Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Bercanda.


__ADS_3

"Serius? kamu lagi gak bercanda kan?" tanya Ifna berusaha meyakinkan ini bohong apa kenyataan.


"Kalau hal yang seperti ini, untuk apa aku bercanda, Kak?" jawab Siena agak berseru.


"Astaga, Sien! kita harus ke Rumah Sakit, sekarang!" titah Ifna, panik.


"Kak, apa keburu?" tanya Siena, pelan.


"Semoga saja keburu, "jawab Ifna, cepat.


"Aku kok merasakan hal yang gak enak ya?" pikir Siena.


"Sie... eeen! lekas, ganti baju yang bagus kita ke Rumah Sakit sekarang!"perintah Ifna, tegas.


"Baik,Kak, " sahut Siena, berseru.


"Semoga tidak terjadi apa-apa pada kembaranku," harap Siena dalam hati dengan wajah cemas.


Di Rumah Sakit..


Wulan sibuk mondar mandir di koridor ruang tempat Rilan operasi, wajah cantiknya begitu cemas dan panik.


Beberapa jam kemudian...


Dokter Justin keluar dari ruang operasi dengan wajah tenang, Wulan yang melihatnya segera menemuinya.


"Bagaimana, Dok?!apa dia selamat?" tanya Wulan, cemas.


"Operasinya berjalan dengan lancar, Nona teman anda berhasil diselamatkan,"jawab Dokter Justin membuat wajah Wulan berseri.


"Syukurlah, terima kasih, Tuhan, "ucapnya penuh rasa syukur.


"Apa saya bisa menemuinya?" tanya Wulan, ragu.


"Maaf, Nona kesehatan pasien belum pulih betul, mungkin kau akan menemuinya setelah kondisi pasien benar-benar stabil," jawab Dokter Justin, tegas.


"Oh... baiklah, kalau begitu," sahut Wulan pasrah.


Wulan hanya melihat Rilan dari kaca ruang operasi dan sepertinya Rilan akan dipindahkan ke kamar vip, dia melihat Rilan masih belum sadar juga.


Sedang di ruang lain...


Seina berbaring matanya yang indah menutup semua kesadarannya lalu, tiba-tiba...


"Sein." suara seorang wanita memanggilya dengan lembut.


Seina merasa dia mengenal suara wanita itu dengan perlahan dia memutar tubuhnya yang langsing.


"Mama... aaaa?" serunya, girang.


"Iya, sayang ini Mama, " sahutnya sambil merentangkan tangannya dengan senyuman yang cerah.

__ADS_1


"Mama... aaaaa!"panggil Seina berlari ke arah Ibunya lalu, memeluknya dengan erat dan dibalas oleh sang Ibu.


Seina pun kembali merasakan kehangatan sang Ibu karena sudah lama tidak merasakannya, ya.. karena sang Ibu sudah lama menghadap Ilahi karena kerusakan pada jantung.


"Mama, sudah lama Sein gak pernah merasakan pelukan hangat Mama sejak Mama meninggalkan kita semua, " ungkap Seina, pilu sembari melepas rindu.


"Sein, maafkan Mama, sayang Mama gak bermaksud meninggalkan kalian tapi, penyakit Mama yang harus terpaksa membuat Mama harus pergi dari kalian, " balas sang Ibu membelai lembut pipi putih sang putri.


"Iya, Ma Sein mengerti, " sahut Seina tersenyum samar menatap Ibunya.


Hyla pun tersenyum lembut membalas tatapan putrinya.


"Sein ingin sekali bersama Mama walau hanya sebentar, Sein sangat rindu, Ma. " Seina menenggelamkan kepalanya ke dada wanita yang masih terlihat cantik itu.


"Mama mengerti, sayang, " ucap Hyla, lembut membelai rambut hitam sang putri kecilnya. "Sebentar lagi, kamu akan selalu menemani Mama mulai sekarang dan seterusnya," lanjutnya sambil menekan gemas hidung mancung Seina.


"Benarkah, Ma?" Wajah cantik Seina berseri saat mendengar penuturan Ibunya.


"Ehm, "jawab Hyla, tertawa renyah.


"Ma, aku lagi gak mimpi kan?"


"Gak, sayang ini kenyataan, kamu sudah bersama Mama sekarang."


Seina lalu mendongak menatap Mamanya….Intents.


"Bagaimana?kamu senang?" tanya Hyla meyakinkan.


"Tentu saja mereka sedih, Nak terutama Siena, Mama tahu kalian saling sayang dan tak pernah saling melepaskan seiring berjalannya waktu mereka pasti rela melepaskanmu terutama Rilan yang sudah kamu bantu mengangkat penyakitnya. "


"Ma, seandainya Rilan sudah tahu aku tidak ada di sisinya untuk selamanya, apa dia sedih?" tanya Seina, polos.


