Istri Yang Kau Ceraikan

Istri Yang Kau Ceraikan
pembantu baru


__ADS_3

"Selamat siang, benarkah ini rumahnya Bu Monika?"


"Iya. Saya Monika. Kalian berdua siapa?" tanya Monika sembari menatap ke dua wanita itu.


"Saya dari yayasan Bu. Benarkah ibu memesan ART dari yayasan kami, yayasan Pelita Bangsa?"


"Oh iya. Benar. Ayo masuk! kita ngobrol-ngobrol dulu di dalam."


"Iya."


Ke dua wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah Monika setelah Monika mempersilahkannya masuk.


"Silahkan duduk!" pinta Monika.


"Iya. Makasih Bu," ucap ke dua wanita itu. Setelah itu mereka pun duduk mengikuti Monika duduk.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Nuri. Saya dari yayasan Pelita Bangsa. Saya ke sini, dengan membawa asisten rumah tangga yang ibu pesan," ucap wanita yang bernama Nuri.


"Oh ya, siapa orang yang akan kerja di rumah saya?" tanya Monika menatap Bu Nuri lekat.


"Ini Bu, namanya Sulis. Dia dari kampung dan sudah berpengalaman." Bu Nuri memperkenalkan wanita muda yang duduk di sampingnya itu pada Monika.


Monika menatap tajam wanita muda yang bernama Sulis itu.


"Emang nggak ada yang lebih tuaan dikit Bu?" tanya Monika.


"Nggak ada Bu. Kebetulan, yang mendaftar kerja di yayasan kami, sepantaran Sulis semua."


"Kamu umur berapa Sulis?" tanya Monika pada Sulis.


"Dua puluh dua tahun Bu," jawab Sulis.


Monika terkejut saat mendengar jawaban Sulis.


Kalau pembantunya masih muda begini, apa iya suamiku nggak akan tergoda. Aku yakin, wanita ini pasti masih gadis. Bisa-bisa Mas Adnan naksir lagi sama wanita ini, batin Monika.


Ada rasa takut dan was-was di dalam hati Monika, kalau Adnan akan direbut oleh wanita lain. Seperti Monika yang sudah merebut Adnan dari tangan Mila dulu.


"Kamu masih gadis ya?" tanya Monika lagi.


Sulis tersenyum.


"Alhamdulillah Bu, saya sudah nikah."


"Sudah nikah? Kamu sudah nikah di usia semuda ini?" Monika tampak tidak percaya.


"Iya Bu. Kalau di kampung saya, usia dua puluh lima tahun belum nikah saja sudah dikatain perawan tua. Saya nggak mau dikatain perawan tua. Jadi saya cepat-cepat aja nikah ,biar nggak di katain perawan tua."


"Aneh. Kamu yakin mau kerja di rumah saya? apa sebelumnya kamu sudah punya pengalaman?"

__ADS_1


"Saya sudah pernah kerja di Malaysia sebagai asisten rumah tangga juga Bu."


"Berapa tahun?"


"Dua tahun Bu. Karena kontraknya dua tahun."


"Suami kamu udah ngizinin kamu kerja?"


"Sudah Bu."


Monika masih ragu untuk menerima Sulis. Karena Sulis itu cantik, dan masih muda. Namun Monika masih bisa bernafas lega karena calon pembantunya itu sudah punya suami. Bukan gadis atau janda. Jadi Monika yakin kalau Sulis tidak akan pernah berani macam-macam dengan suaminya.


"Ya sudah, kamu saya terima kerja di sini. Kalau dalam beberapa bulan kamu rajin kerjanya, saya akan naikin gaji kamu."


"Alhamdulillah. Makasih banyak ya Bu."


"Iya."


Setelah mengantar Sulis ke rumah Monika, Bu Nuri kemudian pamit pulang.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Bu Monika. Kalau ada perlu apa-apa bisa telpon ke yayasan."


"Iya Bu Nuri. Terimakasih banyak ya sudah ngantar Sulis ke sini."


"Iya Bu."


Bu Nuri kemudian melangkah pergi keluar dari rumah Monika. Begitu juga dengan Sulis dan Monika. Mereka mengantarkan Bu Nuri sampai ke depan rumah.


"Iya Bu Monika."


Bu Nuri kemudian melangkah ke luar gerbang rumah Monika. Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah Monika.


Setelah Bu Nuri pergi, Monika mengajak Sulis untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Sulis, ayo kita masuk ke dalam. Saya akan tunjukkan kamar kamu di dalam."


"Iya Bu."


Sesampainya di ruang tengah, Sulis dan Monika menghentikan langkahnya.


