
Mila dan Zaki masih berada di ruang tunggu depan ruang ICU. Sudah dari semalam mereka menunggui Bu Suci yang belum juga sadar.
Seorang dokter mendekat ke arah Zaki.
"Pak Zaki, bisa saya bicara sebentar dengan anda?" tanya dokter.
"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda."
"Baik Dok."
"Mari ikut ke ruangan saya. Biar kita lebih enak bicaranya."
"Iya Dok."
Sebelum pergi, Zaki menatap Mila.
"Mil, aku pergi dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan tunggu di sini ?" tanya Zaki pada Mila.
"Iya. Aku akan tunggu di sini Mas."
Setelah pamit dengan Mila, Zaki kemudian berjalan pergi mengikuti dokter ke ruang dokter.
Zaki masuk dan duduk di ruang dokter Gunawan. Dokter yang menangani Bu Suci.
"Pak Zaki, ada masalah serius yang harus anda tahu," ucap Dokter Gunawan.
"Ada apa Dok?" tanya Zaki penasaran.
"Bu Suci patah tulang di salah satu kakinya. Dan sepertinya Bu Suci harus segera melakukan operasi."
Zaki terkejut saat mendengar ucapan dokter.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk ibu saya. Bila perlu, operasi dia sekarang juga. Berapa pun biayanya, saya pasti akan bayar Dok."
"Ini bukan masalah biaya Pak Zaki. Tapi ini lebih ke masalah kondisi Bu Suci. Saat ini Bu Suci masih kritis. Dan kemungkinan besar sembuh itu sangat kecil. Hanya dua puluh persen. Kita belum bisa melakukan operasi karena kondisi Bu Suci yang belum stabil. Jika kita memaksa untuk operasi sekarang, resikonya akan sangat besar Pak," jelas Dokter.
"Terserah anda saja Dok. Yang penting lakukan yang terbaik untuk ibu saya. Jika penanganan di sini tidak maksimal dan alat-alatnya kurang lengkap, saya akan bawa ibu saya ke Jakarta saja untuk mendapatkan penanganan yang terbaik."
"Kami akan lakukan yang terbaik untuk Bu Suci. Tapi kalau untuk sembuh atau tidaknya, kita serahkan saja sama yang kuasa. Mudah-mudahan, Bu Suci masih bisa diselamatkan."
"Iya Dok. Saya sudah pasrah Dok. Mudah-mudahan, ada keajaiban untuk ibu saya."
"Cuma itu Pak Zaki, yang ingin saya bicarakan."
"Ya udah Dok. Saya keluar dulu kalau begitu.'
"Silahkan Pak Zaki."
Zaki keluar dari ruangan dokter. Dia kemudian berjalan kembali ke ruang ICU untuk menemui Mila di sana.
__ADS_1
"Ada apa Mas Zaki?" tanya Mila saat melihat wajah Zaki tampak murung.
"Mama Mil," ucap Zaki sembari duduk di sisi Mila.
"Mama kamu kenapa Mas?"
"Kata dokter, kemungkinan Mama untuk sembuh hanya dua puluh persen."
Mila terkejut saat mendengar ucapan Zaki.
"Apa! kemungkinan sembuh hanya dua puluh persen. Tapi Bu Suci masih bisa sembuh kan Mas?'
"Aku nggak tahu Mil. Kita pasrahkan saja sama Allah. Karena hidup dan mati sudah Allah yang ngatur. Kita hanya bisa berdoa dan bertawakal saja. Semoga ada keajaiban untuk Mama, agar dia bisa segera sadar."
"Sabar ya Mas. Kamu harus kuat Mas. Aku akan selalu temani kamu dan dukung kamu di sini."
"Makasih ya Mil."
"Kita sama-sama berdoa saja. Kita doakan semoga mama kamu bisa cepat sadar."
"Jika mama sadar, mungkin dia juga tidak akan bisa jalan."
"Kenapa Mas?'
"Mama patah tulang. Dan dia harus melakukan operasi."
"Iya Mil. Pasti itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk penyembuhannya."