"Tentu saja dia sedih, dia sangat mencintaimu pasti dia begitu berat melepaskan kepergianmu seperti Papa yang berat melepaskan kepergian Mama dulu," tutur Hyla, serius menerawang ke masa lalu. "Tapi seiring berjalannya waktu dia akan merelakan kepergianmu,"hiburnya mengusap lembut kepala Seina lalu, mengecupnya.


Seina pun tersenyum dalam pelukan Mamanya yang sangat dia rindukan.


Harum surga pun sudah menyambut Seina dengan ramah.


"Cepat berikan aku alat pertolongan!"perintah Dokter Justin dengan wajah cemas.


"Siap, Dok!" sahut para perawat dan mereka bergegas mengambilnya.


Di kamar Vip...


Wulan menggeggam tangan Rilan yang masih saja memejamkan matanya karena tertidur.


"Syukurlah, kamu sudah sembuh, Rilan, kamu sekarang sudah terbebas dari penyakit itu dan tak pernah lagi merasakan nyeri," ucap Wulan, lembut tersenyum canggung.


Dia mengusap air matanya yang mau terjatuh karena begitu berat meninggalkan seorang teman yang sesungguhnya dia cintai.


"Rilan, maafkan aku karena saat kamu terbangun nanti kau tak akan menemuiku lagi," ucapnya, terisak. "Karena, aku tak ingin menjadi perusak hubungan kalian semoga kamu dan Seina berbahagia selamanya," doa nya, tulus.

__ADS_1


Wulan pun menyeret kopernya meninggalkan Rilan yang masih saja tertidur dia begitu berat meninggalkan Rilan.


"Baik, aku akan menuju parkiran, "ucap Wulan, berat saat dia menjawab telepon dari sang sopir taksi online.


Sejenak dia memandang Rilan lalu, beberapa menit kemudian dia pun pergi dengan membawa hati yang luka.


Setelah mendengar berita tentang Seina yang pergi untuk selamanya, Ifna syok lututnya terasa lemas tak terasa air matanya terjatuh begitu juga Siena yang jauh lebih syok ketimbang Kakaknya.


"Sein.... nnnn!" jerit Siena, menyayat dan terisak akan kepergian saudara kembarnya.


Ifna pun langsung memeluk Sien dan mereka menangis bersama.


"Kami turut berduka cita, Nona," ucap Dokter Justin yang mengucapkan belasungkawa.


Sedangkan di kamar Vip..


Beberapa setelah lama tertidur akhirnya Rilan terbangun juga, dia tersenyum melihat keluarganya yang menjenguknya.


"Apa kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya Asti sang Ibu, cemas.


"Iya, Ma dan sekarang aku sudah gak lagi merasakan nyeri di kepala," jawab Rilan dengan rasa bahagia.


"Syukurlah."


"Karena, Rilan sudah benar-benar pulih dari penyakitnya ayo.. kita rayakan ini dengan makan-makan," usul Nedar Abang ketiga Rilan.


"Ide bagus tuh," sahut Reta kakak kedua Rilan. Merupakan satu-satunya perempuan dalam keluarga.


"Hush…kalian ini, tubuh Rilan masih lemas malah kalian ajak makan-makan, bagaimana sih?" omel Asti, Rilan pun terkekeh.


"Kan merayakan kesembuhan Rilan, Ma, " sanggah Reta, manyun.


"Iya, boleh tapi ini belum saatnya Rilan juga butuh istirahat dulu, kapan-kapan kan bisa," sahut Asti sekaligus menghibur.


"Eh.. sampai lupa tanya sama Dokter Justin bagaimana aku bisa sembuh ya?"pikir Rilan, kemudian.


London...


Akhirnya, setelah beberapa jam kemudian Pesawat Garuda Indonesia Air Lines yang ditumpangi Efron sudah mendarat dengan baik di Heatrow's Airport.


Dia berjalan dengan tenang dan dibaluti wajah yang dingin. Namun, masih terlihat tampan dengan tangan kanan menarik koper ditambah cewek-cewek bule yang menatapnya penuh harap.


Efron tidak sendiri dia ditemani seorang pria yang juga dari Asia berjalan mengiringinya, terlihat dari rupanya pria itu berasal dari Asia Timur, entah dari mana?


Beberapa menit kemudian setelah pemeriksaan...


Efron pun menuju pintu keluar dan ada mobil mewah yang terparkir seolah menunggu seseorang.


Lalu, Efron melihat seorang pria bule tampan yang dikenalnya, gelisah.


Bersambung..

__ADS_1



__ADS_2