Istri Sah Bos Mafia.

Istri Sah Bos Mafia.
Menguji.


__ADS_3

"Sukses berat, Mas, " jawab Zachry dengan wajah yang cerah.


"Mas?" ulang Siena, bingung. "Ini apa maksudnya, Zachry?" Siena menatap Zachry dan lelaki asing itu bersamaan.


Zachry yang merasakan betapa bingungnya Siena langsung menghampirinya.


"Zach, tipuan apa lagi ini?" heran Siena sambil menatap heran lelaki yang tak dikenalnya yang Zachry sebut MAS."


"Ini semua bukan tipuan, Sien. Aku sengaja berbuat ini karena ingin mengujimu," jawab Zachry, kemudian. "Oya... perkenalkan ini Abangku, Mas Harfan namanya." Zachry memperkenalkan Abangnya pada Siena.


Siena tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya mengangguk sopan pada Harfan begitu juga Harfan.


"Mas, ini Siena perempuan yang pernah aku ceritakan pada Mas."


"Menguji? maksudmu?" tanya Siena masih saja tak mengerti.


"Begini, Sien." Zachry mulai berucap. "Kau tahu kan kalau aku ada hati denganmu?" Siena mengangguk.


"Lantas, apa di balik semua ini?"


"Pertama aku minta maaf dulu padamu karena sudah menipumu sungguh, aku gak bermaksud begitu. Aku tahu kau pasti kecewa. "


"Ya... sedikit sih. "


"Makanya, aku mau ceritakan sesuatu mengapa aku melakukan ini semua?ide ini juga berasal dari Mas Harfan." Siena menoleh ke arah Harfan. "Aku pun setuju dengan ide Mas Harfan. "


Siena mengkerutkan dahinya...


Zachry pun bercerita kalau dia menyetujui saran Harfan untuk tidak membawa mobil mewah dalam mendekati wanita yang dia taksir takutnya, tidak sesuai apa yang Zachry harapkan.


"Begitu ceritanya, Sien. "


"Jadi, motor itu?" Siena menunjukkan sebuah motor butut.


"Motor itu milik Pak Jamal, Sien.Satpam yang menjaga rumah kami," jawab Zachry, jujur.


"Astaga, Zachry! kamu itu bener-bener ya!kamu kira aku cewek matre apa?"ucap Siena, ketus.


"Sebenarnya aku juga berpikiran seperti itu," papar Zachry, serius


"Ha?" Siena mulai tersinggung.


"Maafkan aku, aku gak bermaksud menyinggungmu, sungguh," ucap Zachry bersumpah. "Tadinya aku ragu mengungkapkan perasaanku padamu ternyata, kamu malah menerimanya walaupun kendaraanku hanya sekedar motor butut itu," tunjuknya ke arah motor.


Siena terdiam, mencoba mencerna perkataan Zachry.


"Dan ternyata, Adikku tidak salah memilih kamu sebagai wanita yang dia taksir," celutuk Harfan tersenyum bangga. "Selamat ya," ucapnya.


Siena pun membalasnya dengan senyuman hambar.


"Calon Adik ipar, Mas," ralat Zachry melirik genit Siena.


Wajah Siena pun bersemu merah.


"Oh.. iya, lupa!" Harfan mengetuk dahinya sendiri sambil terkekeh.


"Kamu ini," protes Siena, malu. Lalu mencubit lengan Zachry, gemas.


"Aduh." Zachry mengaduh dan menatap Siena dengan tatapan menggoda.


"Satu lagi, Sien. Mobil ini Zachry hadiahkan buat kamu." Siena melotot kaget.

__ADS_1


"Astaga, Zachry! ulang tahunku kan masih lama!"


"Gak apa-apa, Sien. Aku ikhlas memberikan nya padamu karena aku mencintaimu. "


"Aku tahu tapi pasti itu mahal, Zach."


"Sien, aku rela menghabiskan uangku demi kamu."


"I.. iya tapi gak gitu-gitu amat, kali. Aku mencintaimu bukan karena harta melainkan karena cinta, aku mencintaimu apa adanya, Zach," ucap Siena, menekan dan ada kesungguhan di mata indahnya.


Zachry tersenyum hangat menatap Siena.


"Aku tahu dan aku percaya padamu,sayang," bisiknya, mesra.


Siena terjengkit kaget saat Zachry memanggilnya dengan mesra.


Zavhry hamya terkekeh melihat tingkah Siena yang kaget , Zachry maklum karena Siena belum pernah sama sekali pacaran.


Lalu, dia menarik tangan Siena hingga tubuh mungil Siena menabrak dada bidangnya, Siena yang kaget mendongak, menatap mata elang Zachry yang menatapnya…Dalam.