Mila menghela nafas dalam. Dia ikut sedih saat mendengar hal itu. Padahal Bu Suci bukan siapa-siapa Mila. Tapi Mila sudah menganggap Bu Suci itu ibu kandungnya sendiri. Jika Bu Suci pergi dari kehidupannya, Mila pasti akan sangat kehilangan.
Setetes air mata Mila jatuh dari pelupuk matanya, saat Mila melihat Zaki menangis.
"Aku belum siap Mil, kehilangan Mama. Dia orang yang sangat berarti di hidup aku. Dia keluargaku satu-satunya yang aku punya. Kalau dia pergi, aku nggak tahu bagaimana dengan hidup aku Mil," ucap Zaki sembari mengusap kasar air matanya. Dia tidak mau terlihat cengeng di mata Mila. .
"Sabar Mas Zaki. Mas Zaki tidak sendiri kok. Mas Zaki masih punya banyak orang yang menyayangi Mas Zaki. Mas Zaki masih punya teman-teman yang baik, karyawan yang baik, dan tetangga-tetangga yang baik. Termasuk Mas Zaki juga masih punya aku. Aku akan selalu menemani Mas Zaki untuk melewati semua masalah ini," ucap Mila sembari mengusap-usap bahu Zaki mencoba untuk menguatkan Zaki.
Zaki tersenyum. Setelah itu dia meraih tangan Mila dan menggenggamnya erat.
"Makasih ya Mil."
Mila mengangguk.
"Semua manusia yang hidup di dunia, itu pasti akan di kasih cobaan Mas. Tapi cobaan antara orang satu dan yang lainnya itu berbeda. Kita sebagai manusia, harus bisa bersabar untuk menghadapi cobaan itu."
"Iya Mil. Aku tahu, semua yang aku punya cuma titipan. Papa aku, sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu waktu aku masih kecil. Kemarin-kemarin, aku juga sudah kehilangan adik aku. Dan aku belum siap kehilangan mama aku Mil."
"Percayalah Mas, Bu Suci pasti akan sadar dan akan segera sembuh. Yang hanya bisa kita lakukan sekarang, mendoakan dia Mas."
****
__ADS_1
"Nenek, aku pengin main ke rumah Om Zaki. Aku pengin ketemu Mama," ucap Aluna di dalam pangkuan Bu Retno.
"Malam-malam begini mau ke rumah Om Zaki? siapa yang mau ngantar kamu Aluna. Papa kamu aja nggak ada di rumah."
"Tapi aku kangen sama Mama. Aku kesepian di sini Nek."
"Kesepian gimana. Kan ada nenek di sini," ucap Bu Retno sembari mengusap-usap rambut panjang cucunya.
"Nek, aku pengin telpon mama. Apa nenek mau telponin mama?" tanya Aluna.
"Iya iya. Nenek akan telpon mama kamu. Kamu duduk dulu, nenek mau ambil hape nenek."
Aluna beringsut duduk. Dia kemudian menatap Bu Retno lekat.
"Kamu tunggu di sini. Nenek mau ke kamar ambil hape."
Aluna menganggukan kepalanya. Sementara Bu Retno pergi meninggalkan Aluna untuk mengambil ponselnya.
Setelah itu, Bu Retno kembali ke ruang tengah menghampiri Aluna dengan membawa ponselnya.
"Nenek telpon ya," ucap Bu Retno.
"Iya Nek. Cepat!"
Bu Retno kemudian menekan nomer Mila.
"Halo. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Mil. Ini Aluna mau bicara sama kamu."
"Oh iya Bu. Mana Alunanya?"
Bu Retno kemudian memberikan ponselnya pada Aluna.
"Halo Aluna."
"Halo Mama. Aku pengin tinggal di rumah Om Zaki lagi. Aku kesepian, di sini cuma sama nenek doang. Bisa nggak Mama dan Om Zaki jemput aku."
"Maaf sayang. Mama nggak bisa. Karena sekarang mama lagi ada di luar kota."
"Mama di luar kota? mama lagi ngapain di luar kota."
"Mama lagi nemenin Oma Suci di rumah sakit."
"Oma Suci sakit?"
"Iya sayang. Oma Suci lagi sakit."
Bu Retno terkejut saat mendengar percakapan Mila dengan Aluna.
__ADS_1