
Efron menghentikan sejenak kegiatannya, lalu.. …
"Gak usah khawatir, Pa jauh-jauh hari sebelum pergi Efron sudah menyuruh orang kepercayaan Efron untuk menjaga sekaligus menjadi pemimpin di Perusahaan Papa, " jawab Efron, lembut.
"Apa dia bisa dipercaya?" Hadi mulai cemas.
"Aku mengenal Mahmud seperti hal nya mengenal Papa, apa Papa masih ingat sama dia?"
"Tentu saja Papa masih ingat, dia sekretarismu, bukan?" tebak Hadi yang diangguk oleh Efron.
"Maka itu, aku mempercayakan posisi ini kepadanya, " sahut Efron sambil memasukan baju-bajunya ke koper.
Tidak lupa dokumen-dokumen penting seperti Pasport, dia juga tidak lupa membawa parfum dengan wangi maskulin dan headset tentunya.
"Apa Mahmud menjadi pemimpin sementara di sana?" seru Hadi.
"Iya, sementara, "jawab Efron yang sibuk memasuk kan baju-baju dan celana-celananya ke dalam koper.
"Jadi kau mau menjadi pemimpin sekaligus menjaga Perusahaan Papa?"
"Iya,Pa tapi gak janji ya. " Hadi mendelik dan mendengus tapi, Efron tidak ambil peduli.
"Cuih, anak ini benar-benar ya!" umpat Hadi, sebal.
Efron hanya diam dan menggeleng saja dengan heran.
Perusahaan Akuntance..
Doni Anggara nama pemilik Perusahaan itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam Perusahaan dengan santai dan tenang juga diselimuti wajah yang angkuh nan dingin melebihi salju di Eskimo.
Dia tidak sendiri ada sekretaris di samping dan beberapa bodyguard di belakangnya.
Para karywan pun berbaris dan serentak menunduk lalu, dengan sopan mengucapkan salam.
"Hmmm... "begitu balasan sapaan yang diterima para pegawainya. Pegawainya pun terbiasa dengan sikap atasannya yang dingin itu.
Beberapa menit kemudian..
Mereka sudah berada di ruang pribadi milik Doni, Doni membuka pintunya dengan sidik jari dan wajahnya jadi tidak sembarang orang masuk ke ruangannya.
Setelah masuk..
Doni menepuk pelan tangannya pada dinding serta merta ruangan yang gelap itu menjadi terang benderang, wangi apel pun menebar di ruangan itu.
Lalu, dia pun menekan tombol muncul lah sofa dan kursi singgasana nya dari balik tembok.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Laptopnya pun dinyalakan para bodyguard sudah duduk santai di sofa sedangkan sang sekretaris berdiri di sampingnya.
"Pak Doni, saya akan membacakan jadwal-jadwal untuk anda hari ini. " Doni hanya acuh dan terus fokus pada laptopnya.
"Hari ini jam delapan tiga puluh ada meeting kerjasama dengan Perusahaan saham, jam sepuluh tepat menghadiri rapat akbar tentang bagaimana menghemat keuangan di balai Warsan, jam empat kurang lima belas pertemuan antar Direktur di Cafe Onyx. " Kane sang sekretaris melipat kertasnya pertanda selesai membaca.
Sejenak Doni menghentikan kegiatannya lalu, menatap Kane, datar.
"Jam empat kurang lima belas menit itu maaf, aku tidak bisa hadir," ucap Doni yang membuat Kane dan para bodyguardnya melongo.
"Kenapa, Pak?"
"Karena pertemuan seperti itu akan memakan waktu lama bahkan sampai malam, " jawab Doni, serius.
"Bapak kok tahu?" tanya Alvez salah satu bodyguard.
"Tahulah! bahkan kami sampai mabuk saking mabuknya tidak terasa sudah jam dua pagi. "Anak buahnya pun melotot, kaget.
"Astaga!"
"Ya…itu dulu, sebelum aku masih bujangan sekarang aku sudah punya istri yang aku tahu dia pasti cemas menungguku, " ujar Doni.
"Anda kan tinggal menghubunginya, pak, " usul Myrfan.
"Bener juga, "gumam Myrfan.
