
"Hah?! "
Pria itu tampak kaget saat tiba-tiba ada yang menemuinya di sebuah ruangan.
"Aduh... mengapa tiba-tiba ada orang yang masuk ya?" ucapnya dalam hati, gusar.
"Mau mencari apa, Mas?bilang saja biar kita bantuin, " tawar Endi sekaligus melirik Mahmud.
Mahmud pun tersenyum penuh arti.
"Maaf, saya ke sini hanya beres-beres di ruangan ini sepertinya ruangan ini agak sedikit berantakan," alibinya.
Pria bernama Permadi itu terlihat tenang tapi, Mahmud tahu dari nada bicaranya Permadi sangat gugup.
"Hmmm... kayaknya, kamu bukan lagi berberes deh karena seingat saya ruangan ini sudah rapi, "desis Mahmud membuat Permadi membelalakan matanya.
Pria itu memundurkan tubuhnya dia kaget setengah mati dan tak menyangka ada yang mengetahui rencananya.
"Sa... …saya... aaa, ta.. tadi... ma.. maaf, saya salah ruangan ternyata bukan ruangan ini yang harus saya bersihkan, " elaknya. "Permisi."
Permadi rupanya beralibi lagi dia berusaha menghindar sayangnya, Mahmud tidak mudah dipermainkan.
"Eits... tunggu dulu," cegah Endi saat Permadi mau melangkah pergi.
"Mau apa kalian!akan saya laporkan kalian pada atasan kalian karena sudah membuily saya!"ancam Permadi, panik.
Mahmud dan Endi yang mendengar ancaman Permadi hanya tersenyum sinis, mereka tak menghiraukannya karena mereka anggap ancaman itu hanyalah sebuah gertakan kecil.
"Oh.. iya? silakan saja, Mas Permadi," bisik Mahmud yang membuat Permadi semakin kaget.
"Hah?siapa orang-orang ini?mengapa mereka bisa tahu namaku?apa ada yang kasih tahu, gak mungkin kan mereka awalnya tahu," ujarnya dalam hati tak percaya.
"Sebaliknya, akan kami laporkan balik kamu karena sudah memasuki ruangan tanpa izin, balas Endi, menunjuk.
"Atas dasar apa?!" Permadi masih saja punya senjata ampuh untuk mengelak.
"Permadi, tadi katanya mau membersihkan ruangan ini lalu, setelah itu kau bilang salah ruangan. Mengapa kalau salah ruangan lemari-lemari di ruangan ini terbuka? dan dokumen-dokumen ini sepertinya berantakan padahal tadinya tersusun dengan rapi, apa ada yang kamu cari?"selidik Endi, melirik jahil.
"Kalian tidak perlu tahu apa yang saya lakukan!" Permadi mulai marah.
"Selama kami masih anggota di Perusahaan ini kami berhak mengetahui apa yang anda lakukan!" tunjuk Mahmud, sengit.
Permadi tersenyum sinis..
"Oh.. iya? kalau begitu, dalam hitungan detik saya pastikan kalian berdua bukanlah anggota di Perusahaan ini lagi," gertak Permadi, angkuh.
Bukannya takut dengan gertakan Permadi, Mahmud dan Endi malah tertawa keras malah lebih keras dari tawa Rahwana.
"Mengapa kalian tertawa!" sentak Permadi, keras.
"Heh! Permadi, kamu tahu gak gertakanmu itu bagi kami hanyalah embusan angin yang bertiup lalu pergi," ucap Endi menyisakan tawa.
"Ka.. kallian..... "Tunjuk Permadi pada Mahmud dan Endi, panik.
"Mengapa?"
"Mulai panik?"
Permadi menggeleng tubuhnya mulai bermandikan keringat.
"Apa kau lagi mencari ini?" tanya Mahmud menunjukan sebuah dokumen penting yang menjadi incaran Permadi dengan senyum penuh kemenangan.
"Apa yang kalian katakan?jangan suka menuduh tanpa bukti!"
__ADS_1
"Tanpa bukti? kalau begitu akan kami tunjukan buktinya berada di sini." Mahmud menunjukan sebuah rekaman android miliik Endi.
Tentu saja Permadi semakin panik karena kejahatannya sudah terbongkar.
"Atasanmu bernama Firham, bukan?"
"Apa yang kalian bicarakan?" Permadi pura-pura tidak tahu untuk mengelak.
"Jawab!" ucap Endi dengan nada tinggi membuat Permadi ketakutan.
"Sabar, lihat dia ketakutan," bela Mahmud.
"Habis dari tadi dia mengelak terus sih,Pak," jawab Endi, kesal.
"Aku tahu," sahut Mahmud, tenang. Lalu dia menatap datar Permadi.
