
"Zachry?" Siena melebarkan matanya karena kaget.
"Kenapa?"tanya Zachry, datar.
"Kamu tahu rumahku, dari mana?" Siena mendongak menatap Zachry terheran-heran. "Bukannya aku belum memberimu alanat rumah ini? "curiganya
"Ck.. bukannya disuruh masuk aku malah diintrogasi, gila juga nih Nona rumah," gerutu Zachry dalam hati.
"Kamu gak perlu tahu dari mana aku bisa menemukan rumahmu, " jawab Zachry, dingin
Zachry mau masuk, tapi...
"Eits.. you can't in if you don't tellme, " cegah Siena, keras.
" If i won't?"
"I'm sorry you won't come, kalau kamu gak jawab aku akan semakin mencurigaimu jangan-jangan kamu orang yang... "
"Oke.. oke, baik aku akan bilang," potong Zachry, menyerah.
Siena di ambang kemenangan.
"Baik, Tuan Zachry katakan lah, " pintanya, tegas.
"Ehem... aku, mendapatkan alamat rumah ini dari kembaranmu, " jawab Zachry, akhirnya.
"Seina?"
"Ya... begitulah."
"Aku kok baru tahu ya?" heran Siena.
"Masa sih?" Zachry mengkerutkan kenjngnya.
Iya, benar. Dia sama sekali belum cerita, apa dia lupa ya?"
"Mungkin saja."
Siena manggut-manggut.
"Apa sekarang aku boleh masuk, Nona Siena?"
"Oh.. silakan."
Sebelum masuk Zachry melepaskan sepatunya.
"Akh... hhh, leganya sampai Jakarta juga akhirnya, " ungkap Efron, bahagia saat turun dari pesawat.
Dengan kemeja kotak-kotak warna biru lengan pendek berpadu celana panjang hitam warna cokelat tua dengan sepatu kets warna hitam plus kacamata hitam yang terpampang di matanya membuat Efron semakin tampan dan gagah.
Apalagi di lengan kanannya terpasang sweater warna hitam putih yang dia pakai saat di Inggris sedangkan tangan kirinya menjinjing laptop.
Para wanita memandang kagum padanya tak terkecuali wanita bule yang langsung terpana saat melihat wajah Efron.
Namun, Efron hanya bersikap cuek dan dingin.
Balik ke rumah keluarga Wiroyo..
"Eh.. ada tamu rupanya?" ucap Ifna dalam hati, terkejut. Saat melihat sepasang sepatu seorang lelaki. "Siapa ya?" pikirnya, was was.
Ifna pun mengendap lewat pintu belakang
Beberapa menit kemudian..
__ADS_1
"Kak, sudah pulang ya?kok lewat belakang?" tanya Siena, heran.
"Ck.. ada tamu, Kakak kan gak enak," jawab Ifna. "Siapa itu?" tanyanya, penasaran.
"Oh.. dia itu temen Sien, Kak.Zachry namanya," jawab Siena, tersenyum.
"Zachry?sepertinya aku mengenalnya apa dia Adiknya Harfan teman kuliahku dulu," pikirnya sembari mengingat-ingat.
"Ada apa, Kak?" Ifna terkejut.
"Oh.. eng.. enggak ada apa-apa kok." Ifna gugup.
"Kak Ifna penasaran sama temenku?mari, aku kenalin," ajak Siena, riang.
"Eh.. gak usah," tolak Ifna
"Lho kenapa,Kak?"
"Aku capek habis pulang kerja trus.. macet sekarang mau istirahat dulu." Ifna memberi alasan.
"Oh.. begitu?ya.. sudah mandi gih sana!sudah itu tidur nyenyak ya."
"So pasti," ucap Ifna mengacungkan i bu jarinya dengan ekspresi imut lalu berlalu ke kamar mandi.
Siena pun menggeleng sambil tertawa kecil.
Setelah itu, dia membuat minuman untuk Zachry.
Efron yang sudah memasuki gedung bandara Sukarno Hatta langsung menuju bagasi untuk mengambil kopernya.
Setelah itu..
Sebelum memesan taksi online dia mampir dulu ke sturbuck minum kopi hangat untuk memulihkan rasa kantuknya.
Setelah memesan tiramisu coffee frapucino lalu membayar via e walet dia pun segera mencari tempat duduk.
Sekaligus selingan menunggu namanya dipanggil(ya.. dari pada bengong, iya gak?).
Beberapa menit kemudian..
"Kak Efron." sebuah suara bariton pun memanggil agar Efron mengambil pesanannya.
Efron menghentikan kegiatannya dan mengambil pesanannya.
"Sien, kita perlu bicara serius sekarang," ucap Zachry, tegas.
