Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Kamu Ada di Mana?


__ADS_3

Berkali-kali Rilan menghubungi sang kekasih tapi masih belum tersambung juga.


"Sayang, kamu ada di mana sih?" keluh Rilan, putus asa.


Rilan mencoba ingin menghubungi keluarga Seina sayangnya, dia tidak memiliki nomor salah satu saudaranya yang ada hanya nomor Seina.


"Apa aku harus ke rumahnya ya? " pikir Rilan. "Ah.... tidak!lebih baik jangan dulu mungkin dia masih marah padaku, "cegahnya pada dirinya sendiri.


"Tapi kalau gak ke rumah,bagaimana aku bisa tahu keadaannya?!akh.. hhh, kenapa jadi bingung gini sih?" gerutunya, frustasi.


"Seina, kamu di mana, sayang?sungguh, aku masih mencintaimu maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu," lirihnya. "Sebenarnya, aku tidak bermaksud begitu."


Rilan mondar mandir di ruang pribadinya... Gelisah.


Beberapa menit setelah mondar mandir....


"Bagaimana ini? aku juga tidak bisa diam begini terus kan?aku harus menemukannya di manapun dia berada." Rilan pun keluar dari ruang pribadinya bersiap mencari sang kekasih.


"Tuan, anda mau ke mana?" tanya Heni sang asisten rumah tangga,cemas.


"Oh.. aku mendadak ada kepentingan di Perusahaan," jawab Rilan, datar.


"Oh... apa anda tidak ingin makan dulu?"tawar Heni.


"Maaf, aku lagi terburu-buru sekarang," sahut Rilan lalu, pamit pada Heni.


"Hati-hati, Tuan!"


Setelah keluar...


"Tuan Rilan, anda mau ke mana?" tanya Waldi sang sopir.


"Aku mendadak ada kepentingan di Perusahaan," jawab Rilan.


"Kalau begitu, mari saya antar, Tuan," tawar Waldi, ramah.


"Tidak usah, Waldi. Kau sedang sibuk sekarang," tolak Rilan yang tidak tega melihat Waldi sibuk menyuci mobil mewahnya.


"Sebentar lagi saya selesai kok, Tuan," sanggah Waldi, buru.


"Tidak usah, aku lagi buru-buru sekarang lebih baik naik motor saja lebih cepat. "


Lalu, Rilan mengeluarkan motor ninja sportnya dan tidak lupa memakai jaket, sarung tangan dan helm.


'Bru.. uuuum.. …bru... uuuum. ' Mesin pun di hidupkan.


"Wildan, kalau sudah selesai kerjanya kau boleh pulang sekarang juga," pesannya sebelum pergi.


"Baik, Tuan."


"Apa sampai sekarang Rilan masih belum tahu kalau Seina sudah tiada?" tanya Ifna.


"Belum, Kak, " jawab Siena, memelas. "Apa perlu kita beri tahu sekarang?"


"Jangan dulu!" cegah Ifna, tegas.


"Bukannya dia harus mengetahuinya?" kejar Siena.


"Iya, tapi ini bukan saatnya," seloroh Ifna.


"Mengapa gak sekarang aja, Kak?" desak Siena, tak sabar.


Ifna mengempaskan napasnya, lalu...


"Jangan terlalu cepat mengambil suatu tindakan," ucap Ifna, bijak.


"Lalu, kita harus bagaimana, Kak?"


"Heh!menerima kenyataan bahwa Seina sudah meninggal saja rasanya sedihnya bukan main, bagaimana kalau dia menerima berita ini?" keluh Ifna, menggeleng.

__ADS_1


"Alangkah baiknya kalau kita beri tahu dia sekarang," usul Andika yang baru tiba dari Perusahaan.. …Tegas.


"Ya.. gak bisa lah,Kak!" bantah Ifna.


"Kalau gak sekarang mau kapan, If!" balas Andika.


"Bener tuh Kak Andika." Siena setuju dengan pendapat sang Abang.


"Aku gak tega lihat dia sedih, Kak," lirih Ifna, polos.


"Apa kamu juga tega membuat dia hidup dalam kecemasan?" timpal Andika.


"Ya.. enggak sih," cicit Ifna, menunduk.


"Aku sebenarnya juga gak tega melihatnya sedih, " gumam Andika, gusar."Namun, harus bagaimana lagi? daripada dia semakin penasaran kan?"


"Aku gak tahu lah, Kak!aku bingung!" Ifna beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Abang dan Adiknya.


Setelah Ifna berlalu...


"Kak, apa mungkin Rilan ke sini?" bisik Siena.


