
"Oh sudah, Pak. Maaf, naskahnya baru selesai sekarang karena keadaan bayi saya yang setiap malam rewel mengingat dia demam tinggi," ungkap Kifaya dengan alasan yang tepat.
"Oh... tidak apa-apa, Bu Kifaya, " jawab Argathan, mengerti. "Apa anak ibu sudah dibawa ke Dokter? " tanyanya.
"Sudah, Pak. Saya dan suami membawanya ke dokter langganan keluarga kami," jawab Kifaya.
"Syukurlah, bagaimana keadaannya sekarang, Bu? "
"sekarang panasnya sedikit demi sedikit sudah mau turun dan dia, sudah gak rewel lagi. "
"Syukurlah kalau begitu, " ucap Argathan. "Kalau begitu, apa ibu bisa menyerahkan naskahnya sekarang ke email saya, " tagihnya penuh harap.
"Tentu saja, Pak, "sahut Kifaya, antusias.
" Saya tunggu ya, Bu. Karena filmnya akan dimulai empat hari lagi. "
"Akhir-akhir ini, kamu sibuk banget ya?" tanya Kiran, penasaran.
"Gak terlalu sibuk sebenarnya, tapi sesekali mengecek kegiatan para pekerjaku di restoran," jawab Harfan, tenang.
"Oh.... Kiran manggut-manggut. "Katanya, kamu lagi buka cabang ya?"tebaknya.
"Ya, begitulah," papar Harfan, santai. "Lalu, bagaimana denganmu?" Dia balik bertanya.
"Fuih!biasa aja sih, paling-paling ada yang minta foto," jawab Kiran sembari memutarkan bola matanya.
"Berarti, penggemarmu banyak dong."
Harfan menatap dalam Kiran.
"Kamu cemburu?" pancing Kiran melirik nakal ke arah sang kekasih.
"Ya, sedikit cemburu. Waktu aku melihat kamu berfoto bareng penggemar kamu yang cowok," jawab Harfan, merengut. "Biarpun pose kalian biasa aja sih," lanjutnya.
Kiran tersenyum.
"Walau begitu kan aku gak punya rasa apapun dengannya, lagipula penggemarku itu kalangan umum kok. Percayalah, cintaku masih utuh untukmu," ujar Kiran, meyakinkan. Menatap dalam kekasihnya.
Harfan tersenyum nakal lalu dia menarik tubuh langsing Kiran dan merapatnya ke dinding resto nya.
"Harfan, kamu ngapain sih?" protes Kiran berusaha berontak.
Sayangnya, kekuatan tubuhnya tidak seimbang dengan Harfan. Ya sekuat apapun dia, dia tetap tidak bisa mengalahkan kekuatan Harfan.
"Buktikan kalau itu nyata," bisik Harfan, nakal.
"Dengan apalagi harus membuktikan?!"
Harfan tidak menjawab hanya tersenyum misteri lalu, dia menyatukan tubuh kekarnya ke tubuh langsing kIran.
"Kamu ngapain?inget, jangan yang aneh-aneh. Di sini banyak orang lalu lalang," tutur Kiran, cemas. Pipinya memerah karena malu.
Harfan semakin mendekat dan senyum nakal itu pun masih tersisa.
"Aku gak peduli tuh," sahutnya, tenang.
"Kamu gila ya!"
Kiran berusaha menghindar, sialnya dia lagi-lagi gak bisa lolos dari cengkeraman Harfan.
"Mau ke mana?hmm?"
Wajah tampan Harfan pun mendekati wajah cantik Kiran yang nampak tegang.
__ADS_1
Napas dan harum tubuh Harfan yang khas membuat Kiran salah tingkah.
Dia mencoba menghindar saat Harfan ingin menangkup wajah ovalnya. Namun, Harfan berhasil menangkap dan membawanya ke arah wajahnya.
"Kamu, cantik," bisiknya, serak. "Bagaimana mungkin aku gak cemburu saat kamu berduaan dengan lelaki lain walau itu cuma penggemar doang. "
"Ya, tapi kan aku.... "
Cup...
Kiran kaget seperti tersengat listrik saat tiba-tiba bibir Harfan mendarat ke bibirnya yang tipis dan ranum.
"Kamu apa-apaan sih?!"
Dengan rasa marah Kiran mendorong kuat tubuh kekar Harfan.
Harfan hanya tersenyum dan tanpa berkata apapun langsung memeluk pinggang ramping Kiran.
Setelah itu, bibirnya menyusup bibir Kiran yang merah. Kiran mencoba menghindar sayangnya, Lagi-lagi tidak bisa.
Harfan pun mulai ******* bibir manis Kiran dan Kiran juga lama-lama mulai menikmati ******* bibir Harfan yang lembut terkadang nafsu.
