
"Heh, itu lah masalahnya mengapa aku ingin bicara denganmu? " tekan Andika.
"Maksud Kakak?" tanya Rilan tidak mengerti.
"Rilan, apa kau masih mencintai Seina? "tanya Andika, balik.
"Tentu saja, Kak.Aku sangat mencintainya," jawab Rilan, tulus.
"Heh, ya.Begitu juga dengan Seina, dia juga sangat mencintaimu, "ucap Andika dengan suara berat.
"Ada apa ini, Kak?tolong, katakan!"desak Rilan, cemas.
Andika menarik napas perlahan, lalu..
" Sebenarnya...... "Sangat sulit bagi Andika tuk mengatakannya.
"Sebenarnya apa, Kak?Seina gak kenapa-napa kan?" Andika menelan ludah.
"Kak?"
Lagi-lagi Andika menarik napas rasanya begitu sulit mengatakan pada Rilan kalau Seina sang Adik sudah tiada.
"Rilan, Seina sudah tahu tentang penyakitmu," jawab Andika, akhirnya.
"Apa?" Rilan kaget. "Dia sudah tahu?" ulangnya.
Andika mengangguk.
Pertahanan Rilan pun runtuh seketika dan tubuhnya seolah tumbang.
"Dari mana dia tahu kalau aku terkena kanker?apa Wulan yang menceritakannya?" tanya Rilan dalam batin.
"Kamu, terkena kanker kan?"
"Iya, Kak. Apa Seina cerita?"
"Tidak, Kakaknya sama kembaranya lah yang cerita."
"Oh.. Kak Ifna sama Siena?"
"Ya."
"La.... lantas, da.. dari mana Seina tahu tentang penyakitku?" tanya Rilan, gugup. Masih penasaran.
"Aku sendiri tidak tahu pastinya dari mana dia tahu tentang penyakitmu," jawab Andika, tegas.
Dalam kebingungan Rilan berpikir, ingatannya kembali ke masa lalu. Mulai dia diagnosa tentang penyakit kanker otak yang menggerogoti tubuhnya oleh Dokter Justin.
Flashback on...
"Apa tidak salah diagnosa, Dok?" tanya Rilan tak percaya.
"Maaf, Rilan. Saya juga berpikir kalau diagnosa ini salah tapi, setelah menyelidikinya memang benar kau terkena penyakit kanker otak stadium empat," jawab Dokter Justin, berat.
"Apa? tidak mungkin!"
Rilan pun lunglai dia tidak percaya akan bertemu Seina untuk terakhir kalinya.
"Tidak! aku tidak boleh memberitahunya, aku tidak ingin Seina bersedih dan ikut susah karena penyakitku!"
Flashback off..
Rilan pun mulai berrtanya-tanya dalam hati dan berpikir, bagaimana dia bisa pulih dari penyakit kankernya?
"Rilan, aku ingin kau tahu Adikku sangat mencintaimu. " Rilan menoleh. Angin sepoi pun membelai wajah tampannya.
"Mengapa dia bilang bahwa dia membenciku tepat di depanku, Kak?"protes Rilan, putus asa.
"Dia tidak pernah membencimu, Rilan. Hanya saja..... "
"Hanya saja apa, Kak?" Andika menoleh ke arah pria yang lebih tinggi dua senti dari nya itu.
Dia pun menelan salivanya.
__ADS_1
"Kau tahu, mengapa kau bisa sembuh dari penyakitmu itu?sedangkan, penyakit itu penyakit parah dan tidak ada obatnya," ucap Andika menyadarkan Rilan.
Rilan pun membenarkan perkataan Andika.
Dia pun mengingat detik-detik operasi itu yang ditangani langsung oleh Dokter Justin.
Flashback on...
"Kau sudah siap, Rilan?" tanya Dokter Justin ingin memastikan.
"Sudah, Dok, " jawab Rilan ragu dan gugup. Ya.. dia berpikir apa dia bisa selamat atau meninggalkan Seina untuk selamanya?rasanya, dia tidak tega meninggalkan kekasihnya itu.
"Tenang, jangan gugup." Dokter Justin menenangkan Rilan.
Rilan mengangguk pelan sambil menelan salivanya.
Beberapa jam kemudian....
Kegiatan operasi pun dimulai.
Flashback off...
Tiba-tiba...
'Deg.'
Jantung Rilan kini seolah berhenti berdetak lalu, mengingat kembali perkataan Dokter Justin waktu itu.
"Apa yang dimaksud dengan Dokter Justin itu... Seina?" pikir Rilan.
"Katakan padaku terus terang, Kak," desak Rilan.
Andika terdiam..
"Ayolah.. Kak!" Rilan semakin mendesak.
Lalu, beberapa menit kemudian...
"Waktu itu." Andika mulai bercerita.
Flashback on...
"Iya, Kak, "jawab Ifna, lirih.
"Gak mungkin!kemaren dia sehat-sehat saja," sahut Andika, menggeleng tak percaya akan kabar duka ini.
