Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
Pulang dengan kecewa.


__ADS_3

"Aluna, pinjam dulu sini hapenya. Oma mau bicara dengan ibu kamu," ucap Bu Retno.


"Iya Nek."


Aluna kemudian memberikan ponsel itu pada neneknya.


"Halo Mila. Kamu di mana sekarang?"


"Aku di Maluku Bu."


"Di Maluku? jauh banget Mil."


"Iya Bu. Sudah tiga hari aku di sini Bu. Lagi nungguin Bu Suci."


"Emang Bu Suci sakit apa?"


"Bu Suci kecelakaan mobil Bu. Dan sekarang dia belum sadarkan diri."


"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Terus bagaimana kondisinya?"


"Kondisinya masih kritis Bu."


"Ya Allah, kasihan sekali. Ibu doakan semoga Bu Suci bisa diselamatkan dan bisa sembuh kembali."


"Iya Bu. Tolong temani Aluna dulu ya Bu."


"Iya Mil. Aluna cuma kangen aja sama kamu kok. Dia pengin telpon kamu katanya."


"Iya nggak apa-apa. Tapi ini udah malam. Suruh Aluna tidur. Ibu juga istirahat ya. Ibu juga nggak usah mikirin apa-apa."


"Kamu mau bicara lagi sama Aluna."


"Nggak Bu. Besok aja nanti aku telpon lagi. Bilang sama Aluna, kalau mamanya akan cepat pulang."


"Iya Mil."


"Aku tutup dulu ya telponnya Bu. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah memutuskan saluran telponnya, Bu Retno menatap Aluna lekat.


"Kamu dengar kan tadi mama kamu bilang apa. Dia nyuruh kamu tidur. Udah malam Aluna, besok lagi telponnya ya."


"Nenek, tadi mama bilang apa aja? dan kapan Mama pulang?"


"Dia nyuruh kamu tidur. Dan kata Mama kamu, dia akan pulang secepatnya."


"Oh. Gitu ya."


Deru mobil tiba-tiba saja terdengar dari luar rumah Bu Retno.


Bu Retno dan Aluna saling menatap.


"Itu mobil siapa Nek?" ucap Aluna.

__ADS_1


Bu Retno mengedikan bahunya.


"Nenek juga nggak tahu. Kamu tunggu di sini ya. Nenek mau lihat dulu ke depan."


Aluna mengangguk. "Iya Nek."


Bu Retno bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun melangkah ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Bu Retno mengintip dari balik jendela. Dia terkejut saat melihat mobil Adnan di depan.


"Lho, kok mereka sudah pulang. Baru tiga hari, kenapa sudah pulang. Katanya mereka mau satu minggu di sana," ucap Bu Retno.


Bu Retno buru-buru membuka pintu rumahnya untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya itu. Setelah itu dia pun menghampiri Monika dan Adnan yang sudah keluar dari mobilnya.


Adnan menyeret koper dan membawanya sampai ke teras.


"Adnan, kok kamu sudah pulang sih. Cepat banget?" tanya Bu Retno.


"Iya Bu. Fikiran aku nggak enak. Aku kefikiran Aluna terus," jelas Adnan.


"Aluna baik-baik aja kok Adnan. Dia juga nurut sama ibu."


Monika yang masih kesal dengan suaminya buru-buru masuk ke dalam rumahnya, tanpa menyapa dan mencium tangan ibu mertuanya.


"Kenapa istri kamu? dia kok seperti orang kesal begitu."


"Emang dia lagi kesal sama aku, karena aku ajak pulang dia sebelum waktunya pulang."


"Hah, kamu ini. Ayo masuk! udah malam. Ibu mau kunci pintunya lagi."


"Iya Bu."


"Aluna mana Bu? pasti dia sudah tidur ya?" tanya Adnan.


"Aluna ada di ruang tengah. Dia belum tidur Adnan."


"Tumben jam segini belum tidur."


Sesampainya di ruang tengah, Adnan dan Bu Retno menghentikan langkahnya.


"Papa...!" Aluna yang melihat Adnan datang, berlarian dan langsung memeluk ayahnya.


Adnan melepaskan pelukannya dan menatap anaknya lekat.