"Iya," timpal yang lainnya.
"Masuk akal juga kalau keluarga lebih penting dari segalanya,"
"Lagipula aku sudah berjanji pada istriku untuk tidak mabuk lagi," lanjut Doni, tersenyum bahagia memikirkan wanitanya.
"Pak, apa anda mencintainya?" tanya Kane yang dibalas tatapan tajam Doni.
"Kalau aku tidak mencintainya mana mungkin aku menikahinya, sekretaris Kane!" gertak Doni, kesal.
"Saya hanya memastikan saja, Pak," cicit Kane, ciut.
"Memastikan? memangnya kau itu siapa?petugas sensus penduduk?"
"Bukan sih," jawab Kane, senyum-senyum.
"Makanya, gak usah cerewet kayak ibu-ibu kompleks," omel Doni.
__ADS_1
"I…iya deh,Pak."
Kane Sanjaya nama panjang sekretaris Doni memang sudah lama bekerja di Perusahaan Keuangan dan sudah lama pula dia mengabdi pada Doni.
Dia adalah orang kepercayaan Doni untuk dimintai pendapat, karena pendapat Kane selalu jitu dan masuk akal walaupun sering buat Doni pusing kepala karena kepolosannya dan suka ikut campur masalah orang lain.
Untuk para bodyguard Doni, pasti kalian berpikir tubuh mereka berotot, berwajah seram, dan bertato kan? tentu saja tidak, Ferguso!
Justru kebalikannya, para bodyguard Doni rata-rata berwajah tampan dan memiliki perut six pac, gak ada tuh yang bertato.
Selain tampan dan cerdas seperti atasannya mereka juga ahli dalam bela ban eh…bela diri agar bisa melindungi atasannya dari bahaya walau Doni sendiri bisa bela diri sih.
Tinggi mereka rata-rata seratus delapan ouluhan sentimeter di atas Doni yang hanya seratus tujuh puluh lima senti apalagi sang sekretaris Kane yang hanya bertinggi seratus enam puluh sembilan sentimeter.
Di Bandara Sukarno Hatta..
"Berhati-hati lah jangan sampai terpengaruh pada kehidupan yang bebas di sana, ingat kita orang timur gak pantas berbuat begitu, di sana ambil lah yang baiknya saja karena tidak semua orang barat itu salah dan sebaliknya, tidak semua orang timur itu benar," pesan sang Ayah, bijak sebelum Efron pamit.
"Iya, Efron tahu dan selalu ingat pesan Papa," sahut Efron yang disambut pukulan perlahan Hadi di bahu Efron.
Beberapa jam kemudian...
Dengan berat hati Hadi melepaskan putra semata wayangnya untuk pergi jauh ke negeri Eropa.
Efron melambaikan tangannya ke arah sang Ayah begitu juga Hadi.
Di Rumah Sakitxxx
"Dokter, apa Rilan bisa sembuh?" tanya Seina, cemas yang ternyata sudah mengetahui penyakit sang kekasih.
Dokter Justin menatap datar Seina.
"Bisa, Nona tapi, hanya kecil kemungkinan, jawab Dokter Justin tenang.
Wajah Seina yang berseri kembali bagaikan awan hitam.
"Penyakit itu bahkan sangat tidak mungkin untuk disembuhkan," imbuh Dokter Justin dengan suara berat yang semakin menambah kesedihan di wajah Seina.
"Maafkan saya, Nona," ucap Dokter Justin yang ikut merasakan kesedihan Seina. Seina mengangguk mengerti.
Rilan sang kekasih tidak menyadari kekasihnya itu tahu tentang penyakitnya, ya…Seina tahu saat dia tidak sengaja melihat sertifikat rumah sakit tentang penyakit Rilan waktu di ajak Mamanya Rilan ke rumah, tentu saja dia menjadi syock dan menangis.
"Apa tidak ada cara lain, Dok untuk menyembuhkan Rilan?" tanya Seina, berseru.
"Ada, Nona taoi, kemungkinan ada resikonua," jawab Dokter yang masih tampan di usia yang ke empat puluh tahun lebih itu.
__ADS_1
"Apa itu, Dok?" tanya Seina, penasaran.
Bersambung..