramah. Mengulurkan tangannya yang disambut oleh Kifaya.
"Silakan duduk kembali, saya akan menyuruh asisten saya untuk membuatkan minuman syrup untuk anda. "
"Tidak usah, Bu. Saya ke sini tidak lama kok," cegah Zifara. "Tujuan saya ke sini hanya lah ingin mencari penulis naskah salah satunya adalah anda, Ibu Kifaya," tekannya, santun.
"Mengapa harus saya?kan banyak penulis naskah lainnya," elak Kifaya.
"Iya, Bu. Saya tahu, kebetulan saya dan seluruh kru perfilman termasuk Bapak sutradara jatuh cinta pada naskah yang anda buat, naskah yang anda ketik itu terasa seperti hidup saat dibaca," terang Zifara, jujur.
"Masa?" balas Kifaya ragu.
__ADS_1
Bersambung..