"Katakan saja, Permadi.Atau kejahatan kalian akan kami viralkan ke sosial media agar perusahaan atasan kalian dibubarkan!" ancam Mahmud tak main-main.
"Benarkah?" ejek Permadi.
"Kami tjdak pernah main-main, Permadi!"
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Oh.. baiklah, Endi. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Siap, Pak. " Endi mulai memainkan jarinya.
"Hei.. mau apa kalian? baik….baik akan saya akui semuanya," ucap Permadi mulai menyerah. Endi pun menghentikan aksinya sambil tersenyum mengejek ke arah Permadi.
"Mengaku apa?"
"Saya mengaku berencana ingin mencuri aset Perusahaan ini."
"Tapi mengapa kalian masih mengincarnya!"
"Karena,.... "
"Karena apa? katakanlah, tidak usah bertele-tele. "
"Karena, karena kami tidak terima atasan kami diperlakukan tidak adil oleh kalian di Perusahaan ini karena sebagai tamu di Perusahaan sebesar ini atasan kami diperlakukan tidak baik dan kami akui Perusahaan sebesar ini siapa yang tidak tertarik," jawab Permadi penuh kekaguman.
"Oh.. jadi, kamu menyamar sebagai pekerja baru di sini untuk mencuri aset Perusahaan kami? agar kalian bisa menguasai Perusahaan ini?" tebak Mahmud.
"Bingo." Permadi menjetikan jarinya.
"Sayangnya, tidak akan kubiarkan itu terjadi," sahut Mahmud, melotot.
"Lebih sayangnya lagi semua bukti yang kalian rekam itu sudah kuhapus," balas Permadi tersenyum penuh kemenangan.
"Hmmm.. baiklah, tidak mengapa justru kami akan memberimu sebuah kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan. Endi, persilakan mereka masuk," titah Mahmud.
Endi mengangguk, lalu...
"Masuk."
Permadi kaget bukan main segerombolan polisi masuk ke dalam ruangan.
"Apa-apaan ini?!"
"Saudara Permadi, anda kami tangkap atas bukti kejahatan pencurian aset Perusahaan!" Permadi pun diborgol.
"Tunggu, Pak," cegah Mahmud lalu menghampiri Permadi.
__ADS_1
"Mau apa kau!"
'Plak!'
Tangan Endi melayang dan mendarat cukup keras di pipi Permadi.
"Aduh!"
"Itulah akibatnya berbicara tidak sopan pada atasan kami!" omel Endi, keras.
"Kau juga harus tahu, Permadi. Atasanmu dan semua anggotanya sekarang sudah tertangkap dan sudah menjadi penghuni hotel rodeo untuk selamanya," bisik Mahmud, mencibir.
"Apa?"
"Pak, bawa dia," titah Mahmud tak peduli.
"Baik, Pak. "
Mereka pun membawa Permadi ke kantor polisi untuk dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah mereka pergi...
"Alih-alih ingin membalas dendam berakhir juga di jeruji besi," ujar Mahmud, menggeleng.
"Semoga mereka tobat ya, Pak."
"Ya.. semoga saja. "
"Tuan muda, apa anda menerima tawaran dari Almarhumah Nona Seina?" tanya sang ajudan, hati-hati.
Zahcry menarik napasnya lalu, mengembuskannya kemudian memutar tubuhnya menghadap sang ajudan.
"Kalau itu, akan aku pikirkan masak-masak," jawab Zachry, datar.
"Maaf, Tuan. Kesempatan bagus ini mengapa tidak ambil alih saja?"
zachry diam sejenak.
"Aku tidak mungkin menangani dua Perusahaan sekaligus, kau tahu itu kan, Alf?" ungkap Zachry menatap sang Ajudan... Dingin.
"Saya mengerti, Tuan. Namun alangkah baiknya anda menerimanya karena, ini amanat dari Nona Seina yang tidak boleh anda lewatkan." Zachry menatap tajam ke arah Alf.
"Apa kau tidak menyadari kalau dia punya saudara kembar, Alf!" gertak Zachry, kesal.
"Maaf, Tuan. Kalau itu saya juga tahu tapi Nona Seina kan memberi amanat pada anda dan Nona Siena untuk menggantikan posisinya," cicit Alf sekaligus mengingatkan.
"Heh! mengapa bukan Siena saja? apa Siena baru belajar bisnis?rasanya itu tidak mungkin karena Seina justru belajar bisnis dari Siena," ucap Zachry dalam hati, bingung.
"Bagaimana, Tuan?"
"Nanti, akan kubicarakan ini pada Siena," putus Zachry, akhirnya.
"Semoga kalian mendapat solusinya, Tuan."
"Hmmm."
"Mengapa gak diangkat juga? " keluh Rilan putus asa.
Bersambung.
Zachry
__ADS_1