"Papa kok cepat banget Pa pulangnya. Aku fikir, Papa mau pulang lusa," ucap Aluna.


Adnan tersenyum.


"Nggak sayang. Papa kangen sama kamu. Lain kali kalau Papa jalan-jalan lagi, Papa mau ajak kamu. Papa ngerasa nggak adil aja, jalan-jalan cuma sama mama Monika doang tanpa ngajakin kamu."


"Papa, aku kesepian di rumah cuma sama nenek doang. Tadi aku telpon Mama, juga mama ada di luar kota sekarang," ucap Aluna menuturkan.


Adnan menatap Bu Retno lekat.


"Benar Bu, Mila ada di luar kota?" tanya Adnan.


"Iya."

__ADS_1


"Lagi ngapain Mila di luar kota?"


"Katanya, Bu Suci kecelakaan waktu di luar kota."


"Emang dia ada di mana?"


"Di Maluku kalau nggak salah."


"Jauh banget."


"Nggak tahu bagaimana ceritanya bisa sampai seperti itu. Mila sekarang ada di sana menemani Bu Suci."


"Terus, gimana keadaan Bu Suci?"


"Bu Suci kritis."


"Ya Allah kasihan sekali Bu Suci. Mudah-mudahan dia cepat diberi kesembuhan ya Bu."


"Iya Adnan. Ibu juga akan selalu mendoakan Bu Suci. Dia orang baik. Dia juga sudah mau menerima Mila kerja di rumahnya."


"Ya udah Bu. Aku ke kamar dulu ya," ucap Adnan.


Setelah itu Adnan menatap Aluna lekat.


"Aluna, Papa ke kamar dulu ya. Papa capek, mau istirahat. Kamu sama nenek dulu ya."


"Iya Pa."


Adnan kemudian melangkah ke kamarnya dengan membawa kopernya. Sesampainya di kamar, dia menatap Monika tajam.


Monika saat ini masih tampak duduk di sisi ranjang. Sepertinya dia masih kesal dan kecewa pada suaminya. Adnan mengajak Monika pulang, di saat-saat dia masih betah berlibur. Padahal jatah cuti itu masih ada empat hari lagi.


"Kamu kenapa Mon?" tanya Adnan sembari duduk di sisi Monika.


"Kenapa sih, kenapa kita harus pulang. Padahal jatah liburan kita masih empat hari lagi lho Mas."


"Capek Mon jalan-jalan terus. Banyak juga uang yang terbuang. Mau di hotel atau di rumah sama aja. Mendingan kita manfaatkan waktu kita untuk kumpul bersama keluarga di rumah. Kalau kamu belum puas jalan-jalan, besok kita ajak Aluna saja jalan-jalan. Ke mall, ke kebun binatang, ke taman, nonton pasar malam, atau kemana kek."


"Hah, lagi-lagi Aluna, terserah kamu ajalah Mas. Aku capek!"


Monika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan kamarnya. Dia tidak mau berlama-lama dengan Adnan, karena dia masih marah dengan Adnan.


Adnan hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Monika.


"Monika beda banget ternyata sama Mila. Sewaktu aku sama Mila, sepertinya Mila nggak pernah banyak menuntut. Dia nurut aja sama aku. Monika kok, malah gini sih. Masih mending Aluna, masih bisa dikasih pengertian, jadi nyesel aku nikahin Monika. Kenapa ya, dulu aku harus ninggalin Mila. Padahal Mila nggak salah apa-apa,"ucap Adnan di dalam kesendiriannya.


Adnan bangkit dari duduknya. Dia mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi. Seperti biasa, sebelum tidur Adnan selalu cuci muka, cuci tangan dan cuci kaki.


Setelah selesai semua itu, Adnan keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur.


"Terserah kamu Mon. Kalau kamu nggak mau tidur sama aku di kamar ini, nggak masalah untuk aku. Aku juga capek, harus menuruti semua keinginan kamu. Lebih baik, aku fokus sama pekerjaan aku dan Aluna saja, dari pada aku harus mikirin kamu."


Adnan naik ke atas tempat tidurnya. Setelah itu, dia pun berbaring untuk tidur. Sementara Monika entah kemana. Sampai Adnan tidur, dia belum juga masuk ke kamar.


**

__ADS_1


__ADS_2