"Aku juga belum tahu pastinya, Sien. Aku yakin suatu saat dia pasti kemari," sahut Andika, yakin.


"Seyakin itu kah?" Siena mengkerutkan dahinya.


"Entahlah, Sien. Entah mengapa perasaanku yakin kalau dia bakalan ke rumah kita. "


"Aku juga gak kuat, Kak. Melihat dia sedih."


"Semua orang gak akan kuat menahan kesedihan mendengar kabar duka apalagi dia yang kita cintai tapi,.... "Sejanak Andika berhenti bicara.


"Tapi apa, Kak?" kejar Siena.


"Kita gak mungkin juga menyembunyikan ini semua kan?aku tahu dia pasti sedih tapi gak mungkin juga kan membuatnya dilanda rasa penasaran?" Siena manggut-manggut.


"Bener juga. "


Sudah beberapa hari Efron berada di Inggris sesekali kalau tidak sibuk dia menelepon sang Ayah atau memantau Perusahaannya dan milik Ayahnya melalui laptopnya.


"Pa, gmana kabarnya?" Efron memulai percakapan di whatsapp.


'Ting. '


Balasan


"Papa baik-baik saja, bagaimana kabarmu di Inggris?"


"Efron baik-baik aja, Pa. "


'Ting. '


"Syukurlah, kalau kamu baik. Oh.. iya, di London lagi musim apa?"


Sejenak Efron membaca, lalu...


"Lagi musim gugur nih, Pa."


Beberapa menit kemudian...


'Ting.'


"Oh... kalau di sini lagi musim duren nih(pakai emot ketawa).


Efron membacanya pun sambil tertawa kecil.


"Bisa aja nih, Papa(pakai emot senyum pepsodent).


'Ting.'

__ADS_1


"Bisa dong."


"Oh.. iya, Pa. Beberapa hari ini ada yang mencari Efron gak?"


Setelah itu..


"Akhir-akhir ini gak tuh! cuma Nesya aja yang ke rumah dan entah mengapa Papa gak suka sama dia?"


"Ya.. sudahlah,Pa.Enggak usah dibahas lagi tentang dia."


Beberapa menit kemudian..


'Ting.'


"Kamu benar, Nak. Lebih baik kita gak usah ngomongin tentang perempuan gak terpelajar itu maksud Papa kelakuannya.(pakai emot marah) ngomong-ngomong kapan pulang ke Indonesia?"


"Kalau semuanya sudah beres, Pa. Kalau memang pulang aku kabari Papa deh."


'Ting.'


"Baiklah. Oh.. iya, Efron. Papa dengar dari Mahmud Perusahaan Papa ada sedikit masalah."


"Iya, Pa. Aku tahu, sudah Efron pantau dari London."


'Ting.'


"Untungnya, Mahmud mampu memberantas kuman-kuman itu,kalau tidak apa jadinya nanti Perusahaan Papa?"


Efron membaca pesan dari sang Ayah dia pun membenarkan perkataan Ayahnya tentang Mahmud.


Mahmud sekretarisnya memang dapat diandalkan, cerdas, bijaksana, tegas, dan mampu memegang kepercayaan.


'Ting.'


"Bagaimana dengan Perusahaanmu?"


"Lancar, Pa. Alias gak ada kendala sedikitpun bahkan banyak orang yang melamar di sana, di Perusahaan Papa juga."


'Ting.'


"Sebenarnya, Papa pengen langsung pantau ke sana sih."


"Gak perlu,Pa.Kan sudah ada Efron yang melihat langsung di laptop(bukan laptopnya si Unyil lho ya), Papa santai aja."


Percakapan Ayah dan Anak itu tak terasa sudah memakan waktu beberapa jam.


Wajar saja lama. Saling melepas rindu karena sudah beberapa hari inj mereka miss comunication disebabkan Efron yang sibuk dengan rapat kerjasamanya bersama pemilik Perusahaan Asia dan Eropa lainnya dipimpin oleh Antony Wilem sebagai tuan rumah.


Kembali ke Indonesia..


Tepatnya Bekasi..


Suara lonceng menggema rumah keluarga Ifna.


Kebetulan Siena lagi sendiri di rumah.


"Siapa ya?" gumamnya dalam hati bertanya-tanya.


Lalu, dia beranjak dari duduknya dan menghentikan sejenak mengerjakan konsep renovasi pembangunan Peroustakaannya agar semakin luas dan lebih canggih.


"Iya, tunggu!" serunya. "Ih... gak sabar amat sih!"


Beberapa menit kemudian...


Siena membelalakan matanya setelah dia tahu siapa yang datang.


Bersambung..


Rangga Saputra

__ADS_1



????


__ADS_2