"Kak, Rilan pacar Seina mengidap penyakit kanker," jawab Siena terisak.
"Apa hubungan dengan semua ini!" ucap Andika dengan nada tinggi.
"Seina, tahu kalau pacarnya pengidap kanker, Kak!" jerit Siena di sela isak tangisnya. Ifna pun menangis sambil menggenggam erat tangan sang Adik.
"Apa?!"
"Kak, dia memilih jalan untuk memasukan penyakit kekasihnya itu ke dalam tubuhnya," ujar Ifna dengan suara pelan.
Flashback off...
"Ja.. jadi?" Pertahanan tubuh Rilan pun tumbang, dia terjatuh tertunduk lemah mendengar cerita dari Andika.
"Iya, Rilan.Seina sudah tiada sekarang maafkan baru mengatakan ini padamu karena waktu itu kau baru sembuh dari penyakitmu," ucap Andika, pelan.
"Mengapa dia sebodoh itu, Kak?" tanya Rilan, lirih lalu, pecah lah tangisnya.
"Terkadang kalau sudah cinta seringkali orang berbuat bodoh, Rilan. Termasuk Adikku."
Rilan hanya terdiam sambil mengusap wajahnya dan mengingat seseorang.
"Dokter Justin? apa ini ada hubungannya dengan Dokter Justin? Dokter Justin tahu tapi berusaha menyembunyikannya dariku kurang ajar kau Dokter Justin!" Rilan mengepalkan tangannya wajahnya terlihat tegang.
"Ada apa, Rilan? apa kamu marah?karena, kami sudah lama merahasiakan ini semua?" tanya Andika menatap dalam wajah Rilan yang tegang.
"Aku gak menyalahkan dan marah pada kalian, Kak. Justru aku ingin bertanya pada seseorang mengapa dia menyembunyikan semua ini," jawab Rilan dengan wajah yang masih tegang.
__ADS_1
Lalu, beberapa detik kemudian...
"Rilan, kau mau ke mana?" kejar Andika, cemas.
Rilan tidak menjawab pertanyaan Andika dan malah mempercepat langkahnya.
"Cepat sekali dia," gerutu Andika dalam hati.
"Rilan, tunggu aku!"
Rilan semakin mempercepat langkahnya.
"Kau mau kemana?"
Rilan menoleh, lalu...
"Aku ingin membunuh seseorang, Kak. Karena dia, kekasihku tidak tertolong!"jawab Rilan berapi-api.
"Dokter Justin maksudmu?" Rilan diam dengan sisa amarah di hatinya.
"Rilan, tunggu!" cegah Andika, tegas.
"Apalagi, Kak?" gerutu Rilan.
"Tenanglah dulu! semarah apapun dirimu tidak akan membuat Adikku kembali," ucap Andika, menyadarkan.
"Lalu, aku harus bagaimana, Kak?" keluh Rilan, putus asa.
"Fuih, tahan lah dulu emosimu sebelum penyesalan itu terjadi," tutur Andika.
"Ba.. baiklah, Kak," sahut Rilan, menurut.
Andika pun bernapas lega.
"Aku tahu, Dokter Justin memang salah tapi, Dokter Justin mungkin tidak bermaksud menyembunyikan ini semua. "
"Lantas mengapa dia melakukannya, Kak?"
"Rilan, coba lah mengerti. Bagaimana jika kamu berada di posisi Dokter Justin yang berada dalam level menyembunyikan atau mengatakan yang sebenarnya?" Rilan terdiam.
"Dokter Justin melakukan ini mungkin keinginan dari Seina, Seina gak mau membuatmu sedih, Rilan," tekan Andika, lirih.
"Kenyataannya, aku sekarang sedih, Kak."
Andika tersenyum tipis.
"Aku juga, Rilan. Kami sekeluarga juga ikut sedih apalagi kembarannya... Siena yang berulang kali pingsan."
"Terus, bagaimana dengan cafe Seina, Kak? "
"Seina sudah memberi amanah pada kembarannya untuk meneruskan cafe nya berdua dengan kekasihnya."
"Kekasih?Siena sudah punya kekasih?"
"Ya... begitulah."
"Kok.. bisa?"
"Aku gak tahu pasti awalnya, Rilan. Karena aku terlalu sibuk dengan Perusahaan dan keluarga kecilku."
Rilan pun manggut-manggut mengerti.
"Kalau kamu merindukan Seina, datanglah ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku yang akan mengantarmu ke sana."
Rilan menggeleng.
"Maaf, Kak. Aku masih belum cukup kuat menghadapi semua ini apalagi mendengar berita bahwa Seina sudah meninggal. "
"Aku tahu. " Andika menepuk pelan bahu Rilan. "Suatu saat kau pasti bisa menerima takdir ini dan jauh lebih kuat," tuturnya.
Rilan mengangguk.
"Tuan Efron?"
__ADS_1
Bersambung..