"Siapa itu Mon?" tanya Adnan.


"Ini Sulis. Dia pembantu baru di rumah kita," jawab Monika.


Adnan, Bu Retno dan Aluna saling menatap. Mereka tampak bingung, karena Monika tidak pernah bilang terlebih dahulu kalau dia akan mengambil pembantu dari yayasan.


"Apa! pembantu baru," pekik Adnan.


"Iya Mas."

__ADS_1


"Kamu ngambil pembantu di yayasan, kenapa nggak bilang dulu sama aku...!" geram Adnan.


"Kalau aku bilang dulu, kamu belum tentu juga kan mau menyetujuinya."


Monika tidak mau terlalu banyak meladeni suami dan ibu mertuanya. Dia lebih memilih mengantar Sulis ke kamar paling belakang.


"Sulis, ini kamar kamu. Semoga kamu betah ya tinggal di sini."


"Iya Bu."


"Tiga orang tadi siapa ya Bu?" tanya Sulis.


"Dia suamiku, mertuaku, dan anak tiriku. Nanti aku kenalin kamu sama mereka. Kalau sekarang sih, lebih baik kamu istirahat saja dulu di sini. Mulai besok aja kerjanya."


"Iya Bu."


"Saya tinggal dulu ya. Siapa tahu kamu mau beresin baju-baju kamu dulu. Itu ada lemari kecil bisa untuk simpan baju kamu Sulis."


"Iya Bu."


Setelah mengantar Sulis ke kamarnya, Monika melangkah pergi meninggalkan kamar Sulis. Dia kemudian menghampiri ruang tengah dan duduk berbaur kembali bersama suami dan ibu mertuanya.


Adnan menatap Monika tajam. Tampaknya dia tidak suka dengan sikap Monika yang sama sekali tidak mau menghargainya sebagai suami.


"Mon, kamu kenapa sih. Nggak bilang dulu sama aku, kalau kamu mau pesan pembantu di yayasan."


"Halah, kelamaan Mas kalau harus musyawarah dulu sama kamu. Kamu juga belum tentu setuju dengan keputusan aku ini. Karena kamu itu kan pelit. Bayar pembantu aja sayang sama uangnya. Suka banget ngandelin orang tua dan istri."


"Ya terus, kalau wanita itu kerja di sini, siapa yang mau gaji dia?" ucap Adnan dengan nada tinggi.


"Ya kamu dong. Sisain gaji kamu untuk bayar pembantu. Dari pada kamu harus ngandelin aku dan ibu untuk ngerjain pekerjaan rumah. Katanya biar ibu ada yang bantuin, makanya aku cariin pembantu. Gimana sih," ucap Monika yang tidak mau disalahkan.


Adnan menghela nafas dalam. Adnan sama sekali tidak punya niat untuk mengambil pembantu dari yayasan. Karena dia fikir, Monika dan ibunya masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.


Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan Adnan, Monika malah mengambil pembantu dari yayasan. Membuat Adnan geram sendiri pada istri barunya itu.


Adnan yang sudah merasa kesal dan kecewa tidak mau lagi meladeni ucapan istrinya. Dia lebih memilih pergi meninggalkan Monika dari pada dia harus berdebat yang akan menimbulkan pertengkaran.


Setelah Adnan pergi, Bu Retno menatap menantunya lekat.


"Mon, seharusnya kamu bilang dulu sama Adnan. Kamu minta persetujuan dulu dari Adnan. Jangan gegabah seperti ini. Bagaimana juga, Adnan suami kamu. Kepala keluarga di rumah kita. Kamu harus menghargainya," ucap Bu Retno.


"Emang nyuruh orang kerja di sini, nggak perlu bayar. Harus di bayar kan setiap bulan Mon. Kamu sendiri saja sudah nggak kerja sekarang. Apa semua harus mengandalkan gajian Adnan. Makan dan bayar pembantu," lanjut Bu Retno.


"Bu, sudahlah. Jangan diperpanjang masalah sepele seperti ini. Ini semua juga untuk kebaikan ibu. Kalau ada pembantu, ibu kan bisa cuma berpangku tangan aja di rumah. Nggak usah ikut-ikutan ngerjain pekerjaan rumah."


Bu Retno hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat sikap Monika. Monika memang wanita yang sangat egois dan keras kepala, melebihi Adnan suaminya.


"Terserah kamu dan Adnan saja lah sekarang. Kalau soal ini, ibu nggak mau ikut campur."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Bu Retno melangkah pergi meninggalkan menantunya di ruang tengah.


****


__ADS_2