"Tentang warisan Seina, bukan?" Zachry mengangguk, kencang.
Siena menarik napasnya.
"Sudah kuduga," lirihnya lalu pandangannya menuju Zachry.
"Berarti kau sudah tahu kan?" selidik Zachry.
"Menurutmu, bagaimana? apa kau mau menerimanya?" tanya Siena.
"Entahlah, Sien. Aku hanya orang luar, aku tak pantas menerima warisan dari kembaranmu itu," ucap Zachry, menyerah. "Kau dan saudara-saudaramu lah yang pantas menerimanya," tunjuknya.
"Tapi, Zachry. Dalam surat wasiatnya tertulis nama kita berdua yang mewarisi cafe nya anggap saja ini amanah," tukas Siena, bijak.
"Hmmm... kau benar juga." Zachry manggut-manggut."Lalu, bagaimana dengan saudara-saudaramu?" tanyanya, mengingatkan.
"Jangan cemas, kami sekeluarga sudah mapan lagipula dua di antara kami ada yang sudah menikah sebenarnya ada sih.. tapi, warisan dari Seina untuk kami itu sepakat kami berikan pada Ayah kami kasihan beliau ditinggal sama dua wanita yang disayangi," ungkap Siena dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Wah.. kalian benar-benar anak yang berbakti ya," sahut Zachry, bangga.
Siena tersenyum getir.
"Dulu, semenjak ditinggal Mama. Papa sendiri menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya menjadi Ayah sekaligus Ibu dan Papa, melakukannya dengan ikhlas saking cintanya pada Mama, Papa tidak ingin menikah lagi," curhat Siena mengenang masa lalu.
"Astaga!luar biasa!benar-benar keluarga harmonis dan bahagia mereka tidak memandang harta dalam mencari kebahagiaan justru mereka mereka memandang harta dari segi kasih sayang bukan dari segi perebutan harta, mereka tahu bagaimana caranya membalas kebaikan Ayah mereka seorang pria dengan kesetiaannya," cicit Zachry dalam hati, bangga.
"Ya.. anggap saja itu rasa bakti kami pada Papa mumpung beliau masih ada kan?" Zachry mengangguk setuju.
Tak sengaja mereka pun saling beradu pandang dan mata mereka seakan mengungkapkan kata cinta.
"Siena selain cantik tak kusangka dia adalah wanita dan saudara yang baik juga cerdas, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hatinya padanya," ungkap Zachry dalam hati penuh cinta.
"Entah mengapa aku tertarik pada Zachry?semenjak perkenalan kami waktu itu ya.. sejak Almarhumah Seina memperkenalkan kami berdua ada getaran yang aneh di hatiku apalagi mata elangnya yang teduh itu membuatku seperti terhanyut, apa dia punya rasa yang sama seperti aku ya?"ungkap Siena, ragu.
"Mas, sebagai hukuman kesalahanku di masa lalu kepadamu aku akan membayarnya dengan baktiku kepadamu aku berjanji gak akan berbuat itu lagi," ucap Lisda memandang tiang listrik seolah memandang mantan suami.
"Eh.. author, sekarang bukan mantan suami keles!tapi, sudah balik jadi suami," ralatnya sambil melotot pada author lalu, melirik mesra pada tiang listrik.
"Itu kan tiang listrik, Bu. Bukan Suamimu." Author pun terkekeh.
Lisda melebarkan matanya, marah.
"Apa katamu!" ucap Lisda sambil mengayuhkan tongkatnya.
"Waduh.. gawat nih!mending lari aja deh daripada aku masuk rumah sakit gara-gara pukulannya, hi.. ii," ucap Author dalam hati begidik ngeri.
"Mau ke mana kamu, Thor?"
Tanpa menjawab Author pun langsung ambil langkah seribu.
"Lari.. iiiiii. "
Di belakang Lisda pun tertawa terbahak-bahak lalu setelah Author menghilang dari pandangan dia menangis lagi dan memeluk tiang listrik.
Di tempat lain.
"Rilan, bisakah kita bicara sebentar?" pinta Andika.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Rilan, penasaran.
"Ini tentang Seina, Adikku," jawab Andika dengan suara getir.
'Deg.'
Hati Rilan merasa ada sesuatu yang membuat dirinya cemas jantungnya terasa berhenti berdetak apalagi saat suara Andika begitu bergetar.
"Seina kabarnya baik-baik saja kan, Kak?"
Bersambung...
----------------------------------||------------
Untuk kalian penggemar fantasi, Author punya nih novel baru yang Author buat semoga kalian suka judulnya"Dewa Bermata Api".
Jangan lupa
Like..
Koment..
Vote..
__ADS_1
ya... aaaa.
Biar Author semangat, begono☺