Awalnya, Kiran merasa sesak dan tersiksa. Namun, lama kelamaan dia menikmatinya.
Saking asyiknya, mereka tidak sadar ada seseorang yang menonton adegan film romansa versi nyata tersebut sambil nyengir kuda.
Kembali ke Surabaya...
"Ibu Kifaya, naskah anda sudah kami terima. Hasilnya begitu memuaskan kami, para kru," ucap Argathan dengan nada puas.
"Benarkah, Pak?" Mata Kifaya berbinar terang.
"Iya, Bu. Itu benar, dialog-dialog peran dan emosi para tokoh peran yang Ibu tulis seperti hidup dan nyata," puji Argathan, tulus.
"Iya, Bu. Sama-sama," balas Argathan. "Oh iya, apa boleh saya minta nomor rekening Ibu agar saya dapat transfer uang ke rekening Ibu. "
"Tentu saja ada, Pak. Melalui M Banking ," jawab Kifaya.
"Ya, sudah kalau begitu. Kirim saja nomornya melalui whatsup saya ya, Bu. "
Kifaya pun mengirim nomor rekeningnya.
Bebarapa saat kemudian...
Ting..
Suara pesan pun masuk ke android Argathan.
Beberapa detik kemudian...
Suara kucing menggema di android Kifaya dan itu adalah pesan balasan dari Argathan.
"Baiklah, Bu Kifaya. Saya akan segera mentransfer saldo saya ke rekening anda. Mungkin agak sedikit lambat karena saya harus menyeleksi para pemain, tapi saya pasti akan mentransfernya segera. "
"Dia memang anak jalanan, tak punya pendidikan, suka bertarung, dari keluarga gak jelas, tapi dia. Sangat baik, lembut, dan gak pernah marah sama sekali," jawab Lana saat Ifna bertanya tentang kebenaran kekasihnya.
"Sesabar dan sebaik itu kah dia?"
Ifna mencoba memancing Lana dengan meyipitkan satu matanya.
"Hmmm... meledek ya?apa karena dia anak jalanan dan gak berpendidikan?" balas Lana melirik ke arah Ifna.
"Aku.... "
__ADS_1
"Dia memang anak jalanan selalu berkata keras dan kasar, tapi saat bersamaku. Dia begitu sabar lembut, dan pengertian. " Lana menerawang.
"Kamu sedang jatuh cinta rupanya. "
"Aku jatuh cinta padanya secara lahir dan batin, If," ungkap Lana, serius.
"Iya, aku percaya," sahut Ifna merangkul pundak sang sahabat.
"Terima kasih ya."
Ifna mengangguk.
Lana pun mulai melanjutkan ceritanya tentang pria itu yang membuatnya jatuh cinta dan merasa nyaman di dekatnya.
"Ternyata, cinta itu memang buta ya," batin Ifna, terkekeh.
"Aku mencintainya lebih dari segalanya, tutur seorang pria brutal menyisakan ketampanan di wajahnya.
"Kau gila!"
Temannya memekik kaget.
"Mengapa harus kaget gitu sih?" heran pria itu.
"Iyalah, kaget. Tahu gak?wanita yang kau pacari itu adalah pewaris kekayaan kakeknya dan satu-satunya perempuan dalam keluarga," papar sang teman.
"Oh iya?menarik juga," ungkap pria itu merasa tertantang.
"Sayangnya, perbedaan kamu dan dia tuh terlalu jauh."
Sang teman mencoba menyadarkan.
"Aduh, Ifna. Cinta itu gak mengenal perbedaan, jarak, dan waktu. Dengannya aku merasa nyaman, dia membuatku merasa tenang."
"Apa kamu ingin mempermainkannya?"
pria itu kaget mendengar penuturan teman baiknya.
"Apa aku terlihat main-main?"Dia balik bertanya sambil menunjuk wajahnya yang lumayan itu.
"Ya, eng.....enggak sih!"
Sang teman menggaruk kepalanya dengan polah salah tingkah.
"Dia memang seorang anak jalanan dengan hidup gak terarah, tapi dia memperlakukanku layaknya seorang putri."
"Iya deh... iya deh. yang lagi jatuh cinta. "
"Ini soal perasaan, kalaupun dia punya masa lalu yang suram dan memiliki kekurangan gak pernah sedikitpun kadar cintaku berkurang untuknya. "
"Iya, deh. Aku percaya sama kamu. "
Sang teman menepuk bahunya dengan pelan.
Beberapa jam kemudian, sang teman pamit untuk pulang.
pria itu pun beranjak dari duduknya.
Di tempat lain...
"Raden, sampai kapan anda melakukan ini?" tanya sang ajudan, cemas
Bersambung...
__ADS_1