Sungguh, hati Siena jadi tak karuan dan detak jantungnya seolah melompat tinggi.


Apalagi saat Zachry memegang kedua pipi putihnya yang lembut bagai kapas dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Siena dengan napas memburu.


Dan……


"Ehem.... "Harfan berdehem menggoda dua insan yang dimabuk asmara.


Siena kaget lalu mendorong pelan dada bidang Zachry dengan wajah bersemu merah.


"Kalian mau aku jadi kambing congek gitu?melihat kemesraan kalian!" protesnya, galak.


Zachry yang ingin mencium Siena terhenti karena gangguan dari Abangnya.


Siena lho.. kok malah diganggu?"Siena tersenyum kikuk sambil tangannya menutup bibir kecilnya yang merah bagai ceri.


"Belum saatnya!" celutuk Harfan, tegas.


Di tempat lain...


"Tuan muda, anda ke Perusahaan sendiri memakai setelan baju seperti ini?" tanya Hendra, terbengong-bengong. Menatap heran sang majikan dari atas ke bawah.


"Iya, Tuan," celutuk lainnya.


"Apa salahnya sih?lagipula kan Perusahaan itu kepunyaanku jadi suka-suka aku dong pakai baju apapun itu," sahut Efron melipatkan kedua tangannya ke dada.


"Kami hanya cemas pada anda, Tuan."


"Tidak apa-apa, gak ada yang perlu dicemaskan."


"Apa perlu saya antar?" Efron menggeleng.


"Tidak usah, biar aku sendiri saja," ucapnya pada pendiriannya.


"Anda yakin, Tuan?"


"Tentu saja aku yakin."


"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi saja kami."


"Aku tahu."

__ADS_1


Kediaman Hadi Kusuma..


"Kemana anak satu ini? sudah itu perginya tanpa pamit pula!" sungut Hadi, kesal.


"Mungkin Tuan muda sedang terburu-buru dan tidak sempat pamit pada anda Tuan," papar Bi Sum, santun.


"Apa yang membuatnya terburu-buru ya?apa karena sesuatu hal? atau karena Nesya?" pikirnya. "Akh.. hh, semoga saja tidak!" jerit batinnya dengan rasa benci.


Sesampainya Perusahaan Derafa...


"Kalian pulang dan beristirahat lah, tidak usah menungguku," titah Efron setelah turun dari mobil.


"Baik, Tuan. Kabari saja kami kalau ada apa-apa pada anda."


"Iya, pasti itu." Efron tersenyum, tulus.


Di dalam...


"Maafkan saya, Tuan Firdan. Bukannya saya tidak mau karena saya bukan Pemilik Perusahaan ini," tolak Danzel saat dirinya ditawari kerjasama proyek dana secara halus.


"Jadi anda bukan... "


"Saya hanya diberi amanat oleh atasan saya untuk memimpin dan bertanggung jawab atas Perusahaan ini selama beliau berada di luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis." secara jujur dan apa adanya Danzel menjelaskan.


"Oh.. begitu? berapa hari beliau berada di sana?" kepo Firdan.


"Wah.. kalau itu saya belum tahu pasti, Pak. Kapan beliau pulang ke Indonesia?" jawab Danzel, santun.


"Ya... pastinya masih lama dong ya," sungut Firdan, kecewa.


"Mungkin kapan-kapan juga bisa kok, Pak," hibur Danzel. "Kalau gak itu tinggalkan saja nomor anda agar saya bisa hubungi anda kalau beliau sudah datang," putusnya sekaligus saran.


"Ide bagus tuh."


Firdan pun memberikan nomor kontaknya pada Danzel.


"Oke, terima kasih, Tuan. Akan saya sampaikan ini pada beliau setelah beliau pulang ke sini.


"Sama-sama."


Di tempat yang sama...


Dengan santai Efron berjalan menuju pintu utama Perusahaannya yang tentu di jaga oleh satpam.


"Siang, Pak Efron," sapa satpam bernama Egi itu ramah.


"Siang juga," sahut Efron, santai.


"Oh.. iya, Pak. Kata Pak Danzel anda sedang mengadakan bisnis trip ke luar negeri mengadakan rapat prroyek kerjasama antar negara, ya Pak?" tanya Egi penuh selidik.


Efron tersenyum hambar...


"Iya, benar. Sekarang aku sudah pulang ke sini," jawab Efron, tenang.


"Oh... begitu."


"Aku masuk dulu ya."


"Oh.. silakan,Pak." Dengan sopan Egi mempersilakan sang pemilik Perusahaan masuk.


Setelah masuk..

__ADS_1


"Pak Efron?"


Bersambung..


__ADS_2